Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
152 Kabar Duka Untuk Ayra


__ADS_3

Berita duka yang disampaikan oleh petugas lapas membuat Ayra dan keluarganya segera kerumah sakit. Setibanya dikamar jenazah itu Ayra menjerit histeris. Bagaimana tidak, Ia yang baru beberapa hari ini melihat suaminya dalam kondisi sehat wal afiat kini melihat tubuh suaminya terbujur kaku diselimuti kain putih.


Berita meninggalnya Bram membuat Ayra ingin melihat langsung. Ia tak ingin menunggu jenazah suaminya. Ia ingin melihat sendiri. Saat selimut putih itu dibuka. Betapa hancur hati Ayra. Air matanya berderai-derai. Ia yang tak pernah bersikap begitu lemah. Malam itu meratapi sebuah nama.


"Mas Braaamm.... Mas....!"


Tubuh Ayra terasa lemas ketika ia memeluk Bram yang tak lagi bernyawa. Satu tangan coba menarik Ayra dan menenangkan istri dari Bramantyo itu.


"Ayra.... Ayra.... "


Seketika Ayra terjaga dari bangunnya. Ia melihat Umi Laila berada disisinya. Ia mengitari pandangannya ke sekeliling. Ia menarik lapas lega karena ia berada didalam kamar tidurnya tidak seperti yang barusan ia lihat seperti tampak nyata sekali bagi Ayra.


"Ada apa Nduk? Suara mu sampai keluar."


Ayra langsung memeluk Umi Laila dan menangis di dalam pelukan Umi Laila.


"Ayra mimpi buruk Umi."


"Shalat lah Ra. Shalat akan membuat hati tenang."


Ayra melerai pelukannya. Ia mengangguk kan kepala. Saat Umi Laila keluar dari kamar Ayra. Istri Bramantyo itu membuka ponselnya. Ia melihat wallpaper ponselnya. Foto dirinya bersama Bram saat bersama di Bali.


"Semoga kamu baik-baik saja Mas. Ayra selalu mendoakan untuk kesehatan dan keselamatan Mas."


Rasa rindu yang selalu hadir di relung hati Ayra membuat matanya berembun. Hormon ibu hamil yang merasa ingin diperhatikan, ingin dimanja oleh sang suami sering timbul namun akan Ayra tepis rasa itu dengan menyibukkan dirinya. Sangat sulit ketika rasa rindu itu hadir ditengah malam seperti ini. Maka shalat adalah solusi bagi Ayra untuk mengurangi rasa yang menyesakkan dadanya.


Saat istri Bramantyo itu berjuang melawan rindu. Sang suami justru sedang berjuang melawan kepulan api. Mereka yang hampir tertimpa plafon mencari jalan lain aga dapat selamat. Pak Uban yang hampir puluhan tahun berada disana sangat hapal seluk beluk ruangan lapas itu. Ia mengajak Bram ke arah selatan gedung itu.


"Ikuti aku... Uhuuuk... Uhuukk..."


Bram mengikuti Pak Uban. Mereka hanya berbekal cahaya dari kobaran Api. Langkah demi langkah mereka tiba di ujung ruangan yang ternyata api telah menyala cukup besar. Mereka mencoba mendobrak pintu itu.


"Brraaaak! Braaaaak!"


"Bruuugh."


Mereka berhasil keluar dari aula itu. Namun saat mereka melewati taman dan masuk ke dalam ruang portir, ruangan yang berada tak jauh dari ruang Kepala Lapas dan kasi Binadi. Api yang juga menyala dan plafon yang juga ambruk lalu menimpa pintu untu keluar membuat Pak Uban dan Bram berjuang untuk menyingkirkan beberapa balok yang sudah terbakar. Namun suara rintihan dan teriakan minta tolong terdengar sayup-sayup dari telinga Pak Uban dan Bram.


Pak Uban menahan tangan Bram yang sibuk mengibaskan sebuah kayu untuk memadamkan kayu yang terlihat menyala karena terbakar api.


"Berhenti. Coba dengar baik-baik."


Kedua lelaki itu memasang pendengaran mereka dengan baik. Hingga kedua pasang telinga itu mendengar sayup-sayup suara orang.


"Aduuuhhh.... Aduuhhh.... Toloooonggg... Toloooonggg.... "


Suara rintihan seorang lelaki.


"Tolong! Tolong!


Suara lain dari lelaki yang bersumber dari arah yang sama dengan suara yang merintih. Pak Uban berjalan ke arah satu ruangan dimana ruangan itu berada tak terlalu jauh dari ruangan penyimpanan barang itu.


"Hei Pak Uban. Hendak kemana?"

__ADS_1


"Ada yang meminta tolong. Aku akan mencarinya."


"Jangan gila. Kita bisa terpanggang didalam gedung ini. Api kian besar. Aku tidak mau mati konyol."


Bram masih berusaha menyingkirkan balok yang menghalangi pintu keluar itu terbuka. Namun tak lama suara Pak Uban yang berteriak-teriak membuat lelaki yang memiliki tubuh tinggi dan tegap itu menghela napasnya dengan kasar. Ia mendengus kesal.


"Braaaam! Braaaam! Cepat kemari ada yang butuh bantuan kita."


"Ya Allah kenapa aku selalu di kelilingi orang-orang yang keras kepala."


Lelaki itu mau tidak mau berjalan dengan masih menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Serta mata yang perih terus mengeluarkan air masih dipaksa untuk tetap terbuka. Saat Bram sampai di sebuah ruangan yang yang biasa menjadi ruang Kantin itu terlihat satu sipir penjaga kakinya tertimpa lemari yang cukup besar. Sedangkan satu penjaga yang berusia lebih tua merintih karena napasnya yang sesak. Ia memegangi dadanya sambil bersandar di dinding. Ruangan itu masih dipenuhi asap.


"Bantu aku menyingkirkan lemari ini Bram."


"Padamkan dulu apinya."


Bram yang melihat disekelilingnya, ia bergerak cepat ketika kedua netranya menangkap satu benda yang bisa membantu memadamkan api tersebut yang biasa disebut APAR. Bram mengambil benda berwarna merah dan ia menyemprotkan disekitar lelaki yang lelaki yang terjepit lemari itu. Hingga api telah padam di atas lemari itu.


"Cepat Pak Uban. Kita tak ada waktu banyak."


Bram melihat ke arah Plafon yang juga telah banyak asap yang keluar dari atas sana. Menandakan bahwa api telah menguasai diatas plafon tersebut. Bahkan suara lalapan api yang terdengar dari atas sedang melalap kayu plafon pun membuat Pak Uban dan Bram dengan cepat menyingkirkan lemari itu.


"Satu. Dua. Tiiiigaaaa... "


Suara Pak Uban memberikan komando. Lemari berhasil dipindahkan.


Bram menarik tubuh sipir itu. Ia melihat wajah sipir itu. Sipir yang baru beberapa Minggu bertugas di lapas ini dan sering membentaknya. Bahkan bibirnya yang beberapa hari lalu terluka itu pun akibat ulah tidak sabarnya sang sopir ketika Bram masih meminta izin mencukur rambut-rambut halus di sekitar pipi dan dagunya.


"Bruuugh."


"Aaawwwhhh.... "


Bram meletakkan tubuh lelaki itu dengan kasar. Lelaki itu menjerit kesakitan karena luka pada kakinya yang Bram sengaja menyenggol kaki lelaki itu saat membantu pak Uban membantu satu sipir lelaki paruh baya yang terkenal sangat ramah dan baik pada para tahanan. Bahkan sering berbagi rokok pada para tahanan yang kirimannya telah habis.


"Kita harus membawa mereka keluar Bram."


"Maksud mu?"


Bram melihat lelaki yang paruh baya itu bertubuh sedikit gemuk. Sedangkan lelaki yang baru beberapa hari bekerja di lapas itu bertubuh kurus walau cukup tinggi.


"Biar aku yang memikul lelaki itu. Kamu berjongkok lah. Aku akan mengikat tubuhnya pada punggung mu."


"Pak Uban... "


"Plaaakk!"


"Bukan waktunya membantah! Ayo!"


Satu tamparan Bram dapatkan ketika ia bersungut-sungut karena ia sudah khawatir jika api kian membesar maka mereka tak akan keluar dari sana hidup-hidup.


Bram duduk jongkok. Pak Uban mengambil satu alas meja di sana yang sedikit terbakar. Lalu mengikat tubuh gendut sipir itu pada tubuh Bram.


"Satu Dua Tiga."

__ADS_1


"Kreeek...."


"Aawwwhh.... Ya Tuhan kenapa aku seperti menggendong Ayra saat ia masih bertubuh Drum."


"Nah bagus lah kalau kamu berpikir begitu. Berdoa saja kamu bisa bertemu istri mu karena menolong mereka."


Saat Bram membenarkan posisi tubuh sipir itu di punggungnya. Ia memegang paha lelaki itu cukup erat. sedangkan tangan lelaki tadi yang diikat oleh Pak Uban dengan ikat pinggang sipir itu sendiri agar tak jatuh dari posisinya yang sedang digendong Bram namun tak sadarkan diri.


Saat melewati sipir yang lebih muda tadi Bram kembali sengaja menyenggol kaki lelaki tadi.


"Aaawww... Sakit!"


"Tahu rasa kamu... ! Selama ini selalu angkuh dengan pangkat di baju yang kamu pakai itu."


"Hiksss. Bocah ini."


Pak Uban cepat menggendong lelaki itu. Saat Bram Kembali akan menuju ruang Portir. Pak Uban mencegah.


"Sia-sia lewat sana Bram. Kita lewat gudang yang berada geudng dibelakang."


"Apaaaa,? itu sangat jauh. Bisa patah pinggang ku ini!"


"Tapi peluang kita selamat besar. Api sepertinya menggila disini. Kita bisa bertahan disana. Sampai Api padam. Yang penting kita menjaga Api jangan sampai melahap gudang itu. Gudang itu terpisah dengan gedung ini. Kita tak bisa keluar karena tinggi pagar ini 5 meter. Kamu pikir kita ini Jackie Chan yang bisa naik tembok?"


Belum Bram menjawab Pak Uban cepat meninggalkan ia. Mau tak mau karena api diruang Portir telah menyala begitu besar akhirnya ia mengalah. Ia mengikuti Pak Uban kearah Gudang yang dimaksud.


Saat dua lelaki itu saling ejek karena beban yang mereka bawa berbeda bobotnya. Berita terbakarnya Lapas tempat Bram ditahan telah sampai di telinga Kyai Rohim. Kyai Rohim yang duduk di ruang tengah menerima telpon dari Bambang. Bermaksud menyembunyikan dari Ayra namun istri Bramantyo itu telah mengetahui lebih dulu dari asisten Bram yang mengirimkan link channel YouTube yang menyiarkan secara langsung tentang musibah itu.


Ayra keluar dari kamarnya dan menemui Kyai Rohim dan Umi Laila.


"Umi.... Mas Bram.... Umi...."


Suara Ayra telah diiringi Isak tangis. Pipihnya telah basah. Umi Laila cepat menenangkan putri bungsunya itu.


"Bersabarlah Ayra. Tenanglah, Insyaallah Bram baik-baik saja."


"Ayra tadi bermimpi buruk tentang mas Bram Umi......"


Suara tangis Ayra pecah. Membuat airmata nya mengalir hingga jatuh dibibir mungilnya. Ayra memaksa pergi untuk mencari berita tentang korban yang selamat. Karena dari berita yang beredar ada 4 korban yang meninggal. 13 orang terluka.


Tiba di rumah sakit. Ayra menatap papan pengumuman berisikan nama korban yang meninggal dan luka-luka. Kedua netranya mengikuti arah jari telunjuknya yang menyusuri papan pengumuman itu. Ia menarik napa lega. Nama Bram tak ada disana. Namun saat Kepala Lapas yang berada tak jauh dari tempat Ayra berdiri mengatakan bahwa ada Empat orang yang masih terjebak di dalam Lapas. Terdiri dari dua Sipir dan dua tahanan.


"Ya untuk tahanannya itu informasi identitas nya sudah kita dapatkan. Atas inisial B dan J."


"Kemungkinan selamat atau tidak pak.?"


"Kita berharap yang terbaik. Karena pihak pemadam kebakaran sedang berusaha memadamkan api yang cukup besar. Bahkan sampai saat ini sudah 6 Mobil Damkar yang berada di sana dan belum berhasil mematikan api. Kita sama-sama berdoa agar empat orang tadi bisa selamat. Saya permisi dulu."


Seketika Ayra terduduk dilantai. Air matanya berlinang makin deras. Tubuhnya lemah tak mampu menopang dirinya. Ia menangis tersedu-sedu. Umi Laila memeluk Ayra dan cepat mengangkat tubuh Ayra.


"Ayra.... Bersabarlah. Bisa jadi itu bukan Bram nak."


"Umiiiii.... Hiks.... Hiksss.... Mas.... Astaghfirullah..... Astaghfirullah..... Allahuakbar.... Allahuakbar.... Hiks.... hiks...."

__ADS_1


__ADS_2