Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
190 Obrolan Bermakna dari Ayra dan Bram


__ADS_3

Ayra telah siap dengan kebayanya yang couple batik dengan bram. Ayra mengenakan kebaya navy blue dengan aksen payet yang menambah kemewahannya dilengkapi hijab segi empat yang dikenakan istri Bramantyo terlihat sangat cantik walau perutnya sedikit membuncit.


Bram juga mengenakan batik berwarna senada dengan istrinya yang bermotif burung Garuda. Pagi itu ia meminta Rafi mengantarkan ia dan istrinya ke gedung tempat akan dilaksanakan wisudah sang istri. Walau sebenarnya ia adalah tamu undangan di acara tersebut karena Bram merupakan pimpinan dari perusahaan yang telah memberikan beasiswa kepada kampus tempat Ayra menyelesaikan pendidikan S2 nya.


Saat akan berangkat Rafi harus menerima sebuah telpon yang tak lain dari Bu Lina. Ia memberitahu jika Lilis dan kedua adiknya harus segera diurus surat pindah sekolahnya. Ibu Lina berharap tiga orang adiknya Aisha bisa ikut bersama Rafi. Namun Rafi meminta ibu nya itu bersabar karena ia harus membahas masalah itu pada Aisha. Sepulang dari acara Wisudah Ayra.


"Siapa yang telpon?"


"Ibu. Nanti pulang dari acara ini kita ke panti ya."


Aisha mengangguk pelan. Bram yang dari tadi menunggu Rafi menerima telpon cepat memanggil asistennya dari dalam mobil.


"Rafi, Kalian bisa mengobrol di dalam saja. Aku dan Ayra akan memakai headset. Karena aku tidak mau istriku terlambat datang di acara penting baginya hanya karena kalian masih sibuk berdua."


"Mas."


Ayra menarik suaminya. Rafi dan Aisha yang berhasil di buat merah wajahnya cepat masuk kedalam mobil. Saat diperjalanan Aisha dan Rafi terlihat tegang sekali. Bram melihat sepasang suami istri itu seperti orang belum kenal. Hingga ia berbicara pada sang istri namun niatnya untuk memecah kebisuan duo asisten tersebut.


"Ay. Apa itu sakinah mawadah warahmah?"


Alis yang Bram turun naikkan alisnya dan ia arahkan ke arah sepasang pengantin baru di depan mereka yang terlihat tegang dan kaku. Membuat sang istri paham saat tiba di lampu merah. Ayra paham maksud suaminya.


"Sakinah itu adalah ketenangan mas. Ketenangan yang suami dapatkan saat pulang Bertemu istrinya. Hingga ia merasa rumah adalah tempat yang paling bisa memberikan dia ketenangan. Dan itu bisa di mulai dari ketaatan suami istri itu pada Allah. Karena sebenarnya ketenangan itu hasil dari ketaatan sepasang suami istri itu pada Allah."


Rafi yang pandangan nya tertuju pada jalan yang didepan namun fokus mendengarkan setiap kalimat yang Ayra ucapkan.


"Berarti kalau mau bahagia hidup sama Aisha aku harus rajin ibadah sepeti shalat ya. Aduh... satu masalah lagi Fi. Kamu yang malas shalat ini harus bagaimana caranya rajin. Kasihan juga Aisha kalau setiap waktu shalat harus pakai acara debat panjang dulu biar aku mau shalat."


Rafi yang memang jarang melakukan ibadah shalat lima waktu mau tidak mau setelah menikah dengan Aisha harus menyesuaikan dengan kegiatan keluarga Aisha. Walau Aisha bukan lulusan pondok namun didikan ibunya mampu membuat keempat anak perempuan nya itu terbiasa shalat. Walau yang sedikit malas seperti dirinya yaitu si bontot. Karen usianya masih dibawah 15 tahun.


Rafi teringat jika setiap magrib dan shalat isya lebih memilih ke masjid daripada shalat dirumah karena ia malu jika harus menjadi imam ketika shalat. Namun akan berbeda ketika Shubuh. Ia yang sulit dibangunkan untuk shalat akan shalat di kamar mereka. Sedangkan bacaan shalat nya saja ia hanya mengulang-ulang surat pendek yang ia hapal.


Ia justru banyak belajar dari istrinya. Walau cara sang istri memberikan ilmu bab bersuci dan shalat tak semanis dan selembut cara Ayra pada Bram namun Rafi mampu menuruti setiap kemauan istrinya. Sejauh ini Aisha memang akan mengomel untuk bab ketika shalat. Untuk hal lainnya istri Rafi itu masih bisa bersikap sedikit manis.


Bram dan Ayra melihat sepasang suami istri itu saling lirik. Membuat istri Bram itu tersenyum dan menggenggam tangan suaminya


"Lalu Mawadah artinya apa Ay?"


"Kalau menurut Ayra ya mas. Mawadah itu adalah Rindu. Sebuah rindu bisa dihasilkan dari sebuah interaksi dari sepasang suami istri tersebut. Contoh adanya waktu dalam satu hari atau selama dua puluh empat jam itu untuk berdua. Dalam artian berbicara, atau mengobrol. Mas tahu kadang ada penyebab rasa Mawadah itu hilang dari hati salah satu pasangan seiring waktu?"

__ADS_1


"Apa penyebabnya?"


"Jika ada rasa cinta yang hilang atau berkurang dari hati kita untuk pasangan kita bukan pasangan kita yang tak lagi menarik, bukan pasangan kita yang tak lagi tampan, tak lagi menarik melainkan karena kita sering memandang yang bukan milik kita. Sehingga pasangan yang merupakan milik kita menjadi tak menarik di mata kita."


"Berarti sekalipun istri mas ini berubah jadi seperti dulu, rasa rasa cinta itu tak akan hilang jika mas tak memandang perempuan cantik dan seksi lainnya?"


"Betul. Jaga hati, jaga mata agar tak memandang sesuatu yang malah membuat kita berpaling dari apa yang kita miliki."


"Lalu Rahmah?"


"Rahmah itu belas kasih atau simpati mas. Contoh jika suami sedang pulang kerja. Maka pasti ada rasa penat di yang ia bawa pulang, datangnya istri dengan senyum dan membawakan tasnya atau memijatnya akan membuat mawadah hadir. Begitupun suami mungkin istri sudah seharian sibuk dirumah atau lagi sibuk di dapur. Karena kasihan membantu sang istri hanya sekedar mungkin menyusun piring yang istri cuci di tempatnya bisa membuat sang istri merasa senang."


"Tapi kan perempuan berbeda-beda Ay?"


Bram yang sebenarnya sudah mempelajari bab Sakinah mawadah warahmah tersebut di dalam sebuah majelis rutinan setiap Minggu yang diisi oleh Furqon namun ia ingin dua asisten nya ikut bisa belajar bersama dan menjadi satu keluarga yang sering orang-orang sebut dengan Sakina mawadah warahmah.


"Mas betul karena perempuan itu ada beberapa tipe. Diantaranya ada tiga tipe. Yang pertama perempuan yang senang diperhatikan. Contoh dia akan senang jika hampir satu hari suaminya Suka nelpon atau mengirim kabar sekedsr mengirim pesan lagi apa. Atau Seperti diberikan kejutan. Yang Kedua senang dengan kebersamaan, mereka yang ini lebih senang menghabiskan waktu bersama namun saat suami lagi bekerja atau diluar rumah maka mereka tidak terlalu pusing. Dan yang ketiga perempuan yang senang hadiah. Maka suami harus tahu istrinya itu masuk tipe yang mana?"


"Kalau mas sudah tahu kamu tipe yang mana. Tapi kira-kira Rafi tahu ga Fi Aisha itu tipe yang nomor berapa?"


"Ketiga-tiganya pak."


Seketika Bram tertawa lepas.


Sebuah pernikahan jika tidak bahagia maka bisa dipastikan jika salah satu dari pasangan tersebut tidak menjalankan kewajibannya. Suatu yang sebenarnya sangat gamblang dan bisa kita lihat di fenomena kehidupan dunia nyata.


Saat tiba di gedung tempat Ayra wisudah. Bram meminta Aisha dan Ayra lebih dulu masuk. Ia ingin ke kemar mandi diikuti Rafi. Rafi yang ternyata juga ingin ke toilet. Saat tiba di toilet ternyata didepan telah terdapat banyak orang yang antri. Maka Bram juga ikut antri. Bram membisikkan sesuatu kepada Rafi.


"Kamu masih suka buang air kecil sambil berdiri?"


Rafi melotot, Bram memang sedikit berbisik namun ia kaget dengan pertanyaan bosnya.


"Saran ku mulai sekarang kamu kalau buang air kecil. Usahakan jongkok, posisi jongkok kaki kanan berada sedikit di depan. Alasannya supaya buang air bisa sampai tuntas dan tubuh terhindar dari najis. Caranya tangan kiri memegang ke ma luan, setelah selesai tetesan terakhir berdehem 3 kali. Dan mengurut ke ma luan dari pangkal hingga ujung 3 kali. Agar keluar semua kotoran dari tubuh yang tersisa diujung ke ma luan. Baru dibersihkan."


"Pakai apa pak?


"Menggunakan benda seperti batu, kayu, kertas atau tisu yang intinya benda itu bisa menyerap cairan yang kotor. Bisa juga menggunakan air."


"Kenapa harus jongkok si Pak? Lebih enak berdiri. Ga harus buka sabuk."

__ADS_1


Bram menepuk kepala asistennya.


"Apa-apa mau praktis. Mendaki kalau langsung tanpa pemanasan enak tidak?"


"Ga tahu belum coba." So-"


Belum selesai Rafi menyelesaikan kalimatnya ia mendapat satu pukulan.


"Plaaak."


Satu pukulan mendarat di punggung Rafi. Bram tidak habis pikir bahwa asistennya masih terlalu polos.


"Kamu ini. Jangan bicara sama siapapun perihal kegiatan mu bersama istri mu itu. Cukup kamu dan istri mu yang tahun Kecuali kalau mau berobat terkait ada keluhan."


"Terus kenapa harus jongkok emang ada manfaatnya pak?"


"Yang aku belajar kemarin hukumnya Sunnah memang tapi hikmahnya yang luar biasa di antaranya adalah dengan buang air kecil posisi jongkok dapat mencegah percikan air kencing mengenai mata kaki, pakaian, atau bagian-bagian dalam kamar mandi.


Kedua, memaksimalkan penekanan otot-otot perut terhadap usus dan kandung kemih. Buang air dengan jongkok bisa menjadi solusi dari penyakit susah buang air besar.


Ketiga, aurat lebih tertutup dan sesuai dengan adab serta kesopanan. Dan dalam penuntasan sisa kencing cukup dilakukan dengan gerakan sederhana dan tidak membutuhkan waktu yang lama. Setelah tetes kencing terakhir, penuntasan sisa kencing cukup dengan melakukan penekanan ringan terhadap ke ma lu an kita sebanyak tiga kali, kemudian disiram dengan air."


"Waduh. Saya selama ini tidak pernah saya siram itu malah senjata. Pak. Saya pernah baca itu katanya ga apa-apa."


Bram kali ini menepuk dahinya.


"Lah kamu berarti Bawak najis Bro kalau ga dibasuh. Itu senjata kadang diujung nya masih ada sisa apalagi klo kita ga tuntas. Maka penting berdehem. Betul ternyata kata Ayra, kalau sudah masalah ilmu agama harus belajar melalui satu wadah, guru atau majelis yang jelas sanadnya. kalau sudah bab Agama ga bisa berdasarkan google. Karena akan membingungkan."


Bram yang tahu kebiasaan sang asisten yang selalu mengandalkan Mbah Google. Hingga akhirnya Bram mengajak Rafi agar ikut majelis taklim yang diisi oleh Furqon satu Minggu sekali di salah satu pengajian. Maka Rafi setuju, ia sadar saat ini ia telah menikah. Ia pun sangat minim ilmu agama. Tidak ada kata terlambat, semangat ingin terus belajar ia lihat pada istrinya. Aisha itu kadang sambil duduk atau masak dia mendengarkan ceramah atau yang disampaikan ustad-ustad atau kyai-kyai yang ia telah minta penjelasan Ayra apakah jelas sanad beliau yang hanya bisa diikuti pengajiannya lewat streaming itu.


Rafi yang sambil berjalan membuka layar ponselnya menggaruk-garuk kepalanya.


"Bos. Ini Ahlussunah wal Jama'ah nya banyaknya sekali dan berbeda artinya."


"Rafiiiii... Kan sudah saya bilang jangan di google. Aduh kamu ini."


Bram mengelus rambutnya yang telah disisir rapi. Lalu ia mencoba menjelaskan pada asistennya itu Ahlussunah wal Jama'ah yang mana. Karena memang banyak sekali sekarang yang mengaku Ahlussunnah wal Jama'ah.


"Ini Menurut Hadratusy Syaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari, Ahlussunnah wal Jama’ah adalah kelompok ahli tafsir, ahli hadis, dan ahli fikih. Merekalah yang mengikuti dan berpegang teguh dengan sunnah Nabi dan sunnah khulafaurrasyidin setelahnya. Dan kelompok tersebut terhimpun dalam madzhab yang empat yaitu madzhab Hanafi, Syafi’i, Maliki, dan Hambali. Jadi pointnya dua itu. Makanya besok ikut aku ngaji. Nanti kalau sudah ngaji kamu baru bisa paham. Oh ini ulama yang sama dengan pemahaman saya. Ga begini, kasihan istri mu kalau kamu ngandalkan Mbah Google. Kamu pikir ada sanad nya Mbah Google."

__ADS_1


Begitulah suasana pagi itu di awal-awal acara penting Ayra menjadi pembicara cukup menarik dan tanpa Rafi sadari pagi itu ia telah mendapatkan beberapa ilmu dari bosnya yang selama ini lebih dulu belajar mengaji pada kakak iparnya.


Layaknya Bram yang mampu membuat asistennya nyaman terhadap dirinya. Maka tanpa sang asistennya sadari ia sedang belajar satu hal yang ia tak pernah dapatkan. Dengan berakhirnya sang asisten mau ikut ke pengajian minggu depan. Maka benar jika ada satu ungkapan bawalah agama mu dalam dirimu maka orang akan melihat seperti apa agamamu tanpa harus membaca kitab suci mu.


__ADS_2