
Diantara banyaknya tahanan yang sedang menerima keluarganya yang membesuk, Pak Uban salah satu yang sedang duduk di ruang besuk. Tetapi bukan keluarganya yang membesuk. Dulu hanya istri atau anaknya yang akan membesuk. Setelah mereka meninggal, tak ada lagi yang membesuk. Sanak keluarga tak ada yang mengakuinya saudara.
Pak Uban membuka kuncir rambutnya hingga ia kembali membenarkan rambutnya itu. Perkataan Pak Bagas baru saja membuat ia gelisah. Dan ia merasa ingin marah sekali tetapi ia mencoba belajar bersabar. Seiring seringnya ia bertemu Kyai Rohim saat sang mertua CEO MIKEL Group itu menemani Ayra menemui Bram. Kyai Rohim pun akan mengobrol dengan Pak Uban, obrolan yang tanpa pak Uban rasakan ada pembelajaran tentang menjalani kehidupan.
Pak Bagas kembali bertanya tentang tawarannya.
"Bagaimana Jamal. Kamu menerima tawaran ku?"
Pak Uban yang memiliki nama asli Jamal itu menggigit bibir bawahnya sehingga bibir atasnya sedikit maju dan mengerucut. Ia Lalu menjawab pertanyaan yang dari tadi belum ia jawab.
"Aku tidak tertarik. Aku tidak tertarik untuk bebas dari tempat ini. Memangnya apa yang bisa aku kerjakan di dalam sini?"
"Katakan saja apa yang kamu inginkan untuk imbalannya."
"Hihihi.... Aku jadi penasaran dengan rencana mu. Kamu belum tobat juga. Jangan kau semir terus rambut mu itu Pak Bagas. Jadi setiap bercermin kau akan tahu bahwa waktu untuk bertaubat tak banyak. Hihihi.... "
"Jangan banyak bicara! Buang-buang waktu aku. Kalau kau tidak mau aku masih bisa cari orang lain di dalam ini."
Pak Bagas berdiri dan berniat meninggalkan Pak Uban.
"Tunggu!"
Pak Uban berdiri. Ia memegangi janggutnya yang sedikit sambil berjalan ke arah Pak Bagas.
"Jangan bilang kamu bisa terobsesi dengan Nuaima itu sehingga kamu masih ingin memiliki Ayra. Jangan kamu berpikiran akan menyakiti apalagi menyakiti suami dari Ayra itu?"
Pak Uban memicingkan matanya. Suaranya sangat pelan karena ia mengucapkan hal itu tepat didekat kuping Pak Bagas. Pak Bagas kembali duduk.
"Kamu mulai masuk perangkap ku Jamal. Kamu pun tak berubah. Kamu masih bodoh."
Pak Bagas membuka kacamatanya. Ia kembali duduk, saat ia duduk ia melihat ke arah seseorang yang juga ia kenal.
"Kau lihat lelaki itu?"
__ADS_1
Pak Uban melihat arah pandangan mata Pak Bagas. Seorang lelaki yang juga memiliki kasus yang sama.
"Dia sangat ingin bebas dari tempat ini namun tak mungkin bisa. Aku bisa menawarkan pada dirinya jika kamu tidak mau."
Pak Uban menarik kerah baju Pak Bagas.
"Breng/sek! Jangan coba-coba menyentuh teman satu kamar ku itu! Semoga malaikat Izrail segera mencabut nyawa mu! kamu tak bisa memanfaatkan waktu yang telah diberikan!"
"Hehehe... Sabar Jamal. Sedekat itukah hubungan dengan teman baru mu hingga kamu sangat kasar dengan teman lama mu ini?"
Pak Bagas justru tertawa senang saat Pak Uban terlihat emosi. Pak Uban yang masih ingin berbicara pada Pak Bagas, melepaskan cengkraman pada kerahnya. Ia tak ingin petugas lapas datang menghampiri mereka.
"Dengar. Jangan macam-macam! Aku tidak akan membiarkan tikus mana pun menyentuh teman ku itu. Aku sudah berdosa membuat mertuanya meninggal, maka sekarang aku akan menjaga Suami dari Ayra itu dari tangan kotor manapun. Bagaimana aku bisa membuat perempuan berhati lembut itu menangis lagi. Ia bahkan memaafkan aku dengan tetesan air mata."
"Apa? Kapan kalian bertemu?"
"Belum lama. Tapi aku bisa menutup mata ku dengan tenang karena satu orang yang aku tunggu-tunggu dan berharap bisa bertemu untuk meminta maaf sudah terlaksana. Ia bahkan Minggu lalu membawakan aku makanan yang sama dengan suaminya. Aku merasakan kehangatan keluarga dari dia dan Kyai Rohim."
"Hihihi.... Aku tak mengurus dirimu. Urus sendiri dosa mu di dunia ini."
"Baiklah. Maka jaga saja teman mu itu baik-baik."
"Hei!"
Pak Uban menarik baju Pak Bagas dengan kasar. Hingga lelaki paruh baya itu sedikit tertarik ke belakang ketika akan berjalan. Pak Uban berdiri tepat dihadapan Pak Bagas. Ia menatap tajam Pak Bagas.
Ia menunjukkan satu jari telunjuknya ke arah wajah Pak Bagas. Dengan tatapan yang tak bersahabat.
"Aku peringatkan kamu! Aku tidak ingin mengotori tanganku. Tapi jika untuk melindungi orang lain. Jangankan tangan ini, seluruh anggota tubuh ku ini siap ku serahkan."
"Kita lihat saja nanti. Jaga saja baik-baik teman mu satu Minggu ini."
Satu langkah Pak Uban lebih dekat ke arah Pak Bagas.
__ADS_1
"Aku sarankan pulang dari sini segera cari di ponsel pintar mu itu pak tua. Doa yang Allah berikan pada Nabi Adam ketika beliau berbuat dosa karena memakan buah khuldi."
Pak Uban lebih dulu meninggalkan Pak Bagas sambil menahan emosinya. Ingin sekali ia memukul Pak Bagas namun ia yang khawatir akan kegilaan Pak Bagas di zaman dulu kembali dan berniat menyakiti Bram. Hingga ia lebih memilih bersabar. Karena ia akan di pindahkan kamarnya jika ia membuat keributan.
Saat ia dikamar ia melihat Bram bersandar pada dinding sambil membaca buku. Itulah yang sering suami Ayra itu lakukan. Ia akan membaca buku lalu membuat referensi dari buku yang ia baca. Dan ketika istrinya kembali membawa buku yang baru ia akan bertanya atau ia akan membuat referensi yang baru dari buku yang ia baca.
"Tumben Pak. Siapa yang menemui mu?"
"Saudara lama. Ia minta aku melakukan hal kotor lagi didalam sini."
"Heh. Anda terima?"
Bram masih fokus pada bukunya tanpa melihat Pak Uban.
"Kamu pikir tobat ku ini tobat cabe. Uban ku ini, gigi yang tinggal beberapa ini tak akan membuat ku lupa waktu ku di dunia ini tak lama walau keputusan nya hanya Allah yang tahu."
Bram menutup bukunya. Namun alangkah kagetnya Pak Uban. Bibir Bram terlihat berdarah ujungnya dan hidung mancung Bram tertutup plaster. Cepat lelaki tua itu mendekat ke arah Bram hampir menubruk tubuh atletis Bram.
"Siapa yang melakukan ini pada mu? Katakan?"
"Kamu ini kenapa pak Uban?"
"Hidung ku ada jerawatnya. Kau pencet hingga berdarah jadi kupakai plaster ini. Bibir ku ini, petugas yang baru itu pelit sekali. Aku belum selesai mencukur kumis ku. Dia sibuk minta menyudahi. Orangnya tidak sabaran."
"Hah..... Kau ini bikin copot jantung ku saja."
Pak Uban terduduk dilantai. Ia menjadi was was dengan kondisi Bram. Suatu obrolan dari Pak Bagas tadi menyatakan jika ia ingin seseorang melakukan sesuatu dengan Bram. Sehingga Pak Uban merasa sangat tidak tenang. Rasa sayang pada teman barunya ini muncul karena perlakuan baik dari Ayra dan Kyai Rohim yang berlapang dada memaafkan dia.
"Lah memangnya kenapa? Seperti aku ini sedang jadi buruan saja."
Pak Uban kembali ke tempat tidurnya. Ia mengambil air minum lalu meneguknya sambil berpikir.
"Sekuat kamu akan menyakiti bocah ini. Sekuat itu juga aku akan menjaga dirinya. Panjang kan umur ku ya Allah agar aku bisa menjaga bocah ini sebelum ia bebas dari tempat ini."
__ADS_1