Rindu Alexa

Rindu Alexa
Keputusan Sulit


__ADS_3

Melihat layar monitor yang menunjukkan keadaan sosok mungil itu, membuat Shakti dan Alexa melupakan sejenak permasalahan mereka. Keduanya terhanyut dengan rasa bahagia yang meluap dalam hati. Bersamaan dengan keterangan jika keadaan bayinya sehat dan beberapa organ yang mulai tumbuh, mereka tidak bisa mengalihkan pandangannya dari monitor yang terus merekam gerak calon anak mereka.


"Yang penting jangan stress, Dokter Lexa." ujar Dokter Siska saat menuliskan vitamin untuk Alexa di sebuah tab yang akan dikirimkan ke bagian administrasi.


Shakti dan Alexa pun berjalan keluar ruangan, sikap keduanya yang awalnya mulai menghangat kini kembali dingin. Shakti hanya melirik Alexa yang terlihat murung dan marah.


"Shakti... " panggil Clarisa, wanita itu sudah berdiri menghadang langkah Alexa dan Shakti.


"Mau apa lagi?" tanya Shakti dengan memalingkan wajahnya seolah dia jijik saat melihat mantan kekasihnya itu.


"Bisakah kita bicara sebentar?" Mendengar pertanyaan Clarisa, Alexa berniat untuk beranjak pergi. Tapi, seketika itu pula Shakti langsung menahan lengan istrinya. Dia ingin Alexa mendengar semuanya.


"Bicara saja." Suara Shakti terdengar datar dan tidak bersahabat sama sekali. Sementara, jantung Alexa sudah mulai berdebar. Meskipun, berniat untuk berpisah dengan Shakti, rasanya dia tidak kuat mendengar jika Clarisa mengandung anak dari suaminya.


"Ya Allah, berikanlah aku kekuatan." gumam Alexa dalam hati, dia memejamkan mata sejenak, menyiapkan hatinya untuk mendengar sebuah kebenaran.


"Aku hanya ingin minta maaf atas kejadian yang tidak sepantasnya." Clarisa menatap Shakti dengan penuh permohonan, kemudian tatapannya beralih pada Alexa yang kini mengalihkan pandangan, seolah waniat berjilbab itu tidak mau tahu urusan keduanya.


"Aku sudah memaafkanmu. Jadi urusan kita sudah selesai." jawab Shakti masih dengan wajah datarnya, bahkan tangannya semakin menggenggam erat jari- jari mungil istrinya.


"Jika kamu sudah memaafkanku kenapa kamu memblokir nomerku? Bisakah kita berteman seperti semula?" Pertanyaan Clarisa membuat Alexa menoleh ke arah suaminya, seperti ingin mencari sebuah kebenaran.


"Aku memang sudah memaafkanmu. Tapi, kejadian kemarin membuatku mengerti jika memang tidak ada pertemanan antara laki- laki dan perempuan, apalagi aku sudah beristri jadi ada batasan batasan tertentu untukku. Aku harap kamu bisa mengerti apa yang aku maksudkan." jelas Shakti lelaki itu benar benar membuat Alexa menatapnya tidak percaya. Jika seburuk itu hubungan antara suami dan mantannya. Lalu anak siapa yang sedang di kandung Clarisa? Pertanyaan itu masih mengganjal di benak Alexa.


"Aku mengerti, Terima kasih sudah memaafkanku. Besok aku akan pindah ke Bali dan memulai hidup yang baru dengan calon anakku." Clarisa tersenyum getir mengingat nasibnya yang sudah jungkir balik. Tapi, dia berusaha kuat demi anak yang sedang dia kandung.


"Semoga kalian selalu bahagia." lanjut Clarisa.


"Apa Mbak Clarisa sudah menikah?" sungguh rasa penasaran membuat Alexa melontarkan pertanyaan yang konyol. Dia sendiri bingung harus memulai dari mana menanyakan siapa ayah dari bayi yang dia kandung.


Clarissa pun berbalik menatap wanita mungil yang kini mengarahkan pandangannya pada perut miliknya yang sedikit membuncit.


"Aku belum menikah. Bayi ini anaknya Daniel, tidak ada hubungannya dengan Shakti." Seolah bisa membaca pikiran wanita yang sejak tadi terlihat masam, Clarisa pun memperjelas jawabannya. Dia pun sadar, sekuat apapun usahanya jika sesuatu itu bukan bagian darinya maka akan terlepas juga.


Seketika wajah Alexa memerah, dia begitu malu karena pertanyaannya dapat ditebak dengan mudah oleh Clarisa. Tapi, rasa lega mengalir dalam setiap helaan nafasnya setelah mendengar kebenaran yang selama mengganjal dalam benaknya.

__ADS_1


"Maaf." ucap Alexa dia merasa sungkan sendiri.


"Tidak apa- apa. Semoga kalian selalu bahagia." Kalimat terakhir Clarisa sedikit dipenuhi rasa iri, tapi wanita itu berusaha ikhlas dan ingin memperbaiki hidupnya untuk calon anaknya.


Dengan langkah tergesa, Clarisa meninggalkan sejoli yang kini menatap kepergiannya. Jujur, rasanya begitu sesak dia harus berjuang sendiri di saat dia butuh support. Daniel tidak mau bertanggung-jawab atas kehamilannya, hingga dia memutuskan untuk membuka lembar baru dengan calon anaknya.


"Kamu dengar kan, Ay. Sumpah demi Allah, aku tidak pernah mengkhianatimu, Ay." ucap Shakti dengan menatap begitu dalam wanita di depannya.


Alexa hanya terdiam, matanya berkaca- kaca mengisyaratkan penyesalan dan rasa malu. Tapi, hatinya merasa begitu lega mendengar semuanya. Tanpa bisa bicara lagi, wanita yang merasa bersalah telah mengabaikan suaminya itu pun memeluk tubuh tinggi, atletis itu begitu erat.


"Maafkan aku, Mas. Tidak mempercayai penjelasanmu." lirihnya dengan menenggelamkan diri dalam dada bidang itu.


Shakti hanya tersenyum, dia menikmati pelukan yang sudah lama sudah dia rindukan hingga beberapa saat.


"Apa Mas Shakti tidak memaafkanku?" tidak mendengar suara Shakti sama sekali membuat Alexa meregangkan pelukannya dan menatap wajah tampan suaminya.


"Aku tidak pernah marah padamu, Ay. Jadi aku tidak perlu memaafkanmu." sambutnya dengan senyum tulus yang begitu bahagia.


"Tapi kamu sadar, nggak? Jika banyak yang melihat adegan romantis kita." lanjut Shakti menyadarkan Alexa yang kemudian menatap di sekililingnya.


"Mas, ayo kita pulang!" Secepatnya Alexa menarik tangan Shakti keluar dari klini. Rasanya dia sudah tidak tahan menahan malu karena tatapan banyak orang di sana. Sementara Shakti hanya terkekeh melihat tingkah Alexa. Tapi, memang hari ini dia merasa sangat bahagia. Dia tidak mengira masalahnya akan selesai dengan jalan yang tidak disangka. Sungguh, Tuhan maha mengatur segalanya.


###


Pagi- pagi sekali di dalam kamar, Arkha menatap Hanum yang masih meringkuk di bawah selimut. Hanum memang terbiasa bangun agak siang jika tidak salat.


Ada rasa bersalah berkecamuk dalam hati lelaki yang tengah berdiri menatap wajah tenang istrinya. Dia tidak menyangka, jika selama ini Hanum berusaha memendam perasaan marah dan kecewa. Gadis itu terlalu pintar menyembunyikan perasaannya atau memang dirinya tidak terlalu peka terhadap hubungan ini.


"Maafkan Kak Arkha, Hanum." lirihnya sebelum beranjak ke luar kamar.


Setelah beberapa menit, Hanum menggeliat kan tubuhnya. Dia mencoba memulihkan kesadarannya dengan menatap sinar mentari yang menerobos dari celah jendela.


Semalam, dia tidur terlalu larut untuk meredakan emosinya. Rasanya, semalam. seperti mimpi saja, saat dia meluapkan semua yang sudah mengganjal dalam perasaannya.


Hanum bangkit dari tempat tidur, gadis itu pun masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap ke kampus.

__ADS_1


Setelah beberapa menit berlalu dan dia sudah rapi dengan tampilannya. Hanum menurunkan tas besarnya dan memasukkan beberapa baju dan barang pribadi lainnya. Dia sudah memutuskan untuk tinggal sendiri sementara waktu.


"Ceklek... Hanum." panggil Arkha tatapan tajam lelaki dewasa itu pun tertuju pada tas besar yang sudah terisi sebagian.


Dengan gusar Arkha mendekati Hanum, dia tak menyangka jika pertengkaran semalam akan berimbas hingga saat ini.


" Ada apa ini?" tanya Arkha dengan menahan gerak tubuh mungil istrinya. Tatapannya menyimpan amarah yang siap untuk meledak.


"Bukankah kita sudah membahasnya semalam." jawab Hanum dengan menatap balik Arkha.


"Apa, Num? Tidak, kita tidak akan berpisah." tegas Arkha. Bagi lelaki dewasa itu, perpisahan bukan hal candaan. Jika semalam Hanum mengatakannya itu karena dalam keadaan emosi.


"Kita sebaiknya memberi waktu untuk diri kita masing masing agar yakin kemana kita membawa hubungan ini." ulang Hanum.


"Aku sudah yakin dengan hubungan ini. Aku tidak ingin berpisah." Ada rasa nyeri jika membayangkan berpisah dengan gadis di depannya. Berlahan Hanum sudah menjadi bagian hidupnya.


"Tidak sesimpel itu setelah semua yang terjadi. Aku juga tidak ingin dinikahi hanya rasa kasian. Aku tidak ingin segampang itu alasan mempertahankan pernikahan ini." lanjut Hanum dengan menutup tas besarnya itu.


"Yakinkan kembali hatimu, baru yakinkan aku jika memang aku yang kamu inginkan, Kak. Aku tidak perlu rasa kasian, untuk urusan ini kita tidak perlu takut dengan Papa. Bahkan, aku menikah dengan Kak Arkha juga tidak murni hanya paksaan Papa atau pun rasa takut akan nama baik. Aku buka tipe orang berfikir seperti itu." jelas Hanum. Rasanya dia sudah tidak tahan untuk mengatakan pada lelaki di depannya jika sudah lama dia memang menyukainya.


Hanum melanjutkan mengemas barangnya saat Arkha hanya menatapnya dengan pandangan kosong. Lelaki itu sedang berfikir bagaimana harus membujuk istrinya. Sementara Hanum seperti sudah menghandle semua situasinya.


"Aku pergi, Kak! Aku akan baik baik saja." ucap Hanum menyentakkan kesadaran Arkha.


"Kamu tidak akan pergi kemanapun Hanum. Kamu tanggung jawabku. Kamu hanya boleh pergi ke rumah Mama Zoya." tegas Arkha semakin kelimpungan. Dia tidak akan membiarkan Hanum pergi dan berada pada situasi tidak aman.


"Seperti halnya seperti yang sudah aku katakan, kita butuh jarak untuk meyakinkan diri. Aku juga tidak mungkin pergi ke rumah Mama. Aku tidak ingin mereka tahu masalah kita." jelas Hanum. Gadis itu terlihat begitu dewasa jika sudah seperti ini. Dia juga keras kepala hingga Arkha tidak tahu lagi cara mengatasinya.


"Kamu mau kemana? Aku tidak mungkin membiarkanmu dalam keadaan tidak aman." bantah Arkha, lelaki itu meraup wajahnya dengan kasar.


"Jangan memaksaku, aku bisa lari sejauh mungkin tanpa sepengetahuanmu, Kak. Aku hanya ingin menyelesaikan masalah kita dengan cara yang tenang. Aku akan tinggal di toko roti untuk sementara. Di sana ada security, ada beberapa karyawan yang tinggal, jadi jangan khawatir, aku akan aman di sana." jelas Hanum, gadis itu memang punya pemikiran yang aneh. Dia selalu bertindak semaunya jika menurutnya benar.


Arkha hanya bisa menghela nafas panjang. Hatinya dilanda kecemasan yang begitu hebat. Dia tidak ingin Hanum jauh darinya, tapi menahan Hanum sama juga menyuruhnya lari semakin jauh. Tidak mudah mengatasi seorang Alexia Hanum Salsabilla.


"Aku akan mengantarmu! Tapi sebelumnya kita sarapan dulu. Kak Arkha sudah memasak sarden untuk sarapan." pinta Arkha dengan suara lemah. Dia tidak tahu lagi bagaimana membujuk Hanum jika sudah seperti ini. Dia juga tidak biasa membiarkan Hanum di luar sana, hidup Arkha tidak akan tenang jika istrinya berada jauh darinya.

__ADS_1


__ADS_2