
Hari demi hari bulan berganti bulan. Komunitas Ayra mulai memiliki banyak anggota. Bahkan seorang relawan yang merupakan pengacara juga ikut kedalam komunitas yang Ayra bangun. Kini komunitas Ayra itu menjadi sebuah organisasi yang memiliki pergerakan dalam perlindungan untuk perempuan. Dan tentu saja beberapa orang masih aktif di media sosial untuk terus membagikan hal-hal positif untuk para ibu-ibu.
Media tiktok pun sudah memiliki 10 akun yang di jalankan oleh 10 orang anggota komunitas untuk terus memberikan hiburan sesekali dan juga sebuah ilmu tentang perempuan. Untuk audio room kini hampir setiap aplikasi berbentuk room chat voice itu di miliki oleh anggota komunitas Ayra.
Di mulai dengan mengobrol, lama-lama menjadi nyaman. Sehingga di beberapa aplikasi itu ada satu hari dan waktu yang telah ditentukan untuk belajar bersama tentang fikih perempuan. Bahkan di buku catatan Ayra terdapat hampir 50 orang ibu-ibu yang tidak jadi bercerai dengan suaminya. Hal itu karena terus di berikan support, di dengarkan keluh kesahnya di media chat melalui vya suara itu. Anggota Ayra yang tentu saja belajar dari Ayra bagaiamana menjadi pendengar yang baik untuk para ibu-ibu yang sedang insecure dengan masalah rumah tangganya.
Siang itu Ayra cukup kaget karena beberapa orang partai datang ke kediaman Ayra. Kebetulan Bram yang sedang libur pun menemani istrinya menemui petinggi partai di kota itu. Mereka menyampaikan maksud dan tujuan mereka kesana. Bukan hal yang aneh seorang partai-partai besar mulai kehilangan kader yang memiliki figur yang bisa dicintai rakyat karena. karakter kadernya itu. Sehingga ketika menjelang pemilu, Para petinggi partai itu akan mencari sosok yang bisa menjadi calon bagi mereka untuk maju ke pemilihan.
Ternyata tanpa Ayra sadari, sepak terjang dirinya yang berniat membantu mengurangi beban negara dengan terus berupaya membantu ibu-ibu baik dari komunitas kursus menjahit, komunitas ngobrol bersama, komunitas lindungi perempuan yang ia bangun bersama beberapa temannya itu di amati oleh petinggi partai yang ingin Ayra menjadi calon anggota partai mereka. Mereka ingin meminang Ayra sebagai kader mereka. Sebagai calon wakil walikota di kota yang Ayra.
"Saya tidak bisa memutuskan ini. Saya perlu berbicara dengan suami saya dulu." Jawab Ayra ketika ditanya apakah ia akan menerima tawaran untuk menjadi calon wakil walikota.
Bram pun ikut berkomentar.
"Ya kami harus berdiskusi dulu. Terlebih istri saya tidak pernah terlibat di acara atau kegiatan partai."
selepas kepergian petinggi partai itu. Ayra dan Bram membicarakan hal yang tadi sempat ditanya oleh petinggi partai itu.
"Mas keberatan Ay. Jika ingin mulai karier di dunia politik. Mulai lah dari yang paling dasar minimal wakil rakyat. Bukan kah wakil rakyat itu mempengaruhi peraturan yang dibuat?" Ayra membuka kacamatanya setelah ia membaca kembali surat dari partai yang meminta dirinya hadir di kongres partai tersebut.
"Ayra tidak pernah terpikirkan akan masalah partai. Ayra selama ini melakukan banyak hal bukan untuk mencari simpati atau pencitraan mas. Semua murni niat ingin membantu kaum perempuan."
"Mas setuju. Lebih baik di tolak. Mas khawatir jika kamu hanya digunakan hanya sebagai alat untuk mendulang suara partai mereka." Bram memeluk istrinya yang duduk di kursi.
"Ayra, Masih belum suci mas...."
Bram tertawa mendengar kalimat istrinya itu.
__ADS_1
"Kamu pikir setiap mas memeluk mu, mas ingin mendaki?"
"Kita hampir delapan tahun menikah sayang... suara napas suamiku ini mampu Ayra kenali."
Bram kembali tertawa.
"Baiklah mas mengaku. Mas merindukan kamu sudah satu Minggu ini. Lama sekali Ay. Sepertinya mas sudah puasa selama sepuluh hari."
"Maksimalnya 15 hari sayang....."
"Baiklah aku akan sabar menunggu mu."
Malam itu saat sepasang suami istri itu akan istirahat. Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Ayra. Ayra pun membuat pesan yang ternyata dari Umi Laila. Ibu nya meminta Ayra pergi ke Kali Bening esok hari karena ada sesuatu hal yang akan dibicarakan.
"Mas... Umi meminta Ayra ke Kali Bening besok?"
"Umi tidak bilang sesuatu. Hanya minta Ayra ke sana besok."
"Ya sudah sekalian Mas temani. Anak-anak kita ajak karena kita juga sudah hampir satu bulan tidak berkunjung ke kediaman Umi."
Sudah menjadi kebiasaan suami istri itu menyempatkan diri untuk mengunjungi kedua orang tua mereka. Entah seminggu sekali atau dua Minggu sekali. Karena mereka paham bahwa setiap orang tua akan senang sekali dengan ke hadiran mereka. Maka Ayra dan Bram terbilang jarang healing atau menghabiskan waktu bersama anak-anak mereka ke tempat rekreasi. Mereka lebih sering membawa anak-anak mereka ketika hari libur ke rumah orang tua mereka.
Sungguh tanpa mereka sadari bahwa mereka sedang memperlakukan orang tua mereka dengan baik. Mereka yang berbuat baik pada kedua orang tua mereka membuat anak-anak mereka pun akan berbuat baik kepada mereka.
Mereka akan melakukan rekreasi hanya setengah tahun sekali atau satu tahun sekali.
Keesokan harinya mereka berangkat ke rumah Umi Laila. Ammar dan Qiya sangat senang sekali. Tiba Kali Bening ternyata telah ada Furqon dan Siti. Ayra pun duduk di sebelah Umi Laila.
__ADS_1
Setalah beberapa waktu berbincang. Umi Laila menyampaikan bahwa ada surat dari gurunya Kyai Rohim dari Jawa. Dimana isi Surat itu menyampaikan pada Umi Laila bahwa adanya panggilan untuk alumni atau santri untuk terjun ke dunia politik atau pemerintahan.
"Bagi Umi dan Abhi, Apabila seorang guru telah memerintahkan maka itu sama saja wajib dilakukan."
Laila pun menanggapi surat tersebut.
"Lalu siapa yang dimaksud surat itu Mi?"
Furqon membuka Peci nya.
"Kang Furqon merasa jika kamu adalah sosok yang tepat Ra. Kamu punya jiwa kepemimpinan yang cukup baik. Pengalaman berorganisasi mu insyaallah menjadi bekal untuk terjun ke dunia politik demi membangun daerah."
Umi Laila pun mengusap lengan Ayra.
"Abi mu pernah dawuh Ra. Politik adalah wasilah atau jalan. Politik itu jika dilandasi agama akan baik, dan politik agama jika disokong politik akan kuat. Maka santri tak boleh berpikiran jika terjun ke dunia politik itu adalah dunia yang kotor."
Furqon pun menatap Ayra dengan penuh harapan.
"Politik itu bisa baik, bisa buruk. Tergantung siapa yang memegangnya Ra. Maka Kang Furqon berharap kamu bisa hadir untuk memenuhi panggilan itu, agar terjun ke dunia politik."
Bram pun mengeluarkan pendapatnya.
"Mas setuju Ay, Seperti kalau anggota dewan dipimpin oleh kalangan santri, mas yakin akan mengeluarkan kebijakan yang istilahnya amar makruf nahi munkar."
Ayra terdiam sesaat. Lalu ia menatap Umi Laila.
"Umi... jika memang Mas Bram dan Umi merestui. Ayra akan mencoba. Tetapi Ayra tidak ingin langsung ke tahap atas. Ayra akan mulai merintis dari pemilihan DPR tingkat kota atau kabupaten."
__ADS_1
"Mas mendukung mu Ay. Karena mau tidak mau. Bangsa ini membutuhkan orang seperti dirimu." Bram pun mendekati Ayra dan mengambil Ibrahim dari pelukan sang istri.