Rindu Alexa

Rindu Alexa
Pelukan Hangat Papa


__ADS_3

Shakti mengerjapkan mata saat mentari mulai menembus masuk dari celah jendela kamar. Badannya terasa remuk saat digerakkan karena semalam dia tertidur di sofa yang ukurannya lebih pendek dari tubuhnya.


Lelaki yang saat ini merasakan kepalanya berdenyut pusing itu pun memijit pelan keningnya. Semalam dia sedikit mabuk.


"Sudah bangun, Shak." sapa Arka yang sudah berdiri dengan membawa segelas air putih dengan badan yang sudah basah keringat. Arka baru saja selesai olahraga di ruangan Gym yang ada di apartemen mewah milik Shakti. Dia memutuskan menginap, sedangkan Ringgo memilih balik ke rumah setelah melihat temannya terkapar di sofa.


"Aaaaakkkhhh...kepalaku terasa sakit." keluh Shakti sambil meringis dan kemudian beranjak bangun untuk duduk.


Lelaki yang masih mengenakan kemeja dan celana kain yang sudah kusut itu pun duduk dan menyandarkan kepalanya di sofa. Kepalanya benar-benar terasa berat.


"Lebih baik kamu mandi dulu! Biar tidak seperti pengemis cinta. Aku juga sudah memesan makanan untuk sarapan." ujar Arka dengan meletakkan gelas kosongnya di meja. Lelaki itu menghidupkan televisi sambil menunggu keringatnya mengering agar bisa segera mandi.


"Apa aku langsung melamar Alexa saja?" celetuk Shakti dengan menatap Arka yang memilih duduk di sofa yang sama dengannya. Masih tentang Alexa saja yang ada di otak lelaki itu.


"Yakin?" Arka menatap heran pertanyaan sahabatnya itu. Alexa dan Alexa lagi seperti tidak ada wanita lain di dunia ini, pikir Arka.


"Terus membiarkan dia menjadi milik orang lain?" Shakti kembali berdecih, kepalanya terasa penuh dengan gadis itu.


"Yakin diterima sama gadis itu? Aku yakin kamu bakalan dapat penolakannya, apalagi papanya. Siapa yang tidak kenal Hans Satria Jagad, sosok yang terkenal dengan sikap penuh hati hati." jelas Arka kembali membuat Shakti untuk tidak gegabah.


Shakti terdiam. Apa yang dikatakan Arka memang tidak salah. Salahnya kemarin dia masih ragu dengan perasaannya pada gadis itu dan Alexa pun masih belum siap menikah selama belum mendapatkan gelar dokter.


"Come on! Ada banyak hal yang harus kamu pikirkan dan menjadi tanggung jawabmu. Tante Gayatri dan lebih dari dua ribu karyawan yang bergantung pada perusahaanmu." Arka mulai mengajak Shakti untuk berfikir lebih logis.


Mendengar apa yang dikatakan Arka, Shakti pun terdiam untuk merenungkan semuanya. Rasanya, dia juga sudah tidak punya celah lagi membujuk Alexa. Lelaki yang mulai memainkan logikanya juga berfikir, bisa juga rasa cinta gadis yang menempati hatinya itu sudah berganti dengan rasa benci karena kebohongannya.


Shakti pun beranjak berdiri, dia pun meregangkan tubuhnya untuk melemaskan otot yang sudah terasa kaku.


"Seharusnya aku menghamilinya saja, Ark. Hahahaha...." tawanya menggelegar dengan langkah menuju kamar untuk membersihkan diri.


"Dasar gila! " gumam Arka dengan menggelengkan kepala, terdengar sekali tawa itu hanya untuk menghibur diri sendiri. Mungkin jika bertemu psikolog lelaki itu sudah masuk dalam tahap stress ringan.


###


"Zoy, duduklah makan bersama. Kamu bukan pelayan yang selalu makan paling akhir." Kalimat itu sering sekali terlontar dari Hans saat mereka sarapan atau makan malam dan setiap kali itu juga selalu terulang seperti saat ini. Tapi bagi Zoya yang penting semua sudah merasa nyaman dengan menu yang mereka inginkan.

__ADS_1


"Iya, Mas." jawab Zoya sambil tersenyum. Wanita yang selalu terlihat kalem itu pun kemudian menuruti apa yang di katakan suaminya.


Makan malam kali ini terlihat tenang. Bahkan Aleks yang sering absen pun ikut melengkapinya. Mereka menyelesaikan makan malam. Sesekali Hans melirik anak istrinya secara bergantian. Dia merasa bahagia setiap kali bisa berkumpul dengan keluarganya.


"Kamu cantik sekali Zoya, jika pakai jilbab warna ungu." Hans membuka pembicaraan dengan menggoda Zoya setelah dia menyelesaikan makan malamnya.


"Parah." Satu kata yang dari Aleks saat merespon kalimat papanya yang tidak tahu tempat untuk merayu istrinya.


"Iya Papa tidak tahu malu, udah mau punya cucu masih suka nge-gombal." sahut Hanum dengan mencebikan bibir membuat Hans tertawa. Hans memang pandai mengkondisikan situasi. Saat semua serius dia yang mencari bahan bercanda.


Zoya hanya terdiam dengan menarik ujung matanya ke arah lelaki yang kini menatapnya. Wajah cantik itu sudah terlihat merona, membuat gemas lelaki yang sudah berdampingan dengannya selama belasan tahun itu.


"Cinta Papa kan, menolak tua. Iya kan, Zoy?" sambut Hans dengan tatapan menggoda ke arah istrinya.


"Bilang saja nggak mau dibilang tua. Padahal itulah kenyataannya." Hanum langsung menyela dengan kalimat sengitnya. Dia paling kesal saat papanya mulai narsis.


"Sudah semua? Biar Mama bawa ke belakang piring kotornya." Kali ini Zoya tidak mau terlibat lagi dengan kehebohan yang diciptakan suaminya.


"Ale bantuin, Ma." ucap Ale kemudian ikut berdiri. Dari tadi Alexa memang hanya tersenyum melihat kedua adiknya dan papanya.


"Iya, Pa." jawab Ale dengan melanjutkan membantu mamanya untuk membawa piring kotor ke pantry.


Seperti apa yang dititahkan papanya Alexa pun mendatangi ruang kerja papanya. Zoya menatap Alexa yang berjalan menuju ruang kerja papanya. Wanita yang mengkhawatirkan putrinya sulungnya itu pun memilih duduk di ruang keluarga yang ada di lantai atas bersama Hanum.


Begitu pun Hanum, pikirannya berkecamuk tentang apa yang membuat papanya memanggil kakaknya di ruang kerja. Bukan rahasia lagi, jika setiap kali anak anaknya membuat kesalahan Hans akan memanggil dan mengajak bicara di ruang kerja.


"Tok tok tok... ceklek!"


"Pa... " Alexa membuka sedikit pintu ruang kerja papanya menunggu izin masuk.


"Masuk, Al." ucap Hans dengan menutup buku yang baru saja dia baca dan meletakkannya di atas meja. Lelaki dengan kharismatik yang kuat itu pun menatap putrinya yang berjalan ke arahnya. Langkah Alexa kini berhenti dan berdiri di depan papanya.


"Kapan kamu wisuda dan melakukan sumpah dokter?" tanya Hans memulai pembicaraan.


"Bulan depan, Pa." jawab Alexa, dadanya berdebar jika sudah melihat wajah serius papanya.

__ADS_1


"Oh... " Respon Hans dengan mengusap wajahnya. Sejenak dia terdiam.


"Kamu ingin berkarir atau menikah?" tanya Hans langsung pada intinya. Alexa hanya terdiam membuat Hans beranjak dan berjalan mendekat ke arahnya.


"Papa tidak melarangmu menikah. Tapi, Papa tidak ingin kamu dipermainkan ataupun di sakiti."


"Pilihlah lelaki yang tepat untuk menjagamu, karena tidak selamanya Papa menjagamu. Papa menyayangimu, Al." lanjut Hans saat sudah berdiri di dekat putrinya. Dia sudah tahu semua tentang kedekatan sulungnya pada executive muda yang prestasinya selalu mengguncang dunia bisnis. Hans juga sudah mendengar jika lelaki itu baru saja mengakhiri hubungan dengan kekasihnya.


Alexa yang semula hanya menundukkan kepala kini berlahan menggeleng pelan. Dia hanya ingin menegaskan jika dirinya sudah tidak ada hubungan apapun dengan lelaki itu.


Gadis yang sudah meneteskan air mata itu pun memeluk papanya, "Ale hanya ingin menjadi kebanggaan, Papa." Tangisnya pecah dalam pelukan papanya.


Hans pun membalas pelukan putrinya dengan hangat. Tubuh kecil yang bergetar hebat itu membuat Hans seperti ikut merasakan rasa sakit.


"Papa tidak melarangmu berhubungan dengan laki laki manapun. Maafkan, Papa!" Hans mulai menyadari caranya mem- protek putrinya membuat sulungnya itu harus menyembunyikan hubungannya dengan lawan jenis.


"Aku ingin berkarir dulu, Pa. Hingga bisa mendapat izin praktek." jawab Alexa saat meregangkan pelukannya dari papanya.


"Papa membebaskanmu, Al." jawab Hans dengan mengusap kedua pipi sembab putrinya. Dia mulai mengerti dengan situasi putrinya.


"Tapi, Papa juga sudah berumur. Sudah pantas menimang cucu." goda Hans. Dia juga takut jika putrinya akan menutup diri dari sebuah hubungan bersama seorang lelaki.


"Papa sayang kamu. Jika ada sesuatu langsung bicarakan dengan Papa. Papa juga tidak melarangmu berhubungan dengan lelaki manapun, asal tahu batasannya."


"Hanya satu yang Papa pinta. Jangan buat malu dirimu sendiri dan keluarga." lanjut Hans dengan tersenyum penuh wibawa di depan putrinya.


"Terima kasih, Pa." Alexa memeluk papanya dengan rasa lega. Dia akan berusaha melakukan yang terbaik untuk papanya.


"Keluarlah, Mama Zoya pasti mencemaskanmu!" titah Hans yang sudah meramalkan kegelisahan Zoya saat putra atau putrinya masuk ruang kerja dan bicara empat mata dengan papanya.


Bersambung...


Mampir yuk kak ke karya aku yang satu ini. Part cuma 46 singkat padat dan menarik. Nggak kalah bikin baper deh


__ADS_1


__ADS_2