
Pagi hari saat bangun dari tidurnya Bram terlihat berkali-kali mencoba mengembuskan cairan dari hidungnya. Suaranya pun terdengar khas orang flue. Setelah sang suami pulang dari masjid yang terletak tak jauh kediaman mereka.
Ayra yang menyiapkan baju kerja suaminya, menawarkan untuk memijat refleksi sang suami. Bram menolaknya, karena ia yang biasa terbangun ditengah malam. Dan malam tadi tak terjaga, membuat ia menolak niat baik istrinya. Ia kasihan karena Ia tahu betul Ammar anak lelaki nya yang paling sering cepat lapar. Anak lelakinya itu bisa tiga empat kali terbangun karena butuh ASI dari sang Ibu. Berbeda dengan Qiya yang kadang hanya satu atau dua kali terbangun saat malam.
"Ay siapkan celana jeans dan sweater saja. Mas hari ini tak ada pertemuan penting. Hanya kekantor."
Kembali hati Ayra goyah akan bisikan dihatinya. Pagi ini Bram yang telah di siapkan pakaian kerjanya, namun sang suami meminta menggunakan jeans dan sweater. Ayra pun menyiapkan yang diminta Bram. Ayra lupa bahwa suaminya adalah pemilik dari perusahaan. Bram yang saat masih single bahkan sering mengenakan pakaian santai ke kantor saat tak ada pertemuan dengan rekan bisnisnya.
Ayra melirik ke arah baju yang telah ia siapkan beberapa menit yang lalu. Cepat ia kembali menyiapkan semua kebutuhan suaminya. Pagi itu Bram memilih mengenakan Sweater karena tubuhnya terasa dingin. Saat sarapan pun Bram yang terlihat tak begitu peduli pada kedua belah hatinya. Bahkan pagi itu Bram tak menggendong kedua buah hati. Ia takut menularkan flue pada kedua buah hati mereka. Maka yang pasti akan ikut repot juga istrinya.
Namun sang istri justru berjuang keras menampik pikiran-pikiran negatif yang bermunculan di kepalanya. Bahkan seolah hatinya berbicara dan memerintahkan untuk membahas suasana hatinya dengan suami nya.
"Astaghfirullah.... Pikiran apa ini. Mungkin ini pengaruh ba by blu es Ayra. Atau kami butuh waktu berdua?"
Satu bulan ini Ayra memang menyadari ia hampir tak punya waktu berdua-duaan. Maka ia menanyakan pada sang suami apakah bisa untuk sekedar makan siang bersama.
"Mas, nanti makan siang dirumah?"
"Nanti mas kabari ya."
"Atau mas mau Ayra antar makan siangnya ke kantor?"
Bram mengelap mulutnya dengan tisu.
"Boleh Ay. Nanti minta sopir mengantar ya."
Bram pun berangkat ke perusahaan. Ayra menyibukkan dirinya dengan baby twins. Disela-sela kesibukannya merawat anak kembar. Ia masih menyempatkan memasak untuk suaminya. Saat selesai, Ayra meminta Intan meminta untuk ikut dengan dirinya.
Ammar dan Qiya yang memang tak kenal susu formula. Karena ASI Ayra yang cukup lancar membuat ia betul-betul memanfaatkannya untuk memberikan ASI ekslusif pada bayi kembarnya. Setibanya di perusahaan, di lobby ia langsing disambut ramah oleh karyawan yang berada di bagian depan. Ia bahkan langsung di arahkan ke lift khusus orang nomor satu di perusahaan itu. Bahkan satu lelaki ikut bersama mereka dengan memegang HT.
Tiba di depan ruangan Bram. Ayra yang tak mengetuk langsung saja masuk kedalam ruangan Suaminya. Sungguh sebuah prasangka akan sangat menguasai hati saat semua bukti mengarah pada suaminya. Lussy yang sedang berada di ruangan Bram sempat tersandung hingga terjatuh ke arah sofa tepat di depannya. Bram yang dari tadi merasa pusing kepalanya memilih duduk di sofa. Termasuk ketika Lussy datang untuk menyerahkan beberapa laporan.
Disaat posisi jatuh dalam keadaan Lussy berada dalam dada Bram. Pintu dibuka oleh Ayra. Kedua bola mata Ayra terbuka sempurna. Cepat ia tutup pintu tersebut. Qiya yang berada di dalam gendongannya cepat ia dekap. Intan yang berjalan di belakang Ayra hampir menabrak majikannya karena Ayra berhenti mendadak di depan pintu.
"Ada apa Bu?"
"Tidak saat lupa membawa sendok. Coba kamu minta sendok ke OB."
"Tapi saya tidak tahu Bu."
Ayra yang sedang berusaha menenangkan pikirannya tanpa sengaja sedikit meninggi kan nada bicaranya pada Intan.
"Kamu bisa tanyakan Intan? Tolong.... Hhhhh.... Astaghfirullah....."
Intan cukup aneh dengan wajah Ayra yang sedikit tegang dan suaranya juga terdengar bergetar.
Tiba-tiba Bram yang sempat melihat Ayra tadi. Cepat membuka pintu.
"Ay... A-"
"Ayra lupa bawa sendok mas. Ayra minta intan mengambilkan sendok dulu."
Bram mengambil paper bag di tangan istrinya.
Ia juga membuka lebar pintu itu. Lusi telah berdiri dibelakang Bram. Ia menunduk tanda hormat pada Ayra. Ayra sengaja melambatkan langkahnya. Ia menarik napasnya dalam saat berada di depan Lusi yang masih menunduk. Ia dapat memastikan aroma wangi kemarin tidak sama dengan aroma yang dipakai Lusi.
Ayra duduk di sofa dan ia mengeluarkan Qiya dari dalam gendongannya. Lusi pun permisi keluar. Bram duduk di sofa yang berada di seberang Ayra. Ia takut jika menularkan flunya pada Qiya. Ia menelisik Istrinya. Ia bisa pastikan jika istrinya mencoba menenangkan hatinya melihat kejadian tadi.
Bram yang tahu jika tadi Aisha juga datang ke perusahaan untuk mengukur pakaian seragam untuk karyawan di perusahaannya. Sebuah ide muncul setelah insiden Lusi saat itu membuat Bram ingin semua karyawan di tempatnya menggunakan seragam yang sedikit lebih sopan. Ia menelpon Rafi meminta agar Aisha bisa membawa Qiya sebentar bersama mereka. Bahkan Intan pun diminta oleh suami Ayra itu untuk makan siang bersama Aisha dan Rafi.
__ADS_1
Ayra masih bersikap tenang. Ia menyiapkan makan siang Bram. Setelah selesai, Bram pun paham jika istrinya sedang merasa cemburu. Maka ia memanfaatkan waktu makan siang ini untuk quality time.
"Ay. Mas sudah lama tidak disuapi."
Ayra tersenyum. Ia mengambil piring di atas meja dan baru akan menyendok kan nasi dan lauk untuk suaminya. Namun Bram memegang tangan istrinya.
"Mas ingin langsung dari tangan mu Ay."
"Apakah akan membuat mas lebih segar makan dengan tangan?"
"Kita lihat nanti."
Ayra mencuci tangannya di wastafel yang berada di balik ruangan kerja Bram yang terdapat ruangan yang biasa ia gunakan untuk istirahat. Lalu ia menyuapi suaminya.
"Kamu sudah makan?"
"Makanlah dulu nanti baru bicara."
Bram tersenyum. Ia tahu bahwa istrinya merasa cemburu. Setelah ia menghabiskan satu piring nasi dan lauk yang Ayra suapi. Ia pun mengambil lauk dan nasi lalu ia menyuapi Ayra. Ayra membaca doa lalu menikmati suap demi suap yang Bram berikan. Ia melihat ujung hidung suaminya merah dan berkali-kali Bram menarik napas dengan kasar karena terasa buntu.
"Nanti sore Ayra pijat saja kalau mas tidak mau ke dokter."
"Lalu untuk luka di hati kamu bagaiamana mas mengobatinya?"
Ayra menunduk malu. Ia menggigit bibir bawahnya. Bram beralih ke bawah sehingga ia berada tepat di depan lutut Ayra.
"Apa yang kamu lihat tadi tidak seperti yang kamu pikirkan."
Ayra menaikan satu alisny.
"Boleh Ayra tanya sesuatu?"
"Astaghfirullah mas... Mas demam. Sudah minum Paracetamol?"
"Belum. Kamu mau tanya apa sayang?"
"Ayra mau tanya mas sudah minum obat?"
"Jangan bohong. Tadi itu Lusi terjatuh kakinya tersandung kaki meja. Apa yang kamu lihat tidak seperti yang kamu pikirkan. Kamu masih marah?"
"Tidak marah tapi cemburu. Tapi sekarang tidak lagi."
Ayra cepat ke ruangan tempat suaminya biasa istirahat. Ia mengambil kotak P3K yang memang ia siapkan saat Ia menggantikan posisi Bram sementara. Lalu ia memberikan Bram Paracetamol.
"Cepat diminum mas."
"Ay.... "
Satu yang selalu tak bisa membohongi Bram adalah detak jantung istrinya. Ayra yang masih memegangi pil Paracetamol. Berusaha menenangkan hatinya.
"Katakan apa yang membuat jantung mu berdetak seperti ini. Kamu marah? cemburu?Atau... apakahkarena semalam mas mengabaikan kamu?"
Ayra memeluk Bram. Ia menyandarkan kepalanya di dada suaminya. Ia mendengar detak jantung Bram yang berdetak cukup teratur. Aroma tubuh suaminya masih sama. Ia menitikkan airmata.
"Katakan kemarin mas darimana? Ayra menelpon Rafi bilang mas dirumah sakit. Lalu saat pulang, Aroma tubuh suami Ayra ini kemarin ketika pulang sudah berganti dengan parfum perempuan. Apakah Ayra yang negatif thinking atau ada yang mas sembunyikan?"
"Ay.... "
Bram melerai pelukannya. Jakunnya naik turun. Ia tak menyangka jika satu malam istrinya menahan rasa penasaran dari aroma parfum Lani yang menempel pada tubuhnya.
__ADS_1
"Jadi tangis mu pagi tadi di saat selesai shalat Shubuh karena satu rasa ini?"
"Ayra hanya khawatir, Ayra tidak menjalankan tugas yang baik dan membuat suami Ayra tak merasakan ketenangan dirumah. Tak merasakan kebahagiaan berada bersama Ayra dan anak-anak mas. Bukan tentang aroma yang mas bawa pulang kemarin."
"Duduk."
Bram mengajak Ayra duduk di sofa. Ia melipat satu kakinya. Lalu ia memandangi istrinya.
"Pertama. Mas kemarin begitu lelah sehingga tidak bisa bercerita tentang banyak hal kegiatan mas di luar. Kedua, mas semalam sangat merasa tak enak badan. Jika semalam mas tergoda kemolekan istri mas. Khawatir jika istri mas ini akan tertular flu. Ketiga. Aroma parfum yang istriku cium kemarin adalah aroma parfum kakak ipar dari Nisa. Nisa itu adik sepupunya Joko yang merupakan calon istri Krisna."
Ayra menunduk malu ketika mendengar penjelasan Bram.
"Berarti noda lisptik di jas mas kemarin?"
"Noda Lipstik? O... jadi itu kenapa bibir istriku ini semalam sedikit lebih merah dari biasanya?"
Ayra tersipu malu.
"Nah kalau sudah merona begini kamu baru tidak memendam rasa lagi. Ayra sayang... mas tidak tahu darimana asal noda itu. Tapi percayalah mas tak akan menodai pernikahan kita dengan bermain dengan lain hati. Bukankah istriku pernah bilang. Jika kita membawa Allah dalam setiap kegiatan kita maka kita akan takut untuk bermaksiat. Karena Allah maha mendengar?"
Ayra men cium tangan suaminya.
"Maafkan Ayra mas... Semalam mas terlihat lelah. Ayra tak berani bertanya. Pagi tadi mas juga terlhat masih tak sehat."
"Mas juga minta maaf kemarin mas tidak cerita peristiwa jika mas bertemu Joko. Sepupu Amir."
"Mas berkelahi lagi?"
Bram menggelengkan kepalanya.
"Mas merasa harus menjelaskan kesalahpahaman ini Ay. Krisna sepertinya mendapatkan masalah karena kita menikah. Pernikahan nya dibatalkan oleh kakak Bisa hanya karena Joko tak Suka pada mas."
"Astaghfirullah... "
"Lalu?"
"Kemarin Krisna belum sadar. Tapi barusan Tante Karin memberi kabar kalau Krisna telah sadar. Menurut mu apa yang harus kita lakukan. Mas lihat sepertinya Nisa menyukai Krisna. Begitupun sebaliknya."
Ayra seketika teringat akan Amir. Ia memang belum sekalipun berkunjung ke kediaman keluarga Amir pasca meninggalnya Calon suaminya itu.
"Kita coba bertemu dengan kakaknya Nisa mas. Kasihan Krisna dan Nisa jika memang mereka punya niat yang baik harus batal menikah hanya karena kita."
"Baiklah kita sekalian membesuk istrinya Joko."
"Istrinya kenapa?"
Bram menceritakan kejadian yang kemarin membuat aroma parfum Lani melekat pada tubuhnya. Sehingga Ayra kembali belajar tentang satu hal yang ia dapatkan bahwa dibutuhkan sebuah tabayun untuk satu hal sekalipun semua bukti yang mengarah pada orang yang ia curigai.
"Rasanya kebahagiaan yang baru sebentar ini membuat Ayra lupa tentang arti sebuah tabayun dan kepercayaan pada mu mas... Maafkan Ayra ya mas..."
Bram memeluk istrinya.
"Mas beruntung Ay. Tak terbayang jika perempuan lain yang menikah dengan mas. Mampukah ia mengontrol hatinya. Mas bahkan semalam tidur sangat nyenyak saat hati mu di penuhi banyak tanya, dipenuhi rasa sesak akan semua bukti yang membuat hati mu sakit. Temani mas menua bersama Ay."
Memang dibutuhkan sebuah kerjasama untuk menjaga rumah tangga agar tetap harmonis. Namun Peran istri lebih banyak untuk menjaganya dibandingkan suami. Andaikan Ayra yang kemarin langsung sibuk merasa insecure dan bertanya pada sang suami. Pastilah emosi sang suami akan mudah terpancing karena suasana hati, pikiran dan tubuh yang tak sehat pun mendukung. Namun sekali lagi Pesona Ayra mampu membuat Bram merasakan 'Baiti Jannati' di dalam rumah tangganya.
"Sungguh kamu adalah pelipur lara ku Ay. Kamu mampu menjadi inspirasi ku, kamu mampu menjadi kekuatan ku, dan kegembiraan ku. Mas mencintai kamu. Jika nanti di surga. Mas berharap kamu adalah bidadari surga untuk mas."
"Sungguh menyenangkan memiliki istri yang sholehah, karena ia selalu memberikan kebahagiaan nan tulus. Berikan surga untuk istriku Rabb. Sungguh ia adalah perempuan yang sholehah. Panjangkan umur kami, izinkan kami menua bersama. Amiin."
__ADS_1