
Ayra menuruni anak tangga sambil menggendong Raka. Ayra sebenarnya tak ingin ikut campur masalah rumah tangga adiknya itu namun melihat keduanya sedang tak dalam kondisi emosi yang cukup baik. Sehingga ia memutuskan untuk menengahi sepasang suami istri itu.
Ayra menarik Rani Agar sedikit menjauh dari Bambang. Bambang mendengus kesal karena Ayra memisahkan mereka.
"Bams. Maaf bukan aku ikut campur urusan kalian atau aku membela salah satu dari kalian. Aku harap kalian jangan membahas permasalah apa pun itu ketika salah satu dari kalian sedang emosi. Tenangkan dulu hati kalian masing-masing."
Karena rasa sungkan pada Ayra Bambang pun menuruti permintaan Ayra. Ia duduk di sofa yang ada di dekat mereka. Ia menatap beberapa kotak dan paper bag yang terlihat seperti barang belanjaan Rani.
Ayra pun mengajak Rani duduk di sofa. Bik Asih yang datang karena mendengar keributan yang disampaikan oleh art yang tadi kebetulan lewat pun cepat menghampiri. Ayra meminta Bik Asih menjaga Raka beberapa saat. Bik asih pun membawa Raka ke ruangan lain.
Ayra mengusap lembut punggung Rani.
"Apakah keluarga suami ku ini memang terbiasa dengan sikap yang kasar? Semoga ini Hanya prasangka hamba Rabb. Ampuni Hamba yang terlalu cepat menilai."
"Ay, sekarang aku tanya sama kamu. Gimana pendapat kamu jika istri berbelanja di luar batas kemampuan suami?"
Ayra menarik napas dalam dan mengucapkan istighfar beberapa kali dalam hatinya.
"Sungguh setan selalu ada dalam setiap hati yang merasa lebih tahu, lebih alim. Lindungilah hamba dari godaan setan yang terkutuk Rabb."
"Imam Al –Ghazali dalam An-Nawawi, Syarhu Muslim. Juz III, di antara kewajiban istri adalah tidak menghamburkan harta suami, akan tetapi wajib menjaganya. Karenanya, istri tidak boleh membelanjakan uang suami kecuali mendapat izin darinya.
Adapun izin dalam hal ini ada dua macam, yaitu pertama izin yang jelas (sharîh). Kedua izin yang dipahami dari kebiasaan, seperti memberi sepotong roti kepada peminta-minta dan semisalnya, di mana diketahui sesuai kebiasaannya bahwa suami merelakan pembelanjaan tersebut. Dengan begitu, telah diperoleh izin walaupun suami tidak terang-terang mengucapkannya. Wallâhu a’lamu bis shawâb"
Ayra membenarkan posisi duduknya. Ia menatap Rani dan Bram bergantian.
__ADS_1
"Dengan begitu, istri yang boros dan suka menghamburkan uang suami, bisa dinilai dari dua sisi, yaitu yang pertama tidak berdosa jika suami mengizinkan dan sanggup memenuhi keinginan istrinya.
Kedua, berdosa jika pemborosan itu tidak seizin suami. Sebab kewajiban istri adalah menaati suaminya, menerima nafkah dengan lapang dada dan mengelolanya secara baik. Apalagi kalau suami tidak mampu memenuhinya, dikhawatirkan suami akan mencari harta dengan cara yang tidak halal hanya untuk menuruti kemauan istri.
Tetapi kita lihat dulu lagi konteks masalah yang terjadi. Sekalipun Rani memang salah membeli barang tanpa izin mu Bams tetapi sebagai suami, kamu pun tak diperbolehkan berbuat semena-mena pada istri."
"Tuh jangan cuma mau benarnya. Aku sudah sering bilang Ay. Dengarkan dulu penjelasan aku. Tapi apa-apa itu dia putuskan dari sudut pandangnya. Mentang-mentang dia yang kerja aku tidak. Sekarang aku berusaha menutup tubuh ku ini yang biasanya aku sehari-hari lebih sering menggunakan hot pant. Apa salah kalau aku sebagai istri mau berubah sedikit minimal aku memakai pakaian yang tertutup walau ga berjilbab. Apalagi sekarang ada papa mama dirumah ini. Dan kamu yang membuat aku kadang merasa tidak nyaman dengan pakaian ku Ay."
"Ah. Sungguh pesona mu mampu membuat istri ku yang keras kepala itu bisa merubah sedikit penampilannya karena dirimu Ay. Bahkan aku sungkan pada mu sekedar untuk meluapkan emosi ku. Rasa hormat ku dan sayang ku pada mu sama seperti rasa sayang ku pada Bram."
Rani disela-sela kalimatnya tadi terisak menjelaskan pada Ayra isi hatinya. Ayra memeluk Rani. Dan kembali usapan demi usapan ia berikan pada Rani.
"Shhhhttt. Niat mu baik Ran, caranya saja yang belum pas. Manusia memang tempat khilaf dan dosa maka taubat adalah jalan yang harus ditempuh.
Dan tidak baik menceritakan masalah mu pada orang lain Ran. Anggaplah sekarang mungkin kamu butuh tempat sampah maka aku berusaha agar sampah mu tak kemana-mana. Walau harusnya tugas menjadi kotak sampah seorang istri itu adalah suaminya. Begitu pun sebaliknya."
Bambang pun mencoba membuka salah satu paper bag itu. Dilihatnya ada satu tunik dan kemeja dan bahan katun rayon. Hal itu Ayra lihat ketika Bambang mengeluarkan benda itu dari paper bag dan membentangkan nya hingga terlihat jelas model dan bahannya.
"Ini pakaian pertama yang Rani beli dengan cukup tertutup dan panjang."
"Ya bagi ku, dalam rumah tangga harusnya selain Rabb nya sebagai tempat mengadu maka suami atau istri yang menjadi partner dalam hidup mereka harus mampu menjadi kotak sampah. Daripada ia membuang nya pada orang lain hingga orang lain tahu aib keluarga kita.
Dan alangkah baiknya jika istri sedang membuang sampahnya sang suami, suami mampu bersabar dulu mendengarkan hingga menunggu selesai baru ditutup dan baru diberi nasihat jika memang ada yang keliru dari sampah yang dibuang tadi.
Coba kalau Rani mengeluh ke orang lain yang tak bisa di percaya maka itu akan menjadi bahan ghibah orang tersebut. Abi dan umi ku pernah berpesan Bams. Jadi orang itu jangan malah buat dosanya orang itu tambah banyak. Ya dengan kita tak membuat dia menghibah kita itu sudah cukup dalam bermasyarakat."
__ADS_1
Rani sudah sedikit reda tangisnya dan membuka beberapa pape bag.
"Coba kamu lihat ini, apa aku pernah beli baju seperti ini. Terus coba lihat dulu notanya ini itu sangat murah dibandingkan barang-barang yang sering aku beli Bams. Kamu itu kalau ada masalah di luar jangan kamu bawa pulang. Aku hapal kamu, kamu pasti ada masalah diluar."
"Ah. Maafkan aku Rani. Kamu selalu bersabar menghadapi aku yang seperti ini. Aku pikir kamu mengoleksi barang branded."
Bambang terdiam, ia menyadari memang ia sedang ada yang ia pikirkan namun ia tak bisa menceritakan pada siapapun. Ia pun sadar ia suka sekali marah tidak jelas ketika pikirannya terbagi dengan satu masalah dibalik sifatnya yang humoris.
Bambang melihat beberapa nota yang ada dimeja. Ia memijat dahinya.
"Bams,Ijinkan aku sebagai istri dari kakak mu disini memberikan saran padamu. Jika kamu mengizinkan. Terlepas aku baru di keluarga ini dan mungkin kita baru saling mengenal."
Bambang pun mengingat beberapa kali jika Ayra memang selalu benar tapi tak pernah merendahkan siapapun saat ia menjelaskan sesuatu masalah. Maka adik dari Bramantyo itu pun mengizinkan Ayra menyampaikan sarannya.
"Katakanlah Ay."
"Menurut Imam al-Ghazali, salah satu bentuk relasi ideal antara suami istri yang dapat menjadi salah satu pilar penyangga keharmonisan rumah tangga adalah dengan memperlakukan istri secara baik dan menghormati posisinya, mempertimbangkan keinginan, perasaan, dan pendapatnya. Namun demikian, suami juga tidak boleh sampai lengah dan lepas kendali, atau bahkan hanyut dalam dominasi serta keinginan istrinya.
Istri harus menghormati suami dan mematuhi perintahnya sebagai kepala rumah tangga. Namun sebaliknya suami tidak dapat bertindak sewenang-wenang terhadap istrinya, dan harus memperlakukannya dengan baik serta menjaga perasaannya, dengan pola hubungan yang saling menghormati dan saling menghargai. Tentu dengan demikian cita-cita pembentukan keluarga Islami untuk menghadirkan keluarga yang sakinah mawaddah warahmah, dapat terwujudkan.
Sungguh bukan diriku bermaksud menggurui, aku pun masih belajar dalam dalam teorinya mencapai keluarga sakinah mawadah warahmah. Namun rasa sayang ku pada suami ku maka, aku pun memiliki tanggungjawab agar kalian mencapai tujuan yang sama. Karena aku bisa melihat jelas bagaimana mas Bram harus bersitegang dengan papa ketika menginginkan kamu untuk kembali."
"Maafkan aku Rani. Aku sedang ada masalah. kupikir kamu belanja tas dan sepatu lagi yang sudah cukup banyak di dalam lemari mu. Aku belum bisa jika harus memberi kebutuhan mu untuk sekelas mengoleksi tas-tas branded. Seperti kebiasaan mu sewaktu masih di keluarga mu."
Suara Bambang terdengar cukup pelan tak lagi penuh emosi dan terlihat dahinya berkerut.
__ADS_1
"Tapi aku mampu mewujudkan nya!."