Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
155 Melepas Rindu


__ADS_3

Bram melihat istrinya masih memejamkan matanya, ia beringsut dari tempat tidur. Ia perlahan menggeser tangannya yang menjadi bantal untuk istrinya. Aroma wangi dari rambut Ayra yang tadi ia keringkan menggunakan hair dryer. Seakan ia ingin kembali menyentuh istrinya itu. Namun melihat lelapnya sang istri. Membuat Bram menarik napas dalam. Ia tak ingin meminta lebih karena ia sadar sang istri sedang dalam keadaan hamil.


Berhasil menarik tangannya. Saat akan bangun, Kedua tangan istrinya malah memeluk erat pinggangnya. Ayra yang merasakan pergerakan dari suaminya membuat ia terjaga namun tak membuka kedua matanya.


"Mas mau kemana....?"


"Maaf jadi membangunkan kamu. Mas tidur disofa saja. Disini sempit, kasihan kamu."


Ayra terkekeh-kekeh dengan suaranya parau namun matanya masih terpejam.


"Apa sudah lebih nyaman tidur sendiri sekarang? atau Ayra tak menarik lagi setelah Hamil? Ini malam pertama kita selama Ayra hamil mas. Jangan jauh-jauh, besok malam belum tentu bisa tidur bersama."


Bram menopang kepalanya dibagian pelipisnya. Sedikit sakit memang karena bekas luka jahitan. Terlebih luka yang baru dijahit pagi tadi harus basah karena mau tidak mau ia harus mandi besar setelah mendaki bersama istrinya di kamar itu.


"Bukan begitu Ay Ay Sayang... Kasihan kamu. Kasurnya sempit."


"Tidak apa-apa. Dada mas yang sekarang lembut membuat Ayra saaangat nyaman. Rasanya setelah malam ini Ayra tak ingin jauh-jauh lagi dari mas."


Hati Bram trenyuh. Kali pertama istrinya berkata begitu. Satu permintaan yang menunjukkan ia ingin dimanja, ingin diperhatikan.


"Berdoalah semoga mas bisa menemani kamu sebelum proses melahirkan."


"Ayra selalu berdoa mas. Dan salah satunya Allah kabulkan. Malam ini mas kasih Ayra bukan hanya sebuah nafkah tetapi juga hadiah ulang tahun yang lebih indah dari kejutan mas di Bali."


"Oya?"


Bram hampir tak percaya. Ia bahkan tak membelikan apapun pada istrinya itu. Bahkan sebuah kue ulang tahun pun tak ia berikan di hari lahir istrinya. Ayra membuka kedua matanya. Ia memandangi suaminya. Ia tatap dua bola mata hitam CEO MIKEL Group itu.


"Entah karena hormon ibu hamil atau karena rindu pada mas karena hampir 3 bulan kita berpisah. Satu Minggu ini Ayra rindu sekali dengan kegiatan tadi."


Karena malu, cepat ia benamkan wajahnya ke dada Bram yang tak percaya akan ucapan istrinya itu.

__ADS_1


"Wajah mu seperti udang rebus Ayra... "


"Udang goreng mas...."


"Udang rebus juga merah Ay."


"Hah. Mas rela jika harus dipukul berkali kali oleh Pak Uban jika bisa membuat kamu bahagia seperti saat ini."


Ayra menjauh dari dada suaminya.


"Maksud mas?"


"Hehehe.... Luka ini mas dapatkan saat akan keluar. Pak Uban menarik mas menjauh kebelakang saat akan keluar, ia bilang biar bisa bertemu kamu dan menginap dirumah sakit. Ia memukul mas dengan balok. Dan ide ekstrimnya ternyata berhasil."


"Astaghfirullah... Kalau kenapa-kenapa bagaimana mas.... Pak Jamal itu sedikit menyeramkan ya mas."


Ayra memegang wajah Bram. Ia melihat luka jahitan pada pelipis suaminya itu.


"Ah.... Sungguh isi hati seseorang tak bisa ditebak hanya lewat penampilan ya mas. Insyaallah apa yang mas dan Pak Uban lakukan menjadi satu amalan yang di cintai Allah. Karena menolong atau meringankan beban orang lain."


"Aamiin."


Bram yang merasa lelah menopang kepalanya akhirnya duduk dan bersandar pada head board. Ayra mengikuti suaminya dan seakan rindunya begitu besar ia tak rela jauh-jauh dari sang suami. Ayra yang setelah mandi tadi merasakan penasaran namun rasa kantuknya membuat ia lupa untuk bertanya pada Bram.


"Katakan pada ku, Mas pasti mempersiapkan semua ini ketika Ayra pulang siang tadi bukan?"


"Hehehe... Repot ternyata punya istri pintar."


"Tak mungkin rumah sakit punya aromaterapi Seperti di kamar kita. Tak mungkin rumah sakit ada hair dryer. Terlebih tempat tidur ibu begitu tebal kasurnya dan ukurannya terhitung sedikit lebar dari umumnya. Mas, pasti menyusahkan Rafi lagi."


Ayra menyipitkan kedua bola matanya sambil menatap Bram.

__ADS_1


"Dia mas gaji Ayra. Gaji nya pun mas tambah kalau ia mengerjakan sesuatu diluar pekerjaan. Ay nanti pagi mas mau kita ke dokter obgyn. Mas ingin lihat bayi kita."


"Iya bulan ini Ayra memang belum periksa mas. Sepertinya kalau Ayra tidak salah ini sudah masuk Minggu akhir di bulan ke empat."


"Kenapa masih datar perutnya Ay?"


"Kata siapa? Ayra harus ganti ukuran pakaian dalam mas. Rasanya sedikit sempit."


"Ya mas bisa merasakannya. Tapi kenapa perutnya masih datar ya?"


Usapan lembut suami nya membuat Ayra mencubit mesra sang suami.


"Lukanya tidak akan kering-kering kalau basah lagi Mas..... "


"Hehehe.... Apakah hormon ibu hamil membuat kamu sekarang tidak bisa disentuh sedikit saja?"


"Nakal....."


Kembali satu cubitan mendarat pada hidung mancung Bram, yang Ayra berikan karena suaminya itu terus saja menggoda dirinya. Sudah hampir masuk waktu sholat hingga ia pun mengajak suaminya bersiap-siap. Bram meminta Ayra segera mengganti pakaiannya khawatir ada perawat yang akan masuk pagi ini untuk memeriksa kondisinya. Saat Ayra berada di kamar mandi. Bram membuka kunci pada pintu kamar pasien yang ia tempati.


Sebenarnya Tanpa Ayra sadari, saat ia pulang untuk mengambil pakaian ganti Bram dan perlengkapan untuk menginap. Aisha asisten istrinya dulu kini sudah kembali ke Jakarta. Sehingga duet maut duo asisten kembali terjadi. Dimana Rafi menemui kepala rumah sakit yang merupakan mitra dari rumah sakit tempat milik keluarga Pradipta. Maka bukan hal yang sulit saat ia membawa nama Perusahaan Pradipta.


Ruangan khusus diberikan untuk putra sulung Pak Erlangga itu. Rafi yang meminta izin agar kamar VViP bosnya itu diganti dengan kasur, seprei dan ranjang yang baru. Belum lagi persiapan hair dryer, aroma terapi kesukaan Ayra. Dan permintaan akan sebuah kamar yang berukuran cukup besar berada di ujung pun di amini pihak rumah sakit.


Sedangkan malam harinya, kembali sang asisten Rafi diberikan tugas konyol oleh Bram. Ia harus menemani pak polisi yang berjaga agar duduk bersebrangan di kamar dan berjaga didepan ruangan Bram bersama pak polisi. Mereka nonton bola vya streaming menggunakan headset. Saat pagi tiba asisten itu tertidur di lantai sedangkan pak polisi masih menikmati tontonan dari ponsel itu dengan sesekali melihat ke arah pintu dan kearah lorong rumah sakit itu.


Disaat Bram merasa bahagia. Seorang lelaki justru merasakan ketakutan. Ia yang baru bangun tidur begitu kaget karena tubuhnya terasa lemas. Ia tak bisa bangun. Ia yang kemarin mendengar berita bahwa Bram dan Pak Uban berhasil menyelamatkan sipir penjara, saat terjadi kebakaran di lapas. Namun sangat ia sesali orang suruhannya yang terlibat adu mulut dengan partner nya dan berbeda tujuan membuat kebakaran di lapas bukan di gudang.


Sebenarnya Pak Bagas menyuruh orang agar terjadi kerusuhan di dalam lapas dan menahan dua petugas sipir. Karena berdasarkan informasi yang ia dapatkan Pak Uban termasuk salah satu tahanan yang memiliki empati yang tinggi. Bum lagi hubungan yang akrab antara dirinya dan Bram membuat Pak Bagas yakin jika lelaki itu akan menolong sipir yang ditahan oleh orang suruhannya. Dan Bram pasti akan membantu Pak Uban.


Namun Manusia hanya bisa merencanakan. Sebaik-baik sebuah rencana Jika Allah tak menghendaki terjadi maka hal itu tak akan terjadi atas izin Allah.

__ADS_1


Lelaki itu menangis di tempat tidurnya seorang diri. Sasi yang masih dirumah sakit bersama Ilham tak tahu jika kini sang Ayah sedang merasakan satu dampak dari penyakit kanker yang menggerogoti tubuhnya. Lelaki itu merintih seorang diri. Ia berlinang air mata.


__ADS_2