
Setibanya di kediaman Retno. Ayra mengantarkan Aisha sampai di depan teras. Saat Ayra akan berpamitan, ia menunda niat nya karena Aisha menerima telpon. Bahkan mimik wajah Aisha membuat ibu hamil itu hanya menanti penjelasan akan gerangan apa yang terjadi. Karena suara serak dan diiringi isak tangis dari seberang membuat Ayra bisa mendengar dengan jelas karena suara ponsel yang Aisha buat maksimal.
"Kak. Pulang lah sebentar kak."
"Kakak belum bisa pulang Lis. Kakak lagi sibuk."
"Pulang lah kak. Ibu sedang tak enak badan. Ibu selalu menanya kondisi kakak."
"Mana ibu? Biar kakak yang bicara."
"......"
"Lis. kamu menangis?"
"Kak. Pulang lah sekarang. Ibu menunggu kakak untuk pulang."
"Ada apa Lis? Ibu sakit apa? Kakak Ndak bisa pulang sekarang. Bilang sama i-"
Belum selesai Aisha berbicara pada adiknya yang akan segera tamat SMA. Namun suara seorang perempuan terdengar cukup judes dan sedikit berteriak dari ponsel Aisha.
"Ah.... Sini. Biar Bu Lek yang ngomong. Kelamaan! Aisha ini Bu lek. Cepet pulang. Ini ibu kamu sudah meninggal dan akan dimakamkan hari ini juga! Jangan lama-lama!"
Deg.
"Pyaaaar."
Ponsel di genggaman Aisha terlepas dari tangan gadis yang sekarang mengenakan tongkat karena kaki nya yang belum sembuh. Aisha bersandar di pintu masuk rumah Retno. Ia bersandar dan terduduk. Airmata membasahi kedua pipinya. Bibirnya tak mampu berucap. Bahkan butiran embun itu menetes hingga ke bibir mungil Aisha.
"Ibu..... Bu..... ibu..... Hiks.... ibu..... Hiks...hiks..."
Gadis itu terduduk di lantai dan menundukkan kepalanya. Ayra cepat memeluk dan mengusap pundaknya. Ia dapat mendengar jelas berita yang baru saja ia dengar dari ponsel yang kini telah terlihat retak pada bagian layarnya. Sebuah kabar duka dari kampung yang berusaha di tutupi oleh adik Aisha.
Berita meninggalnya sang ibu membuat gadis yang saat ini mendapatkan musibah merasa sakit dan sesak di dadanya. Ia juga harus menerima kenyataan bahwa lelaki yang baru saja melamarnya dan akan secara resmi melamarnya bersama keluarga beberapa hari lalu harus gagal karena kebenaran bahwa calon suaminya adalah penyuka sesama jenis.
"Innalilahi wa innailaihi rojiun.... Semua yang ada dimuka bumi ini akan kembali pada pemiliknya Aisha. Sungguh kematian adalah bagian yang menjadi rahasia Allah Aish. Bersabarlah Aish."
"Hiks.... Ibu.... Aish belum bisa membahagiakan Ibu... Ibu....Hiks...."
Aisha memeluk erat Ayra. Ia sedang ingin menumpahkan air matanya, ia ingin berkeluh kesah. Ayra hanya mendengarkan keluh kesah dan ratapan kesedihan Aisha. Hampir beberapa menit gadis itu menangis didalam pelukan ibunya. Ia bangkit dan bermaksud akan pulang ke kampung halamannya.
__ADS_1
Retno yang belum mengirim semua orderannya tak bisa ikut menemani. Ayra yang urung berpamitan bertanya tentang jarak ke kampung Aisha.
"Jauh dari sini Aish?"
"Kalau tidak hujan bisa dua jam perjalanan Bu. Karena sebagian jalan ke kampung belum di aspal. Kalau hujan atau setelah hujan bisa Sampai lima jam Bu."
Suara Aisah masih diiringi Isak tangis. Perempuan itu masih berkali-kali menghubungi agen rental mobil. Ayra yang melihat kondisi teman Aisha, ia tak tega. Ia berjalan ke teras rumah Retno. Ia menghubungi suaminya.
"Mas, bisa Carikan mobil untuk mengantar Aisha pulang ke kampungnya."
"Memang ada apa dengan Aisha sayang?"
"Ibu nya meninggal. Kasihan kalau harus kesana sendiri. Maksudnya Ayra, mas tolong Minta Rafi carikan mobil. Ayra mau ikut sekalian takziah."
"Berapa jam perjalanan kesana?"
"Hampir dua jam kalau tidak hujan mas."
"Apa? Ayra. Kamu lagi hamil. Itu terlalu jauh."
"Mas..... "
Terdengar Bram menghela napasnya. Ia merasa sulit sekali menolak permintaan istrinya ketika bibir mungil istrinya itu mengucapkan kata 'mas'.
"Mereka tidak punya hubungan apa-apa mas."
"Baiklah. Kamu tunggu. Mas kesana sama Rafi."
Akhirnya Bram mengajak Rafi untuk ikut bersamanya. Rafi yang kebetulan minta izin pulang lebih cepat karena menjemput Ibu Lina dan Tyas. Mereka baru saja tiba dirumah. Beruntung dua anak panti yang telah dewasa dan biasa membantu Ibu Lina di panti telah pulang dari KKN.
"Mau kemana lagi Fi? katanya sudah pulang?"
"Ini Pak Bos minta saya untuk ikut mengantar istrinya beliau. Ibu nya Aisha meninggal Dunia. Saya disuruh ambil mobil di rumah pak bos. Mobil double gardan Bu."
"Innalilahi wa innailaihi rojiun. Tadi siang ibu ketemu dia sama perempuan yang juga berkerudung Fi. Ibu ikut boleh Fi?"
"......"
Rafi menoleh ke arah Ibu Lina.
__ADS_1
"Ngapain sih Bu?"
"Kasihan. Tadi saja dia itu nangis di pelukan perempuan yang kayaknya temen dia. Ibu ingin mengucapkan belasungkawa."
"Tempatnya jauh Bu."
"Rafi....."
"Ini istrinya pak Bos ikut Bu. Aku izin dulu sama pak Bos."
Rafi lekas menghubungi Bram dan Pak bosnya yang telah berada di kediaman Retno pun menyetujui. Bram ternyata sengaja mengajak asisten nya itu. Ia melihat Aisha gadis yang lugu. Sama lugunya dengan sang asisten. Maka ia berniat agar asistennya itu bisa dekat dengan Aisha. Walau kemarin Ayra bilang tak boleh menjodohkan orang kalau cuma buat pacaran.
"Kalau kalian mampu membuat aku dan Ayra merasa bahagia disetiap momen kami. Paling tidak kalian juga harus bahagia. Kalian orang baik, sayang jika berjodoh dengan yang tak juga baik."
Tak berapa lama Rafi telah tiba dengan sebuah mobil truck double cabin atau Ford Ranger milik bosnya.
Mereka berangkat ke Kampung halaman Aisha. Rafi diminta mengendarai mobil itu. Ia yang berniat mengajak sopir di larang oleh Bram. Bram meminta sang asisten untuk menjadi sopir mereka.
Hampir dua jam perjalanan menuju desa Aisha. Jalanan cukup berdebu karena telah cukup lama tak turun hujan. Rafi mengendarai mobil cukup pelan karena permintaan Bram. Tiba di sebuah desa yang terlihat jalanan baru di rambat beton.
Sebuah rumah dengan tenda yang cukup sederhana terlihat bendera kuning. Banyak nya kendaraan dan orang-orang berada di dalam tenda itu. Aisha sedikit kesusahan berjalan menuju rumahnya. Tiga orang yang melihat kedatangan anak tertua dari perempuan yang baru saja meninggal cepat berlari menghambur ke dalam pelukan Aisha.
"Kakak.... Ibu sudah ga ada kak.... Hiks...."
Aisha yang telah puasa menangis. Hanya mampu menahan bibirnya agar tak terbuka. Ia tak ingin terlihat sedih dan terpuruk karena meninggalnya ibu mereka. Ia yang telah dewasa dan Lilis yang telah berusia tak lagi disebut anak yatim. Namun bagi Nurul dan Alifah, yang masih berumur di bawah 15 tahun. Hari ini dua adiknya itu menjadi anak Yatim piatu.
Aisha hanya memeluk ketiga Adiknya dengan memeluk erat mereka. Air matanya masih membasahi kedua pipinya. Ia memandangi Alifah yang masih kelas 5 SD. Ia hapus air mata di kedua pipi adiknya.
"Masih ada kakak. Jangan sedih ya... "
Aisha mencoba menahan suara tangisnya disaat ia memberikan semangat kepada adik bungsunya yang memiliki riwayat sakit asma.
Saat menuju ruang depan rumah yang sederhana itu. Aisha tak kuasa menahan tangisnya. Ia memeluk tubuh ibunya, ia peluk sang ibu begitu erat. Ia buka kain yang menutupi wajah sang ibu.
Aisha begitu tegar disaat ia memandikan ibunya, bahkan Sampai proses penguburan jenazah sang ibu. Gadis itu hanya meneteskan airmata. Tanpa satu ratapan yang ia tunjukkan. Namun hatinya tak sekuat apa yang orang-orang lihat. Saat pulang dari makam, ia memeluk Alifah. Adiknya itu memeluk baju terakhir yang ibunya pakai.
"Insyaallah.... Aisha akan menjaga adik-adik Bu. Maafkan Aisha belum bisa memenuhi permintaan Ibu untuk segera menikah. Aisha merasa sedih karena belum bisa membuat ibu bahagia. Namun jika Aisha menikah, bagaimana dengan adik-adik Bu. Maafkan Aisha, Aisha akan mengantarkan adik-adik sampai selesai pendidikannya Bu."
Pemandangan yang membuat satu orang lelaki yang duduk di sudut ruangan itu diam-diam mengamati Aisha. Ia bisa merasakan apa yang dirasakan dua orang itu.
__ADS_1
"Ah gue jadi sedih Nes.... Elo ternyata punya tanggungjawab gede juga."
Rafi selama di pemakaman banyak mendengar dari warga sekitar tempat tinggal Aisha jika gadis yang selama ini ia kenal sebagai perempuan yang cerewet dan jutek ternyata memiliki hati yang baik. Bahkan ia yang membiayai adik-adiknya setelah ayahnya meninggal.