Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
77 Masalalu Nyonya Lukis


__ADS_3

Pak Erlangga yang baru pulang dari makan malam bersama kliennya cepat menggendong tubuh menantu nya. Belum sempat bertanya namun melihat Ayra seketika pingsan di atas lantai membuat pak Erlangga cepat membawa tubuh menantu nya itu ke dalam kamar.


Nyoya Lukis, Bambang dan Rani pun setengah berlari mengikuti Ayra. Saat tubuh mungil Ayra telah berada di king size yang berada di kamar putra sulungnya itu, Pak Erlangga ingin menghubungi Krisna namun Nyonya Lukis cepat mencegah.


"Pa, minta Krisna mengirim dokter perempuan. Ayra sangat menjaga auratnya."


Nyonya Lukis berbicara tanpa menatap suaminya. Ia memandang Ayra dengan sisa-sisa air mata. Tangannya membelai lembut dahi Ayra. Pak Erlangga selesai menghubungi Krisna cepat kembali ke sisi Ayra. Lelaki paruh baya itu berdiri di belakang Nyonya Lukis.


Ia berikan usapan lembut pada punggung sang istri.


"Mungkin Ayra terlalu lelah ma, papa dengar anak perusahaan MIKEL di beberapa daerah pekerja mogok. Ayra sempat berbicara hal ini kemarin dengan papa."


"Kenapa tidak kamu saja Bams yang menggantikan Bram?"


Nyonya Lukis masih fokus pad Ayra.


"Bram sendiri yang meminta. Rafi tak berani usul ma. Apalagi aku, mama tahu sendiri Bram kalau dia membuat keputusan apalagi menyangkut pekerjaan."


"Ya ma, Ayra Perempuan cerdas dan kuat. Mama tidak perlu khawatir."


Beberapa menit berlalu, dokter yang ditunggu pun hadir. Seorang dokter dengan tubuh tinggi langsing dan putih. Ia datang bersama Krisna. setelah dokter tersebut memeriksa kondisi Ayra. Ia meninggalkan beberapa obat.


"Sepertinya hanya kelelahan dan stress Nyonya. Suhu tubuhnya sedikit tinggi. Berikan yang ini dulu kalau dia sadar."


Dokter perempuan tersebut tak bisa lama-lama, Krisna yang datang bersama pun cepat mengikuti.


"Terima kasih dokter, Aku mengantar Krisna dulu ma."


Bambang pun ikut mengantar Krisna. Rani yang duduk di ujung kasur pun harus keluar kamar karena mendengar suara tangis Raka.


"Raka menangis Ran. Mungkin sudah mengantuk."


"Rani keluar dulu ya ma."

__ADS_1


Nyonya Lukis mengangguk. Pak Erlangga duduk di sisi seberang Nyonya Lukis duduk. Ia menatap menantunya itu.


"Menantu mu tak berbeda dengan dirimu ma. Ia tak akan goyah hanya karena badai dari luar yang datang untuk merobohkannya. Ada kemiripan diantara kalian. Kalian sama-sama kuat menghadapi dahsyatnya ombak yang ingin menerjang bahtera rumah tangga diawal pernikahan ma."


Seketika Nyonya Lukis kembali ke ingatan masa lalunya. Ia teringat bagaimana ia harus di usir dari rumah oleh ibu kandungnya karena saat itu ia hamil diluar nikah. Bahkan saat ibunya meninggal dunia pun, ia tak ada yang mengabari. Hanya tangis diatas Pusara ibunya yang bisa ia lakukan.


Masa muda Nyonya Lukis yang tak juga dibekali ilmu agama dari orang tuanya membuat Nyonya Lukis mengikuti pergaulan bebas anak muda. Dimana menjalin hubungan pacaran tetapi hal biasa sekedar untuk melakukan hubungan suami istri tanpa terikat pernikahan.


Beruntung ia memiliki tambatan hati yang tak lain adalah Pak Erlangga. Saat itu pak Erlangga yang tinggal bersama neneknya pun melampiaskan kekecewaannya pada kehidupan yang keras dan kenyataan bahwa ia harus hidup pas-pasan saat perusahaan orang tuanya diambil alih oleh kakeknya Rani.


Hingga Erlangga kecil harus hidup dengan pas-pasan dimasa kecilnya. Bahkan ketika menikah dengan Nyonya Lukis pun Ia sering pergi karena berusaha keras membangun sebuah usaha untuk masa depan ia dan keluarganya.


Padahal ia hanya tinggal mengembangkan perusahaan yang kakek dan orang tuanya dirikan bersama teman kakeknya. Yang tak lain Pak Kuncoro. Kakek dari Rani, maka hal itulah yang membuat Pak Erlangga sulit menerima Rani di awal-awal pernikahan Bambang dengan Rani. Bukan karena masalalu Rani yang hamil diluar nikah dan dicampakkan oleh lelaki yang telah menghamilinya.


Air mata kembali jatuh dari pelupuk mata Nyonya lukis.


"Apa ini buah yang kita panen karena dosa di masalalu pa? Kenapa harus anak dan menantu yang menanggung dosa dan beban atas dosa kita dimasa lalu.Hiks."


Pak Erlangga mengusap lembut punggung Nyonya Lukis. Ia sangat sensitif jika melihat perempuan menangis. Hal itu sebenarnya ia warisi pada Bram dan Bambang, namun entah mengapa tak ia wariskan pada Beni.


"Padahal Mama sering mengingatkan anak-anak mama untuk tidak melakukan zina. Karena mama sendiri pernah mengalami sakitnya diusir dari rumah. Sakitnya tak diakui sebagai anak karena melakukan dosa. Tetapi seolah air yang mama tepuk mengenai wajah mama sendiri pa.


Dari Beni yang lebih dulu menikah, ia menikah karena juga di gerebek di diskotik bersama Liona.


Bambang, ia pun juga terlibat pergaulan bebas bersama Rani. Dan kini ia pun menikahi Rani dengan masalalu yang kelam pada diri Rani. Kisah Rani mirip mama papa.


Dan sekarang seolah karma kembali bermain pada mama. Bram terkandung kasus yang masih berhubungan dengan zina. Ayra harusnya merasakan bahagia di awal pernikahannya malah menelan pil pahit."


Tampak kepala Ayra sedikit bergerak, matanya terbuka perlahan.


Tak terlalu jelas penglihatan Ayra, rasa berat di kepalanya membuat ia menarik satu tangannya dan memegang pelipis nya. Perlahan ia buka matanya dan barulah ia bisa melihat Nyonya Lukis dan Pak Erlangga yang berada dihadapannya.


Kedua mertuanya itu duduk diatas kasur dengan dua sisi yang berbeda. Nyonya Lukis berada di sisi kiri nya dan pak Erlangga berada disisi kanannya. Nyonya Lukis tersenyum pada Ayra.

__ADS_1


Ayra mencoba duduk dari posisinya sekarang. Ia bersandar pada headboard tempat tidur mewah itu. Nyonya Lukis memberikan segelas air putih pada Ayra.


"Minumlah ini Ay. Dokter sudah memeriksa mu tadi,"


Ayra melihat Sebutir pil ditangan Nyonya Lukis. Ia menurut, ia ambil Pil itu dan segera meminumnya.


"Kamu tidak telat makan kan Ay?"


"Tidak ma, Ayra cuma sedikit merasa sakit pada tenggorokan. Dan kepala Ayra satu hari ini cukup sakit."


"Apa kamu terlambat datang bulan Ay?"


"Uhuukk.Uhuuk..Ehm... Ehm.... "


Ayra yang baru saja meminum air karena merasa Pil yang ia minum barusan masih berada di tenggorokan. Nyonya Lukis cepat mengusap lengan Ayra.


"Ma... Ayra belum genap satu bulan menikah dengan mas Bram."


Ayra tersipu malu. Nyonya lukis meraba dahi Ayra yang sedang merona. Lalu menatap suaminya.


"Pa, malam ini mama tidur disini ya menemani Ayra. Menantu mu lagi demam, mama juga belum pernah tidur bersama anak perempuan."


"Hehehe.... Mama ini, mama yang ingin. Ayra nya nyaman atau tidak tidur sama mama."


"Papa... "


Nyonya Lukis tersenyum karena ia tahu bahwa ia sering berbicara ketika tidur kadang membuat suaminya itu kadang tiba-tiba memeluk erat dirinya hingga ia kadang terbangun karena tak bisa bernapas.


"Boleh dong pa. Ayra senang kalau mama mau menemani Ayra. Ayra juga rindu Umi, Ayra senang sekali Mama mau menemani Ayra."


"Ya sudah papa mau mandi dan Istirahat dulu kalau begitu."


"Mama tinggal sebentar ya Ay. Mama siapkan kebutuhan papa dulu."

__ADS_1


"Eittss. Sudah mama disini saja. Papa bisa sendiri. Jaga Ayra, dia sedang tak sehat. Jangan malah diajak bahas agama apalagi diajak curhat semalaman ya ma?"


Pak Erlangga berlalu dari kamar yang baru beberapa Minggu menjadi kamar Ayra itu. Bahkan baru satu Minggu ini Ayra berani tidur diatas kasur yang berukuran king size itu. Karena sang suami baru memberi izin.


__ADS_2