Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
53 Ulet Berkaki Dua


__ADS_3

Ayra menelpon Pak Erlangga yang saat ini sedang berada dirumah sakit. Karena ia harus menemui Shela sedang suaminya tak ada dirumah. Maka Ayah mertuanya jadi salah satu yang harus ia minta izin dan jika berkenan mengantar.


📱 Ayra "Assalamualaikum."


📱Pak Erlangga "Walaikumsalam. Ada apa Ay?"


📱 Ayra "Pa, papa lagi dimana?"


📱 Pak Erlangga "papa lagi dirumah sakit disebelah nenek."


📱 Ayra "Pa Ayra mau minta izin menemui Shela. satu hari ini ia menelpon belasan kali di ponsel mas Bram dan barusan dia mengirim pesan agar Ayra datang menemui nya di suatu tempat."


📱 Pak Erlangga "Apa mau perempuan itu! belum puas apa dia buat Bram malu dan menderita. Tunggulah papa akan menemani mu bersama Bams."


📱 Ayra "Baik pa, jangan beri tahu mama pa. Mama pasti akan bertambah pusing. Khawatir tekanan darah mama naik lagi."


📱 Pak Erlangga "Baiklah. Kamu tunggu dirumah ya. Papa akan minta Bams mengantarkan kita. Setidaknya biar Bams belajar mengurus masalah kakaknya."


Ayra telah bersiap menemui Shela. Ia turun kelantai satu dan melihat ada Rani dan Bams. Rani sedang sibuk dengan ponselnya. Bams sedang bermain dengan anaknya. Rani yang melihat kehadiran Ayra seperti akan pergi keluar karena perempuan itu mengenakan make up tipis. Diluar kebiasaannya jika hanya dirumah.


"Mau kemana kamu Ay?"


"Shela mengubungi aku. Dia ingin bertemu malam ini di suatu cafe. Aku sudah minta izin papa. Dan papa ingin mengantar. Papa juga minta dirimu ikut Bams."


Bambang bangkit dari karpet bulu dan menyerahkan Raka pada Rani.


"Mau apalagi model sial*n itu!"


"Aku ikut ya Ay."


"Jangan Rani. kamu sudah seharian menunggu nenek dirumah sakit. Raka juga butuh kamu."


"Iya yank, biar aku saja."


"Jangan biarkan perempuan itu menyakiti Ayra Bams."


"Apa kau tak lihat kejadian kemarin di MIKEL group? Sepertinya yang harus kita khawatirkan adalah Shela. Kali ini aku tahu kenapa kamu berjodoh dengan Bram."


Ayra yang sedang menggoda Raka menoleh ke arah Bambang.

__ADS_1


"Kalian itu sama-sama punya kharisma menjatuhkan lawan-lawan kalian hanya dengan sebuah kata-kata."


Ayra tersenyum.


"Bukan Bams, tapi karena kami sudah ditakdirkan berjodoh. Seperti kamu dan Rani."


"Menurut mu apa motif ia ingin bertemu dengan mu Ay?"


"Entahlah tetapi sepertinya ia ingin melakukan negosiasi. Karena kalau melihat dari liarnya berita di medsos, Shela sedang bermain peran playing victim. Dimana ia seolah menjadi korban oleh mas Bram. Sedih kadang melihat bangsa ini.


Seolah kemudahan yang Allah berikan melalui berbagai kecanggihan termasuk mencari informasi. Tidak dimanfaatkan untuk mendekat pada Nya. Kadang sebuah kabar buruk begitu cepat tersebar tanpa masyarakat itu ingin tahu benar tidaknya berita itu. Banyak kita dimedsos baca judul langsung share.


Apakah kita tidak memikirkan bahwa suatu saat nanti semua yang kita like, yang kita posting di laman medsos kita akan dimintai pertanggungjawaban nya."


"Lah emang nanti bakal ditanyain juga Ay klo di dalam kuburan?"


Bams mengernyitkan Kedua alisnya. Ayra tersenyum menanggapi bertanya polos Bambang.


"Malah bisa jadi Dosa yang terus mengalir saat kita tak lagi di alam dunia Bams. Contoh kasus mas Bram. Coba saja lihat judul-judul yang diberi disetiap media online dan lihat yang membagikan. Dan komentarnya mereka itu kadang ada kalimat memvonis. Bahkan kata Bu nuh pun banyak terdengar dari mereka yang merasa paling alim yang paling suci.


Islam melarang keras penyebar hoaks, fitnah dan ujaran kebencian. Fitnah lebih kejam dari pembunuhan karena dampaknya lebih membahayakan."


"Lindungilah bangsa yang kami cintai ini dari orang-orang yang memiliki propaganda. Dari tangan-tangan yang mudah membagikan berita Hoaks hingga bangsa kami ini terpecah belah Rabb."


Tak berapa lama Pak Erlangga telah pulang kerumah.


"Mama sendirian Pa?" Tanya Ayra yang melihat mertuanya pulang sendiri.


"Ada Helena tadi. Papa berasalan ada urusan terkait kasus Bram jadi Mama bisa tinggal di rumah sakit. Papa mandi dulu Ya Ay, tunggu beberapa menit."


Ayra mengangguk. Bambang yang penasaran karena Ayra seoalah tak bertanya siapa Helena.


"Kau tahu siapa Helena Ay?"


"Bams!"


Rani membesarkan kedua bola mata bulat nya pada ayah sambung bagi Raka itu. Karena khawatir Ayra bertambah sedih karena masalah Shela belum selesai sudah harus membahas Helena. Ia tahu perempuan itu menyukai Bram.


Dan Bram yang selama ini hanya kasihan pada gadis itu kadang harus sembunyi-sembunyi jika sedang tidak ingin di ganggu Helena agar gadis itu tak sedih.

__ADS_1


Helena yang yatim piatu membuat Bram lebih menjaga ucapan dan sikapnya pada Helena terlebih lagi nenek yang tinggal satu rumah bersama Helena. Namun kadang ja merasa tak nyaman berada di dekat Helena. Sikap manja Helena membuat CEO MIKEL Group itu merasa tak nyaman.


"Tahu, dia sahabat masa kecil mas Bram dan memiliki rasa terpendam pada mas Bram. Insyaallah semua sudah selesai kemarin"


"What! Helena dan Shela itu sama karakter nya Ay."


Rani sedikit mengubah posisi Raka dalam pelukannya, ketika Rani mendengar jika Ayra sudah bertemu dengan Helena. Bahkan kakak iparnya itu terlihat biasa saja.


"Mereka berbeda. Helena masih memiliki harga diri sebagai seorang perempuan. Kami berteman, tepatnya pagi tadi "


"Kamu aneh Ay, rival kau jadikan teman." Komentar Rani.


"Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam saja tidak pernah membenci kaum Quraisy meski telah dizalimi berkali-kali. Beliau selalu memaafkan kesalahan orang lain sehingga bisa menasihatinya agar bisa kembali ke jalan yang benar. Lantas bagaimana aku yang hanya umatnya di akhir zaman ini harus membenci bahkan menjauhi seseorang, hanya karena aku merasa lebih baik dari mereka?" Jawab Ayra getir.


Rani mendekatkan dirinya disisi Ayra.


"Kau tahu Ay, setiap aku berada didekat mu ada keteduhan. Setiap kalimat yang kamu ucapkan menjadi magnet dalam hati ku, seolah ingin mengenal lebih ajaran agama yang ada di KTP ku. Kau tak pernah meminta orang-orang disekitar mu untuk berubah tetapi Pesona mu menarik orang disekitar mu untuk berubah.


Entahlah kenapa aku melihat diriku seperti belajar agama dari dirimu tapi tak merasa digurui. Dan aku berada disisi mu tapi tak merasa jadi orang berdosa walau dari penampilan kita jauh berbeda. Bibir mu tak pernah menyinggung ku, tetapi setiap aku melihat dirimu. Aku malu dengan diriku bukan hanya karena pakaian ku tetapi juga akhlak ku yang jauh dari dirimu." Ucap Rani.


Rani menggenggam tangan Ayra. Ayra pun menyambut genggaman itu dengan sebuah usapan lembut pada punggung tangan Rani.


"Saat satu jari kita menunjuk ke arah orang lain maka ke empat jari lainnya mengarah kepada kita. Tidak semua orang suka dihakimi. Tidak semua orang suka dinasehati. Umi Laila pernah bilang jika ingin meneruskan perjuangan Rasulullah di akhir zaman ini.


Dalam menyebarkan Islam yang rahmatan Lil Alamin maka bawa agama mu dengan lembut. Bawa ia dalam setiap tutur kata mu. dalam setiap langkah mu. Bawa agama mu dalam dirimu. Karena Visi nabi diturunkan di bumi ini untuk menyempurnakan akhlak. Abi dan Umi ku selalu berpesan jangan memandang diri lebih baik dari orang lain yang belum menjalankan syariat Allah. Karena Allah Maha Membolak-balik hati."


Pak Erlangga yang sedari tadi mengamati kedua menantu nya itu dari anak tangga pun begitu kagum akan akhlak menantu pertama namun datang dalam kehidupan keluarganya terakhir kali. Ia ingin menemani menantunya bertemu perempuan yang mengusik kebahagian yang belum sempat di rengkuh sang menantu.


"Ayo Ay, papa sudah siap tuh. Kita berangkat sekarang! Kita temui Ulet Berkaki dua itu. Biar dia tahu kalo yang dia hadapi bukan perempuan sekelas dengan dia!"


Bambang terlihat bersemangat ketika ia melihat pak Erlangga telah siap.


"Ulet Berkaki Dua?"


Ayra dan Rani mengulangi kalimat dari Bambang yang terdengar aneh. Istilah baru bagi mereka.


...❤️❤️❤️...


Terima kasih Readers untuk setiap LIKE, KOMENTAR, GIFT DAN VOTE yang kalian berikan pada Ayra. Sungguh melihat Ayra berhasil duduk manis di beranda sudah berapa hari ini buat aku makin semangat buat nulis.

__ADS_1


__ADS_2