Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
109 Beni dan Liona 1


__ADS_3

Disaat keluarga Pradipta sedang berduka. Seorang perempuan yang sedang memiliki dendam pada keluarga Pradipta sedang merencanakan siasat untuk menambah luka keluarga Pradipta.


Liona yang baru akan berangkat ke kediaman nenek Indira menerima telpon dari Shela. Dua sahabat yang sama-sama tak tulus dalam bersahabat itu memiliki rencana untuk menjatuhkan Bram dengan siasat yang telah mereka susun. Dimulai dari Beni yang sekarang memiliki sebagian saham pada Perusahaan Pradipta.


Dan juga Shela yang sedang menjatuhkan Brma lewat kasus mesumnya.


"Halo. Ada apa? aku tak bisa bertemu malam nanti. Kami tahu aku belum hadir sendiri di rumah nenek Beni sejak meninggalnya nenek Beni."


"Aku hanya ingin memberi tahu mu bahwa rencan berjalan mulus. Jaksa dan hakim kupastikan tak akan bisa di lobi. Hingga mertua dan kakak ipar mu itu aku jamin akan meringkuk di penjara. Kita akan menjalankan rencana B yang kamu maksud. Bersiaplah untuk merongrong dari mertua mu. Karena dia pasti akan membantu Bram lolos dari jerat hukum. "


"Tenang lah Shela. Perempuan bernama Ayra itu tak akan pernah mendapatkan kebahagian. Dia sudah salah lawan. Dia akan menangis berlutut dihadapan ku. Aku pastikan itu. Kita lihat bagaimana jika ia tak berada di bawah hebatnya nama Pradipta dan MIKEL group. Sampah itu akan merasakan bagaimana ia hidup terhina.!"


"Baiklah, aku sudah mengirimkan karangan bunga untuk mertua ku yang tak jadi itu. Semoga kamu bisa mewakili ku melihat ekspresi keluarga breng/sek itu."


"Hahaha.... Aku akan menambah kegundahan mereka kesana karena aku yakin mereka sudah tak sabar menanti menantu kesayangan nya. Kamu tahu aku sedang mengenakan gaun untuk kesana."


"Hahaha.... Gila kau Liona! Terserah. Aku akan ke Thailand beberapa hari ini. Kabari aku untuk hal-hal terbaru."


"Baiklah, jaga janin mu itu. Itu bisa kita jadikan senjata untuk memukul Bram."


"Aku menjaganya dengan baik. Dan kau Jagai rahim mu agar tak ada zi/got disana dari benih suami bodoh mu itu! hehehe...."


Percakapan dia akhiri ketika Beni memanggil nama Liona.


"Sayang.... Kamu sudah si-ap"


"Aku sudah siap honey."


Beni yang baru masu ke kamar. melongo tak percaya. Istrinya mengenakan baju gaun berwarna hitam. Dimana bagian pahanya yang terbelah bisa mengekspos keseksian kaki dan paha putihnya.


"Ayolah Liona jangan kau permalukan aku. Malam ini acara Yasin Tahlil nenek. Apakah tidak ada busana yang lain?"


Beni membenarkan kacamatanya beberapa kali. Ia tak habis pikir bagaimana bisa sang istri memakai baju yang berlengan panjang itu namun mengekspos paha dan betisnya bak ingin pergi ke sebuah jamuan makan atau pesta walau berwarna hitam.

__ADS_1


"Apa kamu lupa? Aku orang yang fashionable. Aku nyaman dengan busana ini."


"Apakah kamu tak malu?"


"Apa yang aku permalukan? atau kamu yang malu membawa ku kesana?"


"Liona. Kamu dari kemarin tak Hadir bahkan pemakaman nenek pun kamu tak hadir. Lantas sekarang kamu hadir dengan busana begini. Mama dan papa akan malu. Ayolah sayang.... "


Kedua netra membesar menatap tajam sang suami. Ia berjalan mendekati suaminya.


"Jika memang begitu pergilah sendiri!"


"Liona. Mama dari kemarin menanyakan kamu. Aku tak mungkin selalu menutupi kalau kamu berada diluar kota."


"Aku tak perduli."


Liona membuka anting, gelang dan kalungnya. Ia duduk pada meja rias yang berukuran dari kayu jati. Beni mendekati sang istri.


"Braaak!"


Liona menggebrak meja rias itu hingga benda-benda yang berada diatasnya bergoyang dan satu lipstik berguling jatuh kelantai.


"Katakan pada ku. saat itu aku atau kamu yang menginginkan pernikahan ini? Aku atau kamu yang selalu meminta untuk dicintai?"


Beni mengurai rambutnya. Ia yang mengenakan Koko berwarna hitam dan celana hitam itu tampak menahan emosi. Beberapa saat ia menggigit bibir bawahnya. Dan ia menelan salivanya dengan kasar. Jakunnya turun naik.


Beni yang sadar jika dulu dialah yang mengejar Liona. Dialah yang meminta Liona menikah dengan dirinya.


Liona yang saat itu sedang meniti karier butuh seorang yang memiliki kekuasaan dan harta untuk mendukung kariernya, akhirnya memanfaatkan Beni. Ia mau menikah dengan Beni. Karena usahanya mendekati Bram tak pernah berhasil. Ibaratnya pepatah tak ada rotan akar pun jadi membuat Liona menikahi Beni di Malaysia.


Pernikahan mereka tak dihadiri dari kedua belah keluarga. Mereka menikah diam-diam karena tak ingin media tahu. Liona yang meminta sang kakak laki-lakinya menjadi wali dalam pernikahannya. Hingga gosip beredar jika Liona hamil diluar nikah pun merebak ke media ketika tertangkap awak media bahwa Beni dan Liona telah menikah diam-diam.


Hal itu membuat Nyonya Lukis sempat dirawat dirumah sakit beberapa hari. Tak lama berselang. Beberapa tahun pun terjadi kejadian Dimana putra ketiga pun terkena skandal membawa lari pengantin perempuan karena cinta tak direstui.

__ADS_1


Beni masih menahan emosinya kalah Liona terus meninggi kan suaranya. Beni yang hampir 3 tahun menikah dengan Liona hampir tak pernah merasakan kebahagiaan sebagai seorang suami. Berkali-kali kadang ia menelpon sang istri. Bahkan puluhan kali tak pernah diangkat kala hatinya Rindu, saat sang istri menjalani pemotretan diluar negeri.


Padahal ia tahu baru saja sang istri live streaming di medsos. Bahkan kadang chat yang telah tercentang biru pun tak dibalas oleh sang istri. Beni masih bersabar. Malam ini sepasang suami istri itu kembali mengalami pertengkaran hebat.


Beni membuka kacamatanya. Matanya telah merah. Rasa sesak didadanya beberapa tahun yang tak pernah ia ungkapkan, malam ini minta disemburkan keluar.


"Baik. Sekarang aku tanya padamu Liona. Apakah aku tak pernah ada dihati mu?"


Rahang Beni mengeras. Suaranya terdengar parau. Air matanya masih ia tahan untuk jatuh. Air mata cinta pada sang istri yang ia cintai namun tak pernah ia rasakan ada cinta di mata sang istri.


Liona berbalik dan menghadap ke arah Beni.


"Katakan padaku apa yang bisa aku banggakan bersuami kan dirimu?!"


Deg.


Rasa sakit menancap di hati Beni. Satu kalimat sang istri yang entah telah berapa kali merendahkan dirinya. Ia sering mendengar istrinya itu merendahkannya baik dalam keadaan berdua atau ada orang lain. Kata bodoh, lelet, tak berguna serta nada bicara dengan membentak pun sudah sering Beni dengar dari mulut sang istri untuk dirinya yang harusnya ia jaga kehormatannya dihadapan orang lain. Yang harusnya ia rendahkan suaranya ada atau tidak ada orang.


"Craaaak!"


Kacamata ditangan Beni hancur karena remasan tangan lelaki yang memang tak bertubuh tinggi seperti Bram dan tak memilik dada bidang seperti Bram. Da/rah menetes dari tangan Beni hingga mengotori ambal yang berada dibawah kaki beni.


Airmata lelaki yang selalu bersabar menghadapi sikap kasar istrinya itu pun jatuh. Ia tak bisa membendung air mata itu. Hatinya telah lelah. Hatinya telah sakit.


"Lantas kenapa kamu mau menikah dengan ku? Apakah cinta mu hanya melihat fisik seseorang saja? Apakah ketulusan ku selama ini tak mampu sedikit saja kamu hargai Liona? Aku bahkan tak pernah mengunjungi Mama karena kamu memintanya. Bahkan berkali-kali aku kehilangan perusahaan yang aku bangun hanya karena menuruti keinginan mu!"


"Heh. Kamu bukan tipe ku. Jika saja kamu bukan anak dari keluarga Pradipta aku tak akan mau menikah dengan mu!"


Liona berbalik dan duduk lalu sibuk membersihkan mukanya dengan pembersih make up. Ia sudah tak ingin pergi ke rumah nenek Indira.


"Lionaaaaa!"


Beni menarik Liona hingga sang istri beridir dihadapannya. Tatapan penuh amarah dari Beni membuat Liona sedikit bergidik. Beni tak pernah bersikap begitu. Beni sedikit mendongakkan kepalanya saat ia mencengkram erat leher sang istri dengan satu tangannya. Sedangkan satu tangan terkepal.

__ADS_1


__ADS_2