Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
221 Kabar tentang Alma


__ADS_3

Pagi hari adalah waktu yang sangat sibuk bagi Ayra. Ia harus menyiapkan bekal untuk Kedua anaknya dan juga sarapan untuk Bram. Saat semua telah siap. Ayra baru akan memanggil kedua anaknya. Namun Ammar dan Qiya telah siap dan hadir di ruang makan.


“Pagi mama....” Ucap Qiya.


“Morning Mama....” Sapa Ammar.


Sapa Qiya dan Ammar pada Ayra yang terlihat sedang menutup kotak bekal Ammar dan Qiya. Sedangkan Bram baru turun sambil menerima telpon.


“Ay... Ini Yazmin menelpon mu “


Bram menyerahkan ponsel milik Ayra pada istrinya.


“Assalammualaikum.” Ucap Ayra.


“Walaikumsalam Bu. Saya mau izin untuk pagi ini karena saya harus ke sekolah.”


“Ada Apa Yaz?”


“Alma pagi ini demam tinggi. Kemarin saya lihat di punggung belakang nya terdapat lebam. Saya tanya ternyata didorong temannya Bu.”


“Astagfirullah. Iya tidak apa-apa Yaz. Saya akan besuk Alma nanti. Dirumah sakit mana?”


“Rumah sakit Anak Citra Medika Bu.”


“Baiklah. Selesaikan saja urusan dan kesembuhan untuk Alma. Nanti aku minta Aisha buat bantu-bantu di kantor hari ini.”


“Untuk hasil interview kemarin sudah saya kirim ke email ibu pagi ini Bu.”


“Ya terimakasih.”


Yazmin menutup sambungan telpon dengan mengucapkan salam. Ammar dan Qiya langsung memberondong Mama mereka dengan pertanyaan.


“Siapa yang sakit Ma?”


“Alma sakit Ma? Sakit apa? Bagaiamana kondisinya Ma?”


Ayra menatap kedua anaknya. Ia menarik satu kursi yang berada dihadapan Ammar. Ayra mengoleskan selai kacang pada roti yang barusan di panggang olehnya.


"Alma. Tante Yazmin bilang dia demam tinggi dan punggungnya memar."


"Itu pasti karena kemarin di dorong oleh Riki Ma."


"Tidak boleh menuduh begitu Ammar."

__ADS_1


Bram yang baru menunju meja makan mengusap rambut putranya.


"Tapi Pa. Kemarin Riki mendorong Alma dengan keras. Itu kenapa Ammar me-"


Putra sulung Bram itu mengigit bibir bawahnya. Ia keceplosan bercerita perihal kemarin. Ia sedikit ketakutan. Ia khawatir akan di marah oleh Bram. Seketika bocah lelaki itu menundukkan kepalanya.


Ayra mengedipkan matanya dua kali ke arah Bram. Suami Ayra itu mengerti kode yang diberikan sang istri. Ayra pura-pura menjelaskan pada Bram kejadian kemarin sama sepeti semalam ia menjelaskan pada sang suami. Bram menanggapi dengan santai. Sambil menunggu Ayra membubuhkan nasi goreng seafood kesukaannya.


"O..... Lalu Ammar sudah minta maaf?"


Ammar yang mendengar nada bicara Bram tak terdengar marah. ia baru berani mengangkat kepalanya.


"Papa tidak marah?"


"Kenapa papa harus marah? Mama bilang Ammar sudah tahu salah Ammar dimana. Papa akan marah kalau Ammar masih merasa tak suka pada Riki."


"Nanti Ammar akan minta maaf Pa. Tapi Riki bukankah harus minta maaf sama Alma juga?"


Bram yang belum jadi makan. Memandangi Ammar dan memberikan anaknya itu nasihat.


"Ammar, setiap kita ini akan mempertanggungjawabkan semua yang kita lakukan di dunia ini nanti di hadapan Allah. Jadi untuk masalah Riki, biarkan Bu guru yang memberikan nasihat dan saran. Karena kalau Ammar sibuk mengurus orang lain untuk baik nanti kita malah fokus sama orang lain sedangkan diri kita sendiri masih banyak yang belum baik. Paham?"


Ammar terdiam. Ia seolah mencerna kata-kata Papanya. Lalu beberapa saat itu menghela napasnya dengan berat.


"Qiya ikut!"


"Begini saja nanti dijemput Mbak Intan. Papa tidak bisa ikut karena banyak pekerjaan. Bagaimana dengan Mama?"


"Bagaimana kalau kita ketemuan di rumah sakit. Mama dari kantor kesana ya."


"Baik Ma. Terimakasih Pa."


"Sama-sama. Jangan lupa nanti minta maaf sama temannya ya?."


"Siap Komandan!" Ucap Ammar seraya memberikan hormat pada Ayra.


Ammar memberikan hormat pada Bram. Satu keluarga itu tertawa karena ulah Ammar. Bram memimpin doa makan sebelum mereka sarapan. Sedangkan Ayra masih rutin puasa weton anak lelakinya yang memiliki watak yang keras.


Ammar sedari umur tiga tahun memang mulai menunjukkan sifat keras kepalanya. Ia jika ingin sesuatu akan berguling-guling atau menyakiti dirinya sendiri ketika itu tidak di kabulkan oleh Ayra dan Bram. Namun Ayra membiasakan untuk sang anak mengolah emosi sedari kecil.


Pernah satu ketika Ammar, Qiya dan Ayra ditemani oleh Intan, pergi ke satu pusat perbelanjaan. Disana Ammar menangis meraung-raung meminta sesuatu. Ayra yang mulai menyadari jika anaknya itu belum bisa menyampaikan isi hati dan mengolah emosinya. Untuk menghindari banyak perhatian dari pengunjung.


Ia membawa anaknya ke tempat Parkir. Disana ia biarkan Ammar menangis sampai puas. Ammar ketika ada keinginan tak akan berhenti menangis kala itu. Di tenangkan dengan berbagai cara pun tak akan berhasil. Sampai beberapa kali Ayra mencoba anaknya itu menyalurkan emosinya dengan menangis barulah perlahan Ammar mengerti cara menyampaikan rasa dihatinya.

__ADS_1


Anak lelaki itu menangis dengan suara nyaring. Ayra tak marah. Ia masih menunggu tangis anaknya reda. Ia lebih memilih beristighfar dan shalawat daripada merasa jengkel pada anak apalagi merutuki anak. Terlebih mencaci maki anak karena tak mau diam. Meminta anak dia saat menangis sama saja membuang emosi seorang ibu.


Kala itu Ammar yang Ayra ajak ke tempat parkir menangis sejadi-jadinya. Ayra masih membiarkan anaknya menangis. Ketika tangis sang anak sudah sedikit reda. Ia akan bertanya,


"Masih mau nangis?"


"Huuu... Hiks....Huuuu.... Hiks. Aciiih"


Lalu Ammar kembali menangis. Saat setela beberapa menit. Tangis Ammar pun mereda.


"Masih mau nangis?"


"Ndak... Ma... Ma...Hiks."


"Ok sekarang mama tanya. Ammar kenapa nangis?"


"Ammal... Au... Eli.... Oya Icu.... Hiks...."


[Ammar mau beli bola itu]


"Tapi kan Ammar dengar kata mbaknya bola itu cuma tinggal satu. Dan anak tadi sudah beli duluan."


"Api... amal au....,Ama...."


[Tapi Ammar mau Mama.]


"Nanti kita cari di toko lain Oke? Sekarang masih mau nangis atau kita cari bola seperti tadi di toko lain?"


"Ayi Ain Ama... Hiks..."


[Cari yang lain. Ma]


Beberapa kali Ayra melatih anaknya untuk mengelola emosinya. Ia tak ingin menunggu anak sekolah baru belajar mengelola emosi. Bayi yang dalam kandungan saja sudah bisa diajak komunikasi apalagi anak balita usia tiga. tahun. Maka itulah yang membuat Ayra berpikiran jika memang harus mendidik anaknya sedini mungkin.


Maka saat ini ketika anaknya masuk usia pra sekolah. Emosi anak lelakinya sedikit lebih terkontrol tetapi repot nya ketika itu adalah karakter maka sifat keras dan mudah marah Ammar itu akan muncul ketika ia merasa orang ia sayangi atau temannya disakiti. Ia memiliki rasa empati dan simpati yang tinggi pada teman-teman, keluarga dan orang-orang disekitarnya.


Siang hari saat pulang sekolah. Intan telah menjemput kedua buah hati Ayra dan Bram itu. Baby sitter yang sempat di khawatirkan Ayra dulu justru sekarang sudah seperti keluarga sendiri. Intan telah mengenakan jilbab. Hal itu tak lain karena setiap hari ia belajar agama setiap kali Ayra pengajian.


Ia akan ikut karena Ammar dan Qiya yang ASI eksklusif. Sehingga Intan mendapatkan hidayah mengenakan jilbab tanpa di paksa. Ia pun rela keluar dari perusahaan yang selama ini menjadi agen untuk dirinya. Karena ia berhijab, sedangkan di perusahaan tidak memperbolehkan karyawan mereka berhijab.


Ayra dan Bram yang merasa nyaman dengan Intan akhirnya tetap meminta intan bekerja bersama mereka untuk merawat kedua buah hati mereka.


To be Continued

__ADS_1


__ADS_2