Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
211 Rasa dihati Ayra


__ADS_3

Bram men cium punggung tangan kedua orang tuanya yang baru tiba. Nisa dan kakak Iparnya berpamitan. Sebelum berpamitan, Nisa meminta maaf atas tindakan kakak Iparnya.


"Maafkan kakak ipar saya.Mohon anda memaafkan beliau. Semoga mas Krisna cepat sadar."


Bram mengangguk pelan sambil menghela napasnya dengan berat. Selepas kepergian Nisa dan kakak iparnya. Bram pun berpamitan dengan kedua orang tuanya untuk segera kekantor karena ia telah sedikit terlambat ke kantor. Berhubung Krisna telah ada yang menemani. Ia menggenggam tangan Krisna.


"Cepat sembuh Brow. Maaf untuk tindakan ku kemarin."


Bram pun berpamitan kepada Nyonya Lukis dan Pak Erlangga. Kedua orang tuanya dan Ibu Karin belum tahu tentang sebuah kejadian kemarin siang hingga berakhirnya hubungan Krisna dengan Nisa.


Saat tiba di tempat Parkir, Bram melihat dua perempuan sedang terjadi tarik menarik tas dengan seorang lelaki. Terdengar satu perempuan dari mereka meminta tolong dan satu lagi sibuk menarik tasnya. Beberapa orang cepat berlari ke arah parkiran namun lelaki yang memakai sebuah topi.


Bram ikut berlari kearah perempuan itu. Ternyata mereka adalah Bisa dan kakak iparnya. Saat Bram sudah mendekati mereka lelaki bertopi hitam itu mendorong Kakak ipar Nisa hingga perempuan itu menubruk bagian depan mobil mereka yang sedang terparkir.


"Bruuugh"


"Aaaawwhh."


"Kak Lani..... "


"Awwwwwhh... Sakit Nis...."


"Astaghfirullah..."


Beberapa orang yang berdatangan pun ikut membantu Bram membawa Lani yang merupakan istri dari Joko. Lelaki yang kemarin terlibat adu mulut dan adu jotos dengan Bram di pesta pernikahan Bram.


"Bantu saya bapak-bapak. Kita bawa dalam."


Setibanya di UGD, terlihat Nisa kebingungan. Ia menangis sambil menghubungi seseorang yang tak lain adalah Joko. Bram yang merasa tak mungkin meninggalkan perempuan itu karena bagaimanapun ia adalah tunangan Krisna. Ia tahu teman sekaligus sepupunya itu. Ia tak akan mungkin berani menyatakan cintanya jika ia tak menaruh hati pada perempuan itu. Maka Bram menghubungi Rafi dan mengatakan jika ia tak akan kekantor pagi itu.


Hampir beberapa menit ternyata dikatakan jika harus dilakukan operasi pada Lani. Dan dibutuhkan darah O. Karena persediaan di rumah sakit tersebut hanya memilki satu kantong. Maka Lani masih membutuhkan satu kantong darah. Bram yang memiliki darah O pun menawarkan diri. Nisa menyetujui mengingat bukan mudah mencari golongan darah O.


Dan kondisi Lani yang sedang hamil tua. Bram pun memeriksakan diri untuk pencocokan darah dan lalu mendonorkannya. Saat Joko tiba ia menahan amarah pada adiknya. Karena kenapa bisa begitu jauh mereka pergi karena alasan istrinya tadi adalah untuk memeriksa kan kondisi kandungannya. Ia yang curiga jika istrinya membantu adiknya untuk menemui Krisna pun menatap tajam Nisa.


Saat Bram selesai dengan proses penyaluran donor darahnya. Ia yang melihat telah ada Joko disana. Ia berniat minta maaf tentang kejadian kemarin. Bagaimana pun Ia memukul lelaki itu kemarin. Namun Joko yang melihat kedatangan Bram memandangi Bram dengan sinis.

__ADS_1


"Saya mau minta maaf pada anda untuk masalah kemarin. Sa-"


"Saya tidak akan pernah memaafkan kamu dan istri mu yang tidak ada akhlak itu."


Bram yang memang memiliki tabiat pemarah. Menarik napasnya dalam. Ia menutup bibirnya rapat-rapat. Ia yang merasa harus mulai memperbaiki diri karena ia kini telah memiliki anak. Ia tak ingin sikapnya yang sering emosian menurun pada kedua anaknya. Maka Bram hanya mencoba beristighfar didalam hatinya sambil mengepalkan tangan kanannya.


"Disini saya tahu istri saya mungkin bagi anda tak berperasaan. Tapi kita tak boleh lupa bahwa apa yang dikehendaki oleh Allah untuk terjadi, pastilah terjadi. Jika tidak, pasti tidak terjadi. Termasuk pernikahan saya dengan istri saya. Sa-"


"Saya tidak mau mendengarkan alasan Mu!"


"Mas. Dia baru saja mendonorkan darahnya untuk kak Lani. Tidak bisakah mas mendengarkan penjelasannya? Sampai kapan mas menaruh dendam? Dulu bahkan mas mengundurkan diri dari anak cabang MIKEL grub hanya karena dendam mas. Kali ini karena dendam mas. Aku pun harus merelakan pernikahan ku dengan mas Krisna batal. Apakah mas akan sampai mati membawa dendam mas itu?"


Nisa yang sedari tadi menangis. Kini bertambah deras air mata perempuan itu. Ia bahkan membuka kacamatanya. Joko diam tak bergeming. Ia menatap Bram.


"Dulu saya mencoba membantu Amir namun Allah berkehendak lain. Saya tak mengenal Amir. Sayapun tak mengenal Ayra. Saat itu ia menitipkan pesan untuk menyampaikan amanahnya pada kyai Rohim. Dan karena satu alasan kyai Rohim melamar saya untuk Ayra pada hari itu juga. Sungguh saya mohon maafkan saya dan istri saya jika memang membuat anda tersakiti."


"Harusnya jika dia memang pandai. Ia bisa kan pergi bertakziah di hari duka kami. Tetapi sampai hari ketujuh pun ia tak muncul di hadapan keluarga kami. Sekedar berduka cita."


Joko terlihat menahan emosinya. Bram pun ingin menjelaskan kembali. Namun melihat wajah, dan napas Joko. Ia tak ingin kembali membuat keributan. Setidaknya ia sudah meminta maaf pada keluarga Amir walau ia tahu disini tidak ada yang salah. Hanya saja kesalahpahaman, dan belum bisanya Joko menerima takdir Allah tentang jodoh, maut dan Rezki hanya Allah yang berkehendak. Sekalipun kita tetap harus berusaha untuk menjemput jodoh kita dan rezeki kita. Karena tak akan jatuh dari langit rezeki kita jika kita tak berusaha.


Hingga menjelang magrib Bram pun juga terlambat pulang karena ia berhenti sejenak di satu masjid untuk mengerjakan shalat magrib sebelum pulang kerumahnya. Saat tiba dirumah, Ayra menyambut cepat men cium punggung tangan suaminya. Dan ia mengambil satu tasnya.


Tiba dikamar, Bram yang memeluk istrinya. Namun Ayra sedikit heran dengan aroma wangi yang asing di jas suaminya. Bahkan netra ibu bayi kembar itu melihat sebuah tanda merah yang dapat ia pastikan jika itu adalah bekas lipstik.


"Ini bukan parfum mama, Liona atau Rani. Aku hapal aroma parfum mereka. Lantas parfum siapa ini? Apakah parfum.... Astaghfirullah.... Ayolah Ayra suami mu baru pulang bekerja."


"Mas mau mandi air hangat atau air dingin?"


Ayra melerai pelukannya. Karena ia khawatir Bram dapat merasakan detak jantungnya yang sekarang begitu bergemuruh. Ada rasa curiga, ada rasa penasaran. Namun ia mencoba berdamai dengan pikiran negatif nya. Ia hapal betul jika suaminya akan tahu sekali dengan debaran jantungnya saat memeluk dirinya. Cepat ia membantu sang suami membuka jasnya.


Bram yang melihat sang istri biasa saja tak menaruh curiga.


"Mas mandi pakai shower saja Ay. Gerah."


"Tumben. Biasanya pakai air hangat? Apa yang membuat suami Ayra ini berubah?"

__ADS_1


"Ingin yang lebih segar saja Ay."


Deg.


Ayra yang merasa satu bulan ini bobot tubuhnya naik 5kg merasa tersentil akan jawaban polos suaminya.


Bram berlalu meninggalkan Ayra menuju kamar mandi. Sedangkan Ayra terduduk di tepi ranjang. Ia berkali-kali mencium jas suaminya. Ia bahkan memeriksa setiap kantung tersebut. Dan satu netra Ayra menatap tak percaya jika ada sebuah lipstik di saku samping jas suaminya.


Saat Ayra melihat ponsel Bram terpikir dihatinya untuk membuka dan mengecek ponsel suaminya.


"Ayolah Ayra. Ada apa dengan mu. Belum tentu suami mu aneh-aneh. Astaghfirullah.... Aku berlindung dari godaan syetan ya Allah."


Setelah menghapus noda lipstik pada jas suaminya. Ia meletakkan jas itu di dalam keranjang pakaian kotor. Ia tak ingin pekerja dirumahnya ikut berpikiran negatif akan noda lipstik itu.


Masih melirik ponsel Bram. Ayra yang tak pernah memeriksa ponsel suaminya itu. Ia menaruh kepercayaan pada suaminya. Jika ia membuat ponsel suaminya itu pun hanya ketika Bram usil mengambil gambarnya tanpa hijab. Tidak untuk memeriksa setiap sudut isi ponsel suaminya karena curiga.


Begitupun Bram. Ia tak pernah memeriksa ponsel istrinya. Mereka saling percaya. Namun bagaimanapun rumah tangga. Terlebih perempuan yang notabene sibuk mengurus anak dirumah. Diikuti penampilan juga berubah karena pasca melahirkan.


Saat makan malam pun Bram yang terpikirkan masalah Joko tadi. Ia bingung, tak ingin membicarakan peristiwa tadi dengan Ayra. ia melihat jika istrinya itu sedang berjuang melawan rasa baby blues.


Baby blues synd rome atau sin drom baby blues adalah perubahan suasana hati setelah kelahiran yang bisa membuat ibu merasa terharu, cemas, hingga mudah tersinggung. Ayra pun termasuk dari sekian persen ibu yang mengalami nya. Namun ia berkonsultasi dengan dokternya.


Ia pun berkomunikasi dengan Bram perihal satu bulan ini ia berusaha mencoba melawan rasa was-was, cemas dan mudah tersinggung. Maka Bram memutuskan tak menceritakan perihal tadi. Disamping itu beberapa klien nya hari itu membuat moodnya jelek. Sehingga pulang kerumah sambil membawa beban pekerjaan pun membuat Bram tak terlalu bergairah terlebih setelah mandi tadi ia merasa seperti akan demam.


Bahkan saat Ayra menggunakan baju yang cukup menarik mata Bram, hal itu pun tak mampu membuat suami Ayra itu semangat empat lima. Ia lebih memilih memeluk istrinya malam itu.


"Mas lelah sekali Ay."


Satu kebiasaan yang aneh bagi Ayra.


"Bukankah kamu berpuasa cukup lama mas. Apakah aku betul-betul tak menarik lagi? atau kamu betul-betul.... Astaghfirullah...."


Saat Ayra sibuk dengan pikirannya. Dengkuran dari Bram seolah bara api yang membuat hati nya panas. Ia memandangi wajah suaminya. Ia menyentuh dengan ujung jarinya.


"Kamu pasti lelah bekerja kan mas... Suami ku lelah satu hari ini bekerja. Suamiku ini tak mungkin bermain api. Lindungilah suami ku dimana pun ia berada ya Allah."

__ADS_1


Ayra yang merasa butuh menenangkan diri. Ia beringsut meninggalkan Bram sendiri di tempat tidur. Ia memilih menyibukkan dirinya dengan Ayat-ayat Suci di tengah suara dengkuran suaminya.


__ADS_2