
Sebuah kamar yang baru kurang lebih delapan tahun Ayra tempati. Sebelum menginjakkan kakinya di bangku kuliah, ia tidur di kamar santriwati lainnya. Baru semenjak ia menempuh pendidikan strata satunya, Istri Bramantyo itu tinggal di kamar yang malam ini menjadi saksi bahwa pemiliknya kini telah menjadi seorang istri. Yang dimana kamar adalah salah satu tempat untuk berbagi sentuhan kepada pasangan halalnya.
Saat selesai dengan ibadah Shubuh di masjid yang berada di lingkungan pondok pun, Bram masih ingin berada diruangan ini. Sederhananya kamar Ayra tak membuat CEO itu merasa tak nyaman. Sebuah kasur berukuran 200 x 180 yang hanya beralaskan karpet tanpa ranjang cukup membuat suami Ayra itu tidur nyenyak. Kamar yang tanpa pendingin ruangan itu pun tak membuat sepasang suami istri itu merasa kepanasan. Bram bahkan saat ini duduk sambil memeluk sang istri sambil melihat album masa kecil Ayra.
Tubuh Ayra saat kecil tak sama dengan posturnya ketika ia menginjak masa-masa Madrasah Tsanawiyah.
"Ay. Ini betul-betul kamu?"
Beberapa lembar foto yang Bram amati membuat ia tak habis pikir. Bagaimana istrinya dulu bisa sangat gemuk.
"Hehehe.... Itu saat Ayra baru mengalami datang bulan. Dan mas tahu, Ayra itu selalu ingin makan. Coklat adalah salah satu favorit Ayra."
"Tapi bibir mu rasanya masih sama Ay walau bentuknya sedikit berubah."
"Mas, Ayra lapar. Ayra masak dulu ya."
"Tidak usah. Mas pesan go food saja."
"Sebentar lagi Umi dan Abi pulang mas."
"Sekalian mas pesankan makanan dari restoran. Ay, nanti malam kita menginap rumah mama saja ya?"
"Disini saja dulu mas.... Boleh? Ayra masih ingin disini. Mas juga belum terlalu dekat dengan keluarga Ayra. Tapi kalau mas memang tak nyaman-"
"Mas nyaman dimana pun. Asal ada kamu. Tapi disini, kamar mandinya diluar Ay. Mas malu kalau harus keramas tengah malam..."
Ayra memegang dagu suaminya itu
"Ndak boleh sering-sering..."
"Kata siapa?"
"Kata Mbah Google.... hehehe..."
"Baiklah. Asal kamu nyaman. Kamu sehat. Dimana pun mas ikut. Lusa kita ketempat Rani ya. Mas mau kasih kejutan buat papa dan Mama."
__ADS_1
Ayra mengangguk.
"Mas,nanti kalau setelah melahirkan, Ayra boleh melahirkan disini mas?"
"Dirumah sakit saja ya?"
"Iya tapi Ayra ingin setelah itu pulang kerumah Umi."
"Apa mama tidak memperlakukan kamu dengan baik?"
Ayra berbalik dari posisi nya walau masih dengan posisi duduk dipelukan suaminya.
"Mama sangat memperlakukan Ayra dengan baik. Ayra pun sangat menyayangi Mama, begitupun Mama. Ayra bisa merasakan Mama juga tidak membedakan Ayra dengan Rani atau Liona. Tapi, Ayra nyaman disini dulu. Boleh ya Mas?"
"Kalau lagi begini, mas baru merasa menikah dengan manusia Ay. Kamu punya kemauan."
Ayra memencet hidung suaminya.
"Kalau Ayra bukan manusia maka yang semalam itu tidak akan terjadi suami ku....."
Sepasang suami istri itu betul-betul melepaskan rindu. Mereka hanya menghabiskan waktu untuk bercerita hingga waktu hampir tengah hari. Saat Ayra merasakan kebahagiaan karena mendapatkan cinta dari suaminya, mendapatkan buah kesabaran selama ini. Seorang perempuan sedang merasa marah, sedih karena ia harus meringkuk di balik jeruji besi.
Ia di vonis 8 tahun penjara dengan kasus video porno yang ia sebarkan serta tuntutan pencemaran nama baik yang dilayangkan oleh pengacara Bram. Tim pengacara Shela yang menyatakan jika Liona ikut terlibat tak mampu menyeret menantu dari putra kedua Pak Erlangga itu. Karena tak cukupnya Bukti yang diberikan tim kuasa hukum Shela untuk menyeret Liona.
Bambang dan Pak Erlangga yang bergerak cepat menyusuri bukti dan para saksi yang akan membuat Liona makin menderita segera dihapus dan dihilangkan dengan cara mereka. Malang memang nasib Shela. Ia harus mendekam di dalam penjara dengan kondisi hamil Tua. Lelaki yang menghamilinya pun tak memperdulikannya karena ia telah beristri.
Sahabat pun tak ada yang mengunjungi dirinya. Orang tua merasa malu tak pula memberikan perhatian dengan datang membesuk. Seorang Asisten yang setia lah yang masih Shela andalkan. Seperti di hari ini ia meminta sang asisten membeli susu ibu hamil.
Ia yang selama ini tak mempedulikan kehamilannya. Ia merasakan jika janin yang ada dalam kandungannya itu hanya ia gunakan sebagai alat untuk mendapatkan Bram. Apalah arti cinta tanpa kesetiaan. Apalah arti sebuah hubungan tanpa ridho dari yang memiliki keputusan dari setiap apapun yang terjadi di muka bumi ini.
Shela baru merasakan bagaimana dinginnya tidur di dalam ruangan yang tidak senyaman kamarnya. Shela baru menyesal karena tidak bersyukur memiliki kekasih yang memegang teguh prinsip untuk tidak mengambil kesuciannya disaat belum terikat pernikahan. Kabar kebebasan Bram disampaikan asistennya.
"Kamu tahu darimana?"
"Aku berteman dengan Rafi. Asisten Bram. Status medsosnya memperlihatkan bagaimana Bram begitu mesra dengan istrinya. Kabarnya istrinya juga hamil sekarang Shel."
__ADS_1
Shela menelan salivanya dengan kasar. Ada rasa benci yang begitu kuat mendengar kabar bahwa Ayra dan Bram hidup bahagia.
"Shel, aku tidak akan meninggalkan kamu. Karena aku ingat bagaimana kamu mau memberikan pekerjaan ini disaat aku tak ada pekerjaan. Aku akan sering-sering mengunjungi kamu."
Shela meneteskan air matanya. Ia tak menyangka. Seorang perempuan yang usianya sama dengan dirinya, yang sangat sering ia perlakukan semena-mena. Sering ia marah, bentak bahkan ia permalukan ketika berada di kalangan teman-teman model nya. Namun perempuan itu tak pernah terlihat marah. Walau ia sering malu.
Satu tisu Yazmin berikan pada Shela.
"Menangislah biar tidak jadi penyakit. Kamu jarang menangis. Tapi jangan sering-sering. Kasihan dia yang di dalam."
.
"Andai dulu aku gugurkan saja dia mungkin aku tak seperti ini."
"Kamu tidak boleh bicara begitu Shela."
"Lalu jika anak ini lahir. Bagaimana, siapa yang akan merawatnya. Lelaki brengsek itu pun tak tahu menahu lagi dengan kondisi ku. Apa aku harus merawatnya ditempat ini."
"Aku akan merawatnya. Sungguh kebaikan mu pada ku tak akan aku lupakan Shela. Karena kamu aku bisa menyelamatkan orang tua ku saat akan operasi. Karena kamu, aku bisa memiliki aset. Mungkin saatnya kamu belajar untuk bersabar ditempat ini."
Shela menangis tersedu-sedu. Hampir satu Minggu ia meringkuk di lapas khusus perempuan ini. Tak ada satu pun yang membesuknya. Bahkan selama proses persidangan berlangsung, ia selalu hadir ditemani Yazmin. Tak ada teman yang lain atau saudara.
Yazmin memeluk Shela. Ia berharap kejadian ini bisa membuat orang yang telah memberikan dirinya pekerjaan itu bisa berubah menjadi lebih baik lagi. Seketika Shela teringat Liona. Perempuan yang merupakan sahabatnya. Namun ia tak sekalipun membesuk Liona selama dirumah sakit saat Liona kecelakaan.
"Seperti inikah rasa sakit dan kecewa ketika tak ada satupun saudara atau yang datang membesuk."
"Jadi aku tidak kamu anggap teman? karena aku asisten mu? Baiklah hari ini aku mengundurkan diri jadi asisten mu. Aku ingin jadi sahabat mu. Dan, berhentilah mengeluh, menyalahkan orang lain. Tetap fokus dengan kehamilan mu sekarang. Bulan depan kamu melahirkan bukan?"
Shela menangis terisak-isak saat Yazmin meninggalkan dirinya karena waktu besuk telah habis. Shela kembali ke dalam kamarnya. Ia sangat bersedih, ia meratapi nasibnya. Ia masih memanggil nama Bram dalam Isak tangisnya.
"Aku merindukan kamu Bram. Apakah begitu cepat kamu melupakan aku? Apakah kamu tidak mencintai ku lagi. Hik.... Hiks.... Andai dulu aku setia. Mungkin sekarang aku yang menjadi istrimu. Bukan perempuan itu.
Perempuan macam apa Ayra itu? Dia mau menerima Bram. Bahkan jelas-jelas di terbukti bersalah. Sial aku tidak bisa menunjukkan pada dunia video Bram bersama Perempuan berkerudung itu. Kenapa Tuhan tidak berpihak pada ku.....Hiks.... Hiks.... "
Tangis penyesalan tiada guna karena kejahatan yang telah terbukti harus ditebus di balik jeruji besi. Sebuah pengkhianatan kini berbuah tangis penyesalan saat kekasih hati telah bahagia bersama yang pantas bersanding karena sama-sama menjaga arti kesetiaan.
__ADS_1
Bahkan rasa sesak di dada Shela pun tak akan memutar waktu. Ia yang tak pernah menghargai orang lain. Yang hanya akan baik pada siapa saja yang bisa memberikan keuntungan. Baik dalam bersahabat, dan dikeluarga pun Shela hanya memakai prinsip untung rugi. Kini ia hanya mengandalkan Yazmin untuk setiap keluh kesahnya. Dan kebutuhannya.