Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
91 Perpisahan Yeni dan Ayra


__ADS_3

Pagi ini Ayra telah bersiap dengan blazer hijau tosca. Ia akan menemui dua kepala cabang dari dua kabupaten dan kota berbeda di Provinsi Sumatera Selatan ini.


Saat Ayra telah sarapan, ia melihat Yeni dengan tatapan sendu. Ada rasa sedih menyelimuti hati Ayra. Ia sangat merindukan sahabatnya itu. Namun waktu yang singkat memang tak mampu membuat Ayra melepas rindu pada sahabatnya itu.


Yeni pun merasakan kesedihan yang sama. Ia sangat sedih karena sebentar lagi akan berpisah dengan sahabatnya. Ayra berpamitan kepada Yeni setelah Aisha tiba dengan sopir perusahaan. Aisha telah membukakan pintu mobil saat Ayra keluar dari teras Yeni.


"Ay hubungi aku kalau sudah tiba di Jakarta. Sampaikan salam ku pada Umi Laila. Jangan lupa madu untuk Umi sama kamu juga minum baik untuk pengantin baru. Hehehe.... "


Ayra tersipu malu saat Yeni mengantakan hal itu. Saat Mobil hitam itu meninggalkan rumah Yeni yang baru beberapa puluh meter, Ayra baru ingat jika setelah shalat Shubuh ia meninggalkan tasbihnya. Tasbih itu adalah tasbih ibunya. Ia diberikan oleh Umi Laila saat ia berusia 17 tahun. Hingga Ayra sangat menyayangi tasbih kayu itu. Ia selalu membawa tasbih kecil itu bersama nya.


Sang ibu yang merupakan salah satu orang yang ahli dzikir dahulunya. Hingga sebuah tasbih kecil itu selalu dibawa. Bahkan saat kejadian itu terjadi tasbih itu masih melingkar di tangan sang ibu. Hingga kini tasbih itu begitu berarti bagi Ayra. Nilai sejarah dari sebuah benda yang ibunya tinggalkan walau hanya terbuat dari kayu dan berbentuk kecil.


"Astaghfirullah hal 'adzim. Aish, kembali Aish. Aku meninggalkan tasbih ku."


Aisha menoleh kebelakang. Ia tak percaya jika sang bos begitu mementingkan benda yang ia anggap bisa dibeli lagi. Sebegitu berartinya tasbih itu bagi Ayra. Namun karena yang memerintah adalah atasan maka Aisha cepat meminta sang sopir kembali ke rumah Yeni tadi.


Saat tiba di dekat gang rumah Yeni, terdapat mobil mogok hingga mobil yang dikendarai oleh Ayra tak bisa melewati jalan itu. Ayra akhirnya memutuskan berjalan kaki diikuti oleh Aisha. Karena jarak rumah Yeni ke gang itu tak terlalu jauh.


Saat tiba di luar pagar rumah bercat ungu. Ayra pun kaget karena mendengar suara perempuan yang berbicara dengan bahasa Palembang. Ayra yang lama mondok dan pernah beberapa kali satu kamar bersama anak dari Palembang mengerti maksud pembicaraan itu walau tak bisa mengucapkan nya.


"Jangan besak igo Gaya Kau Yeni. Lah tahu utang kau tuh banyak. Kau belanjo neman nian cuman untuk nyambut tamu kau kemaren. Sekarang bayar utang warung kau lah duo bulan dak kau angsur-angsur."


[Jangan banyak gaya. Kamu tahu utang mu banyak.Kamu berbelanja terlalu banyak hanya untuk menyambut tamu mu kemarin. Sekarang bayar hutang mu yang sudah dua bulan tidak kamu angsur-angsur]


"Maaf nian cek. Dio tuh kawan akrab Mano sekarang jadi bos ditempat aku begawe. Aku jugo kemaren beli lauk itu bongkar celengan budak cek."


[Maaf banget Cek. Dia itu teman akrab ku. Sekarang jadi bos ditempat kerja ku. Aku pun kemarin membeli lauk itu bongkar celengan anak Cek.]

__ADS_1


Ayra yang bersandar di dinding pagar antara rumah Yeni dan tetangga nya membuat Aisha yang tak mengerti bahasa Palembang pun hanya terdiam. Ia cukup kaget karena Ayra secara tiba-tiba berhenti dan merapatkan tubuhnya pada dinding pagar.


Saat setelah perdebatan cukup lama antara dua perempuan yang sedang menagih hutang pun pergi. Ayra berbisik pada Aisha.


"Kamu punya uang cash Ais?"


"Punya Bu."


"Berapa?"


"Sekitar 5 juta."


"Aku pinjam dulu."


"Pinjam. Ini uang ibu bu. Kok pinjam."


"Uang perusahaan. Uang perjalanan bisnis bukan?"


Ayra menyimpan uang tadi di saku blazernya.


"Assalamualaikum. Yen."


"Walaikumsalam. Loh Ayra. Ada Apa?"


"Maaf Yen. Aku meninggalkan tasbih peninggalan ibu ku di sajadah kamar mu. Pagi tadi aku Shubuh disana dan lupa memasukkannya kedalam tas ku."


"Owh. Ayo kita ambil."

__ADS_1


"Biar aku saja. Kamu tolong ambilkan aku air hangat ya. Tenggorokan ku sedikit gatal. Aisha kamu tunggu sebentar ya."


"Ya Bu."


"Oke deh. Sana cepat ambil. Tumben Ay kamu teledor bisanya kamu itu paling disiplin dan teliti. Apa karena rindu suami? Hehehe..."


Yeni dan Ayra kedalam rumah. Saat telah Kemabli ke teras. Ayra meminum air hangat yang telah disiapkan oleh Yeni. Saat air itu telah habis. Ayra pamit pada Yeni. Sebelum pergi Ayra meminta maaf pada Yeni.


"Yeni, maaf tadi aku tak sengaja menumpahkan air di bantal mu. Jangan lupa dijemur dan ganti sprei dan sarung bantalnya."


"Ah gampang apalagi kamu sudah mengizinkan aku untuk libur hari ini "


Ayra tersenyum manis dan meninggalkan Yeni. Yeni mengantar Ayra Sampai kemobil dan setelah Mobil yang Ayra naiki menghilang dari ujung gang. Yeni masuk kedalam rumah.


Saat ia membuka sarung bantal yang memang sedikit basah alangkah kagetnya ketika ia melihat ada uang lima lipatan yang telah di Staples rapi. Ia dengan pecahan seratus ribu rupiah.


Yeni menangis tersedu-sedu saat ia membaca pesan yang masuk ke ponselnya yang berasal dari Ayra.


"Sungguh aku begitu tersentuh pada Mu Yen. Saat di pondok kamu begitu sering tak mendengarkan perkataan Umi. Tetapi setelah tak lagi di pondok dirimu masih menerapkan apa yang Umi ajarkan ketika di pondok. Aku akan menyampaikan pada Umi bahwa santrinya yang suka tidur dulu kini telah menjadi santri yang begitu menjalani apa yang diajarkan ketika di pondok. Salam sayang selalu untuk mu sahabat ku.


Maaf aku terharu ketika aku mendengar kamu membuka celengan anak mu hanya untuk menjamu Ku selama aku menginap dirumah mu. Ada sedikit rezeki untuk jajan keponakan dan meringankan sedikit beban mu sahabat ku. Aku bahagia kamu masih menjaga amalan-amalan yang diberikan Umi."


Ayra melihat bagaimana sahabat nya itu ketika selesai shalat isya, Ia masih membaca dzikir yang diajarkan oleh Umi Laila. Salah satu dzikir yang Ayra lihat masih diamalkan oleh sahabatnya itu yaitu membaca shalawat Al Fatih dan Membaca ya Latif 129 x setiap selesai shalat. Belum lagi Surah Al Mulk yang dulu ia sangat malas membacanya. Ayra melihat pada lembar Al Qur'an itu pada lembar itu begitu usang menandakan jika lembaran itu hampir setiap hari dibuka dan dibaca.


Dan saat di setiap Kamar mandi Yeni pun ia siapkan sandal jepit. Suatu kehati-hatian dalam hal kesucian yang pernah diajarkan eh Umi Laila. Bahkan adab Yeni yang begitu menyambut Ayra. Sampai ia membongkar celengannya.


"Ah Ayra cara mu menolong orang selalu tak pernah membuat orang yang ditolong merasa rendah diri. Terimakasih Ay. Aku hanya ingin menyambut mu yang telah lama tak bertemu dengan segala yang kamu suka. Karena aku pun tak tahu apakah masih ada umur dilain hari untuk bertemu dirimu sahabat ku.Hiks.Hiks."

__ADS_1


Meninggalkan Yeni dengan Rasa haru dan kesedihannya. Sore harinya Ayra tiba di Jakarta bersama Nyonya Lukis dan Pak Erlangga. Namun kedua mertuanya pulang lebih dulu. Ayra yang dari kemarin mendapatkan email dari relasi bisnis nya yang mengajak bertemu di sebuah restoran sore ini memutuskan langsung ke sebuah restoran sebelum pulang kerumah ditemani Aisha.


Saat sudah tiba di restoran bernuansa China itu, Ayra kaget karena seorang lelaki yang ia kenal sedang berdiri di depan restoran itu. Lelaki itu tersenyum begitu manis pada Ayra dan Aisha.


__ADS_2