Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
249 Setiap Yang Memiliki Pesona Pasti Penuh Perjuangan


__ADS_3

Pagi Itu Ammar sibuk dengan peralatan untuk sekolahnya. Ia yang ingin masuk pesantren masih Ayra tahan sampai kelas 6 atau SMP. Karena ia melihat masih ada sisi mental dari Ammar yang kadang sering emosi menghadapi orang yang menyakitinya atau orang yang ia anggap teman. Hal itu yang masih harus Ayra siapkan. Agar kelak ketika di pondok pesantren sang anak tak terlalu merepotkan guru-guru karena berkelahi.


Sedangkan Qiya, putrinya itu terlalu lembut. Ia terlalu memendam keinginannya. Bahkan ia belum bisa mengutarakan perasaannya ketika dia tidak nyaman karena disakiti. Hal ini juga yang menjadi alasan Ayra menunda kedua hatinya untuk masuk pesantren di usia SD.


Ammar saat duduk di meja makan meminta pada si Mbok untuk dibawakan bekal lebih.


"Mbok minta tolong, nanti buahnya di lebihkan 3 atau 4."


"Oh ya Kak."


Ayra yang merapikan dasi Ammar.


"Mama tahu kemarin ada yang mencuri buah ku dari dalam tas."


Bram pun menyimak perkataan Ammar.


"Sepertinya dia suka sekali dengan buah apel. Yang menyedihkan. Ia makan buah itu di kamar mandi Mama."


"Astaghfirullah.... Ammar tak ingatkan?" Tanya Ayra.


"Kalau Ammar ingatkan nanti dia malu Ma.... Jadi pagi ini Ammar ingin berangkat lebih pagi. Biar Ammar letakkan di bangkunya."


Bram menatap kagum putranya. Di balik sikapnya yang sering kasar saat ada temannya yang menyakiti ternyata anak lelakinya cukup bijaksana. Ammar sedikit lebih bisa bersosialisasi di sekolah yang Ayra pilihkan SD yang bukan untuk kalangan orang beduit. Hampir semua yang sekolah disitu orang tuanya tak menentu. Ada yang kaya, ada yang menengah ke bawa.


"Mama tahu... Kenapa kakak lebih boros dari aku?"


"Kenapa?" Tanya Ayra penasaran.


"Karena kakak selalu membayar di bibi kantin lebih. Ia selalu mengaku makan banyak makanan padahal ia hanya mengambil satu roti."


Ayra menatap Ammar. Bram pun menutup kertas yang sedang ia baca. Ia tertarik apa yang dilaporkan Qiya.


"Mama, teman-teman di kelas ku. Ada yang suka makan di kantin tapi tidak bayar. Dan bibi itu tidak tahu.... Aku hampir setiap hari melihat hal itu. Kan kasihan bibinya Ma."


Ayra memeluk Ammar.


"Mama senang apa yang Ammar lakukan adalah menutup aib seseorang dan membantu tanpa merendahkan."


Pagi itu mereka pergi satu mobil. Ayra lebih dulu mengantar Ammar dan Qiya. Saat mobil akan pergi meninggalkan sekolah. Bram mengajak Ayra untuk turun sebentar.

__ADS_1


"Kamu harus liat putra mu Ayra....."


Ayra sedikit mendelik. Karena tadi Bram juga mengatakan ada hal penting yang harus ia kerjakan. Tetapi ini malah turun dari mobil.


Saat mereka tiba di dekat pagar. Bram menarik tubuh Ayra untuk merapat ke dinding.


Terlihat Ammar membeli sesuatu di pinggi sekolah, seorang perempuan baya yang setiap hari tak terlalu ramai yang membeli dagangannya. Lalu setelah itu Ammar menyerahkan jajan pasar berbentuk tiwul dan lupis itu kepada adiknya Qiya. Saat berhenti di dekat pak satpam, ia memberikan buah apel itu kepada pak satpam sekolahnya.


"Sepertinya kamu berhasil menanamkan rasa berbagi untuk Ammar."


"Kamu tahu darimana mas?"


Bram tertawa lalu kembali menggenggam tangan istrinya. Mereka kembali ke mobil. Saat di dalam mobil Bram menunjukkan beberapa sudut. Terlihat beberapa pria yang berpakaian beraneka macam. Ada yang mengenakan jaket. ada yang seperti ABG.


"Mereka mas letakkan di sekolah anak-anak kita. Mas cuma khawatir disekolah ini mereka kenapa-kenapa. Dan laporan yang mas dapat dari mereka membuat mas kagum dengan dua buah hati mu Ay. Terimakasih telah mendidik mereka. Semoga mereka bisa memiliki pesona seperti Mamanya ya."


"Aamiiin. Semoga kita selalu diberikan keimanan dalam menjalani rumah tangga kita."


"Oke sekarang kita menuju Qiyam."


Mobil yang dikendarai Bram menuju perusahaan yang dibangun Ayra. Ia meminta Yazmin yang mengurus Qiyam. Ia lebih sering datang satu Minggu sekali. Sehingga berbagai macam kelancaran perusahaan Ayra itu di jalani oleh Yazmin. Sedangkan Aisha memilih resign. Ia memilih mengembangkan bakatnya di bidang fashion.


Yasmin pagi itu datang lebih awal. Ia tidak tahu kenapa ada meeting dadakan. Saat semua telah siap. Ayra pun tiba di kantor. Ayra mengajak Yasmin duduk di ruangannya.


"Baik Bu."


"Begini. Kemungkinan satu tahun ini aku akan sedikit sibuk. Ku harap kamu mampu menggantikan posisi aku di Qiyam. Aku sudah berbicara pada mas Bram."


"Tapi Bu...."


"Aku mohon. Aku tak mungkin meminta pak Yuki untuk menggantikan posisiku. Karena akan tak nyaman jika harus berbicara sesering ini dan sedekat ini. Terlebih dia masih single."


"Baik Bu...."


Ayra meminta Yasmin menandatangani surat yang telah ia buat semalam. Untuk sementara Yasmin yang akan menggantikan Ayra di Qiyam. Ia hanya memegang tampuk kepemimpinan Qiyam namun keputusan tetap pada Ayra. Perusahaan online shop itu memiliki pemegang saham yang tak lain Nyonya Lukis dan Bram sebagai suaminya. Maka untuk kebijaksanaan perusahaan itu kadang tak memerlukan Rapat.


"Oya Bu ada yang ingin menanamkan sahamnya kemarin. Suratnya sudah saya kirim ke email Ibu."


"Baik nanti saya cek ya.. Terimakasih."

__ADS_1


Selepas kepergian Yasmin Ayra menatap foto Kyai Rohim yang ia pajang di sisi foto keluarganya.


"Abi. Ayra tahu bagaimana Abi menceritakan perjalanan Abi menjadi pelayan bagi masyarakat. Abi pernah bilang semua tergantung niat. Maka Niat Ayra hanya untuk keadilan Bi....."


Ayra yang telah menandatangani beberapa dokumen. Dan mengecek email. Pulang lebih dulu. Karena Ibrahim yang sedang rewel. Putra Ayra itu baru saja di pisahkan dari ASI.


Saat menuju perjalanan pulang, ia di kagetkan satu pesan yang masuk ke ponsel pintarnya. Terlihat dari pesan yang masuk itu adalah dari Bram.


Yang berisikan beberapa list nama-nama untuk pergi ke tanah suci.


..."Papa dan Mama minta kita semua ikut."...


Pesan yang diberikan oleh Bram terlihat jelas nama yang ada di list itu. Termasuk Umi Laila. Ia dan Bram belum pernah pergi bersama ke tempat suci itu. Saat ia sedang memiliki balita Ammar dan Qiya. Bram terpaksa pergi sendiri menemani Kyai Rohim dan Pak Erlangga bersama Nyonya Lukis dan Umi Laila ke tanah suci.


Bram yang melihat pesan hanya di baca tanpa di balas. Cepat menelpon istrinya.


"Assalamualaikum Mas " Jawab Ayra.


"Wa'alaikumussallam. Kenapa tidak dijawab?,"


"Apakah perlu jawaban saat suami Ayra ini mengajak untuk ketempat yang paling ingin Ayra kunjungi?"


"Apakah Ammar dan Qiya kita ajak Ay?"


"Nanti kita bicarakan dirumah ya Mas."


"Hapus air mata mu... Ay."


"Mas menaruh cctv di mobil?" Tanya Ayra menoleh ke kiri dan ke kanan.


"Mas hapal suara istri mas ini. Kamu sedang menangis atau menahan tangis. Baiklah mas usahakan pulang cepat ya."


"Ya mas."


Ayra mengusap air mata yang akan jatuh. Ia kembali mengingat awal-awal bertemu dengan Bram. Ia mengingat bagaimana emosi suaminya itu di awal pernikahannya. Sehingga bibir mungil Ayra menyunggingkan senyum. Ia teringat cerita sang suami saat menyelamatkan dirinya yang bertubuh besar saat terhanyut di sungai.


"Kita tidak tahu perjalanan hidup ini seperti apa mas. Namun yang Ayra tahu bahwa segala sesuatu yang kita dapatkan termasuk kebahagiaan adalah suatu usaha yang disebut perjuangan."


Ayra kembali teringat cerita Bram bahwa ia saat berpacaran dengan Shela berkali-kali ingin melakukan lebih. Namun sebuah nasihat dan permintaan dari Nyonya Lukis membuat ia berjuang keras untuk menepati janji pada sang ibu. Nyonya Lukis berharap Bram tidak menghamili perempuan mana pun sebelum ia menikahi perempuan itu. Maka perjuangan Bram untuk terus mewujudkan harapan Nyonya Lukis memberikan ia istri yang nyaris sempurna.

__ADS_1


Jika Bram mengatakan Ayra nyaris sempurna itu pun bukan tanpa perjuangan dari Ayra. Perempuan itu disaat orang-orang tertidur pulas ia bangun di dinginnya malam. Ia bermunajat akan setiap yang menjadi kegelisahannya termasuk lelaki yang telah melihat auratnya. Ia tak meminta pada Allah agar lelaki itu menikahinya. Ia hanya berdoa agar Allah mengampuni ia yang sebagai istri tak bisa menjaga hak suaminya. Yang seharusnya lelaki pertama yang menyentuh dan memandang tubuhnya. Dan Maha Besar Allah. Lelaki itu justru dijadikan suaminya.


Bukan hanya itu saja, perjuangan Ayra Khairunnisa. disaat teman-teman seusianya sibuk dengan kesenangan. Ia justru fokus hanya mencari ilmu. Ia hanya fokus agar menjadi cerdas. Ia hanya fokus mentaati guru dan orang tuanya. Ia hanya mempersiapkan diri dengan ilmu. Untuk menjadi seorang istri dan seorang Ibu. Maka ketika peran itu telah datang padanya, semua mata hanya melihat pesona Ayra Khairunnisa tanpa menelisik mengapa gadis biasa bisa itu memiliki pesona begitu besarnya bagi suami? Bagi anak? Bagi Mertua? bagi teman?


__ADS_2