Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
183 Rasa Untuk Aisha


__ADS_3

Rafi sedang duduk di sudut teras kediaman Aisha. Rumah duka itu masih terdapat beberapa lelaki yang merupakan tetangga juga keluarga dari Aisha. Mereka masih berada di tenda. Sedangkan Ibu Lina yang dari tadi tak bisa memejamkan kedua matanya. Saudara dari sebelah ayahnya yang datang dari luar kota juga ikut menginap di kamar Aisha, telah terlelap dan mengeluarkan suara dengkuran cukup besar. Sehingga Ibu Lina keluar dari kamar.


Ia melihat Rafi duduk seorang diri. Bu Lina sebenarnya siang tadi melihat dan mendengar apa yang mungkin sekarang menjadi pikiran anak asuhnya itu. Ia yang merawat Rafi dari bayi, mengenal karakter COO MIKEL group itu saat ada yang mengganggu pikirannya. Jelas, sesuatu yang ia dengar sore tadi di proses pemakaman ibu Aisha yang mengusik Rafi.


"Belum tidur Fi?"


"Ibu.... Ibu sendiri belum tidur? Rafi belum mengantuk."


Ibu Lina duduk disebelah Rafi. Ia melihat ada satu teko teh yang masih hangat di meja yang berada dihadapannya. Ia tuangkan satu gelas dan ia pegang di kedua telapak tangannya.


"Ibu tahu apa yang kamu pikirkan."


Rafi menoleh ke arah Ibu Lina. Lelaki itu tidak jadi mengambil gelas teh nya yang dari tadi telah ia tuangkan kedalam gelas bermotif kembang.


"Maksud Ibu?"


"Ibu melihat dan mendengar apa yang lelaki tadi bicarakan. Dia siapanya Aisha? dia calon suaminya?"


Ibu Lina sedikit berbisik pada Rafi.


"Setahu aku Iya Bu. Tapi setelah kejadian yang kemarin aku ceritakan pada Ibu, Aisha membatalkan rencana pertunangan mereka."


"Karena dia hanya menjadi Aisha alat untuk menutupi jati dirinya?"


Deg.


Rafi melebarkan pupil matanya. Ia heran dari mana Ibunya tahu tentang perihal tersebut.


"Ibu tahu darimana?"


"Ibu ada di belakang kamu saat kamu menguping lelaki tadi."


"...."


Rafi bingung ingin berkata apa. Dia menyeruput tehnya. Lalu ia menghela napas dengan berat.


"Saya bingung bagaimana mau bicara dengan Aisha Bu. Dia masih berduka, tidak mungkin aku memberitahu dia tentang perihal ini."


"Kalau ibu jadi kamu. Ibu akan melindungi Aisha. Dia gadis yang baik Fi, buktinya di saat perempuan seusianya sibuk Membahagiakan diri nya sendiri. Ia justru sibuk dengan mencukupi kebutuhan keluarga. Terlebih lagi sekarang mau tidak mau ia harus menjaga tiga adiknya."


Rafi menatap gelas yang terisi teh hangat yang ada didepannya. Ia mengingat kejadian di makam sore tadi. Ia yang sedang mencari toilet, tak sengaja mendengar pembicaraan Luki dengan satu lelaki yang cukup tampan dan terlihat mengenakan pakaian yang cukup mahal. Ia yang berdiri tak jauh dari pemakaman, tak ingin memancing keributan, karena pembicaraan dua orang lelaki itu menyangkut Aisha.

__ADS_1


"Pokoknya, kamu harus menikah bulan ini juga Ki. Istri ku mulai curiga dengan hubungan kita. Kamu tahu sendiri aku bisa begini karena harta istriku."


"Baiklah pak. Aku akan sudah punya rencana. Meninggalnya ibu Aisha bisa aku manfaatkan untuk dia tetap harus menikah."


"Pokoknya kita harus sama-sama menutupi jati diri kita sebenarnya. Biar posisi kita aman di masyarakat dan keluarga kita."


Sebelum pergi meninggalkan pemakaman itu terlihat lelaki yang usianya mungkin tak jauh dari Luki sedikit mencubit pinggang Luki. Membuat Rafi bergidik karena ia tak menyangka jika ada hubungan seperti itu. Selama ini ia tak pernah menyangka jika ada lelaki penyuka sesama jenis. Ia walaupun tak pernah menjalin hubungan dengan perempuan manapun, namun tak pernah tertarik kepada sesama jenis.


Entah kenapa setelah kejadian di panti, ia bisa melihat kecantikan Aisha yang tak pernah ia lihat ketika gadis itu mengenakan jilbabnya. Ia sering tersenyum sendiri ketika mengingat bagaimana ia dan Aisha sering bersitegang dan berdebat untuk hal-hal kecil. Hingga sore tadi ia bingung harus bagaimana dengan Aisha. Ingin memberi tahu niat Luki namun tak tega karena Aisha masih dalam keadaan berduka.


Rafi tersadar dari lamunannya. Ibu Lina menepuk pundak Rafi.


"Fi, Ibu bisa melihat hari ini bagaimana kamu menatap Aisha. Sadar atau tidak kamu tertarik pada Aisha. Ibu bisa melihat dan merasakan itu nak."


Rafi menatap Ibu Lina dengan sedikit malu. Karena satu hari ini ia memang curi-curi pandang. Ia merasa ikut sedih karena melihat Aisha yang terus meneteskan airmata namun tanpa ratapan selama proses pemakaman sang ibu. Namun ada rasa bahagia karena ia bisa kembali melihat wajah teman yang sering membuat dirinya emosi karena seringnya ia dipanggil oleh Aisha dengan Jotan atau Api-api.


"Rafi cuma kasihan Bu. Tidak lebih."


"Tapi Aisha cantik bukan?"


"......"


"Jangan sampai kamu menyesal kalau dia betul-betul menikah dengan lelaki itu. Kamu sudah tidak bisa membantu Aisha walau pun ku kasihan pada dirinya. Karena dia sudah menikah. Kalian sudah sama-sama dewasa Fi. Usia, materi semua sudah cukup. Lantas tunggu apa lagi?"


Rafi mengambil gelas yang tinggal separuh isinya itu, lalu ia habiskan dalam satu kali tegukan.


"Aku tidak tahu Bu. Apa suka apa kasihan. Tapi semenjak kejadian dia lompat dari balkon. Rafi sering gemetar dekat dengan dia."


"Lah itu ya positif cinta. Kamu suka sama dia. Sudah tunggu apalagi. Jangan sampai terlambat."


"Ya kalau jodoh kan ga akan kemana Bu."


"Ibu doakan kalian berjodoh. Sudah istirahatlah, sudah larut malam. Besok kita juga akan segera istirahat."


Rafi menggigit bibir bawahnya saat melihat ibu Lina pergi meninggalkan dirinya seorang diri di teras. Ia melihat ke arah beberapa orang tua yang tampak masih berbincang di dalam tenda yang cukup sederhana itu.


"Ah, masak ia Gue jatuh cinta ma Elo Nes. Tapi setiap inget Elo, hati gue ga karuan rasanya. Kalau iya gue jatuh cinta ama Elo. Elo nya apa ya suka ma Gue? Secara Lo tiap ketemu gue sewot mulu."


Rafi menuju ke kamarnya yang terdapat Bram. Bosnya dari tadi telah terlelap karena kelelahan. Namun Rafi tak menyadari jika dari tadi Bram mendengarkan obrolan ia dan Ibu Lina. Bram yang mendengar bahwa Ibu Lina akan masuk kedalam cepat kembali masuk kedalam kamarnya. Ia yang sebenarnya tadi merasa takut seorang diri di dalam kamar yang mana belum di Plafon nya kamar itu, membuat Bram yang terjaga merasa merinding ketika melihat ke arah langit-langit yang terdapat genteng.


Rafi melihat Bram yang terbungkus selimut menggelengkan kepalanya. Namun ia tak sadar jika bibirnya yang mengucapkan sesuatu untuk bermonolog pada dirinya sendiri malah di dengar jelas olah Bram.

__ADS_1


"Ah.... Pak Bram saja sekarang sudah menikah terlihat bahagia. Beliau juga jauh lebih baik. Beliau dulu tidak menyukai Buk Ayra namun ternyata sekarang malam tergila-gila pada Bu Ayra."


"Wow.... asisten ga ada Akhlak. Berani ngatain bosnya di belakang ya. Ulangi coba kata-kata mu barusan?"


"Buuuughh."


Rafi cepat menangkap guling yang dilemparkan oleh Bram. Asisten Bram itu kaget karena ia tak menyangka jika bosnya belum tidur.


"Ma-maaf pak... Saya Pikir bapak sudah tidur."


"Kalau saya sudah tidur. Kamu bebas mengatai aku di belakang ku? Begitu?"


Glek.


Rafi hanya tertunduk takut.


"Sini. Duduk disini, Biar aku interogasi dulu kamu ini."


Rafi menuruti kemauan pimpinannya. Ia duduk di sebelah Bram. Di ujung kasur busa yang berukuran 180 x 200 itu.


"Kamu ingat kejadian hampir sepuluh tahun lalu ketika aku bilang menyelematkan gadis dan aku minta kamu mencari tahu tentang gadis itu?"


"Oh... Gadis bertubuh gendut itu pak?"


"Nah, kamu tahu kan kalau aku sering membayangkan gadis itu. Bahkan aku menerima Shela menjadi kekasih ku karena bibirnya yang mirip dengan gadis itu. Sampai hari ini aku masih menyukai bahkan mencintai gadis itu."


Rafi hampir melotot memandangi Bram. Namun ia seketika menundukkan pandangannya. Ia bingung, karena ia bisa melihat bagaimana perlakuan bosnya itu kepada Ayra. Namun hari ini si bos malah mengatakan jika masih mencintai gadis yang ia curi ciuman dari nya dalam keadaan gadis tersebut tak sadarkan. diri.


"Nah satu kalimat yang mengatakan jika jodoh tak kemana, sekarang gadis itu malah menjadi istri ku. Padahal ia hampir menikah dengan orang lain."


Rafi melotot mendengar penuturan Bram.


"Mata mu itu mau aku congkel menatap ku begitu?"


"Maksudnya Bu Ayra itu gadis yang dulu bertubuh gendut?"


Bram membuat bentuk oke dengan jari tangan kanannya.


"Maka dari itu Fi. Aku mendengar semua percakapan mu tadi. Aku mendukungmu dengan Aisha. Kamu lelaki yang baik, Aisha juga perempuan yang baik. Bahkan aku bisa mengatakan kamu lebih baik dari diriku Fi."


Bram merangkul asistennya itu. Hal yang tak pernah ia lakukan selama ini. Selama ini hubungan mereka hanya sekedar atasan bawahan. Namun kehadiran Ayra membuat Bram sedikit lembut dalam bersikap pada orang-orang disekitarnya. Sungguh lembutnya hati sang suami bukan karena doa sang istri melainkan ada keridhoan Alla dalam memberikan kelembutan hati pada makhluk mana pun yang Allah kehendak berubah.

__ADS_1


"Saran ku, jangan pacaran. Nanti seperti Shela malah jadi penunggu jodoh orang. Kalau cocok, langsung lamar. Bila perlu besok sebelum kita pulang dari sini. Hehehe... Semangat Brother!"


"Hhhhh.... Baiklah Nes. Aku akan coba melindungi kamu dari si brengsek itu. Nanti baru urusan sama kamu. Semoga kita berjodoh. "


__ADS_2