
Tengah Malam, Ayra yang terbangun baru akan shalat malam. Ia yang baru tiba di kamar mandi kaget karena ada sedikit darah di underwear nya. Ia pun keluar dari kamar dan ingin mengambil pemba lut. Tiba dekat lemari, ia haru berhenti melangkah karena tiba-tiba ada cairan yang keluar cukup deras. Ayra melangkah cukup pelan hingga tiba di sisi Bram. Ia mencoba menenangkan hatinya.
Ia sentuh pipi Bram yang masih menikmati alam mimpinya.
"Mas... Mas..."
"Hem.... Ada apa sayang? sudah pukul tiga kah?"
Bram yang masih terpejam memegang tangan Ayra yang menempel di satu pipinya..
"Mas, ketubannya pecah...."
"What! Ketuban? kamu mau melahirkan sayang?"
Bram cepat berdiri. Ia keluar dari balik selimutnya. Terlihat baju yang di pakai Ayra bagian bawahnya basah. Ia dudukan istrinya di sisi tempat tidur. Ayra yang akan berjalan ke ruang ganti cepat ditahan oleh Bram.
"Tunggu disini saja Ay. Biar mas ambil baju ganti. Kita kerumah sakit sekarang ya."
Ayra mengangguk. Ia sedikit khawatir karena ketika kehamilan pertamanya, tidak sebanyak itu ketuban yang keluar. Bram telah kembali membawa baju gamis untuk istrinya beserta sweater juga underwear.
Ayra yang mencoba berdiri, tiba-tiba bagian bawah perutnya terasa begitu panas. begitupun punggungnya. Rasa sakit sesekali hadir di pinggang, punggung dan perut bagian bawahnya. Sebuah cairan bening pun sesekali keluar dari bagian bawah Ayra. Bram membuka baju istrinya. Ayra meringis kesakitan karena menahan rasa yang cukup sakit di bagian bawahnya.
"Sudah sakit sekali Ay?"
"Sudah lumayan mas. Tapi kenapa cepat sekali ya mas rasa sakitnya. Kalau Ammar dan Qiya dulu sakitnya sebentar sebentar hilang."
Bram masih menanti sang istri mengenakan pakaiannya. Bram yang melihat masih ada air yang mengalir dari bagian bawah. Ia segera ke arah tas yang telah disiapkan oleh Ayra jauh-jauh hari untuk menyambut proses melahirkan. Ia mengambil satu pem ba lut bersalin yang berukuran M.
"Ini Ay. Pakai ini saja dulu ya?"
Ayra pun hanya pasrah seperti anak balita mau tidak mau rasa sakit teramat di bagian bawah dan pinggang serta punggung yang panas membuat perempuan yang telah memiliki dua anak itu harus menahan rasa sakit. Ia tak berani berkata-kata, hanya istighfar di dalam hati yang mampu ia lakukan saat rasa saling yang amat itu hadir.
"Astaghfirullah.... Raa$@ sakitnya lebih dibandingkan saat mau melahirkan Ammar dan Qiya."
Ayra tak berani berkeluh kesah pada suaminya. Ia melihat sang suami yang begitu tenang namun cukup khawatir dengan dirinya. Bram kembali ke ruangan ganti. Ia mengambil jilbab untuk Ayra. Ia kenakan jilbab itu saat Ayra telah mengikat rambutnya.
Bram menghubungi art nya, ia yang akan menggendong Ayra namun sang istri sedikit menahan lengannya.
"Biar Ayra jalan saja mas."
__ADS_1
"Sudah. Biar mas gendong. Ketubannya ngalir nya deras Ay."
Bram membawa Ayra sampai kebawah. Sang art cepat membawa tas Ayra ke dalam mobil. Intan dan si Mbok pun mengantar sampai ke depan mobil. Saat pintu mobil belum ditutup. Ayra meminta doa pada dua orang yang telah berapa tahun berkerja dirumahnya.
"Mbok, Intan. Doakan ya mudah-mudahan lancar. Sama saya minta maaf kalau ada salah selama kalian bekerja di sini "
"Aduh... Ibu teh ga ada salah atuh Bu. Ibu mah majikan terbaik yang Intan pernah ikuti. Intan doakan semoga ibu bisa melahirkan dengan selamat sama dedek bayinya teh juga sehat. Ibu jangan khawatir. Ammar sama Qiya biar kita yang jaga dirumah. Ibu tenang-tenang ya." Jawab Intan dengan logat Sunda.
Si Mbok juga memberikan kekuatan untuk majikannya.
"Iya Bu. Ibu semoga sehat sama bayinya. Jangan banyak pikiran kita bakal jaga neng Qiya sama den Ammar. Ibu orang baik. Pasti di kasih mudah sama Allah. Kita bantu doa dari sini Bu."
Bram berpesan pada dua pekerja dirumahnya itu.
"Jaga anak-anak ya Mbok. Jangan lupa bangunkan mereka saat waktu shalat Shubuh."
Kedua asisten rumah tangga itu mengangguk.
Bram memasangkan sabuk pengaman pada tubuh Ayra, ia pun mulai menjalankan mobil. Ayra terlihat menyandarkan kepalanya di kursi. sesekali ia menggeleng kan kepala sambil memegang perut dan pinggangnya.
"Sakit Ay?"
Bram mengemudi sambil satu tangannya memegang perut Ayra.
"Sabar ya Sayang."
Beberapa menit Bram tiba di rumah sakit. Ayra yang ketika masuk keruang melahirkan. Cukup kaget ketika dokter memintanya untuk melahirkan menggunakan salah satu metode terbaru yaitu ERACS.
ERACS adalah singkatan dari Enhanced Recovery After Cesarean Surgery, suatu prosedur operasi caesar dengan pendekatan khusus untuk mengoptimalkan kesehatan dan keamanan bunda dan bayi pada periode sebelum, selama, dan setelah menjalani operasi caesar.
Ayra yang melihat Bram masuk untuk diminta persetujuan cepat membisikkan.
"Kemarin dokter Ana bilang tidak ada masalah mas sama posisi janin buat lahiran normal. Ayra mau normal mas kalau memang tidak ada yang bermasalah dengan posisi janin juga Ayra."
Bram terlihat bingung.
"Telpon dokter Ana dulu coba mas. Lah wong kontraksinya ada kok mau di Caesar. Ayra ga mau kalau ga ada alasan kesehatan tapi mau di Caesar."
Bram akhirnya menelpon dokter yang biasa menangani Ayra. Hampir 4 kali Bram menghubungi dokter itu. Setelah panggilan ke lima baru diangkat. Dokter itu pun segera menuju rumah sakit. Saat tiba dokter itu pun sedikit maklum karena dokter yang menangani Ayra adalah dokter yang baru beberapa bulan bekerja di rumah sakit itu.
__ADS_1
Ayra pun tetap melakukan proses bersalin dengan normal tanpa harus operasi. Karena tak ada alasan khusus. Posisi janin juga baik, pembukaan juga berjalan cepat. Karena ketika pukul 4 pagi Ayra sudah masuk ke pembukaan sepuluh.
Bram masih menemani Ayra di kamar bersalin itu. Lelaki itu sesekali mengelus perut istrinya, ia pun sedikit membungkuk kan tubuhnya. Sehingga beberapa kali ia mendaratkan ke cu pan di dahi istrinya. Karena ia sangat khawatir melihat Ayra yang menahan rasa sakit. Tak keluar kata-kata rintihan dari istrinya. Hanya kalimat tasbih dan istighfar yang keluar dari bibir mungil Ayra.
"Sungguh kamu perempuan yang kuat Ay. Ah kalau sudah melihat mu begini. Mas tidak tega melihat mu melahirkan."
Saat dokter telah menyatakan siap untuk proses melahirkan. Ayra di dampingi Bram dan satu perawat. Ayra mengikuti instruksi sang dokter untuk mengatur napas dan ia akan mengejan ketika sang dokter meminta ia mengejan. Beberapa kali genggaman tangan Ayra sangat erat menggenggam tangan Bram. Beberapa kali ia mengejan. Proses persalinan berlangsung lancar. Sungguh Allah memudahkan proses bersalin bagi Ayra yang sholehah. Bukan pada orang tua tetapi juga pada sang suami.
Seorang bayi lelaki lahir dari rahim Ayra. Namun kebahagiaan Bram dan Ayra sedikit terhenti karena sang bayi tak menangis. Ayra me re mas tangan Bram. Ada rasa khawatir kenapa sang bayi tak menangis. Ia ingat betul bagaimana suara tangis Qiya dan Ammar saat baru dilahirkan. Namun bayi nya yang ini belum mengeluarkan suara tangis setelah hampir satu menit di lahirkan.
Dokter pun dengan sigap. melakukan tindakan tambahan pada bayi yang tidak langsung menangis atau menunjukkan tanda kesehatan yang tidak baik.
Seorang perawat memberikan pukulan di pantat bayi Ayra, untuk menghadirkan sedikit nyeri dan bayi mengeluarkan suara tangisnya. Namun masih bayi itu tak menangis. Lalu sang dokter Menggunakan pompa pengisap untuk melegakan saluran udara atau sumbatan yang ada dalam saluran pernapasan bayi.
Sesaat setelah itu terdengar suara tangis sang Bayi.
Bram mencium kening Ayra berkali-kali, sambil mengucapkan alhamdulillah sebagai rasa syukurnya karena Istrinya itu telah kembali memberikan ia satu anak lelaki yang tampan. Dan bayi mereka lahir dengan selamat tanpa kurang satu apapun.
"Selamat ya Pak, Bu bayinya Laki-laki, selamat dan tampan seperti papa nya." ucap seorang perawat sambil memberikan bayi mungil yang dibungkus dengan kain berwarna putih pada Bram. Bram pun mengadzani anaknya.
"Terima kasih suster,Dokter."
Ucap Ayra sambil tersenyum dan menitikkan air mata haru. Sungguh yang membuat Ayra merasa senang dengan dokter Ana, ia adalah dokter kandungan yang sangat pro dengan kelahiran normal tanpa jahitan dan robekan. Sehingga Ayra memilih dokter Ana menjadi tempat ia untuk melahirkan anak ketiganya.
Bram yang selesai mengadzani sang bayi dengan pipi di banjiri air mata. Bayi itu adalah anak ketiga mereka. Namun rasa bahagia begitu besar dihati Bram. Bagaiamana tidak, ia diberikan istri yang cantik paras dan hatinya juga anak-anak yang tidak hanya lucu tetapi sama cerdasnya seperti Istrinya. Selesai mendoakan anaknya, Bram bertanya pada dokter.
"Kenapa tadi dia tidak menangis Dok? Apakah ada masalah?"
"Tidak selamanya bayi saat lahir tidak menangis menunjukkan adanya masalah kesehatan serius. Karena bisa saja bayi tersebut hanya berhenti sesaat dari tangisannya. sementara seluruh bagian tubuh lainnya hadir dengan kondisi yang baik." Jawab Dokter Ana sambil melepas sarung tangannya.
Bukan hanya Bram dan Ayra, keluarga Ayra dan Pak Erlangga yang di luar ruangan pun merasa lega dan mengucapkan syukur saat mendengar suara tangisan bayi.
Setelah 30 menit, akhirnya Ayra dipindahkan di ruang perawatan. Keluarga pun perbolehkan masuk, untuk menjenguk Ayra dan bayinya. Umi Laila yang cepat menuju rumah sakit ketika mendapat pesan dari Bram bahwa Ayra akan melahirkan dan meminta doa, justru langsung menuju rumah sakit bersama Furqon. Pak Erlangga dan Nyonya Lukis pun cepat menuju rumah sakit.
Sungguh Kebahagiaan yang kita rasakan akan ikut dirasakan orang lain dan keluarga ketika kita berarti bagi mereka. Dan Ayra ia pribadi yang selalu menyenangkan hati siapapun yang berada di dekatnya. Sungguh pesona Ayra Khairunnisa betul-betul mempesona setiap orang, mertua, ipar, suami, teman, anak, dan anak buah.
Semua pesona yang ia dapatkan bukan hasil menghayal, bukan hasil rebahan. Tetapi usaha terus belajar, usaha terus memperbaiki diri, usaha terus meraih ridho orang tua, usaha terus meraih ridho guru, usaha terus untuk tak menyakiti makhluk Allah yang ada di bumi ini. Pesona yang membuat iri mata yang memandang, telinga yang mendengar.
To be continued....
__ADS_1