Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
78 Bramantyo Kecil


__ADS_3

Saat Ayra telah keluar dari kamar mandi. Nyonya Lukis dibuat terperangah. Bibirnya tak tertutup dengan sempurna. Matanya Beberapa detik tak berkedip. Ini kali pertama kedua bola mata Nyonya Lukis memotret menantu pertamanya itu tanpa hijab.


Rambut panjang yang hitam tergerai dengan indah. Kecantikan Ayra betul-betul terekspos saat ia tak berhijab dan pakaian tidur yang ia kenakan pun sangat membuat dirinya bertambah cantik.


"Ma?"


Ayra yang merasa diperhatikan ibu mertuanya cukup tersipu malu. Nyonya Lukis yang sedang duduk diatas tempat tidur dengan kakinya telah berada dibalik selimut kaget mendengar suara lembut Ayra.


"Hehe.... Kamu cantik sekali nak. Mama tidak menyangka kamu menyimpan kecantikan kamu dibalik jilbab mu itu."


"Tapi mas Bram belum menikmati rezeki satu ini. Rezeki kecantikan yang Allah berikan pada ku ma."


Ayra berjalan dan duduk disebelah Nyonya Lukis. Ia pun memasukan kakinya dibalik selimut.


"Maaf ya ma jadi merepotkan mama."


Nyonya Lukis memegang dahi Ayra kembali.


"Tidurlah Ay. Mama akan menunggu kamu. Nanti mama akan menyusul tidur."


Ayra menatap Ibu mertuanya. Ia hanya merasakan apa yang Nyonya Lukis rasakan dan sembunyikan.


"Ma.... Ayra boleh tidur dipangkuan mama?"


Kedua netra ibu Lukis membesar. Sudut bibirnya tertarik. Ia menurunkan selimutnya.


Nyonya Lukis menepuk pahanya lembut.


Ayra tersenyum bahagia. Ia betul-betul rindu pada Umi Laila beberapa hari ini. Biasanya Umi Laila lah tempatnya bermanja-manja ketika sedang merasa sedih. Ayra meletakkan kepalanya dengan pelan.


"Harusnya kamu sedang bermanja-manja dengan suamimu Ay. Karena karma, kalian anak menantu mama jadi merasakan dampak karma yang mama lakukan di masalalu."

__ADS_1


Ayra cepat menghapus ujung pelupuk mata Mertuanya yang meneteskan butiran embun.


"Ma,Istilah hukum karma tidaklah dikenal dalam syari’at Islam. Berbeda dengan takdir dimana kehidupan kita di masa lalu, masa kini dan masa yg akan datang ditentukan oleh takdir Allah, maka mama tidak boleh bersedih dan memiliki keyakinan setiap yang terjadi pada kehidupan mama dan keluarga mama sekarang adalah sebuah karma.


Semua yang terjadi saat ini adalah atas kehendak Allah. Maka kita harus menjalaninya dengan sabar dan tak boleh menyalahkan siapa-siapa."


"Tapi mama betul-betul merasa seolah ini terjadi, karena dosa mama di Masalalu Ay. dari Beni, Bambang dan sekarang Bram."


"Ma,di dalam Hukum Islam tidak ada nama Istilah KARMA, Jadi mama tidak boleh bersedih ya."


Nyonya Lukis membelai rambut menantunya itu. Sungguh ia merasa beruntung mendapatkan menantu seperti Ayra. Sikapnya yang lemah lembut, sopan, menenangkan dan keilmuannya pun tak membuat orang yang berada didekatnya merasa hina atau bodoh.


"Ay kamu mau mendengar kisah Bram masih kecil?"


Senyum manis terukir dari wajah Ayra. Ia sangat senang jika bisa mendengar seperti apa suaminya di waktu kecil. Bahkan perkataan Bambang tadi pun cukup membuat hati Ayra bergetar. Karena ia pernah di posisi Bambang saat Furqon marah. Ia pernah pergi ke mall ikut teman-temannya ketika SD.


Rasa penasaran seperti apa Mall membuat Ayra nekat kabur dari pondok tanpa pamit. Sejak saat itu ia tidak pernah berani melanggar peraturan pondok. Umi dan Abi nya tak membedakan aturan dan hukuman. Ia memberikan hukuman yang sama untuk Ayra.


"Ayra mau ma. Betul apa yang dikatakan Bams tadi ma?"


Nyonya Lukis mengangguk cepat.


"Betul Ay, suami mu itu kakak yang menyayangi adik-adiknya. Ia pun sosok anak yang sangat menyayangi mama. Beberapa kali saat itu keluarga mama ada yang datang dan menghina kondisi mama yang betul-betul susah secara ekonomi karena menikah dengan papa.


Bram yang akan pertama kali berdiri didepan mama. Padahal saat itu dia masih SD. Bahkan saat ia SMP, ia sempat berkelahi dengan debt kolektor yang menagih hutang papa ketika terlambat membayar angsuran, saat papa tidak dirumah."


Ayra sangat tertarik pada kisah kerak nasi yang Bambang ucapkan tadi.


"Lantas kerak nasi itu mama betul-betul tidak tahu?"


"Mama tahu Ay. Harusnya itu jatah mama. Mama sebenarnya selalu menyisihkan Periuk nasi itu agar nanti ketika pulang dari berjualan mama bisa memakan kerak nasi. Tapi setiap kerak nasi itu tinggal separuh mama tak berani bertanya. Karena Bram itu selalu bertanya apakah mama sudah makan sepulang dari pasar.

__ADS_1


Kesalahan mama, mama tak pernah menasehati Beni jika perbuatan nya itu salah dan tak baik. Rasa sayang mama Karena Beni lahir itu untung selamat Ay. Ia lahir prematur, tubuhnya kecil sekali Ay. Hampir mirip sebotol sirup, belum lagi dia sering sakit-sakitan saat kecil. Mama salah menempatkan rasa sayang pada Beni. Dengan membiarkan ia melakukan hal tidak adil pada Bram."


"Ah.... Ayra tambah sayang pada mu mas. Rasa rindu makin besar untuk mu mas"


"Hanya saja Bram berubah sedikit keras, sombong ketika mulai SMA. Saat papa mencapai kesuksesan. Ditambah lagi pulang dari Amerika, ia terkesan sangat tertutup. irit berbicara, namun rasa sayangnya untuk mama masih ada Ay.


Ia masih akan marah dengan sangat jika Beni atau Bams melawan mama atau membuat mama menangis. Terutama pada Beni, hingga itu memicu mereka tidak pernah akur. Belum lagi papa mu sering sekali membanding-bandingkan Bram dengan Beni."


Kedua perempuan beda usia itu larut dalam cerita masa kecil Bram. Ya masa kecil yang cukup berat bagi Bram. Bahkan Nyonya Lukis mengatakan hanya Bram yang selalu mau dan berani untuk ke warung. Sekedar menukar telur ayam kampung dengan bawang atau cabai. Karena pemilik warung akan marah jika mau hutang lagi sedang hutang lama belum dibayar.


Dan saat pulang dari warung, Bram pasti akan mengoceh. Tunggu dia sukses dia akan membuat orang itu malu sudah menghina karena kita selalu hutang.


Bahkan saat adik-adiknya tidur dengan lelap di waktu hampir Shubuh. Bram bangun lebih dulu, ia akan menimba Air dan memenuhi semua bak-bak hitam. Beruntung ketika Bram SMP nenek Indira menjual semua asetnya dan memberikan modal pada Pak Erlangga.


Saat itulah titik balik kehidupan keluarga Pradipta. Saat masa SMA Bram tak lagi merasakan hidup susah. Namun didikan pak Erlangga padanya disertai kerasnya kehidupan bagi ia anak sulung yang harus selalu sabar dan mengalah pada adik-adiknya membuat pribadi Bram keras dalam bersikap namun lembut dalam mencintai.


Ia tak pandai menunjukkan rasa cintanya, namun ia akan maju paling depan saat ada yang menyakiti orang yang ia cintai. Bramantyo kecil, sangat berbeda sikap manisnya dengan Bramantyo sekarang. Namun sikap tegas dan disiplin nya memang sedari kecil ada.


"Mama berterima kasih pada Kyai Rohim, Ay. Ia memilih kamu menjadi istri Bram. Bram betul-betul menghormati perempuan Ay. Ia hanya butuh pendamping yang bisa membantunya menenangkan nya disaat emosi. Dia anak mama yang paling penurut diantara Beni dan Bams. Hanya saja itu tak berlaku saat dia bersama papa mu. Mereka sama-sama keras Ay."


Ayra tersenyum kecil.


"Tapi mama sayang kan sama yang mama bilang keras kepala itu Ma... Hehehe. Tidak ada yang sempurna Ma. Kesempurnaan adalah ketika kita menerima kekurangan pasangan kita."


"Ya ampun Ay sudah jam segini. Sudah cepat tidur. Kalau tidak mama akan kena semprot papa hehehe....."


Ayra mematikan lampu, kini tinggal temaram lampu tidur menyinari kamar megah dan mewah Bram itu. Mereka tidur dibalik selimut, Tak butuh waktu lama Ayra yang telah minum obat cepat terlelap. Nyonya Lukis masih membelai rambut menantunya.


"Mama sangat menyayangi kamu Ay. Tapi mama tidak akan membeda-bedakan menantu mama yang lain karena rasa cinta mama pada mu."


"

__ADS_1


__ADS_2