
Hampir setengah jam mobil pak Erlangga terjebak diantar macetnya evakuasi truk yang terguling. Namun saat melintasi sebuah warung yang ikut menjadi korban karena terkena kepala truk hingga bagian depan warung yang terbuat dari papan itu terlihat hancur.
Seorang ibu sedang menangis tersedu-sedu dengan seorang anak dalam pelukannya. Ia meminta diantar kerumah sakit. Menanti ambulans yang tak kunjung datang. Saat mobil pak Erlangga melewati perempuan itu. Ayra meminta Bambang berhenti.
"Bams, berhenti lah. Kita antar kan ibu itu kerumah sakit lebih dahulu. Kasihan Dia kenapa tak ada yang mau mengantarkan ibu itu."
Bambang tak menggubris ia masih mengemudi mobil dengan pelan.
"Bams. Pa."
Suara Ayra terdengar lirih karena sisa tangis dan mata sembab nya pun masih terlihat jelas.
"Ay, kalau kenapa-kenapa dengan anak itu di mobil kita jadi ikut repot."
"Astaghfirullah.... Bams. Bayangkan jika perempuan itu Rani dan anak yang ada didalam gendongannya itu adalah Raka?"
"Tapi Ay jika anak itu meninggal dalam mobil kita. Kita akan mendapat sial. Belum lagi kita akan repot berurusan dengan pihak kepolisian untuk mengikuti prosedur sebagai saksi."
"Astaghfirullah. Inikah penyebab kenapa banyak mobil, banyak orang tapi tak mau membantu ibu itu untuk ke rumah sakit. Bagaimana jika ambulans datang tapi anaknya tak lagi dapat diselamatkan.... "
Suara Ayra terdengar sengau karena hidung nya yang tersumbat akibat terlalu banyak menangis.
"Betul Ay, biarkan sebentar lagi pasti ambulan datang."
Pak Erlangga menenangkan Ayra dengan sedikit membalikkan tubuhnya ke arah belakang.
"Takut dimintai kesaksian oleh polisi dan urusan dengan polisi itu karena akan menganggu aktivitas dan kesibukan kita. Lalu bagaimana dengan urusan dengan Allah pa?
Tidakkah kita takut jika Allah meminta pertanggungjawaban ketika seharusnya mereka saat kecelakaan bisa diselamatkan asal cepat sampai ke rumah sakit tetapi karena kita yang tak berempati akhirnya mereka meregang nyawa?
As-Syaukani dalam kitabnya as-Sailul Jarar al-Mutadaffiq ‘alal Hada’iqil Azhar menjelaskan bahwa menolong orang yang nyawanya sedang terancam adalah keharusan atau kewajiban. Selagi tidak membahayakan kita. Kalau papa tak izinkan biar Ayra turun pa. Ayra akan cari kendaraan untuk membantu ibu dan anak itu."
"Jangan Ay.... Jangan. Baiklah, buka pintunya Bams. Cari rumah sakit terdekat."
Bams membuka pintu mobil. Perempuan itu memeluk anaknya dan duduk disebelah Ayra. Ayra menahan darah yang masih mengalir dari kepala anak itu dengan tisu yang ia ambil dari dalam tasnya.
Tak butuh waktu lama. 15 menit saja Bambang telah memarkirkan mobilnya di rumah sakit yang cukup besar dan terlihat beberapa perawat mendekat dan membawa rolling belt dan membawa anak kecil itu ke dalam UGD.
Ibu itu menangis didepan pintu UGD. Ayra memberikan satu botol air mineral pada ibu itu. Dan mencoba menenangkan perempuan yang belum terlalu tua itu. Pak Erlangga memilih duduk tak jauh dari Ayra bersama Bambang.
"Sungguh kepribadian yang sangat lembut."
"Dan Bram sepertinya masih belum bisa melihat pesona kakak ipar kecil ku itu pa"
Pak Erlangga menangkap sosok yang ia kenal. Cepat ia susul lelaki yang sedang membawa paper bag itu sedikit tergesa-gesa.
"Rafi!"
"Pak Erlangga. Bagaimana anda tahu saya dirumah sakit ini.?"
__ADS_1
"Jadi Bram dirawat disini."
"Iya."
Namun suara seorang perempuan membuat Pak Erlangga dan Rafi kaget.
"Mas Bram dirawat pa? Bukankah kamu bilang sore tadi bahwa mas Bram baik-baik saja Rafi?"
Ayra mendekati kedua lelaki beda usia itu.
"Ma-Af Bu. Tuan Bram yang meminta untuk dirahasiakan dari keluarga."
"Pa. Ayra ingin menemui mas Bram pa."
Suara parau dari menantunya itu kembali membuat pak Erlangga harus membuang napas nya kasar.
"Ayo antar kan kami ke ruangan Bram."
"I-Bu kenapa bajunya penuh darah?"
"Cepat Rafi antar kan kami keruangan mas Bram."
Ayra tak menjawab namun meminta Rafi untuk segera mengantar mereka ke kamar tempat Bram di rawat. Tiba di sebuah kamar yang terdapat satu polisi yang berpostur tinggi. Ayra cepat masuk ke dalam ruangan itu mengikuti Rafi.
Bram yang masih tersisa air matanya cepat mengelap kedua air matanya itu dengan ibu jarinya.
"Astaghfirullah.... Apa yang terjadi mas."
Ia mendekat ke Bram. Baru saja Ia akan memegang dahi Bram yang terdapat luka jahitan serta sudut bibir sang suami terlihat bengkak. Namun tangan suaminya itu menahan.
"Apa yang terjadi pada mu?"
Kedua netra Bram membesar karena ia melihat baju dan jilbab Ayra yang penuh darah. Darah yang berasal dari ibu dan anak yang ia tolong tadi. Ia harus membantu ibu tadi agar darah tak terus mengalir. Hingga jilbab dan bajunya terlihat banyak bercak-bercak darah.
Ayra cepat mundur beberapa langkah karena ia sadar jika saat ini penampilan nya tak memberikan kenyamanan baik secara penampilan maupun aroma tubuh yang tak wangi. Ia tahu sekarang ia sedang dalam keadaan yang tak menyenangkan bagi suaminya.
"Tadi ada korban kecelakaan. Kami membawa nya ke rumah sakit ini Bram."
Baru saja ingin memarahi anak buah nya karena Bram berpikir jika Rafi memberi tahu keluarganya.
"Kamu tidak apa-apa Bram?"
"Apa yang yang terjadi Bram apa polisi itu menghajar mu?"
Bram malas menjawab pertanyaan itu. Matanya masih menyorot istri nya yang baru beberapa saat lalu ia lihat sedang menangis tersedu-sedu.
"Tuan Bram di keroyok oleh tahanan yang sudah beberapa hari disana. Kasus narkoba dan perampokan."
"Gila. Mereka memberikan kamu teman sekamar kasus seperti ini. Kurang ajar."
__ADS_1
"Sudah lah Bams. Mas Bram harus beristirahat."
"Maaf Tuan sebelumnya saya tidak bisa menemani Tuan soalnya ada beberapa pekerjaan yang harus saya kerjakan di kantor dan saya harus pulang karena orang tua saya tiba-tiba berkunjung ke apartemen."
"Bukankah tadi kau bilang akan menunggu ku disini?"
"Biar aku yang menemani mu mas. Aku akan bermalam disini."
Bram yang menatap tajam Rafi melirik Ayra. Entah kenapa bibirnya tak ingin mengeluarkan kata-kata tajam seperti biasanya.
"Biar Bams saja. Kamu pulang lah. Baju mu penuh dengan darah. Dan baunya sangat amis."
"Istirahat lah Ay. Kamu pasti lelah. Mata mu begitu sembab."
"Bams tidak bisa. Kasihan Rani, Raka sudah satu harian ini di tinggal. Papa juga harus menemani mama mu Bram."
"Iya Betul Bram."
Bambang menimpali cepat.
"Mama tak mungkin harus sendirian. Helena tak bisa menginap karena ada pasien di klinik nya butuh penanganan. Biar papa telpon orang rumah untuk mengantar pakaian buat Ayra"
Pak Erlangga mendekat ke arah anak laki-laki nya.
"Papa terpaksa berbohong demi kebahagiaan mu jika bisa mencintai Ayra, Bram. Papa harap musibah bertubi-tubi ini mampu meruntuhkan kesombongan mu."
"Papa pasti punya ide itu agar mereka punya waktu berdua. Mungkin si freezer itu akan sedikit mencair."
"Kalian kompak sekali pa. Aku tahu kalian sedang berusaha agar aku punya waktu berdua. Baiklah Ayra, Ayo kita coba hubungan ini dari awal."
"Terserah kalian saja lah."
Bram membuang pandangan nya pada layar televisi yang menyala.
"Tapi tunggu sebentar pa. Ayra mau membersihkan jilbab dan baju biar hilang bau amisnya."
"Baiklah Ay. Pergilah, papa akan segera menghubungi orang rumah"
Rafi pun pamit segera karena ia tidak ingin menerima tatapan tajam dan amarah bosnya karena tiba-tiba mengatakan ada pekerjaan yang ia buat. Kepergian Ayra membuat Bambang dan pak Erlangga pun menceritakan jika Ayra baru saja menemui Shela.
Bambang pun menunjukkan video kita Ayra menampar Shela.
"Papa harap kamu mencoba untuk membuka hati mu untuk Ayra, Ia perempuan yang susah ditemui zaman seperti ini Bram."
"Iya brother. Kau tahu Perempuan yang menangis hanya karena menampar. Lah yang berzina aja masih pengen rebut laki orang. Pikir baik-baik, karena perempuan tipe seperti Ayra ketika telah menjadi milik orang lain maka Ia akan setia.
Jangan sampai kamu seperti tokoh layangan putus. Dan Ayra jadi Kinan nya karena ada dokter yang sudah lama menaruh hati pada mantan istri bakal sakit bro klo cinta itu datang pas diwaktu yang udah terlambat."
Bram menjawab Bambang dengan ketus dan memejamkan kedua bola matanya. Ia tak menampik apa yang dikatakan oleh dua orang yang cukup berarti dalam hidupnya.
__ADS_1
"Diamlah!. Kepala ku pusing. Aku mau Istirahat.!"
"Apa aku pantas untuk mu. Ay..... "