
Sungguh rumah tangga adalah menyatukan dua pemikiran hingga mencapai tujuan bersama. Dua kebiasaan yang dimana salah satu pasangan harus menerima nya sebagai hal tersebut tak menjerumus ke berbuat maksiat. Seperti halnya Rafi dan Aisha.
Aisha yang setiap tidur harus mengoleskan minyak zaitun di jari-jari kakinya, belum lagi sebuah selendang yang berwarna coklat yang akan ia tempelkan pada pipinya dan menemani malam-malam nya sebelum tidur. Sebuah cahaya yang harus selalu ada di kamar sebelum ia memejamkan matanya.
Sepasang suami istri itu pun mampu mengatasi masalah pertama dalam rumah tangga mereka. Rafi membiarkan sang istri dengan rutinitas nya saat akan tidur. Ia akan mematikan lampu saat istrinya telah tertidur pulas. Malam tadi adalah malam pertama sang istri tidur tidak berputar-putar seperti gangsingan. Namun di pagi hari justru Aisha yang harus bersabar menghadapi sang suaminya.
Jika Ayra mampu bersabar membuat suaminya bisa dengan kesadaran diri mengerjakan kewajiban shalat lima waktu. Aisha justru menggunakan cara-cara ala dirinya yang membuat sang suami terbangun dengan berat hati.
Pagi yang melelahkan namun Aisha terbiasa bangun saat alarm berbunyi. Rafi yang biasa bangun lebih awal jika ada meeting saja, merasa terganggu saat Aisha membangunkannya pagi itu.
"Rafi.... Bangun. Ayo kita harus pagi-pagi sudah tiba di apartemen Bu Ayra."
Rafi masih meringkuk memeluk guling nya. Aisha yang baru selesai mandi dan paham suaminya itu satu Minggu ini memang sulit sekali untuk dimintai shalat Shubuh.
Ia menempelkan dua telapak tangannya yang dingin ke pipi Rafi.
"Aiiisss.... Dingin."
Rafi menjauhkan tangan sang istri dari wajahnya. Aisha melihat sang suami maish belum bangun. Jika kemarin ketiga adiknya mampu membuat sang suami sungkan jika tidak ikut shalat seakan pagi ini ia tak punya alasan untuk bangun.
Aisha menarik tangan sang suami sehingga posisi Rafi duduk dengan mata terpejam. Dan Aisha memencet hidung suaminya itu.
"Aaawww... Aish."
Barulah kedua matanya terbuka. Aisha tertawa puas karena akhirnya lelaki yang semalam memperlakukan dia dengan baik dan lembut kini membuka kedua bola matanya.
"Buruan mandi. Itu airnya nanti keburu dingin. Kita harus sudah tiba di apartemen Bu Ayra. Bu Ayra minta sekalian diberikan make up tipis. Beliau tidak mau orang lain atau ke salon."
Rafi melihat jam masih pukul 4.
"Masih jam 4 Ais"
"Nanti shalat Shubuhnya di jalan saja."
"Emang boleh shalat di jalan?"
"Boleh dong kalau kita lagi diperjalanan. Kalau menunggu setelah Shubuh baru berangkat khawatir telat Bu Ayra nya ke acara wisudah."
"Emang ga takut ketabrak mobil?"
"Rafiiiiii.... "
Aisha melotot dan sambil menyisir rambut panjangnya.
"Hahaha.... Kamu itu selalu serius ya. Ga bisa diajak becanda. Pantes kata Lifah kalau kakaknya lagi marah bisa pecah bola lampu karena teriakannya."
Rafi berjalan ke arah kamar mandi. Saat selesai mandi, kedua pupil matanya terbuka sempurna karena ia melihat semua pakaiannya lengkap beserta Underwear telah Aisha siapkan diatas tempat tidur.
"Enaknya punya istri ternyata. Tahu begini dari dulu aku menikah. Ternyata kamu perhatian juga Aish."
__ADS_1
Saat Rafi selesai mengenakan pakaiannya ia menuju dapur dan Aisha telah menyiapkan sarapan nya. Rafi duduk sambil memandangi istrinya yang terlihat cantik tanpa jilbab. Entah kenapa ia sangat menyukai rambut panjang istrinya itu. Ia beruntung karena hanya ia yang bisa menikmati pemandangan itu.
"Aish. Kenapa Kamu tidak mondok tapi pakai jilbab?"
Aisha masih sibuk memindahkan beberapa menu kedalam mangkuk setelah ia hangatkan. Semua makanan tinggal ia hangatkan karena Ayra dan Bram memesan makanan di restoran untuk sepasang suami istri yang mereka yakini belum punya waktu berdua selama di kampung halaman Aisha.
"Ibu dulu yang minta. Katanya biar tetap bisa jaga diri. Sama ngelindungi diri. Jauh dari keluarga masih gadis. Itu pesan Ibu dulu."
"Sayang aku belum sempat kenalan dengan Ibu mu."
"Ibu itu orangnya baik sekali. Ibu itu mirip sama pak Lek. Orangnya ngalahan, sama siapa saja. Anak-anaknya yang mirip ibu itu Alifah dan Nurul. Kalau aku dan Lilis lebih mirip karakter bapak. Ndak sabar kalau ketemu orang yang bikin sakit hati."
Rafi yang melihat istrinya itu kembali menangis karena mengenang sang ibu, ia cepat berjalan ke arah meja makan dan memeluk Aisha. Aisha yang selama ini selalu memendam rasa sendiri. Ia selalu bersikap dewasa karena ia anak pertama, tak ada tempat untuk bermanja-manja. Rafi yang dari dulu sangat penyayang kepada adik-adik panti memiliki hati yang lembut dan perhatian. Hal itu yang membuat Aisha merasa nyaman satu Minggu menjadi istrinya.
Istilah kata kalau tak kenal maka tak sayang pantas disematkan Aisha dalam hubungan mereka. Aisha yang merasakan ketulusan dari Rafi. Menikmati usapan lembut suaminya. Ia pun memeluk pinggang Rafi.
"Ada aku sekarang Ais. Ceritakan setiap duka kamu, dan berkeluh kesah lah padaku."
"Terimakasih Fi...."
Rafi melerai pelukannya, Ia ingin memberikan satu kebahagian untuk istrinya.
"Aisha. Lanjutkan cita-cita kamu di bidang yang kamu kuasai. Tapi kalau kamu memang mau jadi ibu rumah tangga juga tidak apa-apa."
"Tunggu rumah ku laku dulu. Nanti aku baru mau lanjut buka usaha."
Rafi meninggalkan Aisha sendiri. Ia menuju kamarnya tak lama ia kembali membawa satu buku tabungan dan satu ATM.
"Ini buat modal usaha. Cukup ga? kalau tidak nanti tunggu awal tahun deposito ku akan aku cairkan."
"Aisha membuka buku tabungan itu ia tak percaya melihat nol yang berada di belakang angka tersebut. Ia melihat ke arah Rafi."
"Kamu serius?"
"Serius. Kamu sudah menyerahkan semuanya untuk aku. Dan sudah mau menjaga yang mungkin zaman sekarang susah susah gampang untuk mendapatkan istri yang masih orisinil. Kalau dibandingkan dengan isi tabungan ini. Sekarang, semua yang aku miliki itu milik kamu. Tapi, aku minta tolong kamu mengerti setiap bulan gaji ku harus aku sisihkan buat panti. Bagaimana pun disana banyak anak-anak yang senasib seperti aku Aish."
Aisha merasa sungkan karena ia malu. Ia menganggap itu berlebihan.
"Kebanyakan Fi. Aku cuma mau buat butik."
"Sekalian konvensi nya. Jadi sekalian buka lapangan pekerjaan. Sekalian kalau mau usaha jangan tanggung tanggung Aisha. Jangan sungkan, itu memang sudah menjadi milik kamu. Atau kamu menyesal menikah dengan aku?"
"Kalau aku menyesal malam tadi aku tidak akan pasrah begitu saja Jo-.... Rafi."
"Bang Rafi....."
"Abang tukang bakso?"
"Iya Bakso cinta buat Dik Aisha. Yang penting hari ini aku bahagia nya pakai banget."
__ADS_1
Satu pasang suami istri itu kembali berpelukan dengan suara tawa bahagia. Satu pasangan yang dari kecil selalu mencoba mandiri, berdiri diatas kaki mereka sendiri. Kali ini menemukan tempat untuk berbagi. Teman yang bisa membuat hidup lebih berarti.
Di tempat yang lain tampak Nyonya Lukis dan Pak Erlangga sedang berbicara serius. Mereka sedang dalam perjalanan ke apartemen Bram. Mereka ingin menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat kepada sang menantu yang berhasil menyelesaikan pendidikan Strata duanya.
Saat tiba di apartemen Bram, Nyonya Lukis melihat Ayra sedikit kesusahan berjalan. Ia lihat telapak kaki menantunya itu sedikit bengkak.
"Ay. Kemari. Tidak perlu repot membuat minuman. Mama dan papa sudah sarapan."
Ayra duduk di sofa.
"Nanti pakai sepatu yang nyaman jangan yang high heels. Kaki mu bengkak nak."
Ayra melihat ke kedua kakinya.
"Iya ma. Dari kemarin, mungkin terlalu lama duduk jadi kakinya menggantung."
"Duduk?"
"Menantu mama itu kemarin mengawasi orang yang ku suruh make over apartemen Rafi. Mereka sudah kembali ke Jakarta."
"Alhamdulilah mama senang ketika mendengar mereka berjodoh. Rafi itu anaknya baik. Aisha juga sepertinya gadis yang baik."
"Tapi masalahnya Ma. Itu Rafi kelewat polos jadi lelaki. Sepertinya harus sering-sering privat sama Bams."
"Mas...."
Ayra menaikan kedua alisnya saat sang suami menimbulkan kepala dari balik pintu kamarnya. Tak lama sepasang suami istri yang jadi bahan pembicaraan telah hadir di apartemen Bram. Ayra begitu rindu pada Aisha ia memeluk teman sekaligus mantan asistennya itu.
"Terimakasih banyak Bu. Jadi merepotkan Ibu dan Pak Bram."
"Tak mengapa hanya kejutan kecil."
Bram yang mendengar salam dari Rafi dan Aisha cepat keluar setelah ia memakai pakaiannya lengkap.
"Wow. Iya harus itu. Dan semoga kalian tidak mengecewakan istri ku. Karena ia satu harian di apartemen Rafi hanya untuk memastikan semua perfek. Lihat itu kakinya sampai bengkak. Semoga semalam kalian benar-benar mendaki."
Bram berdiri di belakang Ayra menatap curiga kepada dua mantan jomblo itu. Rafi yang baru akan berbicara cepat di tutup mulutnya oleh Aisha. Membuat satu ruangan itu menahan tawa.
"Jangan khawatir Bos semalam telah terjadi gem-emmmmm..,."
Aisha tidak ingin suaminya itu menceritakan hal yang harusnya menjadi rahasia suami istri. Karena ia pernah mendengar ceramah jika tak boleh sepasang suami istri itu mengumbar masalah ranjang pada orang lain.
Bram ikut senang melihat Rona wajah Aisha dan Rafi dapat dipastikan jika sepasang suami istri itu bahagia di awal pernikahan mereka. Tidak seperti dirinya.
"Semoga kalian bahagia."
"Sungguh hati ikut bahagia melihat sepasang suami istri yang bahagia. Semoga kalian bahagia selalu."
Sepasang suami istri yang sekarang seperti memiliki chemistry. Mereka sama-sama beroda didalam hati untuk dua orang yang menemani hari-hari mereka ketika sibuk dengan pekerjaan.
__ADS_1