Rindu Alexa

Rindu Alexa
Membuntut


__ADS_3

Shakti membelokkan mobilnya di jalan menuju kediaman keluarga Hans Satrya Jagad. Detak jantungnya berpacu begitu hebat, rasa bersalah dan cemas berbaur menjadi satu saat membayangkan keadaan Alexa. Tapi, dia harus tetap menjelaskan apa yang sudah terjadi dengan hubungan mereka.


Rumah dengan gerbang otomatis itu terlihat lenggang. Lelaki bertubuh tinggi atletis itu keluar dari mobilnya dengan wajah yang terlihat kalut.


Beberapa kali, Shakti memencet bel hingga akhirnya seorang bertubuh pendek dan sedikit tambun itu pun membukakannya.


"Alexanya ada?" tanya Shakti mendahului dengan tidak sabar. Lelaki itu pun terlihat cingak cinguk melihat ke dalam rumah.


"Maaf, Mbak Alenya tidak mau bertemu dengan siapa pun." jawab Mbak Atun merasa curiga jika lelaki di depannya yang sudah membuat putri tuan rumah ini menangis.


Mbak Atun memang melihat Alexa turun mobil sambil mengusap air matanya. Bahkan, sebelum masuk ke kamar, Alexa sudah sempat berpesan padanya jika dia tidak ingin diganggu. Mata sembab Ale membuat Mbak Atun hanya mengangguk dan menatap heran.


"Please, ini sangat penting!" bujuk Shakti penuh dengan permohonan.


"Maaf, Mas. Mbak Alenya sepertinya memang tidak mau diganggu dulu."


"Tapi... "


"Saya mohon." Mbak Atun langsung menyela kalimat Shakti bahkan perempuan tiga puluhan tahun itu pun sudah memegang daun pintu, bersiap untuk menutupnya kembali.


"Baiklah, tolong katakan ada Alexa jika Shakti datang!" Shakti kembali dengan rasa kecewa. Dia yakin jika saat ini Alexa menangis.


"Arggghh... " pekik Shakti dengan mengusap wajahnya secara kasar sebelum masuk ke dalam mobil.


Jaguar metalic itu keluar dari halaman rumah saat Hanum turun dari taxi. Gadis itu terlihat heran, tapi dia memilih tidak peduli. Hari ini, dia merasa sangat lelah sekali.


Dengan menyeret langkah membawa belanjaan titipan mamanya, Hanum langsung mencari Mbak Atun ke belakang.


"Mbak, Mbak Atun." panggil Hanum membuat wanita itu berjalan tergopoh-gopoh menghampirinya.


"Iya, Mbak Hanum."


"Ini, kata Mama diminta bikin sup buat makan malam, bikinnya jangan banyak-banyak karena Mama dan Papa sudah makan malam di luar." jelas Hanum. Gadis itu kemudian meninggalkan dapur dan menaiki tangga menuju ke kamar.


Gadis berkerudung itu pun memelankan langkahnya saat melewati kamar Alexa. Dia menjadi penasaran dengan apa yang terjadi dengan kakaknya. Hanum terlihat khawatir dengan kakaknya. Sementara ini, dia curiga dengan lelaki yang pernah datang bersama kakaknya itu keluar dari rumah.


Tidak ingin terlalu ikut campur Hanum pun memilih untuk melewati kamar kakaknya begitu saja. Mungkin dia bisa melihat Kak Alenya kembali saat Salat Magrib.


###


Rumah masih terlihat lenggang. Setelah Salat Magrib, Hanum memutuskan untuk menemui Alexa di kamar. Dia tidak melihat Alexa turun untuk salat berjamaah membuat gadis itu semakin cemas.


"Kak Ale... tok... tok... tok...!" Entah sudah berapa kali Hanum memanggil nama kakaknya itu, tapi tidak ada jawaban membuat gadis itu semakin khawatir. Dia yakin jika kakaknya sedang bermasalah.


Gadis yang berkerudung dan mengenakan pajamas rumahan itu bergegas turun. Langkahnya berlari kecil menuju gudang.


"Mbak Atun, ayo bantuin Hanum bawa tangga!" Mba Atun yang masih terlihat bingung itu langsung mengikuti Hanum.


Hanum memang biasa terlihat jutek, tapi kali ini dia tidak bisa menyembunyikan lagi rasa khawatirnya pada Kak Ale.


"Mbak Hanum mau ngapain?" tanya Mbak Atun saat mereka sampai di bawah balkon kamar Alexa.

__ADS_1


"Mau lihat Kak Ale. Aku takit, Kak Ale mencoba bunuh diri!"


"Husss... amit-amit! Nggak mungkin Mbak Ale sampai melakukan perbuatan terkutuk itu." jawab Mbak Atun sambil bergidik.


"Ih... siapa tahu, namanya juga patah hati." jawab Hanum sudah bersiap untuk menaiki tangga.


"Iya ya, Mbak, tapi hati-hati! " Mbak Atun juga ikutan cemas, apalagi mengingat lelaki ganteng yang mencari Alexa tadi siang juga terlihat bingung.


"Pegangin jangan melamun saja!" teriak Hanum saat melihat Mbak Atun terbengong.


Hanum mulai menaiki tangga menuju balkon kamar Alexa. Dengan susah payah gadis itu melompat melewati teralis.


"Kak Ale!" panggil Hanum saat tidak melihat kakaknya di kamar.


"Kak, Ale! Tok.. tok...tok..." teriak Hanum sambil mengetik pintu kamar mandi berulang kali. Gadis itu benar benar khawatir bagaimana jika kakaknya bunuh diri di kamar mandi. Di rumah tidak ada siapa pun.


"Kak Ale buka pintu." teqriak Hanum hampir menangis.


"Kak... "


"Ceklek... " Pintu terbuka, Alexa terlihat membungkus rambut basahnya dan berdiri di depan pintu kamar mandi.


"Alhamdulillah... Ya Allah!" ujar Hanum lega. Gadis itu langsung memeluk kakaknya.


"Ada apa, Num?" tanya Alexa bingung juga karena tiba tiba Hanum ada di dalam kamarnya.


"Ada apa? Ada apa, jika lagi ada masalah jangan langsung mengurung diri. Terus nggak salat." ketus Hanum. Gaya bicaranya memang tak jauh beda seperti Hans.


"Iya, tapi juga patah hati, kan? Laki laki itu, kan?" tebak Hanum, mata Alexa yang semakin terlihat menyipit itu tidak bisa dibohongi jika Alexa sudah menangis dalam waktu yang cukup lama.


"Jangan katakan apapun sama Mama dan Papa." pinta Alexa, dia tidak ingin kedua orang tuanya tahu masalahnya dengan Shakti.


"Tentu, karena aku tidak tahu apapun tentang masalah Kak Ale. Tapi, jangan buat aku khawatir. Aku sayang Kakak." Hanum memeluk kakaknya. Meskipun sering merasa cemburu, karena semua hanya sayang sama Alexa tapi Hanum juga tidak bisa mengingkari jika dia juga menyayangi kakaknya.


"Jangan lupa makan! Hanum akan membenahi tangga dulu!" Hanum langsung melenggang


keluar kamar.


Alexa kembali terduduk di bed, senyumnya kembali menyurut. Dia hanya bisa tersenyum untuk mereka orang-orang yang dia sayangi. Tapi, hatinya kali ini begitu kecewa. Cintanya sudah dibalas dengan kebohongan dan pengkhianatan.


Alexa menghela nafas panjang, dia kembali menyeka air matanya yang berlahan menetes, dia bisa membohongi orang lain tapi tidak dengan perasaannya.


###


Mentari sudah mulai bersinar dengan cerah. Alexa keluar kamar sudah rapi dengan tas rangsel cewek yang bertengger di pundaknya.


Dia melihat semua orang sudah siap di meja makan. Bahkan, Aleks juga sudah rapi dengan kemeja resmi dan bersiap untuk kuliah.


"Selamat pagi." sapa Alexa menghampiri meja makan yang sudah siap dengan menu pagi.


"Sayang, semalam kenapa tidak makan? Mama pulang katanya cuma Hanum yang makan malam sendirian." tanya Zoya menghampiri Alexa dengan membawa segelas jus orange untuk sulungnya.

__ADS_1


"Ale ketiduran, Ma." bohong Alexa, dia juga melirik tatapan tajam Hanum.


"Jangan suka lupa makan. Kak Ale, ada magh juga." ujar Zoya dengan mengelus pundak kecil putrinya. Hans yang melirik perlakukan Zoya pada Ale, membuat lelaki itu dengan sembunyi sembunyi menggenggam tangan istrinya dari bawah meja. Kelakuan yang masih sama seperti Hans muda. Tapi seperti yang pernah dikatakan lelaki yang masih terlihat gagah itu jika cintanya menolak tua.


"Zoy, aku berangkat ke kantor dulu." Hans pun berdiri.


"Aku juga mau ke kampus, Pa, Ma!" ucap Alex kemudian menghampiri papa dan mamanya untuk bersalaman.


"Hati hati, Nak! Jangan ikutan yang aneh aneh ya!" pesan Zoya. Dia memang membebaskan Aleks tapi dia juga tidak pernah lupa mewanti wangi putranya itu.


"Fokus dengan cita citamu, Leks. Kamu jagoannya Papa." timpal Hans saat putranya mencium punggung tangannya.


"Kalau bakul kopi dan ice cream ini?" tanya Hanum yang sudah berdiri di depan papanya.


"Kamu kebanggaannya, Papa. Gadis pemberaninya Papa." jawab Hans dengan mencium puncak kepala anak gadisnya. Hanum yang awalnya merajuk kini pun berpamitan dengan tersenyum.


"Kesayangannya Mama! Jangan bandel ya! " pesan Zoya. Dia juga mencium putrinya. Zoya tahu Hanum memang pencemburu dia mirip sekali dengan suaminya. Gadis manja itu kemudian berlari mengejar Aleks untuk berangkat bersama.


"Al, Papa berangkat dulu!" ujar Hans kemudian Ale juga bersaliman dengan papanya. Melihat putrinya yang terlihat lesu Hans mulai curiga ada sesuatu yang menjadi beban pikiran sulungnya.


Rumah sudah sepi, Zoya berjalan mendekati Ale setelah mengantarkan Hans sampai masuk ke dalam mobil.


"Ada apa, Kak?" tanya Zoya saat melihat putrinya tidak bersemangat, dia juga melihat Ale tidak menghabiskan sarapannya.


"Tidak ada apa apa, Ma." lirih Ale saat menjawab mamanya. Zoya hanya tersenyum putrinya tidak akan bisa membohonginya.


"Tidak ada tempat yang tepat untuk berbagi kecuali Allah dan keluarga, Kak." Zoya mengambil tangan putrinya, digenggamnya tangan mungil itu dengan lembut.


"Mama... " panggil Alexa lirih dengan suara serak. Dia memeluk mamanya dengan mata berkaca kaca. Alexa merasa ada sesuatu yang menopangnya untuk bisa menumpahkan tangisnya dalam pelukan wanita yang dia panggil Mama itu.


"Jangan menyimpan semuanya sendiri. Ada Mama, Papa dan Si kembar yang semua sayang kamu, Kak." Zoya memang berusaha teliti memperhatikan putra putrinya. Baginya mereka adalah amanat dari Allah yang semua akan dipertanggung jawabkanya kelak.


"Mama, Alexa salah. Ale tidak mendengarkan Papa!" hanya itu yang bisa di ucapkan Alexa. Gadis cantik itu menatap nanar mamanya yang tersenyum. Wanita tegar yang berusaha memahami perasaan putrinya.


"Cowok yang nganterin Kak Ale?" tanya Zoya.


"Iya, Ma. Tapi, tolong jangan bilang Papa. Biar Ale selesaikan semuanya sendiri." pinta Ale, dia tahu papanya yang tempramen akan bereaksi berlebihan jika seseorang membuat putrinya menangis.


"Mama akan merahasiakan ini. Tapi, berjanjilah jangan bersedih yang terlarut. Mama percaya sama kamu, Kak." Kalimat Zoya memang selalu membuat Alexa merasa lebih kuat, merasa lebih adem.


"Terima kasih, Ma. Ale, berangkat ke rumah sakit dulu!" pamit Alexa dengan mencium punggung tangan mamanya dia juga memeluk wanita yang selalu melimpahkan kasih sayangnya itu.


"Hati hati! Masih banyak cowok baik yang menunggu bidadarinya Mama ini." goda Zoya membuat Alexa tersenyum.


Gadis itu pun keluar menuju mobilnya yang sudah siap di halaman. Alexa mulai melajukan mobilnya di iringi lambaian tangan mamanya.


Melihat mobil Yaris putih yang keluar, membuta Shakti melajukan mobilnya untuk membuntuti kemana perginya Alexa. Dia menunggu gadis itu keluar rumah sudah hampir sejam yang lalu.


Alexa yang tidak pernah mengangkat panggilannya yang hampir seratus kali itu membuatnya memutuskan untuk menemuinya langsung dengan cara apapun.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2