
Beni tampak menikmati kopi yang di buatkan Liona untuknya. Saat tatapannya masih fokus pada angka-angka yang ada pada layar laptopnya, Liona yang tiba-tiba duduk di pangkuannya membuat Beni menaikan kedua alisnya. Hampir beberapa bulan pasca Liona mengetahui dirinya gagal ginjal kronis. Ia hampir tak pernah bermanja-manja pada Beni.
Ia terlalu fokus dengan penyakitnya dan bagaimana membuat Beni menikah lagi. Ia bahkan mencari beberapa gadis juga kenalannya yang janda untuk di kenal Beni. Ia berharap jika memang dirinya tak selamat karena penyakitnya, Sang suami ada yang membahagiakan dan bisa dengan cepat melupakan dirinya. Obrolan bersama Ayra beberapa Minggu lalu membuat Liona tersadar. Ia mendahului takdir Allah, ia juga lupa bahwa memaksakan kehendaknya agar Beni menikah lagi bukan membuat suaminya bahagia.
Malam itu ia sudah pasrah akan apa yang terjadi pada dirinya jika memang tak kunjung menemukan pendonor ginjal yang cocok. Ia lebih fokus memanfaatkan waktu yang ada bersama Beni.
Beni menikmati sikap manja Liona yang telah lama tak ia dapatkan. Istrinya cukup kaku beberapa bulan ini.
"Katakan kamu mau apa?"
"Tidak boleh bermanja-manja dengan mu?"
"Tapi Liona ku telah cukup lama hilang. Dan malam ini dia kembali. Apakah kemarin dia tersesat?"
Liona memejamkan kedua matanya dengan tangan melingkar di pinggang Beni.
"Maafkan aku Mas."
"Untuk?"
"Memaksa mu untuk menikah lagi."
Beni menarik tangannya dari keyboard Nyang berada dihadapannya. Ia memeluk Liona dengan erat.
"Katakan Li, apakah aku pernah menyinggung hati mu sehingga kamu meminta ku untuk menikah lagi?"
"Tidak. Justru aku yang membuat mas tidak bahagia dengan ide gila ku itu. Hhhhh.... Kenapa kamu begitu mencintai ku mas. Aku dengan kekurangan ku."
"Karena kamu cinta pertama ku, kamu tak meninggalkan aku disaat aku tak berdaya. Istri mana yang mampu bertahan disaat suaminya tak sadar. Justru saat itu,aku yang merasa kamu hanya terpaksa bertahan di sisiku baru sadar bahwa sejak kita rujuk. Cintaku pada mu begitu besar Li. Ada atua tidak kehadiran buah hati, kamu akan tetap yang pertama tanpa yang kedua."
Liona menitikkan air matanya di dalam dekapan Beni. Dengan suara terisak, ia kembali bertanya pada Beni.
"Katakan kenapa kamu tak ingin menikah lagi. Padahal aku yang meminta."
Beni menarik tubuh Liona, sehingga ia dapat memandang wajah istrinya dengan jelas.
"Aku memang belum bisa Istikomah seperti dirimu dalam beribadah Li. Akan tetapi masalalu ku saat kita sama-sama belum mengenal Allah membuat aku tahu bahwa mau menikah dengan berapa banyak perempuan, mau berapa cantiknya perempuan itu. Rasanya tetap sama, bentuknya pun sama. Lantas kenapa harus menikah lagi. Kamu yang sekarang jauh lebih membuat aku bahagia. Tak ada alasan untuk kita berpisah apalagi mencari orang kedua dengan alasan anak."
Liona menghapus air mata dengan punggung tangannya. Ia tak menyangka jika Beni begitu tulus mencintai dirinya. Ia bersyukur karena cepat mendapatkan hidayah. Walaupun Beni masih sering lalai dalam shalatnya. Namun bagi Liona, suaminya yang tak pernah lagi pergi ke club, minum-minuman keras adalah satu kelebihan sendiri.
Liona dahulu pernah sering sekali memarahi Beni jika suaminya tak mengerjakan shalat. Namun seiring waktu, ia sering mengikuti beberapa pengajian yang diisi oleh Umi Laila atau istri Furqon. Membuat Ia lebih memilih cara yang lembut mengingatkan suaminya itu tentang kewajiban shalat lima waktu.
"Terimakasih mas. Mas...."
"Ada apa Li?"
"Kamu tak ingin bertanya alasan ku meminta mu menikah lagi?"
"Ceritakan jika kamu ingin menceritakannya. Mas tak memaksa,"
"Aku.... aku gagal ginjal kronis mas."
"......"
Beni memeluk erat Liona.
"Mas sudah menduganya. Wajah mu yang akhir-akhir ini sering pucat. Tubuh mu makin kurus, mas pernah melihat kamu meminum beberapa obat. Mas pikir itu penyubur kandungan. Kenapa kamu tak mau berbagi dengan Mas."
Sepasang suami istri itu berpelukan dengan suara tangis Liona yang terdengar memilukan. Ia tak menyangka jika suaminya pun memperhatikan dirinya selama ini.
__ADS_1
"Kamu istri ku Li. Berubah sedikit saja diri mu. Mas bisa tahu. Tapi mas tak ingin memaksa apapun. Mas menunggu kamu bercerita pada mas. Daripada mas fokus dengan dirimu yang seperti kemarin. Mas hanya berusaha membahagiakan kamu. Sekarang apa hasil pemeriksaannya?"
Masih memeluk Liona dengan erat. Beni me nge cup kepala Liona berkali-kali.
Liona menjelaskan jika ia dianjurkan melakukan persiapan untuk dialisis atau transplantasi ginjal. Dan sayangnya beberapa bulan ini ia belum menemukan pendonor yang cocok.
"Kita akan cari di rumah-rumah sakit lainnya. Bila perlu kita cari di luar negeri. Sekarang mas hanya pinta satu hal pada mu Li."
"Apa mas?"
"Fokuslah tentang kebahagiaan kita. Bukan penyakit mu. Berarti kamu masih bisa sembuh. Jadi jangan berpikir kamu akan meninggalkan aku lebih dulu. Kita akan menua bersama Li. Aku butuh kamu disisi ku."
Liona mengangguk, masih dengan air mata yang membanjiri pipinya. Beni kembali membenamkan Liona kedalam pelukannya. Sepasang suami istri yang saling mencintai itu harus saling menguatkan kala cobaan menghampiri biduk rumah tangga mereka.
~~
satu bulan kemudian, Liona dan Beni yang sedang berada di luar negeri sedang merasakan kekecewaan karena tidak cocoknya ginjal yang akan di donorkan untuk dirinya. Belum hilang rasa sedih sepasang suami istri itu. Mereka sudah harus mendapatkan kabar dari tanah air. Bahwa pak Erlangga masuk rumah sakit dan tidak sadarkan diri.
Sepasang suami istri itu cepat memesan tiket untuk pulang ke Indonesia. Begitupun dengan Bram yang sedang di dalam pesawat. Ia yang akan menuju Sumatera Barat. Memutuskan untuk segera mengurungkan keberangkatannya. Telepon dari Nyonya Lukis yang memberi kabar bahwa Pak Erlangga masuk rumah sakit, membuat Putra sulung Nyonya Lukis itu memilih kehilangan peluang kerjasama dengan sebuah perusahaan baru. Ia memilih itu daripada mengabaikan panggilan orang tuanya.
Ayra yang sedang akan menjemputnya kedua buah hatinya pun cepat menuju rumah sakit tempat Pak Erlangga di rawat. Ia meminta sopir yang ada dirumah untuk menjemput kedua buah hati nya. Saat tiba dirumah sakit, Ayra menuju ruang ICU. Terlihat Nyonya Lukis dan Rani ditemani Bambang duduk di depan ruangan.
Ayra berniat menyalami ibu mertuanya. Namun Nyonya Lukis cepat memeluk sang menantu. Isak tangis terdengar dari Nyonya Lukis dan Ayra.
"Tadi katanya minta di antar ke kamar. Baru saja Mama tinggal untuk ambil buku yang mau dibaca Papa. Papa malah ga sadar Ay. HIks... Hiks..."
"Insyaallah semua akan baik-baik saja Ma."
Ayra menenangkan ibu mertuanya. Saat Bram baru tiba dirumah sakit, Bram yang melihat kondisi Papanya. Ia pun tampak gelisah dan sedih. Terlihat sekali raut kesedihan di wajah CEO MIKEL Group itu. Hampir lima belas menit mereka disana, Ayra di buat bingung ketika sang suami malah mengajaknya untuk ke Kali Bening.
"Tapi papa lagi disini mas."
Nyonya Lukis diam membisu, ada rasa kecewa pada putra sulungnya. Disaat orang tua kandungnya terbaring di ruang ICU namun sang anak yang di lahirkan dan dibesarkan malah lebih mementingkan mertuanya. Walaupun Ia la mencintai Ayra sebagai menantunya, ada sedikit rasa kecewa Nyonya Lukis saat mendengar Bram meminta izin untuk ke Kali Bening karena Umi Laila meminta mereka kesana.
"Bram pamit dulu Ma. Nanti malam Bram akan kemari sepulang dari Kali Bening."
"Bang.... Papa lagi sakit. Apa ga bisa ditunda?"
"Biar Ayra telpon Umi mas. Kasihan Mama kalau harus sendiri."
"Tidak apa Ay. Ada Rani dan Bambang. Pergilah, mungkin Umi Laila lebih membutuhkan kalian. Mungkin Bram lebih mementingkan Umi mu."
Bram terdiam. Ia menatap wajah ibu yang telah melahirkannya. Ia tak menyangka sang ibu akan berbicara begitu lembut. Namun bagi Bram Kalimat ibunya barusan menyayat hatinya. Ia tak bermaksud lebih mementingkan Umi Laila.
"Ma... Bram minta maaf. Ayo Ay, anak-anak sebentar lagi juga sampai."
"Ammar dan Qiya juga ikut?"
Bram mengangguk kepalanya.
"Ada apa Mas?"
"Mas tidak tahu Ay... Umi bilang kalau bisa siang ini kita sudah harus tiba di sana. Sini biar mas telpon Kang Furqon."
Bram mengambil ponsel istrinya dan menghubungi Furqon. Ayra tampak kebingungan.
Rani melihat raut wajah Ayra yang bingung.
"Tak apa pergilah Ay. Biar aku dan Mas Bams yang menemani Mama."
__ADS_1
"Iya Ay." Bambang pun memberikan keyakinan pada Ayra untuk mengikuti perkataan suaminya.
Ayra menoleh ke arah Nyonya Lukis.
"Mama tidak apa-apa Ay. Pergilah Nak. Mungkin ada yang penting."
Tak lama Bram kembali dan berpamitan. Saat tiba di dalam lift. Bram meminta Ayra lebih dulu ke parkiran karena Ammar dan Qiya telah tiba di parkiran diantar oleh sopir. Bram beralasan bahwa ada yang tertinggal di kursi. Saat tiba di depan ruang ICU. Nyonya Lukis melihat Bram berjalan cepat ke arahnya. Lelaki itu memeluk Nyonya Lukis erat. Saat pelukannya ia kendurkan, ia menatap wajah Nyonya Lukis dengan air mata yang hampir jatuh dari sudut matanya.
Dengan suara sedikit parau Bram mengatakan sesuatu pada Nyonya Lukis.
"Bram tidak pernah mementingkan kedua mertua Bram, Ma. Mama dan Papa, Umi Laila dan Kyai Rohim adalah orang tua bagi Bram dan Ayra. Tapi siang ini Ayra harus menghadiri pemakaman Kyai Rohim Ma."
Bram yang dari tadi berusaha tenang dihadapan istrinya. Berusaha tak menjatuhkan air matanya. Harus menumpahkan rasa sesak di dadanya dihadapan Nyonya Lukis.
Nyonya Lukis yang cepat menyimpulkan sikap Bram beberapa menit lalu menyesal dan ikut sedih mendengar kabar dari Bram.
"Innalilahi wa innailaihi rojiun. Maafkan Mama yang sempat berpikir kamu lebih mencintai mertua mu Bram. Temani Ayra, jangan terburu-buru kembali. Ayra masih dalam keadaan hamil muda Bram. Temani dulu istrimu. Mama belum bisa kesana."
Saat Bram akan melangkah meninggalkan Nyonya Lukis, Istri Pak Erlangga itu meminta Bambang untuk pergi ke Kali Bening bersama Rani.
"Pergilah ke Kali Bening Nak, ajak Rani. Mama akan menemani Papa disini."
"Tapi Ma..."
"Beliau bukan hanya besan bagi papa dan Mama Bams. Papa dan Mama banyak belajar tentang bagaimana menjalankan syariat agama kita, dari beliau. Jika sampai sekarang kita bisa mengenal agama kita dengan begitu indah, dengan begitu mudah karena beliau dan istrinya. Pergilah, wakili mama dan Papa yang tidak bisa hadir Nak."
Rani mengangguk dan Bambang pun menuruti permintaan Mamanya.
"Papa memang banyak belajar dari beliau. Bams juga paham apa yang mama maksud."
Ia sadar kehadiran Kyai Rohim yang selalu ramah dan bisa menempatkan diri di manapun ia berada membuat banyak perubahan dalam diri papanya. Ia yang seorang Kyai tak pernah meminta orang-orang yang dekat dengannya merubah penampilannya seperti dia. Bahkan Pak Erlangga pun sudah berapa kali Umroh bersama Kyai Rohim.
Dan sepulang dari umroh itu, pasti ada saja cerita yang mengagumkan dari Pak Erlangga tentang perjalanan umroh nya bersama Kyai Rohim.
"Kami akan kesini sepulang dari Kali Bening Ma."
"Sampaikan maaf Mama karena tidak bisa hadir kesana Ya Bams sama Umi Laila."
"Ya Ma."
Bram yang meminta sopirnya mengendarai mobil. Ayra dan kedua buah hatinya duduk di kursi belakang. Ada perasaan tak tenang dari istri Bramantyo itu.
"Ada apa Mas?"
"Kang Furqon bilang kita harus tiba sebelum ashar."
"Apa terjadi sesuatu dengan Abi?"
Bram bingung menjawab pertanyaan Ayra. Ia melihat mereka telah keluar dari jalan tol Perjalanan sekitar setengah jam lagi menuju Kali Bening. Ia meminta sang sopir berhenti. Lalu ia turun dari mobil. Ia meminta Ammar turun. Kemudian ia masuk kedalam mobil. Ia memangku Qiya. Sedangkan Ammar ia mint pindah ke bangku depan.
"Ay.... "
Bram yang belum mengenakan sabuk pengaman, memeluk istrinya dan membisikkan sesuatu yang membuat tubuh Ayra berguncang dan menangis di pundak Bram.
"Abi sudah tiada tepatnya jam 10 pagi tadi Ay."
"......."
Bram memeluk Ayra dengan erat. Ia membuka sabuk pengaman istrinya. Beberapa detik kemudian baru ada satu kalimat yang mampu istrinya ucapkan di tengah Isak tangisnya.
__ADS_1
"Innalilahi wa innailaihi rojiun.... Hiks... Hhhhh.... Abiiii....."