
Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Tak terasa Pernikahan Ayra dan Bram menginjak tahun ke enam. Kedua buah hati mereka pun telah masuk usia sekolah paud.
Ammar yang terlihat dari wajahnya sangat mirip Ayra. Bulu matanya lentik dan Hidung mancungnya membuat anak pertama Ayra itu terlihat tampan walau masih kecil. Seorang anak tentunya mewarisi karakter tidak hanya ibunya tetapi juga sang ayah. Maka Ayra pun selalu di uji kesabarannya oleh Putra nya itu. Karakter Ammar yang sulit mengendalikan emosinya kandang membuat ia membuat ulah.
Pagi itu Ayra harus mengurungkan agendanya untuk hadir di interview beberapa orang yang lulus seleksi administrasi di perusahaan yang sedang ia bangun. Ayra hampir satu tahun ini membangun sebuah perusahaan online shop yang ia beri nama Qiam Shop. Sebuah aplikasi untuk berbelanja online. Sebuah peluang usaha yang Ayra lihat. Dan tentu saja ia membangun itu adalah sebagai salah satu solusi untuk banyaknya anak-anak yatim dari panti asuhan yang Bram menjadi donaturnya.
Juga beberapa santri yang mungkin ingin kuliah namun terbentur dana. Maka ia bisa memanfaatkan aplikasi tersebut dimana ia merekrut pekerja dari ruang lingkupnya terlebih dahulu serta para santri yang kuliah di luar negeri dan di tanah air tetapi tak mendapatkan beasiswa bisa ikut ia kerjakan di beberapa bagian. Seperti call center di aplikasi nya ia sengaja membagi shift. Sehingga para mahasiswa tersebut bisa tetap kuliah dan tetap mendapatkan penghasilan dari pekerjaan mereka.
Mobil yang membawa Ayra berhenti di sebuah sekolah paud. Ayra terlihat berjalan menuju satu ruangan. Saat tiba di ruangan guru tersebut. Ia mengucapkan salam. Ayra dapat melihat Ammar duduk di sofa dan menundukkan kepalanya. Bocah kecil itu mendengar suara ibunya cepat menghampiri Ayra. Ia men cium punggung tangan Ayra.
"Ma...."
"Duduklah Ammar. Mama harus berbicara pada ibu gurumu."
Suara Ayra terdengar lembut. Tatapannya pun masih penuh kasih sayang Pada anaknya. Entah yang ke berapa kali Ammar membuat ulah di sekolah hingga Ayra harus datang ke sekolah. Kali ini yang membuat Ayra cukup panik. Orang tua dari anak yang di pukul oleh Ammar tidak terima anaknya dipukul hingga berdarah.
Ayra duduk di kursi yang ada di depan meja Ibu guru Ammar sebelum menyalami sang guru.
"Maaf Bu mengganggu waktu Bu Ayra. Tetapi ini harus saya sampaikan bahwa tadi Ammar berkelahi dengan temannya-"
Ammar cepat menjawab untuk membela diri.
"Bukan berkelahi Bu. Dia menganggu Qiya dan mendorong adik ku sampai jatuh. Alma pun dorongnya sampai masuk ke dalam got."
Ayra menoleh ke arah Ammar dan menutup bibirnya dengan jari telunjuk nya. Tanda agar si anak diam. Dari kedipan mata sang ibu. Ammar pun diam dan menundukkan kepalanya.
"Temannya bernama Riki sampai berdarah hidungnya. Dan orang tuanya berada di ruang UKS sekarang. Mereka ingin bertemu dengan orang tua Ammar."
"Maafkan Ammar Bu guru. Apa perlu di bawa kerumah sakit?"
"Tidak perlu!"
Suara bernada tinggi dari seorang lelaki dari arah pintu masuk. Ayra dan Guru Ammar pun menoleh ke sumber suara. Terlihat seorang lelaki yang mengenakan jas dengan rambut yang disisir rapi. Tampak seorang perempuan dia sebelah lelaki itu. Perempuan itu adalah istri dari Pak Mimo.
Ini kali ketiga anak bungsunya di pukul oleh Ammar. Anak lelaki yang hidungnya disumpal kapas itu masih terlihat sesenggukan menangis di pelukan ibunya.
__ADS_1
Ayra berdiri dan menghalangi Pak Mimo yang akan menarik kerah baju Ammar.
"Anak saya mungkin memang bersalah memukul anak anda. Tapi bukan berarti anda bisa berlaku kasar pada anak saya. Karena dia dibawah umur."
"Cu ih. Anda kalau tidak bisa mendidik anak anda letakkan saja di pesantren. Jangan disekolah modern seperti ini. Sikapnya yang barbar itu bisa membahayakan orang lain. Kali ini saya tidak memaafkan anak anda. Saya akan menuntut Anda dan keluarga anda."
Ammar tampak bersembunyi di balik tubuh Ayra. Ia terlihat memegang ujung jilbab Ayra dan memuntir nya. Ada rasa takut di hatinya mendengar ancaman Pak Mimo. Belum lagi sorot mata tajam dari Pak Mimo pun membuat putra sulung Ayra itu langsung menutupi wajahnya dengan jilbab bagian belakang Ayra.
Karena bagi anak kecil, ancaman dirasakan sebagai tekanan, karena fitrahnya memang anak-anak suka bermain-main. Bahkan untuk umur Ammar masih masuk fase dimana tahap awal tumbuh kembang anak. Dimana pada tahap ini, satu fase seorang anak menjalani dunia mereka dengan bermain. Namun demikian pada tahap ini seorang anak tetap harus dididik dan dipantau oleh orang dewasa.
Seperti satu hal yang menyebabkan Ammar memukul Riki ialah karena saat bermain bersama. Riki merebut mainan Qiya, karena Qiya merasa itu adalah mainannya. Ia pun mempertahankan mainan yang ada ditangannya. Namun Almahyra yang juga satu sekolah dengan Ammar dan Qiya mendorong Riki. Sehingga terjadi dorong-dorongan antara Riki dan Alma. Dan berakhir dengan Alma jatuh ke dalam got yang berada di sisi kanan taman sekolah.
Ayra yang merasa bahwa cara Pak Mimo salah dalam menyelesaikan masalah itu. Ia meminta pak Mimo untuk berbicara baik-baik dan meminta untuk duduk terlebih dahulu. Karena sungguh setan akan sangat pandai membisikkan hati setiap orang ketika emosi terlebih ketika kita berdiri.
Ayra berbalik ke belakang dan menunduk. Ia mengusap lengan dan kepala Ammar.
"Ammar. Duduk di depan dulu ya. Mama mau bicara dengan orang tuanya Riki."
"Baik Ma."
Ammar berjalan meninggalkan ruangan guru itu. Lalu Ayra memandangi Riki. Ia duduk dihadapan Riki. Ia memegang tangan Riki.
"Tidak. Aku tidak mau. Dia nakal. Dia itu bandel. Dia itu selalu menganggu ku."
Ayra tersenyum ke arah anak lelaki itu. Lalu ia berdiri.
"Saya akan mengajari anak saya arti berbuat salah dan meminta maaf Pak Mimo. Dan Untuk masalah anda akan menuntut saya dan suami saya. Saya siap, karena bukan kah kita akan mempertanggungjawabkan setiap apa yang dilakukan oleh anak-anak kita nanti di akhirat? Saya mewakili anak saya. Saya minta maaf."
Ayra berjalan ke arah Bu guru Ammar dan ingin berpamitan karena ia merasa tak mungkin berbicara pada kedua orang tua Riki yang masih emosi. Guru itu pun tak berkutik karena Pak Mimo merupakan anak dari pemilik yayasan sekolah tersebut.
Saat Ayra akan melangkah keluar. Istri Pak Mimo cepat melontarkan provokasi pada Ayra.
"Saya akan memaafkan anak anda tapi dengan syarat dia keluar dari sekolah ini. Dia sudah mengerikan. Ia memukul anak saya sudah tiga kalinya."
Ayra menghela napasnya dan berbalik. Ia tersenyum kepada kedua orang Riki.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan Alma yang juga di dorong oleh anak ibu. Ini bukan kali pertama Alma di dorong oleh Riki."
"Bohong ma. Bohong. Yang ada mereka bertiga mengeroyok aku. Aku jadi membela diri dong ma."
"Astaghfirullah.... Sabar Ayra."
Bukan Ayra percaya anaknya seratus persen. Tapi quality time Ayra bersama anak-anaknya yang hampir setiap hari selalu ia akan bertanya pada anak-anaknya sepulang dari sekolah apa yang terjadi. Dan dari hampir setiap cerita anak-anaknya menceritakan bahwa anak bernama Riki itu hampir setiap hari menganggu anak lain. Terlebih Alma, putih angkat Yazmin itu sering di bully dengan kata anak haram oleh Riki.
"Begini saja bapak ibu. Besok kalau sudah sama-sama tenang kita bicarakan lagi. Sementara ini. Bapak dan Ibu pulang dulu. Riki juga butuh istirahat."
Lerai guru TK Ammar.
Ayra keluar dari ruangan itu. Menariknya, Ayra tidak menampakkan kemarahan, berwajah masam, dan menghardik Ammar dengan keras ketika keluar ruangan itu. Sekalipun Ammar bersalah. Ammar membela dirinya saat Ayra menggandeng tangannya menuju parkiran.
Tiba dirumah, Qiya berada di kamarnya. Ammar pun Ayra antar Sampai ke kamarnya. Ai bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Hingga selesai makan siang. Ayra menemui Ammar yang berada di kamar.
Cara bersikap Ayra saat mendengar kalimat, 'Aku tidak bersalah Ma' adalah meninggalkan Ammar sendiri di kamar dan meminta anak lelakinya untuk menuliskan apa yang terjadi tadi disekolah hingga akhirnya ia memukul Riki.
Perkembangan mental dan pengetahuan anak akan terus bertambah seiring usianya. Mereka semakin tahu tentang apa yang diinginkan. Hal ini terkadang membuatnya sulit diarahkan. Bahkan, dalam beberapa kasus, anak melawan orang tua sering terjadi di sekitar kita.
Sikap anak yang tidak bisa diatur biasanya ditangkap orang tua sebagai perilaku melawan, memancing emosi, dan dalam keadaan tertentu, orang tua justru memukul si anak sebagai jalan terakhir ‘mendidik’ sekaligus membuatnya jera.
Karena itu, Ayra menggunakan pendekatan teladan yang baik dan mudah dimengerti oleh anak kecil, didukung dengan wajah Ayra yang sama sekali tidak menunjukkan kemarahan pada putranya. Ia justru memberikan sebuah usapan pada kepala Ammar. Dan sebuah senyuman ia sematkan sebelum meninggalkan putranya.
Hal menarik lainnya adalah jeda yang diberikan Ayra. Ketika Ammar merasa benar dan tidak bersalah padahal ia menyakiti temannya. Itu yang ingin Ayra munculkan didalam hati Kakak Qiya itu. Kesalahannya, Sekalipun alasan Ammar benar, ia membela adiknya dan membantu Alma yang di dorong oleh Riki. Ayra memberikan ruang atau waktu agar Ammar tidak merasa ditekan atau disalahkan. Anak kecil tentunya berbeda dengan orang dewasa. Bahkan ia tak bisa mengerti jika ia bersalah jika tidak ia merasakan dan menyadari sendiri.
"Ammar tulis dulu ya. Nanti mama setengah jam laki ke mari. Mama mau lihat Qiya dulu."
Selama hampir 3 tahun terakhir. Ayra mendidik Ammar dan Qiya dengan caranya sendiri. Ayra tak pernah sekalipun berkata kasar dan menyalahkan anaknya sekalipun anaknya salah. Namun ia juga tak pernah membela anaknya di hadapan orang lain sekalipun anaknya benar dalam bersikap namun dengan cara yang salah.
Sungguh dunia anak-anak adalah dunia yang tidak bisa dipandang secara menyeluruh dengan perspektif orang dewasa. Karena itu, Ayra memperlakukan Ammar dan Qiya sebagai anak kecil, bukan sebagai orang dewasa, sehingga apapun kesalahan yang dilakukannya, ia tidak menyalahkannya, tapi memberinya contoh yang benar.
Nasihat dan kata-kata memang berarti, tapi bagi anak-anak, contoh keteladanan jauh lebih terasa artinya. Maka Ammar dan Qiya tak pernah berkata kasar pada siapapun. Namun karakter temperamen dari ayahnya yang menurun ke Ammar memang dibutuhkan kesabaran untuk mendidik buah hati Ayra itu.
Ayra memperlakukan kedua anaknya sebagai anak kecil. Tidak pernah memaksakan pandangan orang dewasa kepada mereka. Karena standar kebenaran anak kecil, tidak sama dengan orang dewasa. Kebenaran bagi mereka masih berganti-ganti, sesuai selera kesenangan mereka.
__ADS_1
Sungguh Uswatun Hasanah sangat dibutuhkan dalam tumbuh kembang anak. Dan hal itu yang Ayra tanamkan. Karena Qiya dan Ammar akan menjadi orang tua di masa depan. Sedikit banyak mereka pun akan meniru gaya mendidik kedua orang tuanya selama mendidik mereka di waktu masih kecil.
To be Continued....