Rindu Alexa

Rindu Alexa
Backstreet


__ADS_3

"Jangan khawatir, Tan. Mas Shakti hanya sakit kepala. Dan itu biasa terjadi pada mereka yang kelelahan karena pekerjaan." jelas Alexa saat kembali ke meja makan. Dia melihat semangkuk soto betawi yang masih hangat. Alexa yakin itu makanan yang Gayatri siapkan untuk Shakti.


"Tante makan dulu, ya?" tawar Alexa.


"Nanti saja, Tante akan bersiap dulu. Oh ya, nanti jika Shakti turun minta dia makan. Tante sudah menyiapkan makanan favoritnya." Gayatri pun beranjak meninggalkan ruang makan. Sedangkan Alexa hanya menelan ludahnya dengan kasar. Berbicara dengan Shakti untuk kali ini benar benar membuatnya sangat enggan. Lelaki itu sedari tadi bersikap songong.


"Mbak Alexa, mau minum apa?" tanya Bi Jum membuyarkan lamunan Alexa.


"Nggak usah, Bi. Sebentar lagi saya dengan Tante Gayatri akan pergi." jawab Alexa dengan menatap kembali makanan yang ada di meja makan.


"Mbak Alexa seperti bidadari, sudah cantik, baik pula." Dari awal Bi Jum memang mengagumi Alexa. Kadang terlintas dalam pikiran konyol asisten rumah tangga yang sudah lama mengabdi itu, seandainya Alexa menjadi menantu rumah ini, rumah ini akan kembali hidup.


"Jangan menatap saya seperti itu, Bi. Nanti jatuh cinta, lo!" goda Alexa sedikit salah tingkah.


"Bi Jum yakin, lelaki manapun yang melihat Mbak Alexa pasti jatuh cinta." wanita itu rasanya tidak bisa berhenti mengeluarkan kata kata kekaguman untuk gadis manis dengan sikapnya yang penuh kelembutan.


"Jangan berlebihan, Bi."


"Bibi, tinggal ke belakang ya, Mbak." pamit Bi Jum sebelum melangkah ke rumah belakang. Di belakang ada rumah yang khusus ditempati, asisten rumah tangga dan scurity.


Alexa berjalan menuju lemari pendingin. Dia mengambil lemon. Alexa bermaksud membuat lemon hangat sambil menunggu Gayatri.


Suara langkah yang bergesekan dengan lantai membuat Alexa menoleh ke sumber datangnya suara. Terlihat Shakti menuruni anak tangga. Lelaki itu memang tampan dan gagah. Tubuhnya yang tinggi dengan gelombang di dada dan lengannya membuat sosok itu terlihat seksi. Detail wajah yang ganteng sempat menarik perhatian Alexa. Untung saja, Alexa langsung tanggap dengan kekagumannya dan kembali fokus dengan tujuannya membuat lemon hangat.


"Ehm.... " Shakti menyapa Alexa dengan deheman. Tapi, Alexa tak bergeming, Alexa tidak ingin terjadi percekcokan lagi dengan lelaki yang sempat membuatnya kesal.


"Kenapa hari weekend kamu ada di sini?" Suara bariton itu terdengar cukup dekat di telinga, membuat Alexa menoleh. Lelaki yang punya tinggi badan maksimal itu ternyata sudah berdiri di belakangnya dengan posisi yang cukup dekat.


"Aku libur dua hari." jawab Alexa masih dengan memeras lemon.


"Pacar kamu? Apa tidak protes waktu liburmu malah untuk Mama?" Kali ini Shakti memberi umpan. Suaranya masih terdengar datar dengan wajah tanpa senyum sama sekali.


"Aku belum punya pacar." lirih Alexa, masih dengan memperhatikan air yang hampir mendidih. Mungkin kedengarannya sangat tidak mungkin gadis se-usia Alexa sekarang tidak punya pacar.


"Ehem... ehm... " Sakti berdehem, dia berusaha menetralkan rasa senang mendengar pernyataan Alexa. Meskipun begitu, dia tidak mampu melenyapkan senyum tipis dari wajahnya.


"Baru putus?" lanjut Shakti untuk menuntaskan rasa penasarannya. Rasa penasaran dengan harapan yang menyenangkan.

__ADS_1


"Belum pernah punya pacar."


"Apa?" sergah lelaki yang saat ini memasang pendengarannya dengan baik itu merasa tidak percaya.


"Iya, aku belum pernah punya pacar." tegas Alexa masih dengan acuh.


"Tolong, jangan menghalangi jalan, Mas." pinta Alexa saat tubuh besar tinggi itu berada tepat di belakangnya.


Sakti yang merasa hatinya senang pun tidak menjawab, dia hanya sedikit menggeser tubuhnya ketika Alexa berbalik dengan membawa lemon hangat ke meja.


"Emang kenapa nggak punya pacar?" Shakti masih belum puas mendengar jawaban Alexa. Dia masih tidak percaya jika Alexa belum pernah pacaran. Ah, naif sekali bagi lelaki itu jika semuanya benar.


"Dulu sempat nggak boleh sama Papa."


"Sekarang?"


"Hmmm...nggak boleh kalau cuma pacar pacaran." jawab Alexa dengan ragu.


"Baiklah kalau begitu, berarti aku langsung melamar kamu saja." kalimat Shakti seketika membuat Alexa menoleh. Tatapannya begitu tajam mengulik arti dari semua ucapan lelaki yang saat ini mengumbar senyum tipisnya itu . Bagi Alexa, Shakti terkesan sembarangan melempar candaannya.


"Aku nggak punya pacar. Kalau kamu mau, aku akan melamarmu sekarang." Rasa senang yang membuncah membuat Shakti tidak sadar jika dia sudah terlalu jauh menggoda Alexa. Dia baru menyadari jika dirinya sudah menciptakan sebuah kebohongan saat melihat senyum dan rona wajah Alexa.


Shakti tidak mengerti, saat mendengar gadis berwajah oriental itu menyatakan


tidak punya pacar rasa senang seolah menguasai hatinya. Bahkan, dia sangat sulit untuk mengendalikan perasaannya sendiri sama seperti saat dia merasa kesal jika Alexa berdekatan dengan lelaki lain.


Alexa kemudian duduk di kursi, gadis itu masih terbungkam. Tapi, wajah merona tidak bisa disembunyikan dari lelaki yang kini menatapnya lekat.


Shakti sendiri juga tidak mengerti, ada rasa senang saat bisa mendekati dan membuat rona di wajah gadis cantik berkerudung itu.


Alexa benar-benar tidak berani membalas tatapan mata tajam milik Shakti. Sambil menyesap lemon hangat, Alexa berusaha menetralkan perasaannya yang kini sedang bergejolak.


"Aku juga ingin!" Shakti yang duduk di dekat Alexa pun mengambil gelas dari tangan Alexa yang sudah terangkat.


Tangan mereka saling bersentuhan, Shakti bisa merasakan jari jari itu masih terasa dingin di antara hangatnya minuman yang menembus gelas yang dia pegang.


Masih melirik gadis yang tertunduk dengan tersipu malu itu, Shakti menyesap sedikit lemon hangat yang terasa segar itu. Wajah malu Alexa membuatnya tidak bisa menahan senyum tipis di sudut bibirnya.

__ADS_1


"Astaga, dia picisan sekali dan itu membuatku tertular seperti anak SMP yang sedang menggoda seorang gadis." Shakti bermonolog dalam hatinya. Dia hampir tidak percaya bisa menemui gadis senaif itu. "Dimana masa pubermu, Ay." Masih dengan senyum senyum Shakti bergumam dalam hati. Ay, baginya nama itu lebih cocok untuk gadis se-ayu Alexa.


Jatuh Hati? Mengaguminya? Atau memang merasa nyaman dengan sikapnya terhadap Mama atau dirinya?


Shakti menyimpan sejenak semua pertanyaan itu. Dia merasa tidak ingin menyiakan waktu bersama gadis yang membuatnya tidak pernah bosan menikmati kecantikannya.


"Shak, sudah makan?" tanya Gayatri dengan berjalan ke arah mereka. Mendengar suara mamanya dia langsung meletakkan gelas lemon Alexa di depan pemiliknya. Dia tidak ingin mamanya berfikir macam-macam.


"Belum. Mama, mau ke mana? Kok rapi." tanya Shakti ketika mamanya mendekat.


"Mama akan ke mall bersama Dokter Alexa." jawab Gayatri.


"Tidak-tidak, Ma. Biar Shakti yang antar." Shakti langsung bereaksi. Dia tidak akan membiarkan mamanya pergi sendiri dengan Alexa.


"Katanya kamu sakit. Sebaiknya, kamu istirahat." Gayatri masih berusaha meyakinkan putranya jika pergi dengan Alexa akan lebih baik.


"Nggak, Ma. Aku tidak akan membiarkan Mama pergi sendiri." balas Shakti. Jika sudah seperti itu Gayatri tetap yang akan mengalah.


"Tapi Alexa Salat Dhuhur dulu, Tan." Alexa mencoba menengahi. Gadis itu tidak peduli, pergi sendiri atau bersama Shakti. Sebenarnya, Alexa masih mencoba menenangkan perasaannya sendiri.


###


Alexa menggandeng Gayatri setelah keluar dari mobil. Sedangkan Shakti berjalan membuntut tepat di belakang mereka. Lelaki itu masih berjalan dengan menatap ponselnya.


Shakti memasukkan kembali ponselnya dan berlari menghampiri Alexa dan mamanya saat akan menaiki escalator.


"Naik lift saja!" ucap Shakti dengan tangan memegang bahu mamanya.


"Emang boleh? Itu, kan lift khusus!" ucap Gayatri.


"Mama kayak nggak kenal putranya saja." Shakti langsung merangkul mamanya. Dan satu tangannya diam diam menggenggam lengan Alexa.


Alexa tersentak kaget saat tangan besar itu menggenggam lengan kecilnya dengan kuat. Gadis yang berusaha meronta dan menarik lengannya itu pun melotot, saat Shakti menoleh ke arahnya dan melempar senyum kecil yang terkesan mengejek. Iya, mengejek Alexa yang terlalu lemah dalam cengkeramannya.


Mau tidak mau Alexa mengikuti lelaki yang merangkul mamanya masuk ke lift itu dengan terpaksa. Sesekali Shakti melirik Alexa diam diam. Keduanya seolah memilih perasaan yang mereka miliki akan menjadi rahasia keduanya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2