Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
192 Mengantar Lilis dan Nurul ke Kali Bening


__ADS_3

Niat Lilis yang ingin di pondok pesantren pun telah bulat. Hal itu pun membuat Nurul adik ke dua Aisha juga ingin ikut menuntut ilmu di pondok pesantren Umi Laila. Si bungsu Alifah masih berusia 10 tahun, ia takut jika harus di pondok. Sehingga Rafi dan Aisha tetap membiarkan si bungsu tinggal bersama mereka di apartemen Rafi.


Pagi itu Aisha dan Rafi yang telah mengurus surat pindah kedua Adik iparnya, mengantar kedua adiknya ke Pondok Pesantren Kyai Rohim. Ayra pun ikut mengantar menggunakan mobil yang berbeda.


Setibanya di pondok pesantren Kyai Rohim sedang berada di kelas. Maka Aisha mengajak temannya itu mengobrol di kediaman Umi dan Abinya. Ketika akan berjalan ke kediaman Umi Laila banyaknya santriwati yang lewat terlihat begitu sopan. Bahkan mereka menundukkan pandangan mereka serta berhenti membiarkan Umi Laila dan Tamunya lewat.


Setiba di teras rumah Umi Laila yang dibuat lesehan, mereka telah di sambut beberapa toples makanan dan air mineral dalam kemasan cup telah tersaji. Lilis yang dari tadi melihat hal yang begitu asing. Bagaimana ada anak yang begitu sopan terhadap istri dari kyai nya.


"Kak Ay. Kenapa mereka sepertinya tadi takut sekali dengan Umi Laila ketika kita datang?"


Ayra tertawa kecil. Ia memberikan beberapa cup air mineral tersebut dan membuka toples yang berisi makanan ringan.


"Ayo diminum dulu, sama dicicipi itu kue nya khas Kali Bening. Sebentar lagi Abinya sudah selesai."


Umi Laila mempersilahkan tamunya untuk mencicipi apa yang memang selalu tersedia di teras rumah itu. Karena hampir setiap hari ada tamu yang datang.


Ayra menjawab pertanyaan Lilis tadi yang begitu bingung karena ia menganggap sikap Santriwati yang tadi menunduk dan membiarkan Umi Laila lewat dengan mereka berhenti dianggap sebuah ketakutan.


"Jadi begini Lis, kita ini kan hidup tidak hidup dizaman nabi dan para sahabat beliau. Maka untuk memahami Quran dan Hadist kita tidak bisa langsung belajar sendiri. Kita membutuhkan guru ya kalau disini Kyai. Jadi


Penghormatan yang para santriwati tunjukkan bukan karena Kyai itu menakutkan bukan pula menuhankan. Akan tetapi Kyai dihormati ribuan, bahkan puluhan ribu santrinya, dan masyarakat sekitar pesantren, karena ilmunya."


"Memang ilmu apa saja kak?"


"Banyak, seperti bahasa Arab‎, fikih, logika, tasawuf. Ilmu yang diberikan juga bukan sebatas pengetahuan, tapi juga membentuk kepribadian Santri. Santri mengerti, bagaimana etika menghormati orang tua dan muda. Mereka memahami bagaimana harus bersikap terhadap orang lain, termasuk orang asing. Dan satu adab yang baik walaupun berilmu."


Nurul mulai tertarik ikut bertanya.

__ADS_1


"Ustadz sama Kyai beda kak?"


"Hehehe.... Sama saja. Ustaz itu dalam bahasa Arab kalau Kyai dalam bahasa Jawa.Kiai murni lahir dari bahasa Nusantara. Kiai adalah seseorang yang mengasuh, membimbing, dan memberikan ilmunya kepada santri di pesantren."


Lilis Kembali bertanya sambil menunggu kyai Rohim yang masih mengajar anak-anak.


"Kalau ulama apa kak?


"Ulama itu dari kata al ‘alim, artinya orang yang berilmu atau orang yang mengetahui, yang terambil dari akar kata yang berarti 'mengetahui secara jelas'."


"Berarti semua yang berilmu bisa dipanggil ulama kak?"


Ayra berhenti menyedot air mineral yang dadi cup nya.


"Ndak bisa dong. Ulama itu sosok yang ilmunya terwujud dalam perilakunya. Selalu membimbing umat dan patut dijadikan suri tauladan. Jika melihatnya hati sejuk. Jika mendengar fatwanya hati tenang. Kalau tidak seperti itu, tidak bisa disebut Ulama"


Lilis yang dari tadi menyimak kembali bertanya.


"Iya. Baju syar'i namanya syar’un. Datang ke Indonesia jadi sarung. Dipakai santri jadi sarungan, sama kayak kita baca Surah Yasin yang terdapat dalam Al-Quran, di Indonesia kalau dibaca sama-sama jadi Yasinan."


Lilis kembali bertanya pada Ayra. Semangat adik Aisha itu begitu besar.


"Lantas bagaimana kak jika sekarang ada yang bilang katanya tidak boleh yasinan?"


"Nah klo ini kakak jawab dengan bahasa kakak dari sudut berbangsa dan bernegara aja ya, nanti kalau kamu sudah mondok disini. Kamu akan menemukan jawaban nya mengapa ada sebagian yang menyatakan haram atau bid'ah. Coba kamu lihat bangsa kita ini begitu besar, tapi kita tidak berperang sesama warga negara bangsa.


Hal itu karena dari zaman dahulu para pendiri bangsa kita, para ulama terdahulu mereka mengedepankan persamaan bukan perbedaan. Maka sekarang biar saja jika ada yang tak sama dengan pemahaman kita. Tak usah memaksa untuk disama-samakan apalagi sampai timbul hujatan. Paham?"

__ADS_1


"Paham kak, berarti kita juga tidak boleh menghujat mereka yang tak suka dengan amalan kita."


"Betul. Jagalah nama baik kita, orang tua kita,. guru kita, agama kita dengan semua tindakan kita. Karena ketika kita melakukan perbuatan yang jelek maka bukan hanya kita yang mendapatkan efeknya tetapi juga pernah tua kita, guru kita, dan mungkin buat agama lain juga akan menilai agama kita. Kakak cuma pesan satu nanti. Jika memang Lilis dan Nurul diberikan pemahaman akan ilmu agama yang baik. Pertama jangan lupa sama guru, orang tua dan Paham akan ilmu agama bukan buat menilai orang lain tetapi untuk diri sendiri."


"Maksudnya kak?"


Umi Laila mencoba menjawab.


"Lilis dan Nurul mau dengar kisah?,"


"Mau Umi."


Jawab dua anak yang baru saja ditinggal ibunya meninggal dunia.


"Jadi ada cerita tentang Sayyidina Ali Zainal Abidin. Ketika beliau wafat, tidak banyak saudaranya yang ikut berduka karena ia dianggap kikir. Padahal beliau sebenarnya sangat gemar membagi-bagikan hartanya. Namun, kedermawanan beliau semasa hidup yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi baru terungkap setelah beliau wafat. Karena Penduduk Madina merasa kehilangan orang yang sering bersedekah secara sembunyi-sembunyi setelah Sayyidina Ali meninggal dunia.


Sebelumnya banyak orang yang salah paham pada Sayyidina Ali Zainal Abidin, termasuk keluarganya sendiri. beliau dianggap kikir dan gemar mengumpulkan harta. Padahal harta-harta beliau digunakan untuk bersedekah di setiap malam secara sembunyi-sembunyi. Maka dari itu kita tak boleh mentang-mentang paham akan ilmu agama lantas pengetahuan kita untuk menilai orang lain."


Rafi manggut-manggut ia merasa kagum, baru beberapa menit duduk di tempat itu ia sudah mendapatkan beberapa ilmu. Yang ditunggu pun akhirnya pulang dan menerima kedua adik-adik Aisha. Kyai Rohim menerima santriwati baru. Namun Rafi dan Aisha diminta tetap mendaftarkan kedua adiknya di sekolah negeri atau swasta yang berada di dekat pondok pesantren tersebut. Dan berpesan pada dua adik Aisha tersebut.


"Lilis dan Nurul Ndak usah pusing mikir besok jadi apa ya. Yang penting fokus mengaji. Biar Allah yang menjadikan. Harus belajar sungguh-sungguh agar ibu dan bapak disana senang ya."


Lilis dan Nurul mengangguk. Ayra dan Umi Laila mengantar kedua adik Aisha ke ruangan tempat mereka tidur selama mereka disana.


Lalu Kyai Rohim memandang Rafi dan Aisha.


"Rafi dan Aisha kalian teman anak Abi. Maka Abi hanya ingin memberikan semangat untuk kalian apalagi Alifah katanya belum mau mondok. Karena batasan anak yang disebut anak yatim adalah maksimal berusia 15 tahun.

__ADS_1


Salah satu sabda Nabi Muhammad. 'Yaitu, barangsiapa yang menanggung (mengasuh) dan menjamin kehidupan anak yatim, kelak di Surga akan berdampingan dengan Rasul layaknya dua jemari, telunjuk, dan jari manis'. Rawat dan lindungilah adik-adik kalian. Perlindungan yang diajarkan Islam itu materinya, kasih sayangnya, dan juga perlindungan spiritual mereka."


"Insyaallah Pak Kyai."


__ADS_2