Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
241 Cinta Ayra dan Bram 2


__ADS_3

Keesokan paginya. Ayra betul-betul kedatangan tamu istimewa. Seorang sahabat lama yang ia rindukan. Yeni beserta suaminya datang ke Kali Bening. Ia yang mendengar berita Meninggalkan Kyai Rohim meminta izin suaminya untuk ke Kali Bening. Dan suaminya yang merupakan sopir rental itu mengantar sendiri istrinya. Hari ini Yeni akan pulang ke Palembang. Ia yang kemarin membantu persiapan untuk membuat berkat di tempat Umi Laila, ia tak sempat untuk mengunjungi Ayra dirumah sakit. Sehingga pagi itu ia kembali ke Kediaman Umi Laila untuk bertemu sahabatnya.


"Masyaallah Yeni....."


"Ayra.... Drumb Bodol. Hihi...."


"Mana keponakan?"


"Ga ikut Ay. Dia diajak saudara ku jalan-jalan ke Monas. Ini aku sama suami kesini. Kemarin aku belum bertemu dengan dirimu Ay. Jadi aku kemari untuk bertemu kamu Ay."


"Kenapa cepat sekali Yen. Menginap lah satu malam lagi." Ayra menarik satu kursi meminta Yeni untuk duduk. Sedangan suami Yeni duduk di kursi yang tak jauh dari mereka. Bram menemani suami Yeni berbincang.


Sepasang sahabat yang lama tak bertemu itu terlihat asyik berbincang. Tanpa Ayra sadari Bram yang duduk tak jauh darinya mengambil foto dan sesekali merekam ekspresi istrinya. Bram jarang melihat istrinya bisa tertawa dengan orang apalagi sampai rangkul-rangkulan. Terlihat sesekali Ayra mengelap ujung matanya dengan jari nya. Ia tak kuasa menahan tawa karena candaan Yeni.


Bahkan Bram tanpa sadar ikut tertawa karena mendengar candaan Yeni yang samar-samar terdengar oleh telinganya.


"Kamu tahu ga Ay, aku baru-baru pindah ke Palembang, bingung. Dan dari sana aku tahu kenapa orang paling sibuk itu bukan orang luar negeri Ay. Tapi Orang Palembang."


"Kok Bisa? Memang kenapa Yen?"


"Kalau keluar rumah sama suami. Suami bakal bilang gini 'Nak kemano?'. Nah semau orang yang ditanya begitu jawabnya sama Ay."


[Nak Kemano\=Mau Kemana?]


"Apa emang jawabannya?"


"Jawabannya sama semua Ay 'Ado Gawe'. Berarti kan mereka itu sibuk semua Ay. Jadi belum sibuk orang Bule Ay. Masih sibuk orang Palembang."


[Ado gawe\=Ada pekerjaan]


Sontak istri Bram itu kembali tertawa kecil. Ia yang baru saja di buat hampir menangis karena banyolan Yeni kembali dibuat tertawa, Yeni yang mengatakan bahwa ia dan suaminya punya kekuatan lebih dari kekuatan yang katanya punya ilmu Kanuragan.


"Kupikir Ay, kita orang Jawa udah hebat Ay, biji beton dimakan. Lah suami ku lebih Kuat lagi Ay. Kapal selam beserta isinya di makan."


Sontak Bram menahan tawa mendengar candaan Yeni.


"Alhamdulilah kehadiran teman mu bisa menghadirkan tawa mu Ay... Sungguh mas tak bisa melihat kesedihan yang kamu coba pendam karena kehilangan Abi."


Yeni yang sebenarnya Bram telpon langsung. Ia bahkan meminta HRD di bagian cabang Sumsel untuk memberikan izin lebih panjang pada Yeni. Sehingga sahabat istrinya itu bisa sedikit melupakan kesedihannya. Ayra memang orang yang mudah akrab tapi untuk bercanda ia tak berani memulai jika orang tersebut belum terlalu dekat dengan dirinya. Karena ia khawatir candaan akan menyakiti hati orang. Sedangkan satu urusan yang susah di dunia ini bagi Ayra adalah berurusan dengan manusia.

__ADS_1


Karena belum tentu orang yang kita sakiti akan memaafkan. Sedangkan akan repot ketika kita menyakiti orang tersebut dan dia telah meninggal. Maka urusan itu akan di bawa ke akhirat. Sungguh satu hal yang paling di takuti setiap mereka yang berilmu. Bahwa berurusan dengan dosa yang akan di minta pertanggungjawabannya di hari akhir. Hal itulah yang pernah membuat ia menangis tersedu-sedu setelah menampar Shela.


Yeni yang merupakan sahabat yang dulu menjadi tempat curhat, menjadi tempat bermain, masih seperti dulu.


"Kamu ini Yen. Masih saja seperti dulu selalu membuat ku tertawa." Ucap Ayra sambil menahan perutnya dengan tangan kanannya karena sakit menahan tawa.


"Lah kami juga masih seperti dulu. Oya kemarin aku ketemu anak mu. Lah kok bisa persis dirimu Ay. Pinter-pinternya. Ibarat kata nih yang perempuan siapa namanya?"


"Qiya."


"Nah Qiya itu kepribadiannya Persis kamu. Kalem ga banyak ngomong. Tapi selalu memperhatikan. Klo si Amm... Ammar ya. Dia itu kecerdasannya persis kamu. Apa saja ditanya."


"Terus masa ga ada yang mirip aku?" Bram yang berjalan ke arah Ayra protes Namun dengan nada pelan.


Yeni tertunduk malu karena ia diajak bicara CEO tempat dia bekerja.


"Hehe... Itu jelas ada miripnya Pak. Cantik dan Tampannya."


Bram duduk di sisi Ayra. Sepasang sahabat itu harus kembali terpisah karena suami Yeni mengajak istrinya berpamitan. Saat mereka pulang Ayra dibuat kaget ketika membuka satu plastik berwarna merah. Terdapat sebotol madu yang telah di campur bawang putih. Ayra tersenyum simpul menatap di botol itu ada tulisan tangan Yeni.


..."Biar Fit Ay Ay ^_^"...


"Suami ku sayang, coba searching . Tapi kalau tahu jawabannya. Minumnya nanti aja tunggu pas udah dirumah."


Bram menaikan kedua alisnya dan cepat berselancar ke mesin pencari yang ada di ponselnya. Lelaki itu menarik sudut bibirnya ketika melihat hasil pencariannya.


~~


Tak terasa usia kehamilan Ayra sudah memasuki Delapan Minggu. kehamilan nya yang kedua ini. Ia harus mengalami morning sickness yang lebih parah daripada kehamilan Ammar dan Qiya. Entah karena pasca ditinggalnya Kyai Rohim atau memang kehamilan Ayra yang kedua ini berbeda. Ayra sudah hampir satu Minggu tidak bisa makan nasi. Ia hanya menyiasati dengan satu jam satu sendok nasi. Hal itu tampaknya berhasil ia lakukan tanpa harus nasi tersebut kembali keluar lagi.


Di kehamilannya yang sekarang Ayra betul-betul tidak bisa makan nasi. Bahkan mencium dan melihat nasi Ia akan terasa mual. Namun ia tak pernah mengeluarkan kata-kata jika ia tak suka Nasi. satu hal yang diajarkan Umi Laila sedari anak-anaknya kecil, makanlah makanan itu jika suka, dan jangan katakan tidak suka atau tidak enak jika tidak ingin memakan.


Pagi itu saat ia sedang memasangkan dasi Bram, ia harus berlari ke arah kamar mandi. Ia yang belum makan apapun, hanya air yang keluar dari muntahan Ayra. Bram memijat leher Ayra sambil mengolesi minyak angin pada leher istrinya.


"Kita kedokteran saja ya Ay?"


"Tidak apa-apa mas. Biasa, dulu waktu hamil Ammar dan Qiya juga begini setiap pagi. Nanti kalau sudah agak siang dia berhenti sendiri."


Ayra akan mengelap mulutnya dengan handuk kecil yang ada disisi kirinya. Namun Bram lebih dulu mengambil handuk itu. Ia usap lembut bibir istrinya dari sisa-sisa air. Lalu ia ke cup dahi istrinya itu cukup lama. Setelah itu ia menjauhkan tubuhnya sambil menatap Ayra dalam.

__ADS_1


"Dulu kamu bilang kamu baik-baik saja? sekarang kamu bilang setiap pagi kamu begini?"


"Cuma tri semester pertama saja mas. Ini hal umum yang terjadi sama perempuan hamil walau tidak semua yang mengalaminya."


Sepasang suami istri itu Kembali ke kamar. Ammar dan Qiya sudah mengetuk pintu karena orang tua mereka tak kunjung keluar dari kamar.


"Mama, Papa..."


Bram menahan lengan Ayra. Ia berjalan ke arah pintu dan membuka pintu tersebut.


"Wow anak Papa sudah ganteng dan cantik."


"Ayo Pa... nanti terlambat."


Ammae sudah protes di depan pintu. Sedangkan Qiya berlari ke arah Ayra.


"Mama muntah lagi?"


Ayra mengangguk pelan.


"Apakah dulu waktu aku dan Qiya di dalam perut Mama. Mama juga seperti ini?"


Ammar ikut duduk di sisi ranjang.


"Iya tapi tidak sesering ini" Jawab Ayra.


Qiya memeluk Ayra seraya meminta maaf.


"Maafkan kami Mama.... Mama pasti lelah sekali."


Ammar pun mencium perut ibunya.


"Dedek besok tidak boleh bandel ya. Mama sampai sakit begini loh mau buat dedek sehat."


Bram tertawa melihat sikap anak-anaknya kepada Ayra.


"Owh. Papa sekarang sudah tidak pernah di peluk. Apa Papa harus hamil dulu?"


Ammar dan Qiya tertawa mendengar candaan Bram yang cemberut di depan pintu. Pagi itu kedua anak yang baru satu bulan sekolah di tempat baru itu tak ingin Bram mengantar Sampai ke depan gerbang. Alasannya mereka malu, teman-teman mereka tidak ada yang diantar pakai mobil. Sehingga Bram hanya duduk didalam mobil dan memastikan kedua anaknya telah masuk kedalam sekolah, ia baru Meninggalkan area itu.

__ADS_1


__ADS_2