
"Sebenarnya mas kaget ketika bertemu dengan Intan. Tapi terlanjur sudah mas setujui dan dia juga sudah menandatangani surat kontraknnya. Tapi kalau kamu tidak nyaman, mas akan minta untuk diganti yang berhijab."
Ayra bangkit dari posisinya. Ia duduk dan membenarkan posisi duduknya hingga ia duduk dengan kaki bersila di hadapan sang suami. Ia mengelus lembut pipi sang suami.
"Bukan soal Intan berhijab atau tidaknya mas. Itu haknya. Yang Ayra khawatir kan kondisi mas yang akan bertemu dan berinteraksi dengannya yang bukan mahram mas."
Bram memijat dahinya. Ia merasa bersalah.
Bram menyesali karena tidak berdiskusi pada diri istrinya terkait akan mencari baby sitter untuk membantu diri Ayra merawat bayi kembar mereka.
Ayra yang berusaha tak ingin merusak suasana bahagia di rumah baru mereka. Ayra juga berpikir positif selalu, ia hanya berpikir jika Bram hanya memikirkan yang terbaik untuk dirinya dan anak-anak tapi melupakan satu hal yang penting, Komunikasi.
Bram memikirkan alternatif untuk satu masalah yang ia buat.
"Ya sudah besok mas minta dia ditukar dan minta agen untuk mengirim beberapa CV baby sitter yang lain."
Ayra mengambil cangkir tehnya dan ia menyeruput tehnya yang sedikit panas. Setelah ia letakkan kembali tehnya. Ia kembali membahas masalah baby sitter yang bernama intan tersebut.
"Mas,.... Lalu kalau nanti diganti alasannya?"
"Bilang saja tidak cocok."
Ayra menyandarkan kepalanya di dada sang suami.
"Biarkan dulu mas. Kita lihat dulu bagaiamana Intan. Satu hari ini Ayra amati dia tidak aneh-aneh. Dia memang sedikit terpesona dengan wajah tampan suami Ayra ini. Tapi masih tahap wajar. Keahliannya dalam menjaga anak-anak kita pun Ayra akui baik. Hanya saja pakaiannya. Sejauh ini dia tidak tipe centil tapi tetap ada celah karena dia gadis dan bukan mahram mas."
Bram mengusap wajahnya. Ia baru terpikirkan hal itu. Kemarin yang ia pikirkan adalah yang terbaik untuk anak dan istrinya tapi ia mengabaikan bahwa ia harusnya berkomunikasi pada istrinya terkait pengasuh yang akan membantu sang istri. Terlebih lagi kenyamanan sang istri itu.
"Atau kita minta dia pakai jilbab saja Ay?"
Ayra memundurkan tubuhnya dari pelukan sang suami.
"Memaksa dong itu namanya mas. Jangan kan memaksa berhijab. Masuk Islam saja, tidak boleh ada paksaan. Mengajak orang untuk berhijab boleh tapi tidak kalau memaksa. Karena urusan kewajiban memakai jilbab adalah urusan masing-masing individu. Apalagi kita baru mengenal Intan. Jangan sampai niat kita, menggunakan cara yang kurang baik mas. Kadang niat dan cara yang baik saja masih bisa tidak bisa diterima orang dengan baik karena niat itu hanya kita dan Allah yang tahu. Disamping itu ranah hukumnya berdosa atau tidaknya itu ranah Allah."
"Tapi dia bekerja di tempat kita Ay. Dia boleh dong ikut peraturan kita."
Ayra memegang wajah Bram dengan kedua tangannya. Dan menggeleng-gelengkan wajah Suaminya.
"Suami ku sayang. Allah adalah Maha Pengampun, pemurah dan Penyayang, maka kita bisa mengetuk pintu ampunan Nya saat kita berdosa atau bersalah. Tetapi untuk urusan hati dengan manusia, itu sedikit repot. Harus hati-hati dalam berbicara dan bersikap. Sekalipun dia bekerja dengan kita tetapi perkara hati jika merasa tersakiti atau tersinggung akan susah jika yang bersangkutan tak memaafkan kita. Umi bahkan sering bilang, 'berhubungan dengan manusia itu lebih hati-hati. Karena ketika ada yang merasa tersakiti kita harus meminta maaf, dan pertanyaan nya akan kah dia memaafkan kita sedang?'. Maka itu kadang Ayra tidak berani kalau untuk sekedar bercanda dengan orang yang baru dikenal. Khawatir kalau-kalau menyinggung atau menyakiti."
Semakin hari rasa cinta suami Ayra ini semakin besar. Bagaimana tidak bertambah besar, istrinya itu membawa Islam dalam hidupnya hingga kedalam hatinya bukan hanya penampilannya yang menunjukkan bahwa ia orang Islam. Istrinya juga membawa Islam dalam dirinya dengan begitu anggun, lembut, penuh kasih, penuh cinta. Untuk urusan hati pun suami Ayra itu masih harus banyak belajar pada sang istri.
Bram memegang dua tangan istrinya dan menatap sang istri.
__ADS_1
"Jadi apa solusi untuk masalah Intan ini istri ku? Suami mu yang fakir Ilmu ini akan mengikuti apapun yang tuan putri putuskan untuk masalah ini."
Ayra sedikit terkekeh karena di akhir kalimatnya Bram menundukkan kepalanya seperti seorang prajurit memberi salam pada ratunya.
"Begini saja paduka raja. Untuk beberapa hari ini. Suami Ayra ini coba untuk menjaga jarak, pandangan dari intan. Bagaimana pun Intan disini bekerja, mencari nafkah. Dan kita bersyukur karena walaupun ia memakai pakaian yang sedikit ketat dan terbuka. Tetapi dia masih menuntut rezeki dengan cara yang halal. Maka kita pun harus mensupport hal itu. Zaman sekarang kadang orang dengan mudah bekerja tanpa memikirkan halal atau haramnya mas. Apakah Suami tercinta ku ini setuju?"
"Ay....."
Bram menyipitkan kedua matanya.
"Apa sayaaaaang?"
Ayra memajukan wajahnya, ia pun menyipitkan kedua matanya dan menutup dua bibirnya sambil sedikit ujung hidungnya ia naikan sehingga wajah istri Bramantyo itu terlihat bertambah imut.
"Ay.... jangan pasang wajah imut mu itu. Itu membuat aku galau."
"Sabarlah sayang. Insyaallah akan tiba waktunya. Tetapi apakah wajah ini juga tak mau dinikmati. Atau?"
"Atau apa? atau meminta bantuan istri mas yang cantik dan baik hati ini? Tidak. Rasanya beda Ay. Cepat istirahat karena ini sudah larut malam."
Bram menggendong istrinya. Ayra pun bergelayut manja pada sang suami sambil sedikit tertawa. Ia melihat bagaimana suaminya itu menyibukkan diri agar tak fokus akan satu kegiatan yang dirindukan oleh Ayah anak kembar itu.
Akhirnya, satu permasalahan dalam rumah tangga mereka telah selesai. Tinggal lagi cara Ayra untuk menyiasati bagaimana Intan dalam berpakaian.
Saat suami istri itu membicarakan baby sitter baru untuk bayi kembar mereka. Seorang perempuan yang dibicarakan justru belum bisa tertidur. Ia sedari tadi gelisah karena ia tak menyangka akan bekerja dengan seorang CEO yang ternyata tadi siang hampir seluruh keluarganya mengenakan hijab.
Selama hampir Enam tahun Intan bekerja sebagai baby sitter baru kali ini ia bekerja di keluarga yang hampir semuanya berhijab. Terlebih Ayra, baginya istri CEO itu terbilang cukup unik. Disaat para wanita lebih suka memberikan su su formula pada bayi mereka. Ayra memilih memberikan ASI eksklusif pada sang bayi.
Belum genap satu hari Intan bekerja di kediaman baru Bram dan Ayra. Ia melihat istri Bramantyo itu hampir tidak pernah memegang ponsel sambil memeluk anaknya atau memberikan ASI pada anaknya. Dimana majikan sebelumnya malah lebih asyik bersama ponsel saat me nyu sui anaknya.
Ayra memang memanfaatkan waktu me nyu sui kedua bayinya untuk menyalurkan satu rasa cinta pada sang bayi. Terlebih ia yang dibekali Umi Laila, bahwa kadang bisa jadi tidak adanya kelembutan hati dari anak pada sang ibu karena proses pemberian ASI yang kurang tepat dan tidak tuntas.
..."Nduk nanti kalau tidak ada masalah dengan ASI mu dan kamu bisa menyalurkan ASI mu. Maka manfaatkanlah waktu ketika memberikan ASI itu untuk berinteraksi pada anak-anak mu. Itu adalah momen disaat seorang ibu menyalurkan kasih sayangnya. Hindari main HP karena pada saat me nyu sui hakikatnya, seorang ibu sedang tranformasi apapun yang dimilikinya pada sang anak. Termasuk karakter sang anak. Satu proses pendidikan yang mahal untuk anak dan hanya didapat dari seorang ibu pada anaknya."...
Ayra juga pernah membaca satu artikel yang dimana riset tentang ketika seorang ibu me nyu sui. Dimana ada seorang anak yang sering tersenyum dan ramah ternyata ketika proses menyusui sang ibu sering tersenyum pada dirinya. Satu interaksi yang betul tidak disadari dari seorang ibu tapi berdampak pada karakter sang anak.
Sungguh sebuah pesona Ayra Khairunnisa mampu membuat bukan hanya sang suami yang semakin hari semakin mencintai dirinya melainkan orang yang baru mengenalnya pun akan cepat merasa nyaman berada di dekatnya.
Seperti Intan, ia merasa majikan barunya itu cukup unik. Di saat waktu shalat, Ayra justru mengingatkan sang baby sitter untuk mengerjakan kewajibannya sebagai muslim. Ia bahkan mengambil anaknya dari Intan.
Berbeda sekali ketika ia beberapa kali bekerja di tempat lain. Ia justru harus pandai membagi waktu karena jika tidak akan sulit untuk sekedar mengerjakan shalat.
"Ah, besok aku coba memakai seragam yang setelan celana panjang saja. Malu sama Bu Ayra dan Pak Bram. Nanti dikira aku genit juga. Tapi dari perusahaannya harus pakai baju itu. Tapi Bu Ayra sepertinya tidak risih dengan pakaian seragam yang disiapkan perusahaan."
__ADS_1
Intan justru bingung dan malu dengan pakaian seragam yang biasa ia pakai saat bekerja. Dimana di kontrak kerja dinyatakan jika setiap baby sitter yang berada di bawah naungan perusahaan penyedia jasa baby sitter tersebut wajib mengenakan seragam. Yang menjadi dilema Intan pakaian dari perusahaan nya itu satu rok yang pas berada di lutut namun cukup ketat di bagian ping Gul dan pa ha.
Pagi harinya saat Ammar terbangun. Intan telah berada disana. Ayra yang baru saja memberikan ASI pada Qiya cukup kaget karena pagi ini sang baby sitter menggunakan celana panjang dan manset yang ia pakai dibalik seragam berlengan pendeknya.
"Kamu tidak sehat intan?"
Intan menggaruk tengkuknya yang tida gatal.
"Anu Bu. Itu. Anu. Saya malu sama ibu sama bapak. Bajunya dari perusahaan begini. Tapi kok saya malu sendiri, saya malah takut nanti jadi fitnah. Dikira mau goda bapak. Tapi kalau ibu keberatan saya akan ganti seragam kemarin."
"Astaghfirullah.... Sungguh kita tidak bisa menilai seseorang hanya karena penampilan mereka. Maaf kan aku Intan....."
Ayra bergegas menghampiri Intan sambil menggendong Qiya.
"Intan."
"Iya Bu."
Ayra menggenggam satu tangan Intan.
"Saya minta maaf sama kamu."
Makin dibuat bingung Inta oleh sikap majikannya. Baru kali ini ada majikan baru satu hari tapi sudah berasa dekat terlebih meminta maaf padahal majikan tak berbuat salah.
"Aduh. Minta maaf kenapa Bu."
"Maaf karena kemarin aku sempat merasa tak nyaman dengan pakaian mu dan timbul kekhawatiran sehingga aku sempat berpikiran negatif tentang kamu karena pakaian mu."
Intan membenarkan posisi gendongan nya. Karena Ammar berada dalam pelukan baby sitter bayi kembar Bram dan Ayra itu.
"O.... ah ibu saya minta maaf harusnya. Lah saya bingung. Dari perusahaan harus pakai baju itu. Tetapi kemarin saya itu malah dibuat ga pede sama pakaian saya Bu. Malu sama ibu dan keluarga. Semalam saya sampai tidak tidur. Makanya pagi ini saya pakai seragam yang celana. Biasanya di tempat yang dulu itu majikan malah suruh pakai rok Bu. Terus ni bapak-bapak nya tu-"
"Sudah-sudah jangan diteruskan. Alhamdulilah kalau kamu tidak nyaman. Nanti aku akan berbicara pada mas Bram. Agar kamu bisa dibuatkan seragam yang memang nyaman kamu pakai kalau kamu tidak nyaman dengan seragam yang sekarang dari perusahaan."
"Apa Bu? Saya tidak salah dengar?"
"Iya tidak salah dengar. Ayo bantu saya mandikan Ammar dan Qiya."
"Alhamdulilah.... Saya teh senang sekali Ibu baik betul orangnya. Siap Bu."
Intan bernyanyi ceria sambil berjalan ke arah kamar mandi untuk menyiapkan air untuk memandikan bayi kembar Ayra.
Ayra masih memeluk Qiya.
__ADS_1
"Sungguh pandai hati ini menilai seseorang hanya dari penampilan tanpa tahu isi hatinya. Sungguh setiap hari diri ini berbuat dosa walau hanya dalam hati. Ah Umi.... Sulit sekali rasanya menjaga hati ini."
Tanpa terasa saat tangannya masih mengusap punggung Ammar yang masih dalam gendongannya. Air mata istri Bramantyo itu telah jatuh dari sudut matanya.