
Selama dalam perjalanan pulang, Bram banyak diam. Nyonya Lukis melihat wajah Bram berpikiran jika anaknya sedang marah dengan Ayra. Ketika tiba di kediaman Nyonya Lukis, Bram membuka pintu untuk mamanya.
"Mampirlah dulu Bram."
Nyonya Lukis meminta sang anak untuk bisa mampir. Namun Bram menolak karena moodnya lagi tidak baik. Ia meninggalkan kediaman nyonya Lukis namun saat akan kembali ke mobil. Ia minta sopir orang tuannya untuk mengantar dirinya kembali ke apartemen bersama Ayra. Liona cepat bersuara karena ia merasa bersalah.
"Maaf Bram untuk yang tadi. Aku tak ada maksud apapun."
Nyonya Lukis mengingatkan anaknya.
"Jangan mengikuti emosi mu Bram. Ayra sedang hamil."
"Iya ma. Bram pulang dulu."
Selepas kepergian Bram dan Ayra, Nyonya Lukis bertanya pada Liona perihal apa yang terjadi.
"Ada apa Liona?"
"Liona tadi salah bicara ma. Bram marah karena Liona salah bicara."
"O..... mama kira kenapa. Sudah tenanglah, Bram akan memaafkan kamu. Ia memang begitu dari dulu. Ayra insyaallah bisa menenangkan Bram._
Liona masuk ke dalam rumah di bantu Nyonya Lukis. Menantu dan mertua yang begitu harmonis. Liona tak percaya jika ibu mertuanya begitu menyayangi dirinya, padahal ia ingat betul bagaimana dirinya dulu bersikap pada ibu mertuanya.
Beni yang mendengar jika ada suara mobil cepat keluar dan menyambut ibu dan istrinya.
"Ga jadi ke kantor mas?"
"Tidak, Tidak tahu papa tadi tidak membolehkan aku ke kantor."
Beni membantu istrinya masuk ke dalam. Ada kebahagiaan dihati Nyonya Lukis ketika ia melihat Beni dan Liona betul-betul mampu menjalin rumah tangga yang lebih baik. Liona yang begitu menghormati Beni membuat suaminya itu semakin mencintai dirinya. Beni bahkan mengikuti saran kakak nya alias Bram, untuk juga belajar mengaji karena ia khawatir jika hanya Liona yang berubah namun Beni tidak maka akan terjadi masalah lagi kedepannya.
Beni yang tiba di kamar melihat istrinya itu murung. Liona merenung akan kesalahannya tadi.
"Ada apa Li?"
Beni memberikan istrinya satu gelas air putih. Liona mengambil gelas itu. Setelah ia habiskan setengah gelas. Ia bercerita pada sang suami bahwa dirinya menyampaikan pesan Shela. Beni sedikit mengerutkan dahinya. Lalu ia menggenggam tangan istrinya.
"Kenapa kamu sangat ingin membantu Shela. Kamu lihat gara-gara dia ini semua terjadi. Termasuk hubungan kita yang memburuk."
Liona menundukkan tubuhnya dan memeluk Beni. Ia sandarkan kepalanya di pundak Beni.
"Umi Laila pernah mengatakan kita tidak boleh menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi dengan diri kita."
__ADS_1
"Lantas Bram marah pada mu? Biar aku telpon Bram untuk minta maaf."
"Telpon lah Bram. Aku khawatir mereka akan bertengkar. Wajah bram tadi berubah sangat dingin ketika mendengar permintaan Shela yang aku sampaikan pada Ayra."
Liona khawatir jika Bram akan marah pada Ayra dan Ayra. Ia berkaca pada masalalu nya bahwa ia dan Beni sering bertengkar jika ada pendapat yang berbeda.
Beni melerai pelukan Liona. Ia mengambil ponselnya di meja dan menghubungi Bram. Saat Beni berkali-kali menghubungi Bram. Kakaknya tak mengangkat telpon tersebut.. Beni yang khawatir mencoba menelpon Ayra, tak berapa lama telpon berhasil tersambung.
Ayra mengangkat sambungan telepon. Saat setelah menjawab salam dari Beni.
"Bram ada?"
"Ada, mas Bram lagi di kamar mandi. Sebentar ya."
Tak berapa lama Ayra menghampiri suaminya saat sang suami keluar dari kamar mandi.
"Bram aku minta maaf jika Liona salah tadi. Dan aku harap kamu tidak bertengkar dengan Ayra."
Seketika terdengar suara tawa dari Bram. Lelaki itu cepat menjawab kegelisahan adik nya.
"Kamu sudah jauh berubah Ben. Aku senang melihatnya. Kamu sekarang suami yang bertanggung jawab dan adik yang baik. Tenanglah aku tak akan bertengkar apalagi memarahi istri ku untuk hal seperti itu. Tapi maaf aku tak dapat mengabulkan permintaan Shela."
"Alhamdulilah kalau begitu."
"......"
"Tidak perlu sekarang jika memang masih sulit."
"Tidak Bang. Jika memang ini lebih baik dan enak di dengar bagi mu maka aku akan melakukannya. Ya sudah kalau begitu."
Pembicaraan kakak dan adik itu berakhir setelah Beni mengucapkan salam.
Saat Beni kembali duduk di sisi Liona. Liona bergelayut mesra pada lengan suaminya. Ada satu keinginan di hatinya. Namun ia menundanya. Karena ia merasa waktu nya tidak tepat.
Ditempat lain justru sang suami yang merasa ingin bercerita akan sesuatu namun ia urungkan karena tak ingin istrinya merasa stress karena sedang hamil. Ayra yang baru saja selesai mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur. Bram menghampiri istrinya dan duduk di sisi kanan Ayra.
"Besok jadwal kita ke dokter ya Ay?"
"Iya."
"Pagi saja ya kesana nya."
Ayra mengangguk. Bram mengusap punggung tangan istrinya.
__ADS_1
"Maafkan mas tadi siang. Bukan maksud mas membentak mu. Tetapi mas tidak mu berurusan lagi dengan perempuan itu."
"Mas masih sakit hati?"
"Tidak tahu apa ini namanya. Mas tidak mau bertemu dengan dia Ay. Ada rasa benci. Mendengar namanya saja sudah buat hati mas tak suka."
Ayra beringsut maju sedikit ke arah suaminya.
"Kalau Ayra sendiri yang bertemu Shela boleh?"
Bram melebarkan kedua kelopak matanya yang menatap istrinya tak percaya.
"Tidak. Mas tidak mau dia mencelakai diri mu."
"Tidak mas. Insyaallah. Kan di lapas, ndak boleh berburuk sangka. Mungkin Shela mau minta maaf dengan kita.
"Tapi memaafkan tidak perlu bertemu kan Ay?"
"Iya mas. Tetapi sebagai sesama perempuan, Ayra bisa merasakan jika Shela mungkin ingin meminta maaf secara langsung."
Bram meninggalkan Ayra sendiri sambil meminta istrinya untuk segera tidur.
"Istirahatlah. Ini sudah malam. Mas masih ada pekerjaan."
"Tidak kerjakan disini saja?"
"Mas sebentar saja. Mengecek email dari Rafi."
Ayra menghela napas pelan. Ia tak ingin mendebat suaminya. Ia memilih diam. Kepergian Bram meninggalkan Ayra dengan maksud agar ia tak membahas masalah Shela lagi. Ia tak berani untuk membahas permintaan Shela lagi karena ia melihat diamnya Bram adalah satu tanda bahwa ia sedang menahan rasa tak suka nya.
"Maafkan kami Shela. Aku tak mungkin menemui mu jika mas Bram tak mengizinkan."
Bram ke ruang tengah yang terdapat satu meja kerjanya. Ia mencoba menenangkan hatinya. Ia tahu maksud baik sang istri. Namun ia tak ingin kembali berhubungan dengan perempuan yang memang tak memilikinya hubungan apapun dengan dirinya.
"Maafkan mas Ay. Mas tidak ingin mengingat atau berhubungan dengan perempuan itu lagi."
Di tempat lain terlihat Yazmin begitu bingung karena Baru saja mendapatkan telpon. Ia yang dianggap satu-satunya keluarga dari Shela. Perempuan yang dulu memberikan Fitnah pada Bram itu sedang di larikan kerumah sakit. Ia tak sadarkan diri di dalam kamar nya. Keadaannya kritis.
Yazmin yang menunggu di depan rumah sakit Yazmin menunggu dengan gelisah. Belum lagi ia begitu khawatir dengan kondisi bayi Shela yang juga masih di dalam ruangan NICu karena bayi mungil itu belum bisa bernapas dengan sempurna. Paru-paru bayi tersebut belum bisa bekerja dengan sempurna.
Saat sebuah ambulan tiba di depan ruang UGD. Yazmin yang melihat beberapa polisi perempuan dan perawat yang berlari membawa Shela ke dalam ruang UGD. Ia hanya menangis sambil memanggil nama mantan bos nya.
"Shela.... Shela. Elo harus kuat. Elo harus sadar. Kasihan anak Lo...."
__ADS_1