
Ayra tiba di kediaman Umi Laila. Ia melihat sepanjang jalan menuju ponpes banyak karangan bunga. Tiba di depan rumah pun terlihat ada beberapa santri dewasa yang sibuk merapikan kursi untuk acara nanti sore.
Saat Ayra memasuki rumah. Umi Laila menyambutnya.
"Assalamu'alaikum Mi."
"Wa'alaikumussallam. Ayo duduk dulu."
Alya,Mida, Rahmi dan Siti juga ikut menyambut adik mereka yang baru pulang dari rumah sakit. Alya yang berprofesi sebagai perawat memegang tangan Ayra.
"Bagaimana kata dokter? Janinnya sehat?"
"Alhamdulilah sehat kak. Mohon doanya agar lancar sampai proses bersalin."
"Insyaallah kakak selalu mendoakan. Istirahat yang cukup, pola makannya di atur sama jangan terlalu stress. Ibu hamil harus selalu bahagia."
"Bagaimana bisa bahagia disaat seperti ini Kak."
"Ayra... " Umi Laila mengangkat jari telunjuknya. Kemudian ibu dari lima orang anak itu meneruskan kalimatnya.
"Kita semua menyayangi Abi. Tetapi jangan lupa bahwa semua yang ada dalam hidup kita termasuk Abi adalah titipan dari Allah. Maka jika Allah sebagai pemiliknya, mengambil dan mewafatkan Abi. Maka kita wajib bersabar. Sungguh hanya Allah sang pemilik yang hakiki.
Ayra pun termenung mencerna kembali makna dari kalimat 'Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un'. Dengan suara lirih Ayra pun mengucapkan makna satu kalimat yang sering diucapkan kala musibah hadir pada orang di sekitar kita.
"'Inna lillah' artinya ridha dan menerima segala ketentuan Allah dan tidak protes dan menentangnya. 'Wa Inna ilaihi raji’un'. Artinya kita semua pada akhirnya akan memperoleh balasan dari Allah ta’ala. Semoga Abi mendapatkan kemuliaan di sisi Allah."
"Aamiin."
Suara kompak dari lima perempuan yang begitu hebat di keluarga Kyai Rohim. Bagaimana Kyai Rohim tidak merasakan kebahagiaan, disaat ia sudah tak lagi ada di dunia. Ia memiliki anak-anak dan istri yang hebat. Ada Alya yang merupakan putri ke dua kyai Rohim,ia juga penghafal Qur'an dan bekerja sebagai sebagai perawat di salah satu rumah sakit yang berada di Semarang.
Putri ke tiganya bernama Mida. Ia menikah dengan dengan seorang tukang bakso saat itu. Hanya karena Abang tukang bakso itu rajin shalat dan sedekah sembunyi-sembunyi. Mida menerima lamaran si Abang tukang bakso itu. Sungguh hampir semua anak-anak Kyai Rohim memilih pasangan hidupnya bukan karena harta dan kecantikan atau ketampanan paras wajah. Mereka memilih akhlak dari orang tersebut.
Tak ubahnya Ayra, ia yang mengikuti apa yang menjadi keputusan Kyai Rohim untuk menikah dengan Amir lalu berganti menjadi Bram. Hal itu ia terima juga karena bukan karena harta dan ketampanan. Melainkan takdir mereka untuk bersama. Seperti di awal Kyai Rohim mengatakan bahwa Bram lelaki yang baik. Hanya saja ia butuh pendamping yang mampu membimbingnya untuk menjalankan syariat Allah.
Putri keempat Kyai Rohim yang bernama Rahmi, ia pun menerima suaminya sekarang karena akhlak sang lelaki. Saat itu Rahmi yang mengantarkan Umi Laila ke sebuah pengajian di sebuah majelis taklim ibu-ibu melihat seorang pemuda yang membonceng ibunya dengan sepeda motor. Dan pemuda itu mengantar sang ibu kedalam masjid. Setelah itu sang pemuda terlihat merapikan sandal di depan masjid. Hampir ratusan sandal jamaah pengajian itu ia tata. Lalu ia akan membersihkan masjid itu.
Ternyata ia adalah satu-satunya anak ibu itu yang belum menikah. Ia tidak kuliah, padahal lelaki itu adalah pemuda yang cerdas. Hal itu karena ia merawat ibunya sambil membuka usaha laundry dirumah. Yang membuat Rahmi jatuh hati. Pemuda itu setiap pengajian melakukan hal yang sama. Hingga pada satu kesempatan sang ibu minta di Carikan jodoh untuk putranya dan Umi Laila yang dekat dengan anak-anaknya sering mendapati jika putri terakhir yang ia lahirkan itu menaruh hati pada pemuda itu.
__ADS_1
Begitulah indahnya cara anak-anak Umi Laila dan Kyai Rohim dalam memilih seorang teman hidup untuk membina rumah tangga. Mereka ingin beribadah bersama mereka yang berakhlak. Sungguh suatu niat yang di awali karena niat untuk beribadah dan memiliki akhlak yang baik di tambah ilmu, maka itu adalah modal yang kuat untuk menjalani biduk rumah tangga yang akan banyak masalah di dalamnya. Banyak tantangan yang harus di hadapi.
Tantangan bukan hanya ekonomi melainkan hati, pikiran. Masalah pun tak datang dari dalam diri sendiri melainkan juga dari pihak luar seperti rumah tangga Ayra dan Bram. Andai ia menyerah saat pertama ia melihat keburukan Bram di masalalu yang ber cum Bu dengan She la. Maka ia mungkin tak akan sebahagia saat ini.
Siapa yang tak iri pada sosok Ayra. Perempuan cantik, cerdas, rendah hati memiliki suami tampan, kaya raya dan sangat menyayangi dirinya. Semua itu ia dapatkan bukan tanpa perjuangan. Ia yang di didik oleh Kyai Rohim dan Umi Laila, tetapi juga berusaha memiliki pesona dari dalam hatinya.
Karena Pesona nya itu, Bramantyo Pradipta yang tak menjalankan syariat, kini begitu khawatir jika ia belum memenuhi panggilan setiap adzan berkumandang. Rani yang dahulu begitu nyaman dengan pakaian serba terbukanya saat mengenal Ayra, pesona Ayra yang menyayangi bukan menyakiti membuat istri Bambang itu malu sendiri setiap berasa di dekat Ayra tanpa Ayra meminta apalagi memaksa Rani menggunakan Jilbab. Ia sekarang hampir tak pernah menggunakan baju berlengan pendek. Walau ia belum menutupi kepalanya dengan hijab. Adik ipar Ayra itu sudah bukan Rani yang dulu.
Bahkan pesona Ayra pun sampai kedalam Mikel Group. Saat ia berkunjung ke perusahaan suaminya, ia melihat Bertha bekerja di tanggal 26 Desember, Bertha adalah resepsionis di loby MIKEL Group itu. Sehingga istri Bramantyo itu protes pada Bram. Ia yang memiliki pemahaman tentang keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, merasakan jika tak adil bagi karyawan yang non muslim libur hanya satu hari.
Sedangkan ketika hari raya idul Fitri itu bisa sampai 6 hari liburnya. Semenjak saat itu Non Muslim yang bekerja di perusahaan MIKEL Group itu bisa menikmati libur cukup panjang di saat hari raya mereka. Begitu pun perihal THR. Mereka yang biasanya akan mendapatkan ketika hari raya Idul Fitri, Mereka mendapatkan THR mereka, sesuai dengan hari raya mereka.
Sungguh keindahan akhlak Ayra mampu memberikan ketenangan bagi siapa saja berada di dekatnya. Bahkan saat malam hari setelah para tamu pulang dan Ayra ingin istirahat, Istri Bramantyo itu masih dengan tubuhnya yang sedikit lemah menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya. Bram yang baru masuk ke kamar cepat memeluk istrinya dari belakang.
"Istriku Ini apakah robot atau manusia?"
Ayra menoleh ke arah pipi Bram dan ia tempelkan hidung mancungnya hingga ia gesekkan beberapa kali pada pipi suaminya itu. Bram tertawa karena tingkah istrinya itu.
"Memangnya ada robot yang bisa melahirkan bayi kembar?"
"Hehehe... Kamu baru keluar pagi tadi dari rumah sakit. Aku bisa melayani diriku sendiri Ay."
"Yakin bisa melayani sendiri?"
"Ayra.... jangan buat atmosfer di ruangan ini menjadi panas."
"Hehehe...."
Ayra menyandarkan kepalanya di dada Suaminya.
"Ayra minta maaf ya mas jika belum bisa menjadi istri yang baik untuk mas."
"Kamu adalah istri Sholehah Ay. Kamu membuat mas menjadi sempurna tanpa kamu meminta kesempurnaan dari mas."
."Mas senang menikah dengan Ayra?"
"Mas senang. Senang Menikah."
__ADS_1
"Mas....."
Ayra mendelik karena kalimat Bram sengaja di diplintir maknanya.
"Cup"
Bram mendaratkan satu kecupan di bibir istrinya.
"Hahaha... Kamu membuat mas iri dengan lelaki yang sulit masuk neraka Ay."
"Mas bicara apa sih Mas...." Ayra makin mendelik ke arah Bram.
"Ada Ulama yang bilang klo istrinya ngomelan dan cerewet itu bakal susah masuk neraka kalau suaminya bersabar. Lah mas tidak pernah kamu omelin... Hehehe...."
Ayra memeluk erat suaminya.
"Kamu mau jadi wali mas... Ada banyak jalan menuju surga suami ku. Jika ada suami yang punya istri suka ngomel ia bersabar maka seng suami termasuk beruntung karena tak perlu repot mencari pahala. Cukup diam mendengarkan Omelan istrinya maka pahala sudah ia dapatkan. Nah untuk suami yang tak punya istri suka ngomel, mas bisa masuk surga dengan membahagiakan istri mas dengan menjalankan tanggungjawab mas sebagai suami."
Jari-jari Ayra yang bergerak di punggung suaminya membuat Bram menghela pelan.
"Kamu baru pulang Ayra sayang.... "
Bram cepat mengangkat tubuh istrinya dan ia pindahkan diatas kasur. Bram menatap wajah Ayra. Ia rapikan rambut yang berada di pipi Ayra. Ia memegang kedua pipi istrinya dengan dua telapak tangannya.
"Ayra sayang, mas tahu apa yang kamu pikirkan. Mas memang terlihat sedih, lelah? Kamu selalu memberikan aku ketenangan disaat aku lelah Ay, istirahatlah. Mas tak ingin kamu semakin lemah karena besok pasti masih banyak tamu. Dan ada tamu spesial yang tadi pagi mencari mu. Besok ia akan kemari lagi katanya."
Ayra penasaran, namun saat akan bertanya bibirnya di tutup jari tangan Bram.
"Sssstt... sekarang istri ku yang cantik ini. Istirahatlah. Mas mau keluar dulu menemani kang Furqon, diluar masih banyak tamu. Kata Almarhum Abi Banyak ilmunya kalau sudah duduk sama ulama-ulama atau orang berilmu. Walau cuma ngopi. Hehe..."
Bram menaikan selimut ke tubuh istrinya. Ayra menarik tangan suaminya. Bram pun menoleh, kedua tangan yang istrinya julurkan tanda meminta di peluk atau di gendong.
"Ayra mau wudhu dulu. Maukah suami Ayra ini menggendong istrinya yang cantik ini sampai ke kamar mandi?
Bram tersenyum dan menuruti Kemauan istrinya. Ayra yang terbiasa menjaga wudhu. Seraya menggendong istrinya, Bram bermonolog dalam hatinya.
"Kamu selalu mengutamakan aku Ay. Cinta mu pada ku membuat aku justru tak ingin menyakiti mu. Mas hanya ingin kamu menjadi bidadari surga mas."
__ADS_1
Ayra yang merasa jika hampir satu Minggu sang suami tak meminta haknya sebagai suami. Belum lagi dari wajah Bram, terlihat jika suaminya begitu lelah dan penat. Niat hati ingin membahagiakan suami, namun sang suami justru semakin cinta karena melihat ketulusan sang istri. Ia justru meminta Ayra istirahat.
Sungguh Ayra adalah istri yang selalu khawatir jika semua kebutuhan suaminya tak terpenuhi karena ia lalai. Dimana dalam keadaan lemah pun, sang istri masih dengan senang hati ingin melayani sang suami. Hati lelaki mana yang akan berpaling ketika semua ketenangan ia dapatkan dari sang istri. Itulah cinta Bram dan Ayra. Cinta dengan niat beribadah, sehingga hubungan itu terikat erat dengan sendirinya karena adanya ketulusan dan saling memahami satu sama lain.