
Ayra telah tiba di sebuah hotel. Saat Aisha telah memesan 3 kamar hotel namun Nyonya Lukis tak mau tidur sendiri. Ia seolah masih ingin merawat menantunya. Hingga ia meminta agar Aisha memesan dua kamar.
Ayra hanya bisa tersenyum simpul saat sang ibu mertua begitu perhatian pada dirinya. Baru saja mereka tiba dikamar hotel. Nyonya Lukis sudah mengingatkan Ayra agar bisa minum obatnya. Dan berkali-kali sang ibu mertua memegang dahi menantunya itu.
"Sudah tidak panas, tapi tetap harus minum obatnya Ay."
Ayra hanya patuh meminum dua buah pil yang diberikan Nyonya Lukis padanya beserta segelas Air. Setelah selesai membersihkan diri, Ayra membuka laptopnya dan mempelajari apa yang membuat demo makin liar di anak cabang perusahaan yang terletak di kota Palembang ini.
Nyonya Lukis setelah mengingatkan akan jangan terlalu lama dalam bekerja pun sibuk dengan ponselnya.
"Jangan malam-malam ya Ay."
"Sebentar kok Ma. Mama Istirahat saja dulu"
"Mama mau buka yotut** dulu Ay."
Nyonya Lukis yang dari tadi mencari headset nya dan tak ketemu akhirnya membuka sebuah ceramah agama di ponselnya. Ayra masih fokus pada laptop nya. Namun lama kelamaan isi ceramah yang berasal dari ponsel ibu mertuanya membuat menantu nya berkali-kali melebarkan pupil matanya.
Ia bahkan menggelengkan kepalanya beberapa kali. Ia tak nyaman dengan ceramah yang ibu mertuanya dengarkan. Ia kembali fokus materi yang ada di laptopnya. Setalah Ayra menemukan poin-poinnya, Ia mencatat pada buku kecil. Lalu ia menutup laptop itu dan dua ponsel yang sama merk-nya ia bawa ke arah tempat tidur.
Ponsel itu adalah ponsel Bram dan Ayra. Ayra letakkan Keuda ponsel itu di sebelah tempat tidur. Ayra menarik kakinya ke balik selimut dan ia mendekatkan dirinya ke arah nyonya Lukis. ia ikut mendengarkan ceramah itu sampai selesai. Lalu ketika ibu mertuanya ingin mencari ceramah serupa dengan menyentuh layar pipi itu.
Ayra cepat bergelayut mesra pada lengan ibu mertua. Nyonya Lukis yang melihat Ayra sepertinya sedang ingin bermanja-manja padanya. Nyonya Lukis yang tak memiliki anak perempuan, sangat senang melihat menantu nya itu bermanja-manja pada dirinya. Nurani keibuannya begitu bisa ia rasakan. Ia meletakkan benda pipi yang dari tadi sibuk menjadi perhatiannya.
"Ma.... "
"Ada apa Ay?"
Nyonya Lukis cepat merangkul sang menantu dan mengelus lengannya.
"Kamu rindu Umi mu? atau suami Mu?"
Ayra tersenyum malu. Ia sandarkan kepalanya dalam rangkulan ibu mertuanya.
"Dua-duanya ma."
"Bermanja-manja lah pada mama. Mama suka Ay. Mama tidak menyangka kamu ini ada sisi manjanya juga Ay."
"Hehe... Ayra cuma manusia biasa ma. Ada sisi lemah ada sisi kurangnya."
"Jangan sungkan pada mama. Bermanja-manja lah pada mama. Tapi tetap jaga perasaan Rani juga Liona."
__ADS_1
Ayra tak menjawab, ia sedang mencari sela ingin membahas ceramah yang barusan ibu mertuanya dengarkan.
"Ma.... "
"Hem."
"Ayra tahu mama sedang sangat ingin belajar agama. Kalau Mama mau nanti pulang dari sini, Bagiamana kalau kita ikut pengajian satu Minggu sekali. Ayra sempat beberapa kali shalat ashar di masjid itu dan Ayra kenal ustadz dan ustadzah yang memberikan materi. Insyaallah sanadnya jelas Ma."
"Ayra, apa yang ingin kamu sampaikan. Apa ada yang salah dengan ceramah yang baru saja mama dengarkan. Kenapa kamu tidak langsung mengatakan saja kalau ada yang salah. Cara dan adab mu kepada orang tua dan orang yang tak memiliki ilmu begitu mulia Ay."
"Memangnya kenapa Ay? Kan mama bisa belajar sama kamu, kamu juga udah dari kecil mondok kenapa masih harus ikut pengajian lagi. Dan sekarang ada youtu**."
Ayra melepaskan pelukannya.
"Ayra boleh tidur dipangkuan mama?"
"Kemarilah Ay."
Nyonya Lukis menurunkan selimutnya. Saat Ayra ingin mengambil bantal Nyonya Lukis cepat menahan tangan Ayra. Hingga Ayra berbantalkan pah* Nyonya Lukis.
"Ma, kemarin mama sempat tanya kan sama Ayra apa itu sanad?"
"Ma, menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim. Menjadi pribadi yang berilmu menjadikan diri kita memiliki derajat yang lebih tinggi. Namun, bila ilmu tanpa memiliki sanad, maka gurunya tak lain dan tak bukan adalah setan.
Ilmu agama bukan ilmu yang sifatnya coba-coba, tetapi ini menyangkut perilaku akhlak dunia dan akhirat. Salah pengamalan akan mengantarkan pada kesesatan. Jika ingin memiliki ilmu agama yang benar, maka hendaklah menghadiri majelis taklim yang dibimbing oleh ustaz atau ulama yang jelas sanadnya.
Sanad adalah Geneologi yang dimiliki seseorang misal Ulama A gurunya siapa. Nanti Gurunya punya guru. Gurunya punya guru lagi terus hingga sampai ke Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Geneologi keilmuan itu penting ma karena kita tak hidup dizaman Rasulullah. Melainkan kita dihidup di zaman Ulama."
"Mama ga paham Ay, jelaskan dengan bahasa yang mudah dimengerti coba."
Ayra menikmat* belaian lembut dari tangan Nyonya Lukis ke kepalanya.
"Ma, Imam Bukhari di dalam kitab Shahih Bukharinya berkata: Mengajilah (belajarlah) dengan bersungguh-sungguh sebelum kamu bertemu dengan masanya orang yang berbicara ilmu yang hanya bermodalkan prasangka."
"Maksudnya Ay?"
"Maksudnya Ma, belajar agama tidak cukup dengan membaca buku-buku, apalagi sebatas terjemahan, menonton Youtube, atau mendengarkan podcast semata. Ilmu yang didapat dari sosok guru yang jelas dan mempunyai sanad.
Maka muaranya akan menghasilkan ilmu yang bisa menentramkan hati dan menjernihkan akal pikiran. bukan justru menghasilkan kegemaran dalam saling menyalahkan.
Orang zaman sekarang kadang sangat selektif untuk urusan dunia. Sepeti contoh kalau lagi sakit akan memilih dokter yang betul-betul berkompeten dan ahli serta rumah sakit yang memang sudah terkenal dengan kualitas pelayanan nya pada pasien.
__ADS_1
Tapi untuk bekal agama kita tak begitu detail dan selektif. Saat ini Betapa mudah orang-orang yang tidak jelas diketahui kepada siapa ia pernah belajar agama, tidak jelas dikenal telah berapa lama mereka pernah mengaji, dan tidak jelas dan teruji pula keilmuannya dalam bidang agama. Lalu, dengan tiba-tiba mereka dengan pongah dipanggil Ustadz hanya karena terkenal."
Nyonya Lukis mulai paham, ia tahu maksud sang menantu. Ceramah yang barusan ia dengar memang syarat ilmu. Tetapi pola berpikir bahwa pemahaman agama dalam dirinya adalah pemahaman yang paling benar dan kemudian menyalahkan pemikiran dan pemahaman orang lain di luar dirinya
Itu mungkin yang membuat Ayra tak nyaman hingga menantunya itu bergelayut mesra pada nya dan menyampaikan maksud satu isi hatinya.
"Berarti tak boleh belajar di YouTub* Ay?"
"Boleh Ma. Tetapi hendaknya kita ketika mengikuti pengajian online atau streaming juga perlu memperhatikan kualifikasi dan keahlian guru yang mengajarkan. Jangan sampai salah guru, sehingga dapat menjadikan pemahaman agama menyimpang dari manhaj ahlus Sunnah wal Jamaah."
Ayra kembali melanjutkan pembahasan pada pada sang ibu mertua tentang sanad.
" Pada zaman ini banyaknya oknum ustaz gadungan mendominasi dan mengalirkan paham liberal kepada masyarakat awam tanpa mengkaji sesuatu yang disampaikannya dan lebih ironisnya lagi masyarakatnya pun tidak mengkaji dan meneliti apa yang disampaikan mereka. Cukup bermodalkan terkenal, dan pintar.
Warisan keilmuan keagamaan berada dalam tanggung jawab para ulama. Penting untuk menengok, mempelajari, dan belajar langsung kepada para ulama untuk menjaga kesinambungan ilmu dari Rasulullah shalallahu alaihi wassalam.
Imam Bukhari saja yang terkenal sebagai ahli hadis mempunyai guru yang berjumlah 1.080 ulama. Maka kita yang masyarakat awam ini, haruslah memiliki guru yang mempunyai kemampuan dan sanad keilmuan yang jelas.
Terlebih bagi masyarakat muslim yang masih awam dan tidak memiliki kemampuan menggali serta meneliti suatu persoalan dalam ilmu agama, maka ia diwajibkan memiliki guru yang dapat membimbingnya agar tidak tersesat dalam pemahamannya."
Nyonya Lukis pun tersenyum pada sang menantu. Ayra melihat senyum itu mengerutkan dahinya.
"Mama kenapa tersenyum?"
"Karena mama merasa bersyukur. Hidayah datang pada mama melalui kamu Ay. Kamu membawa agama begitu indah, begitu lembut, begitu menenangkan. Adab mu yang selalu kamu kedepankan membuat mama makin nyaman dan mantap belajar agama lebih baik lagi. Kenapa tidak katakan saja Mama jangan dengarkan ceramah orang tadi. Sebegitu susah kamu untuk langsung saja tanpa harus memberikan penjelasan panjang lebar?"
Satu cubitan pada hidung Ayra membuat Ayra tertawa kecil seketika rasa rindu teramat menusuk relung hatinya. Memorinya seketika mengahdirkan sesosok pria yang pernah melakukan hal yang sama pada hidung mancungnya itu.
Sudut matanya tiba-tiba berembun.
"Ada Apa Ay?"
"Ayra rindu mas Bram Ma."
Satu kalimat dari bibir mungil nan merah menantunya mampu membuat Nyonya Lukis pun merasakan apa yang Ayra rasakan.
"Mama juga rindu pada putra sulung Mama itu Ay."
Dua perempuan itu meneteskan air mata untuk satu orang lelaki yang sama. Cinta yang biasanya memisahkan hubungan anak dan mertua. Hingga banyak para anak lelaki bingung berbakti selepas menikah. Namun Ayra mampu meraih cinta sang mertua lebih dulu hingga seperti saat ini sang mertua tak merasa tersaingi karena kehadirannya dalam hidup sang putra sulung.
Ia justru merasa mendapatkan teman, mendapatkan anak perempuan. Pesona Ayra yang mungkin mampu membuat dua hati dalam balutan satu rasa untuk satu hati.
__ADS_1