Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
138 Tangis Pak Uban


__ADS_3

Deg.


Bram merasa kaget sekali. Bulu kuduknya bergidik mendengar penuturan pak Uban. Karena hampir satu bulan bersama lelaki berambut panjang itu, baru kali ini ia melihat wajah Pak Uban sangat serius berbicara walau diiringi tawa khasnya.


"Lantas apa maksud anda ingin bertemu mertua saya?"


Bram yang merasa malu akhirnya mau tidak mau segera mendesak Pak Uban agar segera berkata maksud dan tujuannya. Ia menyesal , harusnya kemarin ia tanyakan dulu apa maksud Pak Uban ingin bertemu dengan kyai Rohim.


Berbeda dengan Bram kyai Rohim tak berubah sekali dari raut wajahnya tidak terdapat rasa marah, karena kembali mendengar penyebab adik satu-satunya meninggal. Kyai Rohim hanya menarik napas berat dan menghembuskan napasnya dengan tenang.


"Bram, pelankan suara mu nak. Usia beliau lebih tua dari mu nak."


Kyai Rohim mengingatkan menantunya karena bentakan Bram barusan membuat Kyai Rohim paham bahwa menantunya itu mungkin belum mengerti bahwa sebuah adab dan akhlak itu lebih penting dari sebuah ilmu.


Kyai Rohim termasuk salah satu pengajar dikalangan pesantren yang tak memandang rendah pentingnya menuntut ilmu. Namun Kyai Rohim tetap menerapkan kepada murid-muridnya bahwa salah satu pondasi penting sebuah ilmu untuk di sampaikan pada siapapun itu membutuhkan adab dan akhlak.


"Maaf Bi..."


Bram yang pertama kali dulu bertemu Kyai Rohim sangat angkuh dalam berucap mau pun bersikap. Entah karena cintanya pada sang istri atau memang sebuah Hidayah yang telah hadir dalam hidupnya. Kini mampu menghormati orang tua sekaligus guru dari istrinya itu.


"Lantas kenapa Bapak mengatakan pada saya tentang kebenaran yang mungkin harusnya cukup bapak pendam."


"Hihihi..... Hiks.... Hiks.... "


Pak Uban tertunduk. Suara tangisnya terdengar. Bram yang duduk disebelah Pak Uban bisa melihat jelas tangan pak Uban yang basah menutupi kedua matanya. Beberapa kali tangan itu mengelap kedua netranya dengan ujung jari telunjuk dan jempolnya.

__ADS_1


"Hei..... Kemana kamu yang jahil, sombong kemarin. Bisa menangis juga dia."


"Ceritakanlah pak. Saya akan mendengarkan jika memang ada yang harus saya dengarkan namun jika anda menuntut saya melalukan apa yang pernah ada minta pada saya puluhan tahun lalu. Maaf saya tidak bisa."


Pak Uban mulai menenangkan dirinya. Ia mengangkat kepalanya yang tadi tertunduk hingga wajah yang basah akan air mata dapat terlihat oleh Kyai Rohim yang duduk di hadapannya.


Akhirnya kisah puluhan tahun lalu yang tak pernah Kyai Rohim ketahui pun hari ini dibukakan oleh Allah lewat Bram yang harus menjalani hukuman di lapas ini.


Pak Uban menceritakan jika dialah yang dulu merusak rem mobil Munir saat Munir masih berada di Surabaya sebelum menjemput Nuaima. Ia melakukan sabotase itu dengan mengurangi minyak rem pada mobil Munir hingga ketika perjalanan jauh Munir dari Surabaya ke Kali Bening baru menimbulkan dampak pada pedal rem saat ia akan pulang ke Surabaya bersama Nuaima.


"Saat itu saya melakukan itu karena saya seorang pemakai narkoba Pak Kyai. Maka saya membutuhkan uang. Dengan berbagai cara asalkan saya mendapat barang itu. Maka saya yang sering menjadi orang kepercayaan pak Bagas dalam melakukan hal-hal yang membutuhkan ancaman dan kekerasan, menerima tugas untuk membuat rem mobil Munir agar terlihat murni kecelakaan."


"Tunggu. Bagas. Saya seperti tidak asing nama itu."


Kyai Rohim terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya.


Ada rasa sakit di hati Kyai Rohim mendengar penuturan Pak Uban. Namun ia mencoba mendengarkan apa maksud sebenarnya lelaki ini.


"Lantas kenapa anda ingin bertemu saya padahal anda masuk ke tempat ini bukan karena kasus meninggalnya Munir dan Nuaima?"


Kyai Rohim mengangkat kopiah hitamnya dan menggaruk kepala bagian belakangnya yang terasa gatal lalu mengembalikan posisi kopiah itu kembali.


Pak Uban menceritakan saat ia butuh biaya kembali untuk membeli barang haram itu. Ia meminta uang kembali pada Pak Bagas dengan mengancam akan membeberkan kejadian sebenarnya pada Nuaima dan Munir. Naas ketika kejadian itu Pak Uban yang sedang merasa sangat membutuhkan obat haram itu nekat ingin menghabisi Pak Bagas, karena ia terus di hina.


Saat itu Pak Uban membawa sebuah senjata rakitan dimana dalam undang-undang negara republik Indonesia tidak sah secara hukum untuk kepemilikan senjata ilegal. Serta berdampak membahayakan masyarakat sekitar karena memicu tindak kejahatan disekitar salah satunya kepemilikan senjata api ilegal.

__ADS_1


Ia bermaksud menembak Pak Bagas namun yang tertembak malah istri Pak Bagas yang tiba-tiba muncul dari luar ruangan kerja Pak Bagas. Naas nyawa istri pak Bagas pun tak mampu diselamatkan. Hingga Pak Uban ditangkap polisi dan dijatuhi hukuman seumur hidup. Karena kasus berlapis yang ia dapatkan. Dari tidak hanya sebagai pemakai namun ia juga menjadi pengedar, belum lagi kasus perampokan di beberapa daerah ia juga menjadi pelakunya. Dan korban meninggal dari aksinya itu terhitung terdapat beberapa orang.


Penyesalan memang datang terlambat ketika separuh umur ia habiskan di dalam lapas, meninggalnya istri dan anaknya karena Virus Covid 19 membuat ia sangat terpukul dan mulai berbenah diri. Ia yang berpikir jika ia telah menjalani hukuman didunia ini atas beberapa tindak kejahatannya dimasa lalu maka hatinya masih gelisah. Ia gelisah karena kejahatannya pada Munir dan Nuaima belum lah mendapatkan hukuman.


Ketakutan Pak Uban akan salah satu yang ia imani dan dibenarkan adanya tentang siksa kubur maka ia merasa ingin meminta maaf dari keluarga Munir.


Suara tangis bahwa laki-laki yang hanya ada tarikan napas dari hidung karena cairan yang membuat hidung tak bisa bernapas lega terdengar dari sela-sela perkataan Pak Uban.


"Saya mau minta maaf pada pak kyai dan anak munir dan Nuaima. Saya ingin minta maaf.... Hiks.... Hiks..."


Bram yang dari kemarin memandang rendah bahkan tak suka pada Pak Uban kali ini merasa malu. Lelaki yang lebih tua dari umurnya yang ia pandang rendah, malah memiliki hati yang begitu lembut. Bagaimana sebuah hati bisa membuat kedua mata menangis karena mengingat dosa jika segumpal hati itu tak memiliki kelembutan.


Bahkan ia sendiri pun sampai saat ini masih sulit sekedar untuk menangis kala berdoa karena ingat dosa-dosanya dimasa lalu. Airmata CEO MIKEL Group itu hanya mampu dihasilkan beberapa bulan ini jika ia melihat sang istri bersedih atau tersakiti.


Kyai Rohim berpindah tempat duduknya. Ia duduk disebelah Pak Uban. Ia tepuk pundak Pak Uban.


"Pak, Manusia ini memang tempat salah dan dosa. Tetapi bukan berarti tidak ada lagi jalan untuk memperbaiki diri kita ketika kita sadar jika kita telah berbuat dosa. Karena, betapa pun besar dosa seorang hamba, pintu rahmat Allah selalu terbuka. Allah memberikan manusia kesempatan untuk memperbaiki dirinya, yaitu dengan cara bertobat dari perbuatan-perbuatan dosa yang telah ia Lakukan baik di masa lalu atau sekarang."


"Huuuuu.....Huuuu..... "


Tangis Pak Uban pecah. Ada rasa sesak di dadanya rasa sesak puluhan tahun. Rasa menyesali akan setiap dosa yang ia buat. Namun saat rambut kepala telah memutih ia baru sadar jika ia adalah seorang hamba yang penuh akan dosa.


"Apakah tobat saya diterima pak Kyai? Huuuu.... Huuuu.... Saya takut nanti saya sudah susah di dunia masih susah di dalam kubur dan di akhirat.... Huuuu.... Huuuu... Hiks... Hiksss...."


Suara tangis Pak Uban dan airmata di pipinya mampu membuat sepasang mata yang baru melihat pemandangan itu meneteskan air mata.

__ADS_1


__ADS_2