Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
178 Bahagia itu Kita Yang Menciptakan bukan Pasangan


__ADS_3

Selesai makan siang dia sebuah restoran. Ayra merasa cukup lelah. Kakinya sedikit merasa kram, Bram yang bermaksud mengantar istrinya pulang , harus kembali membawa Ayra ke kantor.


Rafi yang baru saja menghubungi Bram bahwa seorang pimpinan dari perusahaan yang akan bekerjasama dengan MIKEL Group ingin Bertemu dengan Bram sebelum ia kembali ke Australia.


"Sayang, kita ke kantor dulu ya. Sebentar saja. Setelah itu kita pulang. Atau kamu mau aku minta sopir yang mengantar?"


"Ayra tunggu mas selesai saja. Biar nanti Ayra istirahat di ruangan mas."


"Baiklah."


Setibanya di MIKEL group. Bram langsung menuju ruangannya menggunakan lift khusus untuk dirinya. Tiba di dalam ruangan itu. Ayra istirahat di dalam ruangan khusus, yang berada tepat di sisi kanan meja kerja suaminya. Sedangkan Bram langsung menemui rekan bisnisnya di ruang meeting.


Hampir setengah jam Bram kembali ke ruangannya. Ayra duduk di sofa dan telah siap dengan tas tangannya, ia masih menunggu Bram menandatangani beberapa dokumen. Tiba-tiba pintu di ketuk oleh seseorang.


"Tok. Tok. Tok."


"Masuk."


Saat pintu dibuka. Perempuan yang merupakan manager personalia yang baru di MIKEL group itu berjalan dengan begitu gemulai. Ini untuk kedua kalinya ia menemui Bram. Ia sempat kaget karena melihat Ayra. Namun perempuan itu berpikir bahwa Ayra sedang melamar pekerjaan. Sehingga ia langsung duduk di hadapan Bram.


Bram hanya melirik perempuan itu namun kembali sibuk dengan berkas yang ada hadapannya.


"Katakan ada apa? Aku harus segera pulang."


"Maaf Pak. Ini ada beberapa struktur pengajuan untuk karyawan baru di bagian pemasaran."


Perempuan yang memiliki nama Lusi itu berdiri dan memajukan sebagian tubuhnya ke arah Bram. Ayra yang dari sofa mulai terasa gerah dan tak suka dengan tingkah Lusi. Ia berdehem beberapa kali.


"Ehem.... Ehem.... Hem...."


Lusi melirik ke arah Ayra sinis. Bram yang mengangkat kepalanya melihat sikap Lusi kepada istrinya. Baru ia ingin membuka mulutnya dengan maksud memberi peringatan, namun satu kalimat Ayra membuat Bram menoleh ke arah istrinya.


"Maaf Pak. Tenggorokan saya gatal. Bapak teruskan saja. Saya akan menunggu disini."


Ayra mengedipkan sebelah matanya ke arah Bram. Bram yang beberapa detik belum mengerti kenapa istrinya tiba-tiba menjadi begitu. Akhirnya ia paham bahwa istrinya itu ingin melihat seperti apa Perempuan dihadapan nya ini.


"Kamu ingin melihat apakah perempuan ini hama atau bukan Ay?"

__ADS_1


"Baiklah. Kamu, duduklah disana terlebih dahulu. Aku ingin mengecek hasil pekerjaan mu."


"Baik Pak."


Lusi menjawab Bram dengan manja. Ayra yang melihat Lusi berjalan mendekat ke arahnya. Bahkan Lusi duduk di hadapan Ayra dengan begitu angkuhnya. Bram yang melirik ke arah Sang istri tersenyum.


"Heh. Beruntung aku punya istri yang pandai mengelola rasa yang ada dihatinya. Kamu cari penyakit berani men de sah di hadapan ku. Kamu belum tahu istri ku."


Ayra tersenyum ke arah Lusi.


"Ketemu lagi Mbak."


Lusi tak menanggapi Ayra. Ia lebih fokus menatap Bram dari tempat duduknya. Ia menikmati wajah tampan Bram. Ia yang cukup lama menjanda membuat dirinya begitu tertarik pada Bram. Belum lagi selama ini, ia bisa cepat naik ke posisi nya karena kecantikan dan keseksian yang dimilikinya.


Ia tak tahu jika lelaki yang sedang di pandangi oleh dirinya, telah menikah dan memiliki istri yang selalu mencoba menciptakan rasa bahagia dari hatinya. Bukan dari orang yang ia cintai. Karena ia tahu seberapa ia mencintai makhluk Allah bernama suami itu. Bukan ia yang mampu menciptakan rasa bahagia melainkan hati seorang istri itu sendiri.


Ayra mengerti, ia tak mungkin meminta Bram memecat orang seperti Lusi ini. Ia bermonolog di dalam hati sambil memandangi Lusi.


"Ayra, semakin kamu meminta orang yang kamu cintai untuk menuruti apa kemauan hati. Maka yang ada hati kita yang tersakiti karena tak ada kemanfaatannya. Suami mu bukan milik mu. Ia milik Allah. Kapan pun ia bisa mengambilnya. Maka saat ini jika ada satu makhluk yang menikmati wajah tampan suamimu, saat itulah kesetiaan dibuktikan. Tugas mu hanya berusaha ada untuk suami mu."


Ayra membenarkan posisi duduknya.


"Maaf Nona saya kemari sedang untuk bekerja bukan untuk mengobrol."


"Oh... Tapi saya ingin kenalan dengan mbaknya. Boleh?"


Bram yang mendengar percakapan istrinya itu masih menunggu momen manager barunya itu tak berkutik. Ia sebenarnya menolak untuk posisi itu di tempati oleh Lusi. Namun beberapa pimpinan daerah merekomendasikan dia dan catatan kinerja yang baik membuat Bram akhirnya menerima hal itu, walau sebenarnya ia tak nyaman dengan cara berpakaian managernya.


Lusi sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Ayra. Ia sedikit berbisik.


"Maaf Nona. Sepertinya kita tidak selevel."


Lusi kembali menyandarkan punggungnya di sofa empuk.


"Kamu tahu, manager sebelum kamu bernama Aisha. Ia sangat sopan pada siapapun. Tidak melihat jabatannya. Terlebih pakaian nya juga tertutup."


Lusi mendelik tajam. Ia tak suka pada Ayra.

__ADS_1


"Siapa kamu? Kamu temannya? Aku pastikan kamu tidak akan lama bekerja disini."


Lusi berbisik pada Ayra. Ayra hanya menanggapi dengan sebuah senyuman pada Lusi. Bram tak nyaman melihat istrinya di intimidasi oleh Lusi. Ia cepat mendekat ke arah Lusi dan memberikan berkas yang baru saja ia cek dan bubuhi tanda tangan.


"Ini aku sudah memeriksanya. Sudah oke. Hanya ada satu yang kurang oke."


Lusi berdiri dan menerima map diserahkan oleh Bram.


"Baik. Pak. Bisa saya revisi pak, jika menurut bapak ada yang belum oke."


"Ya. Besok, pakailah pakaian yang tidak terbuka di bagian dada mu. Karena aku baru saja mendengar jika pakaian manager sebelum kamu memang sopan. Setidaknya walau kamu tidak berhijab, kenakanlah pakaian yang tertutup. Beruntung istri ku tidak seperti kebanyakan istri-istri bos ditempat lain."


"Em....Baik pak. Besok saya akan memakai pakaian yang lebih sopan."


"Satu lagi.Kamu ingin saya kenalkan dengan istri saya?"


Bram masih menyelidiki apa reaksi perempuan itu.


"Wah satu kehormatan bagi saya jika bisa berkenalan dengan istri bapak. Saya mau pak. Beliau pasti cantik. Beruntung bisa menjadi istri bapak."


"Yang Beruntung itu saya. Karena tidak semua istri sanggup bersabar dengan kelebihan yang Allah berikan padanya.Wajah tampan suami bisa jadi sumber masalah dalam rumah tangga. Namun beruntung istri ku tak pernah menjadikan masalah saat banyak yang menganggumi diriku."


Bram duduk disisi Ayra. Ia merangkul Ayra.


Lusi seketika berdiri dan terpaku menatap Ayra tak percaya. Perempuan yang pagi tadi dengan santainya mau membuang sampah disaat ia yang hanya manager memintanya dengan Angkuh. Bahkan baru saja Istri bosnya itu ingin berkenalan dengan dirinya namun dirinya terlalu angkuh. Karena merasa lebih cantik dan memandang sebuah pergaulan hanya untuk yang memiliki satu hubungan yang sama di pandang dari materi.


"Aku istrinya Mas Bram. Dan untuk pertanyaan mu tadi apakah aku mengenal Aisha. Ya. Aku mengenal nya. Dia asisten sekaligus teman ku. Ia bahkan selalu berusaha menjaga bagaimana hubungan pimpinan nya dengan pasangannya harmonis bukan menjadi rumput atau hama."


"....."


Perempuan itu terpaku tak percaya. Ia menyesal akan sikapnya pada Ayra. Ayra meminta suaminya memaafkan sikap Lusi. Ia berharap jika Lusi bisa menjadi pribadi lebih baik lagi.


"Tring."


Bram membuka pesan yang merupakan shareloc dari orang suruhannya tentang posisi Aisha.


"Sayang. Aisha ketemu."

__ADS_1


__ADS_2