
Setiba di kediaman Kyai Rohim. Ayra melihat sebuah mobil putih terparkir di depan rumah Abi nya. Aisha langsung berpamitan ketika akan membawa berkas-berkas Ayra kedalam, Aisha memintanya untuk pulang.
Setibanya Ayra di dalam ruangan depan saat ia mengucapkan salam. Ia melihat dua orang yang duduk di sofa bersama Umi Laila. Ayra langsung mendekati mereka.
"Mbak Sasi... "
"Ayra...."
Dua perempuan itu saling menyapa. Ayra melihat bayi mungil yang berada di gendongan Sasi.
"Siapa namanya?"
"Putri Salsabila."
"Nama yang bagus. Semoga menjadi anak Sholehah. Maaf kemarin aku tak bisa takziah. Mas Bram sedang di rawat saat itu."
"Tidak apa-apa."
Ayra mempersilahkan Sasi duduk. Ia meminta izin menggendong si kecil Putri. Sasi menyampaikan maksud kedatangan dirinya.
"Ayra. Saya datang kemari karena ada amanat yang harus saya sampaikan. Ini saya temukan di meja kerja papa semalam. Tertulis disana bahwa amplop itu untuk kamu atau Kyai Rohim."
Ayra menerima amplop itu. Ia melihat tulisan tangan di amplop itu.
"Aku bingung ada hubungan apa antara papa dengan kamu. Setahu ku Papa tidak pernah berbicara apapun. Kalau tidak boleh keberatan mohon dibuka. Aku ingin tahu."
Ayra menarik napas dalam. Ia sebenarnya lelah sekali. Ingin sekali ia istirahat, kepalanya yang terasa penat. Tubuh yang lelah namun tak boleh mengabaikan tamu. Maka Ayra membuka Amplop itu. Ia baca di bagian awalnya.
...To Kyai Rohim/Ayra...
"Umi."
Ayra menunjukkan Surat itu
"Tak apa Ay. Abi lagi di luar kota ada undangan khataman. Surat ini juga ditujukan untuk kamu Nduk."
Ayra membaca baris demi baris surat yang ditulis oleh Pak Bagas dengan tangannya. Melihat tanggal yang tertera jelas Pak Bagas menulis surat itu tepat di hari Bram masuk rumah sakit karena dirawat pasca kebakaran itu. Kedua mata Ayra menahan butiran embun demi menjaga perasaan Sasi saat kedua netranya berhenti pada kalimat ;
..."Sungguh saya menyesal. Saat melihat keelokan hati kalian yang begitu mudah memaafkan dan melupakan kesalahan orang lain. Aku telah melihat dan mendengar bagaimana Jamal bisa tersenyum bahagia karena ia telah menerima maaf dari kalian....
...Sungguh dosa ku dimasa lalu tak mampu ku tebus. Berharap apa yang aku rencanakan berhasil. Aku mohon jika memang aku yang berdosa ini bisa mendapatkan maaf kalian, aku mohon biarlah keburukan ku cukup batas kalian. Aku berharap anak dan menantu ku tak tahu. Aku tak ingin hilangnya cinta mereka saat tahu betapa Berdosanya aku."...
Ayra menutup surat itu.
__ADS_1
"Apa isinya Ayra?"
Sasi tak sabar menunggu jawaban Ayra yang telah selesai membaca surat itu.
Ayra menatap Sasi. Ia berpindah posisi. Ia duduk disebelah Sasi. Satu tangan Sasi Ia genggam.
"Ternyata kedua orang tua kita dulu berteman. Ibu ku pernah bekerja di perusahaan Papa mu. Dan Papamu mengucapkan terimakasih karena kemarin kang Furqon mendonorkan darahnya untuk kamu. Pesannya, ia menitipkan kamu agar kita sebagai anak-anaknya tetap menjalin silahturahmi antara orang tua kita. Walau mereka telah tiada. Mulai sekarang, Kami adalah keluarga Mu. Kamu adalah keluarga kami."
Seketika Sasi diam membisu. Ia mengingat satu lembar pada buku harian ibunya jika seorang perempuan menjadi korban keegoisan cinta Papanya bukan hanya ibunya.
"Apa kamu anak Nuaima?"
Deg.
Ayra kaget karena ia tak menyangka jika Sasi tahu nama ibunya.
"*Sungguh kecantikan luar dalam yang kamu miliki Ayra. Sekarang aku tahu kenapa mungkin Mas Ilham merasa susah move on. Kamu punya pesona dari dalam hati mu bukan hanya paras wajah mu. Jika kamu memiliki pesona sedemikian indahnya. Ibu mu pasti memiliki hal yang sama hingga membuat papa terobsesi pada Ibu mu.
Aku tahu isi surat itu pasti permintaan maaf papa atas dosanya di masalalu. Sungguh aku pun sebagai perempuan, sangat kagum akan pesona yang ada pada dirimu.Jika kamu saja mampu memaafkan Papa dan menutupi kesalahannya dari aku. Aku pun harus bisa melakukan hal yang sama. Hanya akan ada yang baik-baik yang aku kenang dari papa*."
"Ya, Papa pernah cerita kalau aku seperti salah satu managernya dulu ketika memimpin perusahaan. Namanya kalau tidak salah Nuaima. Papa juga bilang kalau dia teman papa. Sungguh aku beruntung karena bisa mengenal sosok Nuaima itu dari dirimu."
Kedua perempuan yang kini ada dimasa depan saling memendam rasa. Saling mengubur masalalu. Mereka mencoba menjalani masa depan dengan hubungan yang baik. Tanpa dendam, tanpa rasa saling menyalahkan.
"Maaf Bu mengganggu. Ini ada surat untuk Ibu agar bisa hadir besok di upacara 17 Agustus di Lapas."
Ayra membuka surat undangan itu.
"Ada apa ya Fi? apa memang biasanya para keluarga di undang ketika upacara 17 Agustus seperti ini?"
"Kurang paham Bu. Oya Bu untuk perayaan di kantor apakah sudah izin Pak Bram?"
"Sudah. Mas Bram membolehkan. Jadi nanti acaranya kita buat dua hari tanggal 17- 18 ya Fi. Di tgl 18 itu semua harus Bawak anak istri dan suaminya. Jadi acara betul-betul kekeluargaan. Konsepnya kita makan bareng. Liburan bareng. Tidak ada kegiatan kerja."
"Baik Bu. Saya sudah buatkan pengumuman. Untuk konsep Aisha yang sudah siapkan."
"Kamu benaran tidak suka sama Aisha?"
"Apa Bu?"
"Kamu belum berniat menikah? Jangan terlalu fokus bekerja. Usia sudah matang tunggu apalagi?"
"Heh. Masih belum ada yang cocok Bu."
__ADS_1
"Kalau ga dicari ya Ga bakal ketemu. Kalau ga dijemput ya ga Bakal ada Fi. Kamu boleh ajukan cuti. Aku lihat kamu tak pernah mengambil cuti mu."
"Bagi saya Pak Bram adalah keluarga Bu. Maka kalau saya cuti. Saya bingung malah mau habis kan kemana waktu saya."
Ayra terharu mendengar ucapan tulus Rafi. Ia tahu dari suaminya jika dahulu Rafi hampir putus asa melamar pekerjaan. Hingga akhirnya ia diterima oleh Bram menjadi asistennya. Hingga akhirnya ia sangat berterimakasih karena gaji yang diberikan juga cukup besar.
Rafi yang hanya fokus pada panti asuhan yang telah merawat dan membesarkannya.
"Mau saya bantu Carikan? Setidaknya kenalan dulu."
"Ah tidak usah Bu. Nanti saya bingung kalau disuruh jadi Imam shalat kalau istrinya santri kayak Ibu."
"Hehehe.... "
Ayra terkekeh-kekeh sehingga Umi Laila yang berada di teras sibuk dengan buku yang dibaca mau tidak mau ikut tertawa. Rafi bingung karena ia malah ditertawakan.
"Oala... Ada yang ngarep punya istri Santriwati toh.... "
Umi Laila tersenyum ke arah Rafi. Ia jadi tertunduk malu.
"Sebenarnya aku ingin kamu kenal Aisha lebih dekat. Tapi sayang dia sudah ada yang melamar. Kalau kamu mau, nanti bisa minta Abi."
"Saya cari sendiri saja Bu."
Rafi undur diri setelah Ayra menandatangani beberapa surat untuk keperluan Mikel group.
"Ay, kemarin ada anak Teman Umi. Katanya nyari yang udah mapan. Apa kenalin dengan Rafi?"
"Tadi Umi dengar sendiri kalau dia mau cari sendiri Mi. Umi, Ayra mau istirahat dulu."
"Ujiannya lancar?"
"Alhamdulilah. Doa Umi dan Abi mempermudah setiap usaha Ayra. Bulan depan Insyaallah pakai Toga lagi Umi. Padahal berharap bisa fotonya sama mas Bram.... "
"Ayo... ayo... hatinya dijaga... Jangan berandai-andai... Bersyukur untuk setiap apa yang kita jalani."
"Iya Mi."
Ayra bergelayut mesra pada lengan Umi Laila."
"Kamu ini sudah punya suami masih manja... "
Satu sisi yang Ayra miliki namun hanya ia tunjukkan pada tempatnya.
__ADS_1