Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
94 Puncak Bucin Bram Ayra 2


__ADS_3

Bram melangkah ke arah meja kecil yang berada disudut ruangan. Ia menarik kursi yang berwarna merah dengan satu kakinya. Ketika kursi itu sedikit memberi jarak dari meja, Ia duduk diatas kursi dan tetap membiarkan Ayra berada di pangkuannya. Ayra yang bermaksud berdiri karena ingin duduk sendiri.


Bram cepat menahan pinggang Ayra dengan kedua tangannya.


"Duduklah disini, aku sudah bilang malam ini kamu Tuan Puteri nya."


Ayra menatap wajah suaminya. Ayra yang baru pertama kali diperlakukan begitu kembali dibuat terpesona. Perasaan yang campur aduk pun hanya mampu memandang wajah tambatan hatinya. Ia tak mampu mengucapkan satu kata pun.


Jangan kan duduk diatas pah* lelaki, memandang wajah lelaki dalam hitungan detik pun Ia tak berani. Selama ini hanya ada dua wajah yang Ayra tatap penuh cinta selain Abinya dan Furqon. Kini kedua netra Ayra seolah candu memandang wajah tampan suaminya. Ia tak tahu jika rasa mencintai seseorang itu adalah selalu ingin memandang yang terkasih. Selalu ingin dekat, selalu ingin diperlakukan begitu manis.


Seperti saat ini Bram sedang membuka tiga penutup makanan dari stenslis terdapat satu piring nasi, udang dan ayam panggang serta acar timun dalam sebuah mangkuk kecil. Bram seolah tak menggubris istrinya yang masih memandangi wajahnya. Tangan Ayra yang melingkar pada pinggangnya pun tak membuat lelaki yang biasanya sangat cuek terhadap lawan jenis yang mengejarnya kesulitan membuka kulit udang itu.


Seperti saat ini, ia sedang memperlakukan Ayra dengan begitu lembut. Ia mengambil satu udang dan seiris ayam panggang serta satu sendok acar timun. Ia masukan kedalam piring yang telah ada nasinya. hingga piring putih yang ada dihadapannya telah ia dekatkan kearahnya.


Ayra masih berada dalam pangkuannya, Tak membuat kesulitan kedua tangan Bram mengupas kulit udang yang merupakan makanan Favorit Ayra. Tangan kanan yang telah Bram basuh kini telah menjimpit satu suapan untuk sang istri dengan lauk udang saos tiram.


Ia arahkan ke mulut mungil istrinya.


"Ayo baca doa."


Ayra masih memandangi wajah Bram sambil melafazkan doa makan karena ia tahu jika dari tadi pandangan suaminya tertuju pada udang yang ia kupas kulitnya. Kini suaminya baru menatap wajahnya.


"Makan malam nya di sebelah sana Ayra sayang. Sabarlah, nanti kamu akan ada waktu untuk kamu makan wajah ku ini."


Bram tersenyum nakal pada istrinya itu. Ayra tersipu malu, ia cepat menoleh ke ara tangan Bram yang sedari tadi telah siap dengan satu suapan kecil. Ayra memasukan suapan suaminya itu. Entah kenapa terasa sulit sekali ia mengunyah. Bahkan saat akan menelan makanannya pun Ayra harus memejam kan kedua matanya.


Bram ingin memberikan minum pada Ayra namun sang istri tak membuka mulutnya. Ia menggelengkan kepala beberapa kali.


"Masih mau makan?"


Ayra menganggukkan kepalanya tatapannya masih tak beralih dari wajah tampan Bram. Suapan kali ini Bram berikan dengan lauk ayam panggang. Ayra menikmati suapan kedua dari suaminya.


"Kenapa? Kamu rindu pada wajah ku?"


Ayra membelai lembut satu sisi pipi Bram. ia pandangi wajah suaminya itu.


"Semoga hati ku masih tetap akan selalu tenang memandang mu mas sekalipun kulit wajahmu tak lagi kencang karena keriputnya kulit di makan usia."


"Semoga aku pun masih akan seperti ini sampai kita menua."

__ADS_1


Bram kembali menyuapi istrinya dengan acar timun kesukaan istirnya.


"Enak?"


Ayra mengangguk pelan. Suapan demi suapan Bram berikan pada istri mungilnya. Hingga satu porsi nasi telah berpindah ke tubuh Istrinya. Ayra melirik udang yang masih tinggal beberapa iris.


"Ayra masih ingin udangnya mas."


"Baiklah Tuan Puteri. Tunggu ya."


Bram kembali mengupas kulitnya. Ayra yang penasaran darimana suaminya tahu menu favorit Ayra.


Ayra menyandarkan kepalanya di dada Bram sambil melihat kedua tangan suaminya begitu telaten memisahkan kulit udang dari dagingnya.


"Katakan dari mana mas tahu makanan kesukaan ku."


"One Question one Kiss."


Bram mengeluarkan satu rayuan mautnya pada sang istri tanpa melihat istrinya. Pandanganya masih tertuju pada udang yang ia kupas kulitnya.


Ayra menaikan kedua alisnya dan tersenyum simpul.


Satu kecupan Ayra daratkan di dagu sang suami.


"Aku meminta Rafi ke pondok dan menemui Umi mu. Aku meminta Rafi mencari tahu semua yang kamu suka. Dari makanan, warna hingga parfum yang kamu suka. Aku pun suka parfum mu. Kamu tahu Ay dari pertama aku suka aroma parfum mu."


Ayra masih memandang suaminya.


"Lalu kenapa tidak menelpon kalau sudah pulang?"


Bram agak menunduk dan mendekatkan pipinya ke arah wajah Ayra. Ayra kembali tersenyum simpul.


"Cup."


"Karena aku ingin memberikan kejutan pada istri ku yang telah berjuang untuk mempertahankan pernikahan ini. Yang begitu sabar melewati beberapa rintangan. Dan mau menunggu hati ini meleleh. Aku ingin lelah mu, sabar mu menjadi indah pada waktunya Ay."


Bram memberikan satu udang yah telah ia kupas. Ayra memang suka udang tapi ia sangat suka memasak udang tanpa membuang kulitnya terlebih dahulu. Setelah akan dimakan baru ia akan membuangnya. Hal itu Rafi ketahui setelah Umi Laila mengingatkan jika cara memasak udang khas Ayra.


"Tubuh mu bisa gendut kalau porsi makan mu begini Ay."

__ADS_1


Ayra menahan tangan Bram yang memberikan segelas air putih padanya.


"Lantas apakah mas tak menyukai aku jika aku bertubuh gendut?"


Setelah suapan udang terakhir telah berhasil di pindahkan dari piringnya ke lambung sang istri. Bram kembali menggoda istrinya itu.


"Tidak. Aku akan tetap mencintai mu Ay. Aku mencintai kepribadian mu bukan fisik mu. Maka sekalipun kamu berubah menjadi sebuah drum pun aku akan mencintaimu."


"Uhuukk.... uhuukk.... uhuukk...."


Ayra tersedak mau tidak mau ia Menerima segelas air dari tangan Bram.


"Kenap Ay?"


Ayra bernapas lega ketika ia tak merasakan sesak di tenggorokannya. Ia memegang kedua pipi suaminya.


"Sungguh?"


"One Question one Kiss."


Kali ini Bram mendekatkan pipi kanannya ke arah Ayra. Ayra kembali tertawa kecil dengan sedikit mendongakkan kepalanya ke arah langit-langit..


"Hehehe.... "


"Cup."


"Aku akan makan banyak juga dan tak akan fitnes. Hingga kita akan sama-sama bertubuh Drum. Deal?"


"Deal."


Ayra kembali menyandarkan kepalanya pada dada sang suami. Aroma wangi parfum Bram membuat Ayra begitu tenang dan nyaman.


Bram membiarkan istrinya beberapa menit begitu. Lalu Ayra yang mau mengambil minum pun cepat Bram cegah. Tangannya lebih dulu mengambil gelas bening itu. Ia arahkan pada bibir istrinya. Setelah beberapa tegukan, Air itu tersisa setengah gelas lagi.


Bram meminum air tadi sampai habis. Kedua netra Ayra melebar saat suaminya itu memutar gelas tadi hingga bibir Bram meminum air itu dari bekas bibir Ayra.


"Rasanya manis. Aslinya Apakah semanis ini Ay?"


Bram meletakkan gelas itu diatas meja dan melirik istrinya yang masih menatapnya penuh haru. Ayra tak percaya jika suaminya itu bisa membuat hatinya meleleh hanya dengan tindakan kecil seperti barusan.

__ADS_1


__ADS_2