
Mobil yang ditumpangi Munir yang baru saja keluar jalan tol, harus terjun ke jurang sedalam 50 meter. Mobil Munir menabrak pembatas jalan, karena ia membanting stir ke arah kiri agar tidak menabrak satu motor yang berlawanan arah dengan mobil yang dikemudikan Munir. Namun sisi kiri itu malah tidak ada pagar pembatas, hingga mobil yang ditumpangi Munir, Nuaima dan Ayra akhirnya terperosok ke dalam jurang.
Mobil itu meluncur ke jurang lalu terperosok, hingga akhirnya berhenti karena menabrak Kayu besar. Hal yang membuat kepala Munir dan Nuaima terbentur keras pada dashboard mobil naas itu. Darah segar mengalir dari dahi kedua orang tua Ayra Khairunnisa itu. Munir tak sadarkan diri.
Sedangkan Ayra masih terus menangis. Nuaima yang masih bisa mendengar suara tangis Ayra namun tak mampu menggerakkan tubuhnya. Dashboard mobil itu menghimpit tubuh Nuaima dan Munir hingga terjepit. Sakit, sakit sekali pada bagian dada, kaki dan perut Nuaima. Ia ingin merintih. Ingin menangis namun tak ia lakukan. Ia hanya mencoba sekuat tenaga memiringkan kepalanya ke arah Munir.
Tangan kanan yang masih bebas bergerak meraba ke sisi kanannya. Tak ada suara dan pergerakan dari Munir. Perlahan kedua mata Nuaima terbuka. Buram, penglihatannya tak begitu jelas. Namun ia bisa melihat samar-samar kepala Munir bersandar pada Kemudi mobil.
Nuaima yang tak mampu berkata, tak mampu menggerakkan kepalanya untuk menatap Ayra terakhir kalinya. Ia hanya menggerakkan tangan kanan nya yang masih melilit tasbih yang ia genggam sambil mengetik SMS untuk kyai Rohim tadi.
Ia meraba ke arah car seat milik Ayra. Ia bahagia karena masih menyentuh ujung sepatu Ayra yang keluar dari car seatnya. Suara tangis Ayra pun membuat Nuaima tersenyum di ujung napas terakhirnya sebelum ia mengucap kalimat tauhid.
"Semoga kamu menjadi anak Sholehah nak."
Disaat evakuasi terjadi dengan mobil yang dikendarai Munir dan Nuaima. Sesaat sebelum kejadian di kediaman Kyai Rohim. Kyai Rohim yang menerima pesan dari Nuaima berulangkali membaca pesan itu. Saat malam menjelang barulah Kyai Rohim yang pulang dari acara kenduri meminta pendapat istrinya.
"Mi, ini maksudnya Nuaima apa? Buat Umi ini pesannya. Memangnya Nuaima mau pergi kemana?"
Umi Laila yang baru saja menemani anak-anaknya cepat melihat ke arah ponsel Kyai Rohim. Satu tangannya ia letakkan di dada. Ada rasa was was seketika.
"Ya Allah Umi dari tadi perasaannya tak enak Bi. Semoga Dik Munir dan Nuaima tidak ada masalah lagi. kasihan Ayra, Umi sedih lihat anak-anak kalau orang tua ada masalah. Seperti kemarin, Nuaima itu terlihat sekali tak ada semangat hidup."
"Semoga Allah melindungi kita dari prasangka prasangka kita."
"Aamiin."
Umi Laila yang terlihat sedikit meluruskan kakinya dan mengusap-usap betisnya membuat sang suami tersenyum hingga cepat kyai Rohim menarik kaki istrinya itu.
"Sini Abi pijat."
"Jangan Bi. Tidak usah. Cuma sedikit pegal mungkin karena terlalu lama berdiri tadi."
Kyai Rohim yang tak menghiraukan permintaan istrinya tetap menarik betis Umi Laila hingga ia letakkan diatas pahanya.
"Bi.... Abi sudah seharian di sawah, mengajar ngaji. Abi istirahat saja. Umi juga mengantuk."
"Tidurlah. Abi belum mengantuk. Abi minta maaf ya Mi jika satu hari ini Abi ada salah."
__ADS_1
"Umi yang banyak salah Bi. Khawatir kalau-kalau satu hari ini ada tindakan Umi atau sikap Umi yang malah akan memberatkan Abi nanti."
Begitulah kadang keromantisan antara Umi Laila dan Kyai Rohim. Kyai Rohim yang jarang dirumah karena pagi-pagi sekali sudah harus ke sawah dan ke ladang. Siang harinya beliau pergi ke beberapa pengajian untuk mengisi materi lalu di sore hari beliau mengajar di langgar.
Namun kesibukan beliau tak membuat beliau akan berleha-leha ketika dirumah atau berkeluh kesah jika ia lelah satu hari mencari nafkah dan berdakwah. Ia malah akan membantu istrinya mungkin mencuci piring, atau menemani anak-anaknya bermain. Bahkan ia tak segan-segan memijat istrinya ketika ia melihat ada kelelahan di wajah istrinya.
Obrolan mereka berlangsung cukup lama. Setelah Umi Laila meminta Kyai Rohim berhenti, akhirnya ia berhenti dan ketika akan istirahat, beliau memberikan satu amplop pada istrinya.
"Ini ada sedikit rezeki tadi dikasih orang Mi. Dia bilang buat pembangunan gedung buat santri baru yang akan datang. Hati-hati mi jangan sampai buat makan kita. Akad mereka buat pembangunan gedung santri baru."
"Tadi juga ada pak Lakoni mau titip anaknya Bi. Umi bilang tunggu Abi pulang. Lah wong kita ini cuma numpang disini. Trus tadi ninggalin uang katanya buat kita sekeluarga dan jajan Furqon dan adik-adiknya. Boleh buat Umi beli beras Bi?"
Kyai Rohim melihat uang yang diambil Umi Laila dari laci terdapat 5 lembaran merah. Sedangkan uang amplop yang untuk pembangunan pondok tadi ada 10 lembar umi Laila masukan kedalam kaleng seng.
"Beli lah juga jajan untuk Furqon dan adik-adiknya. Dan ini buat Umi beli daster. Abi lihat daster mu sudah banyak yang pudar warnanya."
Kyai Rohim memberikan uang dua ratus ribu yang ia ambil dari dalam dompet hitamnya.
"Loh Bi... uang darimana?"
"Abi Lupa tadi Abi jual kayu yang kemarin di tebang ada yang beli buat kayu bakar. Ya itu uangnya. Lupa mau kasih Umi tadi sore."
"Abi justru minta maaf belum bisa lebih memberikan-"
"Insyaallah Umi Ridho menjalani kehidupan berumahtangga bersama Abi. Dan-"
Suara mobil berhenti di depan rumah dan terdapat suara tangisan bocah cukup kuat. Bagi Umi Laila tangisan itu tak asing. Dan tak lama suara pintu rumah diketuk. Umi Laila cepat mengenakan daster batiknya dan menggunakan kerudungnya.
"Biar Abi mi. Ini sudah malam."
Kyai Rohim sedikit tergopoh-gopoh karena seketika perasaannya tertuju pada adik satu-satunya Munir karena tangisan anak balita itu sepertinya suara Ayra.
Saat pintu dibuka terlihat kedua orang tua Nuaima dan sedang menggendong Ayra. Setelah dipersilahkan masuk, satu berita duka telah membuat Umi Laila cepat memeluk Ayra. Air mata kesedihan karena mendengar kabar Nuaima dan Munir meninggal dalam kecelakaan dan tewas di tempat.
"Innalilahi wa innailaihi rojiun.... Aima..... "
Kyai Rohim hanya mampu menangis tanpa suara setelah mengucapkan hal yang sama untuk Munir dan Aima.Ia yang hanya dua bersaudara kini tinggal seorang diri.
__ADS_1
Jenazah keduanya masih di autopsi di rumah sakit. Sedangkan kedua orang tua Nuaima yang merasa lebih dekat beristirahat ke kediaman Kyai Rohim. Memilih menginap di rumah yang merupakan hasil hibah salah satu warga untuk Pak Munir. Belum lagi Ayra yang terbiasa ASI tak menyukai susu formula yang diberikan neneknya.
Umi Laila yang memiliki anak bungsu, yang berusia hampir dua tahun namun masih minum ASI darinya, maka sejak saat itu Ayra me nyu su pada Umi Laila. Maka sejak Ayra me nyu su pada Umi Laila dari umur 6 bulan hingga ia berusia 2 tahun. Hal itu membuat ia dan Furqon menjadi Mahram.
Dimana Mahram adalah perempuan yang tidak boleh dinikahi (dalam permasalahan nikah) atau wanita yang tidak dapat membatalkan wudhu ketika bersentuhan dengan lawan jenisnya (dalam permasalahan bersuci).
Karena amanat almarhumah Nuaima yang menginginkan Ayra di asuh oleh Umi Laila kedua orangtuanya pun setuju. Hingga proses tujuh hari di gelar di kediaman Munir polisi menyatakan jika kejadian yang merenggut nyawa Munir dan Nuaima murni kecelakaan.
POV NUAIMA DAN MUNIR OFF
Kembali ke lamunan Pak Uban. Bram akhirnya merasa kesal karena ditinggal tidur melempar Pak Uban dengan bantalnya.
"Buuuughh."
"Aaawwwhhh."
"Dasar Bocah tengil."
"Aku dari tadi bertanya, kau malah tidur. Aku masih menunggu penjelasan mu."
"Hehehe.... Kalau aku bilang jika Kecelakaan mertua mu bukan murni kecelakaan melainkan pembunuhan berencana bagaimana?"
"Apa?"
Bram mulai tak suka dengan Pak Uban. Walau tak pernah bertemu kedua mertuanya ia yang memiliki rasa cinta pada Ayra tak terima jika ada hal yang menyakiti istrinya itu. Terlebih menyangkut orang tuanya.
"Katakan dengan jelas pak Uban!"
"Izinkan satu kali aku bertemu Kyai Rohim dan istrimu. Maka kamu akan tahu kebenarannya."
Bram yang mulai jengah dua Minggu berada satu sel dengan lelaki berambut panjang dan dipenuhi Uban itu. Ia berjalan ke arah pak Uban. CEO MIKEL Group itu menarik kaos yang dikenakan pak Uban.
"Katakan dengan jelas. Aku tidak bisa bersabar lagi."
"Hihihi.... Hati-hati prasangka mu yang jelek pada ku bisa membuat mu menyesal. Kadang orang-orang seperti kami ini harus ada dimuka bumi ini. Agar orang-orang yang katanya sabar itu bisa dikatakan sabar. Hihihi.... "
"Sabar Bram kamu haru berkelakuan baik. Ayra sedang hamil. Kamu juga harus mendapatkan remisi karena berkelakuan baik."
__ADS_1
.