
Alexa Pov
Aku mungkin egois, sudah dua bulan hubunganku dengan Mas Shakti tidak sehat. Satu sisi aku ingin berpisah, satu sisi dia ngotot untuk bertahan. Dia terus berusaha untuk meyakinkan aku jika selama ini, dia sudah tidak punya hubungan spesial dengan mantannya itu. Tapi, aku yang sudah melihat kenyataan yang terjadi, rasanya aku terlalu takut jika hubungan mereka sudah jauh. Membayangkan mereka berbagi peluh aku sudah tidak sanggup.
Tapi saat mengingat wajahnya yang sendu saat aku mengabaikannya. Apalagi tadi, saat Mas Shakti terllihat panik mengejar waktu untuk bertemu koleganya karena sebelumnya dia ingin menemaniku mencari bubur ayam. Sungguh rasanya aku tidak tega melihatnya.
Belum lagi jika ada calon baby yang nanti saat lahir, pasti akan membutuhkan sosok papa. Hatiku juga terasa ngilu jika membayangkan nasib calon anakku jika terlahir tanpa papanya. Aku selalu sadar, seorang anak tidak hanya butuh materi saja, dia juga butuh bimbingan untuk membentuk karakter yang mana mungkin aku akan sulit untuk melakukannya sendiri. Aku benar-benar dibuat dilema.
"Sayang, Assalamu'alaikum... " suara Zoya mengagetkan Alexa yang tengah termenung di di taman belakang rumah.
"Waalaikum salam, Mama." jawab Alexa dengan mencium punggung tangan mamanya dan memeluk wanita yang selalu menguatkannya.
"Sayang, Mama bawakan rujak. Mungkin kamu menginginkannya." ujar Zoya membuat Alexa langsung tersenyum dan bangkit. Sungguh, Mama Zoya memang yang paling mengerti dirinya. Kedua wanita cantik itu pun melangkah masuk menuju meja makan.
"Mama ke sini naik apa?" tanya Alexa dengan memasukkan satu irisan kedondong yang sudah dia cocol dengan sambal gula Jawa.
"Bareng Papa. Papa sengaja menjemput Mama setelah pulang dari pengadilan dan sekarang Papa kembali ke kantor." jelas Zoya yang sedang menunggui Alexa menikmati rujaknya.
"Hanum tadi video call, Ma. Bocah itu sekarang terlihat dewasa ya." sela Alexa sambil tersenyum membayangkan adiknya.
"Semoga Hanum bisa menjadi istri solehah ya, Kak. Mama selalu kepikiran dengan kelakuan sifat kerasa kepalanya Hanum." lanjut Zoya menimpali.
"Bagaimana denganmu, Kak. Tidak mungkin, juga kamu seperti ini terus? Shakti masih suamimu, Kak. Kamu masih punya kewajiban terhadapnya." jelas Zoya mengingatkan putrinya.
Sejenak Alexa terdiam, dia juga mengingat kejadian beberapa hari yang lalu saat tahu ternyata Shakti yang mencuri lotionnya. Tidak hanya itu saja, dia juga tidak peduli dengan keperluan suaminya yang lainnya. Rasanya tiba tiba hatinya merasa bersalah. Pernikahan yang seharusnya menjadi ladang pahala malah harus seperti ini.
"Kak... " Zoya menggenggam lembut tangan putrinya, saat melihat Alexa terlihat termenung.
"Mama tidak tahu masalah kalian, tapi Mama harap jangan sampai masalah kalian terlarut lama." Zoya tersenyum lembut pada putrinya. Dia tidak bisa memaksa Alexa untuk kembali pada Shakti meskipun dia yakin akan kesungguhan Shakti memperjuangkan istrinya.
Bagi Zoya, pernikahan adalah sesuatu yang cukup personal. Apalagi jika dasarnya hal itu menyangkut tentang perasaan yang hanya bisa dirasakan oleh yang bersangkutan saja. Hal itu membuat wanita yang terlihat anggun itu pun tak berani terlalu jauh mencampuri keluarga kecil putrinya.
Alexa menyadari dia seperti orang yang sedang lari dari masalah, dia terlalu takut untuk mendengar jika hubungan Shakti sudah masuk ke perzinaan. Tapi, setelah Mama Zoya berbicara banyak hal, dia mungkin akan menyiapkan hati dan perasaan untuk mendengarkan semuanya, meskipun dia akan memilih percaya atau sebaliknya.
__ADS_1
###
Sore itu setelah Shalat Ashar, Shakti menikmati secangkir kopi bersama kedua temannya di sebuah kafe yang sudah menjadi langganan bertiga.
Seharian mereka disibukkan dengan urusan pekerjaan dan setelah ini pun mereka akan kembali dengan tugas kantor masing-masing. Shakti mengajak Arkha dan Ringgo bersantai sejenak setelah seharian harus berkejaran dengan padatnya jadwal kegiatannya hari ini.
"Sebentar lagi menjelang akhir tahun semoga resort dan Hotel akan ramai pengunjung." ujar Shakti. Meskipun moment yang dibilang cukup santai, tapi obrolan mereka masih menyerempet pada pekerjaan.
"Aku yakin resort yang baru saja kita buka akan sangat menguntungkan kita tahun ini." lanjut Ringgo.
Mereka bertiga pun terlihat bicara dengan serius, tapi saat Ringgo menggoda dua orang gadis dengan pakaian seksi yang akan melewatinya, membuat Shakti hanya berdecih.
"Berani cuma menggoda, tidak berani untuk menikah." gumam Arkha lirih sebelum menyesap kopinya. Dia tahu Ringgo yang paling belum siap untuk terikat.
"Hai, boy. Kamu yang malam minggu kemarin di club malam, kan?" sapa perempuan dengan tangtop crop yang dipadu dengan celana hot pant. Wanita yang cukup seksi dengan kulit putih yang tereksplore.
"Hae... " bentak Arkha sambil melotot ke arah gadis yang mengenakan dress dengan tali kecil di pundak. Gadis itu menyenggol lengannya hingga sisa kopi di cangkirnya tercecer.
"Aku sudah selesai, hari ini jadwal Alexa periksa kandungan!" ucap Shakti membuat semuanya menoleh. Laki- laki itu begitu malas menanggapi, suasana sorenya di rusak dua gadis yang terlihat pasaran.
"Shak, tunggu! Kali ini kamu yang yang bayar!" ucap Arkha kemudian menyusul Shakti yang sudah berjalan menuju pintu keluar.
"Sory, aku masih ada kerjaan." pamit Ringgo kemudian beranjak pergi. Melihat reaksi dua sahabatnya membuat Ringgo merasa sungkan sendiri. Dia memutuskan untuk mengejar keduanya.
"Oke, jika mau ketemuan bisa hubungi nomerku ya!" jawab salah satu dari kedua gadis itu dengan manja. Mereka memang pernah bertukar nomer ponsel saat bertemu di club.
###
Setelah menyiapkan makan malam, Hanum termenung. Seandainya saja dulu menurut dengan apa kata Mama, pasti dia sudah bisa memasak berbagai macam makanan. Tapi, dari dulu dia selalu tak mengindahkan omongan Mama Zoya dengan dalih, semua bisa diketahui dengan mudah dengan membuka you tube atau mencari resep masakan di google. Tapi, ternyata semua tak sesimple itu. Semua butuh skill butuh latihan.
"Ya Allah ... sayang! Kok melamun terus?" suara itu membuyarkan lamunan Hanum, dia tidak tahu entah sejak kapan Arkha pulang dan sudah berdiri di dekatnya.
"Assalamu'alaikum... " sapa Hanum dengan mencium tangan suaminya. Berlahan, kebiasaan yang dicontohkan mamanya secara natural dilakukan gadis yang terkesan cuek itu.
__ADS_1
"Waalaikum salam...kenapa melamun?" tanya Arkha dengan mencubit ujung hidung istrinya.
Hanum tidak menjawab dia kembali, menatap hidangan yang ada di meja. Melihatnya saja dia susah tidak selera karena selalu itu itu saja yang dia masak.
"Kenapa dengan makanannya? Aku ingin makan sekarang, Num. Sudah lapar sekali." ucap Arkha membuat Hanum menatap lekat lelaki yang duduk di sebelahnya.
"Kenapa?" Arkha mengerutkan kening, ketika mendapatkan tatapan tajam Hanum.
"Aku belum bisa memasak banyak jenis makanan. Bahkan, rasa masakanku tidak pernah memuaskan." keluh Hanum dengan suara lirih.
"Uh... sayang, itu si bukan masalah. Kamu kan memang bukan chef. Lagian kalau mau makan apa kan bisa beli. Gitu saja kok repot." tambah Arkha sambil mencubit dagu runcing istrinya. Arkha sendiri tidak mempermasalahkan semuanya. Dia menyadari Hanum masih bocah dan masih kuliah. Dapur belum menjadi prioritasnya. Sedangkan Hanum merasa istri yang sempurna adalah yang pandai memanjakan lidah suaminya.
"Ayo makan Hanum." ujar Arkha kembali membuat Hanum tergagap.
"Num, tadi kamu jadi ke tempat Rania?"
"Tidak, kenapa? Apa Kak Arkha masih mengkhawatirkan gadis itu?" Wajah Hanum mulai terlihat tidak senang. Lirikan tajam dia tujukan pada lelaki yang tengah menyendok makanannya.
"Setidaknya kalau kamu menjenguknya ada rasa tanggung jawab terhadapnya, Num." ujar Arkha. Hanum membanting sendoknya dengan keras membuat Arkha menoleh ke arahnya.
"Kak Arkha masih menuduh jika aku yang mendorongnya?" Hanum mulai tersulut emosi.
"Buka begitu Hanum, aku percaya kamu tidak salah? Tapi setidaknya kita tahu dia baik baik saja atau semakin parah." jelas Arkha.
"Kita? Kak Arkha saja yang terlalu mencemaskan pembohong itu. Tenang saja paling besok kalian sudah bertemu di kantor." sindir Hanum dengan sengit. Hanum tidak menjenguk Rania seperti titah Arkha karena dia melihat gadis itu sudah pergi ke kampus.
Arkha hanya mendesah. Dia tahu jika dirinya sudah salah bicara. Apalagi dia menyadari Hanum pasti sedang merasa sensitif karena kedatangan tamu bulanan.
Makan malam pun berlangsung dengan kebisuan. Hanya denting suara sendok yang saat ini terdengar nyaring hingga kedua piring mereka sudah terlihat kosong.
"Maafkan aku! Aku percaya kamu tidak akan bertindak sejahat itu." Arkha menggenggam tangan Hanum membuat gadis yang memonyongkan bibirnya itu menarik tangannya dan beranjak membereskan piring kotor.
Bersambung
__ADS_1