Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
168 Ayra dan Bram Terjebak


__ADS_3

"Tetapi aku belum menceraikan nya lewat pengadilan agama Ayra?"


Beni menatap Ayra lalu kembali ia memandang Liona yang masih menangis di pelukan Nyonya Lukis.


"Ben. Dalam agama Islam ketika suami mengucapkan talak diluar pengadilan agama maka perceraian sah dimata agama tapi tidak sah menurut hukum yang berlaku di negara kita. Maka secara hukum negara kita, status ikatan pernikahan kalian belum terputus. Tetapi apa jadinya jika kalian secara agama telah bukan suami istri tapi tidur satu kamar? Malam nanti Abi ku pulang. Bertanyalah pada Abi yang lebih paham tentang ini Ben."


Beni melangkah kan kakinya ke arah Liona. Ia berhenti di pintu yang belum terbuka dengan sempurna.


"Liona.... Maafkan aku. Aku berharap kita bisa berbaikan setelah ini."


"Maafkanlah Beni nak.... "


Liona melerai pelukannya dari Nyonya Lukis.


"Aku memaafkan kamu Ben. Karena aku tahu seperti apa aku dulu. Bahkan keluarga mu pun mampu memaafkan aku yang penuh dosa ini. Biarlah aku ikut Ayra dan Bram ke Kali Bening. Biarkan kita seperti ini dulu. Aku pun ingin belajar lebih banyak lagi. Aku tidak ingin jika kita kembali bersama tetapi kembali saling menyakiti satu sama lain."


"Tidak kah kamu mencintai aku Liona?"


Beni terpaku mendengar jawaban Liona. Ia mengira bahwa Liona tak mencintai nya.


"Justru aku mencintaimu Ben. Justru aku ingin belajar lagi di sana agar kelak aku tidak lagi menyakiti mu. Agar kelak aku betul-betul siap mengarungi bahtera rumah tangga kita. Rumah tangga yang Pasangan nya sempurna saja akan banyak masalah. Apalagi aku yang tidak sempurna ini."


Deg.


Beni sedikit tertegun mendengar penuturan Liona.


"Aku tidak akan menceraikan kamu secara hukum Liona. Aku akan menunggu saat kamu siap untuk kembali bersama ku untuk membina rumah tangga."


Ayra mendekati Liona. Ia memandang Liona yang masih terlihat berlinang air mata.


"Kalian bisa rujuk Liona. Tetapi jika masa Iddah mu telah lewat. Kalian harus akad lagi."


"Aku ingin menenangkan diri dulu sekarang Ay. Dulu aku sering meminta cerai. Kali ini Beni mengucapkan hal itu. Aku harap kami bisa sama-sama belajar beberapa waktu kedepan. Aku ingin kami sama-sama berpikir sebelum menentukan apakah akan kembali bersama atau tidak. Bukankah kamu pernah bilang bahwa mengarungi bahtera rumah tangga tak cukup hanya bermodal cinta?"


Ayra tersenyum. Ia menghapus sisa airmata di pipi Liona.


"Semoga kamu bersabar melalui setiap takdir yang telah Allah tetapkan Liona."


Bambang pun yang ingin pulang mendekati Beni. Ia menepuk pundak kakak nya.


"Tetaplah disini Ben. Mas Bram harus fokus ke perusahaannya. Ayra juga sedang hamil. Aku masih harus fokus pada Rani yang belum terlalu sehat. Jangan pergi lagi dari rumah ini."


Bambang yang biasa terlihat kekanakan kali ini menunjukkan sisi dewasa nya. Bungsu dari Keluarga Pradipta itu pun berpamitan karena harus pulang. Beni setuju, Ia dan kedua orang tuanya mengantarnya Liona ke rumah mereka yang lama. Liona mengemasi beberapa barang. Sedangkan Ayra dan Bram lebih dulu pulang ke kediaman Kyai Rohim.


Pulang dari kediaman Pak Erlangga, Ayra dan Bram kembali ke kediaman Kyai Rohim dan Umi Laila. Orang tua Ayra masih di Solo, karena mereka masih ditahan oleh Alya. Alya adalah putri kedua mereka yang menikah dengan orang solo.


Kondisi yang hanya berdua saja di kediaman orang tua Ayra itu membuat pasangan yang belum lama bersama itu masih menghabiskan waktu bersama. Sore ini Ayra yang ingin memasak pun masih di ikuti oleh Bram. CEO MIKEL Group itu selalu menjahili istrinya.


Dari memeluk sang istri dari belakang. Atau sekedar mematikan kompor ketika sang istri telah menghidupkannya.


Bahkan, suami Ayra masih sibuk mengganggu istrinya yang sedang mengiris jagung untuk dicampur dengan sayur bayam. Saat Bram menahan pisau ditangan istrinya.


“Mas.... Aku sudah sangat lapar. Acara masak ini tidak akan selesai kalau dari tadi kamu ganggu. Sini pisaunya.... Tidak kasihan sama anaknya?”


“Justru kasihan. Kamu duduk saja. Biar aku yang iris ini. Oke?”

__ADS_1


Hingga akhirnya Ayra mengalah. Ia hanya duduk manis di meja makan sambil menunggu sayurnya matang. Bram mengiris jagung manis itu. Ia menuruti komando sang istri. Ia hanya memasukkan satu persatu sayur dan bumbu untuk sayur bening yang dari pagi sudah ingin dimasak oleh Ayra namun sang suami lebih memilih bubur ayam.


Selesai dengan acara masak dan makan bersama. Sepasang suami istri itu masih menghabiskan waktu bersama di kamar. Rencana ingin berkunjung ke kediaman Rani ditunda karena insiden Beni dan Liona.


Sore yang cukup gerah bagi sepasang suami istri itu. Ayra yang baru saja mandi, kaget karena suaminya sudah berada di depan pintu dan mendorong ia kembali masuk kamar mandi.


“Mas....”


Beruntung kamar mandi di kediaman Kyai Rohim itu terpisah dengan toilet.


“Kenapa tidak membangunkan aku?”


“Sudah Ayra bangunkan tapi mas tak bangun-bangun. Mas... nanti ada orang.”


Ayra membesarkan pupil matanya saat suaminya membuka baju di kamar mandi itu.


“Siapa berani masuk rumah ini. Dari kemarin tidak ada satu pun yang masuk kerumah ini. Temani aku mandi dulu.”


Bram menutup pintu, lalu mengambil gayung dan menyiram tubuhnya. Namun air yang membasahi Bathrob Ayra yang cukup pendek karena diatas dengkul. Membuat Ayra sedikit menjerit.


"Mas.... !"


"Hehehe.... Suara mu membuat aku tidak fokus mandi."


Tiba-tiba dari arah luar terdengar suara Furqon. Ia yang baru pulang dari bandara menjemput Kedua orang tuanya. Kakak Ayra itu mengetuk pintu kamar mandi yang berada di dapur.


"Tok..... Tok.... Tok."


"Ayra.... Sama siapa kamu di dalam?"


"Kamu tidak mungkin melakukan hal yang tercela Ayra. Lalu siapa lelaki di dalam. Bukankah Bram masih di lapas. Bram masih berapa bulan lagi harus di sana. Semoga kamu tidak khilaf Ayra....."


"Ayra! cepat buka pintunya?! atau Kang Furqon dobrak!"


"Jangan Kang!"


"Mas.... "


"Aduh.... Malu Ay....."


"Kan tadi udah Ayra ingetin."


Suami istri itu berbisik-bisik. Wajah mereka sudah seperti tomat matang. Terlebih Ayra, ia paham betul bagaimana kakak nya itu dalam menjaga adik-adiknya. Ayra bisa memastikan jika kakaknya tidak tahu bahwa Bram telah pulang dan Kini Furqon curiga bersama siapa Ayra berada di kamar mandi.


"Jangan Kang. Ayra tidak bawa ganti. "


"Sejak kapan kamu mandi tidak bawa ganti?! Cepat buka. Siapa lelaki yah di dalam!"


Umi Laila dan Kyai Rohim yang baru akan masuk kamar mereka cepat ke arah dapur mendengar teriakan Furqon.


"Ada apa Furqon? kenapa teriak-teriak?"


Umi Laila mendekati Furqon.


"Ayra didalam bersama lelaki Umi. Aku bisa mendengar jelas suara lelaki itu tertawa."

__ADS_1


"Astaghfirullah... Hati-hati fitnah Furqon."


Furqon masih menatap pintu kamar mandi. Umi Laila mendekati pintu itu.


"Nduk... cepat keluar. Jangan membuat kakak mu berprasangka buruk tentang kamu."


Bram yang tidak sabar ketika Ayra akan menjawab, suaminya cepat menutup mulut istrinya dengan telapak tangannya. Mereka yang bingung, Bram yang terlanjur merendam pakaiannya dan hanya memiliki handuk belum lagi Ayra yang tak membawa pakaian ganti hanya mengenakan Bathrob. Membuat mereka bingung keluar dari sana saat ada orang lain.


"Mmmmm...... "


"Ayra bersama saya Kang. Saya baru bebas beberapa hari lalu."


"Bram?"


Umi Laila seakan tak percaya. Menoleh kearah suaminya. Suara Bram kembali terdengar dari balik pintu kamar mandi. Masih memeluk istrinya dan satu tangan yang masih menutup rapat mulut istrinya.


"Maafkan kami kang. Tadi aku hanya bercanda dengan Ayra. Saya lupa bawa handuk."


Kedua mata Ayra mendelik. Ia mencubit dada suaminya yang sekarang tak lagi kotak-kotak itu.


"Aaawww.... Sakit Ay."


Suara rintihan Bram membuat ketiga pasang wajah yang dari tadi tegang akhirnya menghembuskan napas mereka dengan lega.


Umi Laila berbisik ke arah Furqon yang mengusap tengkuknya berkali-kali. Ia tak hapal suara Bram yang memang ia baru beberapa kali bertemu suami Ayra itu.


"Astaghfirullah.... Kamu ini Furqon.... selalu mengedepankan prasangka mu. Sudah cepat tinggalkan dapur. Kasihan adik mu dan suaminya. Mereka pasti malu ingin keluar kalau ada kita."


"Salah mereka Mi. Kenapa tidak mengunci pintu depan."


"Ya Ndak salah. wong mereka dikamar mandi. Mereka suami istri. Ndak ada yang salah. Ayo cepat. Klo kita masih disini adik mu akan malu. Maklumi adik mu. Mereka lama berpisah. Disaat harusnya masih merasakan manisnya awal rumah tangga."


Bisikan Umi Laila mampu membuat Furqon meletakan gelas yang baru saja isinya ia habiskan.


Umi Laila tersenyum simpul ke arah Kyai Rohim yang juga tersenyum di dekat pintu dapur. Sepasang suami istri itu menggelengkan kepala mereka. Mereka paham bagaimana ketika masih muda apalagi kondisi Ayra dan Bram yang termasuk pengantin baru karena mereka belum lama menghabiskan waktu berduaan karena Bram harus menjalani proses hukum.


Ingin bertanya bagaimana sang adik ipar pulang lebih cepat membuat Furqon mengurungkan niatnya saat kyai Rohim memanggil namanya saat Umi Laila berdiri didekatnya.


"Furqon..... "


Satu kode gelengan kepala yang menandakan pergi dari tempat itu membuat ayah dua anak itu meninggalkan ruangan itu.


Furqon yang pergi dari ruangan itu. Membuat kyai Rohim sedikit bersuara agak keras dengan maksud agar anak dan menantu tak merasa malu.


"Furqon, Abhi dan Umi setelah istirahat akan ketempat mu. Abi sudah rindu dengan Ikbal dan Nafi. Umi dan Abi istirahat sebentar di kamar."


Kyai Rohim dan Umi Laila yang tadi di jemput oleh Furqon cepat-cepat ingin pulang khawatir Ayra sendiri dirumah. Ternyata yang di khawatirkan sudah ada yang menjaga.


Ayra yang masih di tutup mulutnya membuat ia menjahili suaminya. Ia gigit sedikit telapak tangan Bram.


"Aaaawwww.... Ayra... Kamu sejak kapan jadi ganas begini?"


"Iiiihhh... mas. Ayra malu....."


"Hehehe... sana keluarlah. Kondisi sudah aman. Bawakan mas baju. Mas malu keluar kalau hanya pakai handuk. Pokoknya nanti malam kita ke apartemen mas. Ini yang mas khawatir kan."

__ADS_1


Ayra membuka pintu dan kepala yang tersembul sedikit lalu ia cepat menuju kamarnya dengan sedikit berlari. Wajahnya sudah seperti kepiting rebus.


__ADS_2