Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
36 Siapa Perempuan Itu?


__ADS_3

Rapat telah berakhir. Beberapa investor telah meninggalkan ruang rapat namun satu investor yang terlihat sedikit lebih muda dibandingkan investor lainnya mendekat ke arah Ayra. Lelaki bule itu menyapa Ayra.


"Hello Mrs Ayra. I am happy to meet you."


[Hallo nyonya Ayra. Saya senang dapat berkenalan dengan anda.]


Namun uluran tangan lelaki bule itu tak diterima oleh Ayra. Ayra hanya sedikit menyunggingkan senyum dan menundukkan kepalanya serta dua tangan yang ia tangkupkan di depan dada.


"Hello Mr. I am glad to meet you too."


[Halo, saya pun senang berkenalan dengan anda]


Sepasang mata menatap pria bule itu dengan tatapan tak senang.


"I would like to invite you and your husband to the my party if you please. Incidentally tonight is my birthday. I hopes that you will be able to attend tonight because I have also sent an invitation to the MIKEL group."


[Saya ingin mengundang anda dan suami anda ke pesta ku jika berkenan. Kebetulan nanti malam adalah ulang tahun saya. Saya berharap malam nanti anda bisa hadir karena saya juga telah mengirimkan undangan ke MIKEL group.]


Ayra melihat ke arah Bram. Bram berdiri dan Merapatkan tubuhnya pada sang istri. Lalu CEO MIKEL group itu menjawab Undangan yang diberikan oleh pria bule yang bernama William itu.


"Thank you for the invitation you gave. It was an honor to be at the event."


[Terima kasih atas undangan yang anda berikan. Suatu kehormatan bisa hadir di acara itu.]


Bram menarik pinggang Ayra hingga menempel pada tubuhnya, sang istri yang terlihat cantik dengan pasmina yang menutupi auratnya itu merasakan ketegangan pada tubuhnya.


Ayra menoleh ke arah Bram. Gigi putih dan rapi Bram terpampang di balik tarikan bibirnya. Ia berikan senyum terindah pada istrinya nya itu dan lirikan mata.


Deg.


"Subhanallah, kamu tampan sekali mas. Apa kamu sedang cemburu?"


"I hope to meet a woman like Mrs. Ayra for my visit in my life. Mr. Bram, you deserve to be known as one of the CEO who doesn't like the other woman. It turns out that your taste is very special. You take care of yourself and your heart for a woman who really takes care of herself for her men like Mrs Ayra. Ok, see you tonight Mr and Mrs Bram."


[Saya berharap bisa bertemu satu perempuan seperti nona Ayra untuk saya jadikan pendamping hidup saya. Tuan Bram, Pantas anda dikenal dengan salah satu CEO yang tak suka dengan perempuan. Ternyata selera anda sangat spesial, anda menjaga diri anda dan hati anda untuk perempuan yang sangat menjaga dirinya untuk lelaki nya seperti nona Ayra. Ok. Sampai bertemu di pesta malam ini Tuan dan Nyonya Bram]


William memeluk Bram dan tersenyum serta mengerlingkan matanya ke arah Ayra.


Bram merasa direndahkan oleh William meluapkan kemarahannya pada sang istri yang tak tahu apa-apa dan tak bersalah.


Bram membisikkan sesuatu kepada Ayra.

__ADS_1


"Saya tahu arah pembicaraan dan tujuannya mengundang kita ke pesta nya. Kita lihat nanti malam apa lelaki itu masih bisa mengagumi kamu, ketika kamu tidak bisa berdansa?"


Bram melepaskan pelukannya pada pinggang Ayra. Bambang yang melihat adegan di depannya cepat berceloteh.


"Wow, ada yang terpesona dengan perempuan berkerudung yang katanya tak pantas mendampingi CEO MIKEL ini."


"Diam Kau Bams! Cepat ikut aku, aku masih harus mengurusi perusahaan ku. Dan aku ingin kau kembali ke posisi mu."


"Tunggu!"


Bram berhenti di sebelah Beni.


"Apakah aku betul-betul tidak dianggap di keluarga ini? hingga aku tak diundang di pernikahan mu?"


Beni menatap Bram dengan mendongakkan kepalanya karena tubuh Bram lebih tinggi dari dirinya.


Bram yang sudah jengah jika harus berdebat dengan sang adik yang usianya hanya terpaut 10 bulan itu.


"Apa kau juga tidak ingat jika di hari pernikahan mu, tak ada satu pun anggota keluarga Pradipta yang kau beri tahu!"


Bram mengeluarkan hembusan napas kasar dari lubang hidung nya. Seolah sebuah beban ia keluarkan lewat aliran udara itu.


Beni melirik ke Ayra.


Beni tersenyum mengejek ke arah Ayra lalu melirik ke arah Bram. Rahang Bram mengeras, bibir bawahnya ia gigit, sorot mata nya tajam menatap adik nya itu.


"Buuggh."


"Braaam."


"Awwhhh."


Nyonya Lukis berteriak dan berlari ke arah putranya. Ayra pun cepat berdiri di hadapan suaminya. Ia menatap wajah suaminya yang sedang merah padam.


Beni meringis kesakitan, sudut bibirnya mengeluarkan sedikit darah. Ia menghapus nya dengan ujung ibu jari nya.


"Kau tahu ini pertama kali aku memukul mu dalam hidup ku. Berhenti mengomentari sesuatu yang bukan urusan mu! Urusi saja gosip miring tentang istri mu itu!"


"Mas.... Bersabarlah."


"Aaaa...."

__ADS_1


Bram berteriak dengan satu tangan memegang kepala dan satu tangan lainnya berada di pinggang. Bram pergi meninggalkan ruang rapat itu dengan emosi yang menggebu-gebu. Ingin sekali ia luapkan pada benda yang bisa ia lempar seperti biasanya ketika emosi itu meluap.


"Ay, ikuti Bram. Ia sedang emosi."


Nyonya lukis yang membersihkan darah yang ada di bibir Beni menoleh ke arah Ayra. Ayra setengah berlari mengejar suaminya.


Bram berdiri di depan lift. Ayra berdiri disebelah nya. Pintu lift terbuka, Bram memasuki lift itu Ayra mengikuti suaminya, Ayra berdiri dibelakang Bram. Ketika pintu lift tertutup, Ayra melihat Bram memijat keningnya dan berkali-kali menghembuskan napas dengan kasar lewat hidungnya.


Ayra memeluk tubuh kekar Bram dari belakang. Ia sandarkan kepalanya dipunggung Bram dan tangan kanan ia usapkan di dada kanan suaminya, tangan kirinya ia eratkan pada pinggang suaminya.


"Mas.... "


Bram ingin melepaskan tangan Ayra namun suara manja Ayra membuat jakun Lelaki yang memiliki hobi fitnes itu turun naik. Hingga Bram membiarkan kemauan Ayra dan memejamkan kedua matanya.


"Sebentar saja mas.... Sebentar saja biar begini dulu."


Ayra mengusap lembut dada bidang suaminya dan bermunajat kepada Rabb nya.


"Allaahumma innaka antal aziizul kabiir. Wa anaa abduka adhdhoi fudzdzaliil. Alladzii laa khaula wa laa quwwata illaa bika.


Allaahumma sakhkhir lii Suami ku mas Bramantyo Pradipta bin Bapak Erlangga kama sakhorta fir’auna li muusa.


Wa layyin lii qolbahu kamaa layyan talhadiida li daawuda. Fa innahuu laa yantiqu illaa bi idznika. Nashiyatuhuu fii qobdhatika.


Wa qolbuhuu fii yadika. Jalla tsanau waj hika. yaa arhamar raakhimiin."


[Ya Allah sungguh Engkau yang Maha Mulia lagi Maha Besar. Sedangkan aku hamba-Mu yang sangat hina dina. Tidak ada daya upaya kecuali karena Engkau.


Ya Allah, tundukkan lah suami ku mas Bramantyo Pradipta bin Bapak Erlangga padaku. Sebagaimana Engkau telah menundukkan Fir’aun pada Musa AS.


Dan luluhkan hatinya untuk hambamu ini, sebagaimana Engkau telah meluluhkan besi untuk Daud AS. Karena sesungguhnya dia takkan berbicara kecuali dengan adanya izin-Mu. Ubu-ubunnya dalam genggaman-Mu.


Dan hatinya di tangan-Mu. Pujian wajah-Mu telah Agung, wahai yang lebih sayang dari para penyayang.]


Bram yang merasakan usapan pada dadanya oleh Ayra mulai berlangsung bernapas dengan teratur. Ia memejamkan kedua mata. Sepasang suami istri itu sama-sama memejamkan mata mereka dan tanpa suara. Hingga ponsel yang berada di saku depan jas Bram berbunyi.


"Triiing.... Triiing.... Triiing.... "


Bram mengeluarkan ponsel itu dan mengangkat tanpa melihat layar ponselnya siapa yang menelpon.


"Bram Sayaaaanggg..... Kamu dimana? Aku bawa kabar gembira. Aku dari tadi nungguin kamu di kantor kamu. Kamu kapan kekantor? Atau mau aku jemput?"

__ADS_1


Suara manja terdengar cukup jelas di telinga Ayra yang masih memeluk Bram dari belakang. Suar ponsel yang dalam volume maksimal itu mampu membuat kedua mata Ayra terbuka dan melepaskan pelukannya dari lelaki yang kini memijat pangkal hidungnya itu.


"Suaranya bukan seperti Shela. Siapa lagi perempuan yang ada dihati dan kehidupan mu Mas?"


__ADS_2