
Akhirnya satu keinginan Pak Erlangga dan Nyonya Lukis untuk mengadakan pesta pernikahan ketiga anaknya pun terlaksana. Pagi itu tampak Aisha sedang sibuk di kediaman Bram bersama tim make up yang ia bawa untuk memoles wajah cantik istri CEO MIKEL Group itu
Ayra bersyukur karena mengenal Aisha karena pagi itu kekhawatirannya akan busana nya yang tentu akan susah me nyu sui kedua buah hatinya. Ternyata telah dipikirkan kembali oleh Aisha. Sehingga di bagian depan terdapat restsliting yang memudahkan Ayra nanti memberikan ASI kepada kedua buah hatinya.
Ayra yang sedang dipoles wajahnya dengan make up. Bram sibuk dengan baby twins nya. Saat intan masuk kedalam kamar bayi kembarnya. Ia segera menggendong Ammar keluar dari kamar itu menuju kamarnya yang terhubung dengan pintu di sisi kanan kamar bayinya.
"Tolong gantikan pakaian Qiya."
"Baik pak."
Intan paham bahwa majikannya sangat menjaga jarak pada dirinya. Berbeda sekali dengan Beberapa majikan lelakinya yang kadang sering memandang nya genit. Intan sebenarnya merasa bahagia bisa bekerja di kediaman Ayra. Karena tak pusing dengan harus ijin shalat, ia juga merasa aman dari majikan lelakinya. Bram selalu berusaha menjaga pandangannya dan jarak dari Intan. Intan yang merasa bersyukur memiliki Nyonya seperti Ayra pun berusaha untuk selalu menjaga pandangannya. Ia sangat senang merasa dianggap bagian dari keluarga walau ia hanya sebagai baby sitter bayi kembar Bram dan Ayra.
Pagi itu ia pun disiapkan sebuah seragam berwana putih senada dengan pakaian baby twins, Ayra dan Bram.
Bram memberikan kepada Ayra bayi perempuan mereka yang masih saja menangis walau sudah di gendong sang ayah.
"Qiya haus Ay. Beri ASI dulu."
"Sini Qiya haus ya?"
Ayra yang telah berganti gaun mau tidak mau me nyu su i Qiya dalam keadaan duduk. Bram memegang pundak Ayra dari belakang. Ia menatap istrinya yang sekarang lebih berisi setelah melahirkan. Bram memandangi cermin dihadapannya.
Ayra yang merasa di pandangi pun tersenyum manis.
"Sepertinya kita akan melewati malam pengantin yang dulu sempat terlewat mas?"
Bram menyipitkan matanya.
"Maksudnya?"
"Siang nanti insyaallah Ayra sudah bisa shalat Dzuhur."
Bram tersenyum dengan lebar. Ia paham maksud sang istri. Puasa bagi seorang suami selama istrinya nifas adalah satu proses dibutuhkan kesabaran.
"Berarti pagi tadi kamu shalat Shubuh?"
Ayra mengangguk.
"Kenapa tidak bilang Ay?"
"Hehehe... Keburu Aisha dan Rafi sudah tiba dirumah...."
"Ckckckk... kenapa dua orang itu selalu menganggu kebahagiaan ku?"
__ADS_1
Ayra tersenyum melihat tingkah suaminya yang dibuat seperti merajuk.
"Kalau begitu nanti malam kita bermalam di hotel ya Ay?"
"Dirumah saja ya mas?"
"Baiklah. Asal kamu bahagia dan nyaman."
Bram berlalu dari Kamar dan bersiap diluar. Beberapa waktu Ayra telah siap dengan baby twins nya. Bram pun sudah siap dengan jas putihnya. Bik Asih yang dari pagi juga ikut ke kediaman Bram ikut hadir. Jika Ammar berada dalam gendongan intan. Qiya berada dalam gendongan Bik Asih.
Saat tiba di sebuah sebuah tempat yang dipilih oleh Pak Erlangga dan Nyonya Lukis yaitu satu tempat yang berada di kota Jakarta namun ditepi pantai. Sebuah tempat yang terbuka dan nyaman untuk keluarga. Pak Erlangga mengundang kurang lebih 1.200 tamu undangan dari relasinya. Maupun dari relasi bisnis Bram dan kedua anaknya yang lain.
Sebagain dari pihak besan pun diundang oleh pak Erlangga. Dan sesuatu yang spesial adalah Pak Erlangga mengundang seluruh anak yatim piatu yang berada di yayasan yatim piatu miliknya yang berada di Jakarta.
Satu kejutan pun diberikan oleh sepasang suami istri yang memiliki tiga anak lelaki itu. Mereka ternyata menyiapkan satu couple baju pengantin untuk asisten Bram. Pak Erlangga yang lama mengenal Rafi merasakan jika Rafi sudah seperti anak sendiri. Ia selalu setia menemani Bram membangun kariernya. Bahkan ia pun terkadang meminta bantuan Asisten Rafi dalam menerapkan satu ilmu baru dalam dunia bisnis di perusahaan nya.
Kyai Rohim dan Umi Laila pun hadir bersama keempat anak dan menantunya. Yazmin dan Almahyra ikut hadir pada hari bahagia Bram dan Ayra.
Sehingga hari itu di tepi pantai empat pasang pengantin sedang terlihat duduk di atas singgasana mereka. Acara demi acara dilalui. Tiba di sesi foto. Bram yang dulu tak suka melihat hasil fotonya ketika menikah dengan Ayra. Kali ini terlihat begitu bahagia. Ia bahkan tak ingin jauh-jauh dari sang istri.
Ayra yang memiliki baby twin mau tidak mau tak bisa sampai selesai acara harus turun dari panggung Karena harus memberikan ASI pada Ammar dan Qiya.
Sebuah tempat yang tertutup telah disiapkan oleh WO untuk Ayra dan Rani yang memang membutuhkan ruang khusus untuk mereka memberikan ASI pada bayi mereka.
"Mas....."
Bram menoleh ke arah Ayra. Ia membenarkan posisi jasnya. Sudut bibirnya telah sedikit berdarah. Beberapa petugas keamanan datang mengamankan lelaki yang terlihat menatap tajam Bram. Ayra berdiri dihadapan Bram. Ia memegang dada suaminya.
"Istighfar Mas..."
Tampak Bram tersengal-sengal bernapas. Ia menahan emosinya.
"Kamu perempuan tidak punya harga diri!" Tidak punya hati!"
"Diam Kamu! Cepat bawa dia keluar dari sini."
"Perempuan ga punya hati nurani! pantas jodoh mu lelaki me sum.!
"Diaaaam! Kauuuuu!"
Bram akan berlari ke arah lelaki yang terlihat bertubuh sedikit gemuk dengan kulit sawo matang. Lelaki itu akhirnya dibawa keluar oleh petugas keamanan.
"Sabar Bro.... Sabar."
__ADS_1
"Elo.... Elo bela calon kakak ipar Lo itu daripada Gue Kris?"
"Bukan begitu Bram... Sabar dulu!"
"Buuugh."
"Astaghfirullah.... Mas....."
Ayra menjerit histeris. Bram memukul perut dokter umum itu. Krisna tampak membenarkan kacamata dan sambil memegang perutnya. Ia meringis kesakitan. Satu tangan Bram letakkan di sisi pinggangnya. Satu tangannya yang lain menarik rambutnya dengan kasar.
Bram menuju ruangan dimana Ayra baru saja memberikan ASI untuk Ammar. Ia duduk di satu kursi dan mengambil botol mineral lalu berniat meminum air itu. Ayra menahan tangan suaminya. Ia ambil botol itu dan ia pindahkan ke tangan kanan suaminya. Bram meminum air itu. Setelah beberapa tegukan. Bram terlihat berkali-kali mengembuskan napas nya dengan kasar.
Ayra sedikit kesusahan untuk duduk di lantai dengan gaunnya. Ia berpegang kepada lutut Bram dan mendongakkan kepala menatap wajah Bram. Satu jempolnya mengelap luka disudut bibir Bram.
"Ada apa Mas? Siapa lelaki tadi?"
Bram menatap dalam istrinya.
"Katakan Ay. Apakah Mas tidak pantas mendapatkan istri seperti mu?"
Ayra memegang kedua pipi suaminya. Ia tatap dalam bola mata Bram. Ia tak tahu yang membuat suaminya berkata begitu. Tetapi yang ia tahu ada hal yang bersumber dari Lelaki tadi hingga suaminya bisa sangat emosi dan merasa rendah diri.
Ayra tak pernah merasa lebih pandai dari suaminya. Namun kala sang suami melakukan hal yang kurang pantas atau tak sesuai syariat. Ia akan menggunakan cara yang begitu halus dan waktu yang pas ia pilih untuk mengemukakan pendapatnya. Sehingga Bram tak pernah merasa rendah diri, kali ini ia merasa tak pantas menjadi suaminya.
"Mas, perlu kita pahami bahwa takdir Allah pasti baik dan tidak pernah salah, dan Allah adalah maha Adil. Kita tidak tahu mengapa Allah mempertemukan kita. Tetapi yang perlu mas yakini karena Allah berkehendak atas takdir kita untuk bersama dalam mahligai pernikahan. Maka kenapa harus mendengarkan orang lain?"
Bram cepat memeluk Istrinya. Ia merasa tersinggung dengan perkataan lelaki yang merupakan calon kakak ipar dari Krisna. Lelaki itu ternyata adalah sepupu dari Amir. Seorang lelaki yang kebetulan yatim piatu dari kecil dan dibesarkan oleh keluarga Calon kakak ipar Krisna. Hingga kata-kata dari lelaki tadi membuat Bram naik pitam. Hingga ia yang memukul lebih dulu juga mendapatkan pukulan di wajahnya.
"Dia Kakak Sepupu Almarhum Amir Ay."
Berkali-kali Bram mencium kepala istrinya. Ia takut kehilangan istri yang telah melahirkan anak kembar untuknya. Disaat Ayra menenangkan Bram, Krisna justru sedang mendapatkan berita mengejutkan dari Kakak Sepupu Amir yang akan menjadi calon kakak iparnya.
"Mas... Tidak bisa begitu mas. Pernikahan ku dengan Nisa satu bulan Lagi."
"Saya tidak ingin adik saya menikah dengan kamu yang punya hubungan dengan Keluarga yang tak berhati nurani itu."
"Mas.... Mas Joko.... Tunggu mas...."
Krisna mencoba mengejar Joko ke arah luar area Pantai namun saat tiba di area parkir. Krisna pun berkali-kali memukul jendela kaca mobil Joko. Lelaki bertubuh gemuk itu pergi meninggalkan Krisna sendirian.
"Aaaaaa.... Si Al....!"
Krisna pun cepat menyusul menggunakan mobilnya. Ia tak ingin rencana pernikahan nya dengan Nisa di batalkan hanya karena Bram adalah sepupunya.
__ADS_1