
Ayra yang baru ingin duduk sepeninggal Kyai Rohim dan Umi Laila, ia harus terhuyung dan duduk mendadak di sebelah Bram. Saat suami Ayra menarik dirinya untuk duduk bersandar ke dinding. Sehingga sepasang suami istri itu duduk bersebelahan dan cukup rapat.
"Maasss... "
"Hehe... Maaf. Jangan jauh-jauh. Kalau tidak ada Abi dan Umi sudah ku peluk kamu dari tadi Ay."
"Mas malu dilihat orang."
Tangan Bram masuk kebalik punggung Ayra, lalu ia labuhkan telapak tangannya pada perut istrinya yang masih datar. Walau masih terlapis baju yang Ayra kenakan. Ayra bisa merasakan dan tangan suaminya itu mengusap-usap perutnya. Dan dari depan lun tak terlihat karena tertutup jilbab sang istri.
"Tak ada yang melihat. Mereka pun sibuknya dengan keluarga mereka. Sekarang ceritakan pada ku bagaimana kondisi nya? Apa anak kita menyusahkan mama nya?"
Wajah Ayra merona karena usapan pada perutnya dan kata mama yang Bram sematkan untuk dirinya.
"Mas, malu nanti dilihat orang."
"Tak akan ada yang melihat. Jilbab mu menutupi tangan ku. He.... "
Bram menarik napas dalam ia bisa merasakan aroma parfum khas istrinya yang akan dipakai hanya bersama nya terlebih lagi di dalam kamar.
"Kamu pakai parfum Ay? Tumben baunya sangat menyengat. Kamu pakai yang biasa dikamar?"
"Hehe.... Ayra baru memakainya setelah masuk dan duduk diruangan ini suami ku sayang."
"Ah hati ku mencair Ay.... "
"Betul? Biar nanti di dinginkan Lagi."
Ayra meraih buku yang ia bawakan untuk suaminya. Sebuah buku yang berjudul Tuntutan Menikah KH. Hasyim Asy'ari Penerjemah Jamal Makmur. Ia buka lembaran pertama buku itu. terdapat satu foto kecil hasil USG nya beberapa hari yang lalu bersama Nyonya Lukis.
"Ini Ayra bawakan hasil USG kemarin."
Bram meraih hasil USG itu.
"Kamu kesana sama Mama?"
"Iya mas."
"Pasti kamu sendiri yang tak diantar suami ke sana ya?"
"Kata siapa. Banyak yang datang sendiri, Ayra malah bersama Mama."
__ADS_1
"Apa kata dokter?"
"Dokternya bilang janinnya sehat dan baik mas. Ayra juga sehat."
"Alhamdulilah. Kamu tidak seperti Rani kan?"
Ayra menarik sudut bibirnya.
"Tidak mas. Ayra tidak seperti Rani."
"Rani bertubuh gendut sekarang sedang Ayra kecil."
Ayra paham pertanyaan Bram mengarah pada bahwa dirinya mengalami morning sickness atau tidak. Namun ia tak ingin membuat suaminya bersedih karena tak ada disisinya saat ia melewati kehamilan pertama dengan mengalami mual dan muntah hanya dipagi hari. Berbeda dengan Rani yang selama 3 bulan betul-betul tak bisa memasukan Nasi. Ia akan muntah jika mencium atau makan nasi.
Namun jika makanan selain roti. Lambungnya tak menolak. Bersyukur Ayra hanya mengalami mual dan muntah di pagi hari. Namun untuk makan, ia masih bisa walau tak berselera, ia paksakan sedikit tapi sering. Sesuai saran dari Uminya.
Seperti pagi tadi saat akan shalat Shubuh berjamaah. Umi Laila harus shalat di rumah karena ketika mendengar suara Ayra yang berada dikamar mandi bahkan terlihat lemas setelah bolak balik ke kamar mandi. Namun setelah lewat jam 9 pagi, anehnya gejala itu akan hilang dengan sendirinya.
"Tapi muka mu aga pucat Ay."
"Aku tidak nyenyak tidurnya. Sering terjaga beberapa malam terakhir ini mas."
"Kamu pasti merindukan mas."
[sangat]
Suara yang bersumber dari speaker menandakan jam besuk telah habis dan akan berganti dengan keluarga tahanan lain. Akhirnya Bram yang dari tadi menahan rindunya, memeluk Ayra erat. Sangat erat.
Kepala Ayra berada di dada Bram dengan dagu Bram yang berada diatas kepala Ayra. Hal itu membuat telinga Ayra mendengar jelas bahwa jantung suaminya berdetak cepat.
"Mas, rindu mu begitu besar. Ayra bisa dengar kalau hati mas menyebut nama Ayra berkali-kali."
"Hehehe.... Kamu mulai pintar gombal ya Ayra."
"Suami Ayra yang kasih pelajaran."
Saat Ayra berdiri, Bram menahan tangan istrinya. Ia berjongkok di depan Ayra. Ia usap pelan perut istirnya. Ayra seketika malu karena beberapa orang memandang mereka.
"Mas...."
"Ssst... "
__ADS_1
"Baik-baik didalam ya nak. Jaga mama baik-baik. Jangan menyusahkan Mama. Papa akan berusaha untuk bebas lebih cepat."
Bram hanya berbicara lewat hatinya untuk janin yang kini telah ada pada kandungan istrinya.
Bram yang kemarin bertemu tim pengacara untuk tuntutan balik pada Shela mendengar jika ia berprilaku baik. Maka besar harapan akan mendapatkan keringanan tahun depan sebelum idul Fitri ka sudah bebas. Maka ia masih memiliki kesempatan untuk menunggu istrinya selama hamil.
Bram meminta pengacaranya mengawal kasus Shela dan Riki agar mereka tak lari dari tanggungjawab.
Ayra meninggalkan ruangan itu dan Bram kembali ke dalam ruangannya. Ia terus memandangi foto hasil USG itu. Walau ia tak mengerti tetapi rasa bahagia karena akan segera menjadi seorang Ayah. Terlebih seorang perempuan hebat Dimata Bram yang akan menjadi ibu dari buah hatinya kelak.
Lelaki yang berambut panjang dan penuh dengan uban itu terus menatap Bram.
"Kamu baru bertemu istrimu?"
Bram merasa terganggu cepat membalikkan tubuhnya hingga membelakangi pak Uban. Panggilan lelaki tua di lapas itu.
"Hehehe.... Kamu seperti orang lagi jatuh cinta."
"Kamu jadi mengingatkan aku pada seorang lelaki yang terobsesi pada seorang perempuan perempuan."
Bram merasa terganggu cepat menyimpan foto itu bersama foto Ayra yang ia simpan di balik buku.
"Aku tidak mau tahu kisah mu. Dari kemarin aku bertanya baik-baik dan kamu tak ingin menceritakan apapun. Maka aku tak mau tahu apapun tentang kisah mu."
"Hehehe.... Kamu berwatak keras. Kenapa perempuan berhati lembut bisa secara kebetulan memiliki lelaki yang berwatak keras. Atau kamu juga cemburuan?"
"Hey pak tua! Bukan cinta kalau tak ada rasa cemburu. Tapi sekalipun aku punya rasa cemburu. Istri ku mampu menjaga agar aku tak memiliki rasa itu padanya."
"Hehehe.... Sesetia apapun seorang istri maka suami akan kalanh kabur juga jika ada yang mendekati."
Bram mulai jengah. Ia mendekati lelaki yang dari tadi sibuk membaca novel fiksi.
"Anda terlalu lama disini jadi pikiran anda sendiri terganggu."
Saat Bram akan kembali berbaring ada seorang petugas lapas. Lelaki itu memberi tau jika ada yang akan membesuk Bram lagi. Cepat Bram keluar ruangan itu.
Saat Bram meninggalkan ruangan itu. Lelaki itu penasaran dengan foto apa yang dilihat Bram tadi. Saat ia membuka lembar pertama ternyata terdapat foto hasil USG.
"Jadi istrinya lagi hami muda."
Saat ia kembalikan foto itu dan akan meletakkan buku itu ke tempat semula. Sebuah foto jatuh ke lantai. Foto itu ia ambil.
__ADS_1
Pak Uban tercengang ketika ia mengambil foto yang jatuh dalam keadaan tengkurap itu dan membalik nya. Kedua netranya melebar dengan sempurna.
"Cantik. Kalian bisa memiliki wajah sangat mirip. Sungguh indah ciptaan Tuhan. Hehe.... Semoga Doa mu akan segera terkabul."