
Siang hari itu, Ayra yang sudah hampir tiga bulan tidak mengantar dan menjemput Ammar dan Qiya. Akhirnya harus ke sekolah anaknya. Ammar dan Qiya meminta Ayra datang mengambil hasil belajar anak-anaknya selama setahun.
Ayra pun terpaksa mengajak Intan ke sekolah dua buah hatinya. Karena permintaan Ammar dan Qiya. Mereka yang sebentar lagi akan masuk ke SD.
Tiba di sekolah, Ayra menyerahkan Ibrahim pada Intan. Ayra masuk ke ruangan yang biasa anak-anaknya belajar bersama teman-temannya. Satu hasil yang membanggakan nilai-nilai anaknya terlihat bagus. Bahkan untuk hapalan doa sehari-hari anak-anaknya mendapatkan banyak bintang di buku prestasinya. Ayra pun merasa senang.
Baginya bukan hanya kepandaian yang ingin ia capai dalam mendidik ketiga buah hatinya. Melainkan cerdas, rendah hati dan ilmu bermanfaat. Saat akan pulang dari pengambilan buku prestasi buah hatinya. Ia duduk di bawah pohon bersama Intan. Ia yang baru saja memberikan putra ketiganya ASI diruangan kelas Ammar yang telah kosong. Kini sedang menunggu kedua buah hatinya yang sedang membeli makanan kesukaan mereka di kantin sekolah. Karena hari ini adalah hari terakhir anak-anaknya sekolah di tempat itu.
Saat Ayra sedang membenarkan baju Ibrahim yang sedikit terbuka, ia melihat seorang Ibu sedang memarahi anaknya karena anaknya terjatuh saat sedang berjalan. Bahkan sang ibu mencaci anaknya dengan kata Bo doh, to lol, be go. Segala jenis kata yang sama saja mendoakan sang anak begitu deras keluar dari bibir perempuan yang bernama Ibu. Yang membuat Ayra cepat menghampiri bukan karena sang ibu hanya mengomel. Sang ibu memukul anaknya berkali-kali. Terlebih yang membuat Ayra miris, Sang ibu berkali-kali mencaci anaknya yang bernama Ibrahim.
Bukan karena nama yang sama melainkan penghormatan Ayra pada nama Ibrahim adalah nama seorang nabi. Maka alangkah baiknya jika seorang ibu memberikan nama yang diambil dari nama nabi, atau sahabat jangan sampai karena marah pada sang anak, justru malah bermakna mencaci nama itu sendiri.
"Ibra him.... bodoh.... Tolol, bego.... Sudah berapa kali Ibu bilang kalau jalan itu matanya ngeliat!"
Ayra cepat menarik sang anak karena ibu itu berkali-kali mencubit sang anak yang tak mau naik ke motor setelah dimarahi karena terjatuh.
"Ibu.... istighfar... dia darah daging mu."
"Jangan ikut campur! Dia anak saya?!" Bentak sang ibu.
Ayra menarik sang anak kebelakang tubuhnya.
"Ibu sadar. Ibu bukan hanya menghina anak Ibu yang bernama Ibrahim. Melainkan secara tidak langsung ibu pun menghina nabi Yang bernama Ibrahim. Tanpa ibu sadari, ibu yang membuat anak ibu menjadi seperti ucapan ibu. Karena ibu berulang kali mengucapkan hal itu. Hati-hati Bu, jika memang dia bersalah bisa dinasehati bukan di pukul atau laki sampai dimaki berkali-kali."
Sang ibu duduk diatas motornya. Ia menarik napas dalam. Perempuan itu sebenarnya sedang merasa lelah karena kondisi ekonomi yang semakin sulit. Suami yang tak perhatian ditambah sang anak yang mungkin tak bisa masuk sekolah di dekat rumahnya, karena ia tak cukup biaya. Membuat ia melampiaskan kepada anaknya rasa kesal di dalam dirinya karena sang anak melakukan kesalahan kecil.
__ADS_1
Ibu itu menutup wajahnya di atas spedometer motor maticnya.
Ayra mengusap lembut punggung sang ibu.
Setelah ibu itu tenang. Ayra duduk dengan posisi jongkok di hadapan anak kecil yang bernama Ibrahim.
"Nama kamu Ibrahim?,"
Masih dengan Isak tangis, anak lelaki itu mengangguk kan kepalanya. Ayra menghapus airmata di pipi anak lelaki itu.
"Ibrahim jangan menangis ya. Ibu lagi capek, jadi Ibrahim harus menurut sama ibunya."
Ibu yang tadi menangis dengan tanpa suara turun dari motornya. Setelah itu ia memeluk putranya. Ayra dapat melihat dari tatapan mata ibu itu bahwa sang ibu menyesal. Sehingga Ayra ikut senang karena ia sangat paham bagaimana menjadi seorang ibu dengan kondisi yang tidak sama dengan dirinya. Ia sering mendengar keluh kesah teman-teman alumninya di grub wa. Bahkan guyonan bahwa 'Ayra istri sultan mana sama dengan kita', sering di lontarkan ke pada dirinya.
"Usahakan jangan memanggil namanya dengan lengkap jika ibu ingin memarahinya. Karena sungguh mulia nama anak Ibu. Karena Ibrahim adalah nama salah satu nabi. Apalagi dengan nama Ahmad, Muhammad."
Ibu itu mengucapkan terimakasih dan berpamitan. Sungguh hati Ayra sangat sedih ketika melihat orang tua memarahi anak dengan mencacinya, menghinanya, membentaknya, apalagi membandingkan dengan anak lain.Sungguh hal itu adalah yang tidak di sukai Rasulullah.
Ayra duduk sambil memeluk Ibrahim. Ia tak habis pikir, bagaiamana seorang ibu bisa memiliki rasa benci pada anak. Padahal untuk memiliki anak, seorang ibu harus merasakan sakit selama sembilan bulan. Belum lagi proses melahirkan yang akan mempertaruhkan nyawa. Disaat banyak orang yang ingin memiliki anak. Justru ibu yang memiliki anak akan dengan sangat mudah memiliki rasa benci begitu besar ketika sang anak berbuat salah.
"Menurut kamu kenapa seorang ibu bisa begitu cepat marah pada anaknya Ntan?"
Ayra meminta pendapat Intan yang dari tadi juga memperhatikan ibu tadi memarahi anaknya dan juga mencaci buah hatinya.
"Mungkin karena repotnya menjadi seorang ibu." Jawab Intan spontan. Ayra menoleh ke arah Intan.
__ADS_1
"Besok kalau kamu menjadi seorang ibu. Berusahalah jangan menjadikan Kebahagiaan mu berdasarkan banyaknya uang, berdasarkan perhatian suami, berdasarkan anak yang harus pintar. Karena jika seorang ibu sudah stress maka percayalah semua penghuni rumah itu tak akan merasakan kebahagiaan apalagi suami akan sukses. Sulit rasanya."
Intan penasaran.
"Lalu bagaimana Bu?"
"Entahlah Ntan. Apakah karena aku tak mengalami seperti kebanyakan orang. Aku bergelimang harta, hingga aku bisa mengatakan orang-orang untuk bersabar dikala urusan ekonomi melanda. Aku memiliki suami yang perhatian kalah ada istri-istri yang tak pernah diperhatikan. Aku masih bisa kesana kemari kala ada para istri yang di kekang."
"Mungkin karena setiap orang punya beban dan ujian masing-masing Bu."
Ayra seketika menoleh ke arahnya.
"Kamu betul. Aku jadi kepikiran membuat satu komunitas untuk ibu-ibu agar mereka tidak setress."
"Maksud Ibu?"
Ayra pun yang sudah satu tahun ini menjadi salah satu ketua dari organisasi. Ia mulai berpikir untuk mengumpulkan beberapa teman organisasi nya. Ia punya misi, dengan kejadian barusan ia memiliki tanggungjawab sebagai perempuan. Agar bisa menjadi motivasi bagi perempuan lainnya. Sehingga ia cepat menyerahkan Ibrahim kepada Intan.
Ia mencatat idenya di ponsel berwarna coklat. Ia memiliki dua ponsel sekarang. Satu untuk organisasi, dakwah dan teman. Sedangkan yang couple bersama Bram. Itu hanya khusus untuk keluarga.
"Ya, aku harus memanfaatkan media. Semua media agar bisa menjaring ibu-ibu yang mengalami masalah tidak terlalu tertekan dengan masalah mereka. Nanti aku akan minta izin dan pendapat mas Bram." Batin Ayra yang bermonolog dalam hatinya.
Jika dulu para pendiri negeri ini berjihad melawan penjajah harus mengorbankan nyawa. Maka sekarang ia pun harus berjihad, membantu negara ini agar para perempuan atau Ibu-ibu yang sebagai madrasah pertama anak menjadi sosok yang kuat, tidak mudah putus asa. Tidak mudah menyerah.
.
__ADS_1