Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
51 "Ay-Ay-Ayra"


__ADS_3

Suasana sore di dapur masih cukup sepi karena penghuni rumah sedang beristirahat di kamar masing-masing. Namun tidak dengan Ayra. selepas shalat ashar, ia sibuk di dapur. Ayra tampak sedang membuka beberapa plastik lalu mengisinya dengan kopi.


Selesai dengan itu ia membuka lemari persediaan makanan dan kebutuhan sehari-hari termasuk kebutuhan untuk mandi. Ayra mengambil pasta gigi, sabun cair.


Hal yang sama ia lakukan. Ia memasukkan odol tadi kedalam plastik kecil-kecil. Ia menghitung plastik yang telah terisi dengan pasta gigi itu.


"Delapan, Sembilan, Sepuluh. Oke sudah. Tinggal sabun cairnya."


Ayra menuangkan sabun cair itu pada plastik-plastik kecil yang berjumlah sepuluh lembar.


Tiba-tiba Bik Asih muncul dari luar dapur.


"Non Ayra lagi ngapain non? kenapa ga panggil bibik aja sih non."


"Ga usah bik, Ayra bisa sendiri kok. Ayra lagi siapin keperluan mas Bram selama di lapas."


Bik Asih mengambil beberapa plastik bening yang berukuran kecil itu. Lalu menciumnya.


"Harum kayak sabun non. Ini sabun non?"


"Iya bik."


"Kok ya ndadak di bungkus non?"


"Kalau di rumah tahanan itu ketat Bi. Setiap barang yang masuk itu pasti diperiksa. Karena khawatir ada barang yang bisa membahayakan penghuninya atau ada barang yang coba diselundupkan oleh orang yang besuk."


"Owh.... Lah kok non Ayra bisa tahu?"


"Dulu Ayra pernah sering bolak balik ke lapas dan Rumah tahanan. Saat itu ada salah satu kerabat ditempat kami yang suaminya ditangkap polisi. Jadi Ayra tahu betul kalau ada barang yang kita kirim tapi bakal membahayakan atau mencurigakan akan di kembalikan. Lah selama di sana mas Bram tetap harus menjaga kebersihan tubuhnya Bi."


"Lah kan den Bram orang kaya Non masa tahanan nya disamakan dengan tahanan lain."


"Bi, di sana itu kantor polisi apa lagi sudah di lembaga permasyarakatan atau lapas. Maka tidak ada namanya orang kaya, orang miskin semua sama."


"Emang ga boleh kasih uang pelicin gitu non?"


Ayra menarik kursi dan duduk lalu menarik satu kursi lagi hingga ia meminta bik Asih untuk duduk disebelahnya.


"Bik, Para ulama sepakat atas keharaman praktik suap atau uang sogok bahasa arabnya risywah dalam bentuk apapun. Yang berdosa tidak hanya yang menerima suap Bi. Tapi Sang pemberi suap pun akan menerima dosa yang sama.


Apa tidak kasihan mas Bram kalau sampai mengambil jalan pintas karena kekuasaan nya dan harta nya dengan cara menyuap. Biarlah menderita di dunia karena dosa kita bik daripada nanti di alam kubur apalagi di hari akhir."


Ayra meneteskan air matanya tanpa ia sadari karena bayangan suaminya yang berada di dalam rumah tahanan membuat hatinya kembali bersedih. Sebuah suara pelan membuat Ayra dan Bik Asih menoleh ke sumber suara.


"Maaf Nyonya ada Pak Rafi katanya ia diminta Nyonya kemari."

__ADS_1


"Iya, saya yang memintanya."


"Baik Nyonya."


Ayra membereskan apa-apa yang akan menjadi kebutuhan Bram selama 5 hari kedepan di sel tahanan. Dari sabun mandi, pasta gigi, deodorant, sampo hingga kopi yang sudah ia buat pas takarannya. Termasuk baju ganti. Untuk celana, Ayra telah membuang tali atau karet-karet pada training Bram. Karena jika tidak hal itu akan dilakukan oleh pemeriksa nantinya dan dikembalikan. Ayra menyelipkan sajadah yang biasa ia pakai untuk shalat.


"Semoga kamu mendapatkan hidayah di balik musibah ini mas."


"Ini Mas Rafi tolong antar kan ke lapas. Mas Bram pasti butuh ini."


"Panggil Rafi saja Nyonya. Apa ini Nyonya?"


"Baiklah, ini keperluan untuk mas Bram selama 5 hari disana. Tadi diberi tahu jika selama 5 hari kedepan mas Bram tidak boleh menerima kunjungan dulu kecuali pengacaranya."


"Bos.... Dirimu Beruntung sekali mendapatkan nyonya Ayra. Disaat begini istrimu malah mempersiapkan semua keperluan mu. Tuhan masih adakah satu yang tersisa untuk ku di pesantren?


Suara Ayra membuyarkan lamunan Rafi.


"Oya itu rokoknya aku taruh di paling atas. Masing-masing kebutuhan mas Bram sudah aku bungkus untuk sekali pakai."


"Baik Nyonya."


"Ayra. Panggil Ayra saja."


"Aduh saya ga berani. Kalau ibu saja gimana bu?"


"Rafi Bu.Kalau begitu saya permisi dulu Bu."


Namun Ayra menahan Rafi karena ada yang dia rasakan harus ia sampai kan.


"Tunggu."


"Iya Bu."


"Tolong tanyakan kepada mas Bram. Ponsel nya terus berbunyi. Panggilan dari satu nomor yang sama dan tidak terdaftar di kontak. Hampir belasan kali menelpon satu hari ini. Saya tidak berani mengangkat nya. Mas Bram tak memberi ku izin tadi. Aku hanya mendapatkan izin menyimpannya."


"Owh iya buk.


Rafi meninggalkan Ayra dengan bermonolog dalam hatinya.


"Kenapa harus izin dulu. Apa salahnya tinggal di angkat. Oh.... Mungkin dia sudah hapal kalau suami nya itu petasan loncat. Kadang kalau marah tidak memikirkan perasaan orang yang sedang ada didekatnya. Bu Ayra pasti tidak ingin mendapatkan amarah Tuan Bram."


Saat Ayra merasa tenang karena kebutuhan suaminya telah ia kirimkan namun tidak dengan suasana hati Bram yang berada di dalam sel tahanan yang berukuran 3x4 itu. Ia tampak menatap tajam lantai dihadapan nya, ternyata ia memikirkan amarahnya pada Shela hingga membuatnya mendekam dalam sel tahanan yang sangat jauh dari kata nyaman.


Namun Bram tak menyadari jika ada dua pasang mata yang sedari tadi menyorot dirinya. Dua orang lelaki yang sedang menatap tajam Bram itu pun bersuara dengan nada sarkas.

__ADS_1


"Heh! kamu kasus apa?"


Bram masih duduk dengan bersandar pada tembok dingin sel tahanan itu. Ia tak menggubris pertanyaan dua lelaki yang terlihat memiliki banyak tato pada lengannya.


Dua lelaki tadi merasa tak dianggap akhirnya tersulut emosinya. Mereka mendekat ke arah Bram. Satu diantara mereka menarik baju kaos Bram di bagian leher.


"Berani kamu ya?"


Bram yang sedang menahan emosi satu hari ini pun seolah mendapat lawan untuk menyalurkan emosi nya itu.


"Apa mau mu Hah!"


Bram memprovokasi.


"Set*n Kecil kau!"


"Buuggh."


"Awwwhh."


"Buuggh."


"Eggghhhh...."


Satu pukulan yang Bram dapatkan diperut dan di bibirnya membuat CEO MIKEL group itu meringis kesakitan. Ia coba melawan dengan mengangkat satu tangan nya. Namun lawan Bram tak seimbang, dua lelaki itu bukanlah tandingan Bram.


Satu diantara mereka memegang kedua tangan Bram dari belakang da membungkam mulut Bram dengan sebuah handuk kecil.


"Eeemmmm.... "


Bram berusaha melepaskan diri dan membuka mulutnya namun sia-sia.


"Buuggh."


"Buuggh."


"Buuggh."


"Rasakan ini."


Dan terakhir hantaman dari siku lelaki bertubuh kekar itu pada dahi Bram berhasil membuat darah segar mengalir dari wajah tampan nya. Lelaki dibelakang tubuh Bram melepaskan cengkraman pada kedua tangan Bram dan ikatan handuk pada mulutnya.


"Aarrrggghhh."


"Bram mencoba berteriak. Rasa sakit dari dahinya membuat matanya berkali-kali berkedip. Penglihatan nya berkunang-kunang. Ia mencoba berdiri dengan memegang tembok namun usahanya gagal karena tubuhnya merusak gemetar hingga ia tersungkur di atas lantai sel tahanan.

__ADS_1


Pipinya yang menempel pada lantai sel tahanan itu membuat darah segar dari dahinya mengotori lantai. Satu nama dan satu bayangan yang ia lihat di pelupuk matanya sebelum ia tak sadarkan diri hingga bibirnya yang terasa sakit karena pukulan lelaki tadi menyebut satu nama.


"Ay-Ay-Ayra"


__ADS_2