
Dengan mata yang masih terpejam Alexa menggerakkan tubuhnya yang terasa berat. Aroma tubuh Shakti seketika memaksanya untuk membuka matanya.
"Mas Shakti?! " panggil Alexa hampir tidak percaya, jika saat ini suaminya sudah memeluknya. Bahkan, kaki panjangnya itu menindih tubuhnya hingga membuatnya tidak bisa bergerak.
Alexa hanya bisa mendongakkan wajahnya menatap kembali wajah ganteng yang sudah sangat dia rindukan.
"Mas... " Alexa meraba rahang yang berbulu tipis itu untuk meyakinkan kembali jika ini benar benar Shakti suaminya.
"Kenapa, Ay?" Lelaki itu tersenyum dan membuka matanya tanpa melepaskan pelukannya.
"Aku masih ganteng, kan?" goda Shakti senyumnya sungguh membuat wanita di depannya pun ikut tersenyum.
Alexa tidak bisa menutupi perasaan senangnya, bibir mungilnya terus saja mengulas senyum dengan tatapan mata berbinar.
"Aku sangat merindukanmu, Ay!" Kalimat Shakti mengiri tubuhnya yang masih merengkuh istrinya untuk bersandar di kepala ranjang. Berkali kali lelaki itu melabuhkan kecupannya di puncak kepala Alexa.
"Kenapa kemarin tidak memberi kabar, Mas?" protes Alexa masih bersandar di dada bidang lelaki yang masih mengenakan kemeja yang sama dari kemarin.
"Aku sangat mencemaskanmu!" lanjut Alexa saat tidak mendapatkan jawaban dari suaminya.
"Kamu hanya cemas? Tidak rindu?" mendengar pertanyaan Shakti Alexa langsung mendongakkan wajahnya. Dia menatap mata yang selalu membuat hatinya berdebar.
"Tentu aku merindukanmu, Mas." Alexa kembali menunduk dan menyandarkan kepalanya di dada Shakti, sementara lelaki itu hanya terkekeh.
"Dari kemarin aku belum mandi lo, Ay!" ucap Shakti sama sekali membuat istrinya tidak bergeming. Alexa tidak peduli, dia sudah menyukai aroma khas suaminya dan posisi seperti ini membuatnya bisa mendengarkan setiap detak jantung suaminya.
"Nanti kita pindah ke rumah Mama ya, Ay?" lelaki itu mengelus lembut punggung istrinya.
"Kapan?" tanya Alexa kemudian bangkit.
"Nanti setelah sarapan. Kita pulang ke rumah Mama dan aku langsung ke kantor." jelas Shakti. Dia menatap wajah bulat dengan lesung pipit yang di kedua pipinya saat tersenyum.
"Kalau begitu Mas mandi sekarang, kita akan Salat Subuh. Nggak enak sama Mama dan Papa jika tidak ikut berjamaah." Alexa pun beranjak, dia mulai bergeser untuk turun tapi lelaki itu kembali menariknya hanya untuk mencium bibir mungil istrinya.
"Mas... " Alexa mendorong dada suaminya untuk menghentikan aksinya. Lagi - lagi lelaki itu terkekeh, dan mendahului Alexa untuk masuk ke dalam kamar mandi.
Alexa hanya tersenyum, dia mulai mencari baju untuk suaminya yang sempat dia lihat di dalam lemarinya.
Sambil menunggu Shakti keluar dari kamar mandi, Alexa membereskan kamar dan mengemas sebagian dari barangnya.
"Ay, bajuku ada, kan?" tanya Shakti saat dia keluar dari kamar mandi, lelaki itu keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya.
__ADS_1
Alexa tertegun sejenak, mungkin tidak ada salahnya jika kaum hawa mengagumi suaminya. Dan sangat realistis jika suaminya punya banyak mantan. Wajah yang tampan, body yang membuat hati wanita meleleh dan belum lagi kemampuannya dan kwalitas diri yang bisa di banggakan, seolah lelaki yang kini terlihat sempurna begitu pintar menyimpan semua kekurangannya.
"Ay, kenapa hanya bengong? Kamu tidak mandi?" tanya Shakti saat melihat istrinya tertegun.
"Iya, aku akan mandi." jawab Alexa dengan segera melewati suaminya dan masuk ke dalam kamar mandi.
###
Kali ini Hans sedang berbincang dengan Shakti di samping rumah. Sambil menikmati secangkir kopi mereka sedang membicarakan rencana Anak dan menantunya untuk pindah ke rumah Shakti.
"Kapan kamu akan membereskan dokumen nikah yang palsu itu? Aku tidak ingin hidup anakku dijamin dengan surat nikah palsu." ucap Hans masih terdengar dingin. Pembicaraan yang seharusnya lebih akrab antara mertua dan menantu itu masih memberi kesan kaku.
"Hari ini, Pa. Semua sudah siap, tinggal tanda tanganku dan Lexa saja." jawab Shakti, meski wajah mertuanya tidak begitu enak di lihat, tapi lelaki itu masih berusaha untuk tetap bertahan dengan percakapan itu.
"Oh ya aku peringatkan sekali lagi, jangan
sampai kamu menyakiti Ale lagi. Aku orang pertama yang akan menghajarmu, dan kedua, Ale punya sifat keras yang menurun dariku dan mamanya Renita." Shakti menoleh ke arah papa mertuanya, seolah dia tidak yakin dengan apa yang dia dengar.
"Iya, dia putriku dengan Renita. Sejak lahir dia tidak pernah melihat Mama Kandungnya karena sebuah pendarahan yang hebat saat melahirkannya. Aku harap kamu bisa membahagiakannya!". Kalimat Hans terdengar lirih, tatapan Hans juga melemah.
Sudah lama Shakti memang merasa janggal karena wajah istrinya sangat berbeda dengan wajah Mama Zoya.
"Iya, Pa. Aku juga berharap bisa membahagiakan Lexa." jawab Shakti.
Percakapan mereka harus berakhir kala Zoya memanggil keduanya untuk sarapan. Mereka pun memulai sarapan dengan tenang. Tidak ada pembicaraan lain kecuali permintaan izin secara resmi yang dilakukan Shakti untuk membawa istrinya tinggal bersama Mama Gayatri.
Setelah mereka sarapan, semuanya mengantarkan kepergian Alexa dan Shakti.
"Sering main ke rumah ya, Kak! Mama pasti sangat merindukanmu." ujar Zoya dengan memeluk putrinya.
"Papa akan tetap menyayangimu, Al. Meskipun ada yang menggantikan Papa untuk menjagamu!" Hans pun mencium kening putrinya, lelaki berumur itu pun mendekap hangat putrinya. Ada rasa kehilangan yang diam diam menyapa hatinya. Kini, putrinya sudah menjadi bagian dari kehidupan seseorang.
"Aku titip putriku!" Hans memeluk menantunya penuh harap.
Mereka melepas kepergian Alexa dan Shakti untuk tinggal bersama Mama Gayatri.
Di dalam mobil Shakti terus saja melirik istrinya, hingga membuat alexa merasa malu. Lelaki itu begitu bahagia, saat akan membawa Alexa pulang ke rumah sebagai istrinya.
"Aku bahagia, Ay. Aku tidak menyangka bisa menikah denganmu." ucap Shakti dengan menggenggam tangan istrinya.
"Aku juga, apalagi saat tahu aku berada diantara hubunganmu dengan Clarissa, Mas."
__ADS_1
" Saat itu, aku sudah tidak berniat untuk menjalin hubungan denganmu!" Alexa menatap jalan di depannya, ingatannya kembali pada Clarissa mengatakan jika dirinya yang merebut Shakti dari dirinya.
"Apa kabar dengan Clarissa?" tanya Alexa dengan menatap sosok di sampingnya.
"Aku sempat memasukkannya ke penjara, karena dia dalang semua berita yang viral itu. Tapi Mama Zoya meminta untuk mencabut laporannya."
"Sekarang aku tidak tahu apa kabarnya saat ini." lanjut Shakti.
Tak terasa mereka sudah sampai di depan gerbang yang otomatis terbuka. Jaguar metalic, itu terus melesak hingga di sebuah garasi yang di dalamnya terdapat beberapa mobil yang menjadi koleksi lelaki itu.
Mulai saat ini, Alexa menjadi bagian rumah besar dengan halaman yang sangat luas. Rumah yang sangat besar dan mewah.
"Ayo, Ay!" Shakti membawa masuk Alexa masuk ke dalam rumah.
"Assalamu'alaikum, Ma!" ucap Shakti saat membuka pintu utama.
"Waalaikum salam... " Gayatri terlihat berjalan menemui anak dan menantunya.
"Kamu kapan balik, Shak?" Gayatri memeluk putranya yang hampir sebulan lebih tidak terlihat.
"Iya, Ma! Aku bawakan menantu kesayangan Mama!" ucap Shakti sambil melirik Alexa yang berdiri di sebelahnya.
"Doa Mama terkabul, Lexa. Dari dulu, Mama berharap jika suatu saat kamu datang ke rumah ini sebagai Putri Mama." Gayatri memeluk Alexa dan kemudian menatap menantunya penuh dengan rasa bahagia.
"Ma, Aku akan membawa Alexa ke kamar dulu!" ucap Shakti memuat Gayatri mengangguk.
Alexa dan Shakti akhirnya naik ke lantai dua untuk pergi ke kamar Shakti. Meskipun, Alexa sudah sering ke rumah ini tapi, wanita itu hanya sekali naik ke lantai dua saat memanggil Shakti untuk makan.
"Ayo, Ay!" Shakti menarik tangan Alexa, masuk ke dalam kamarnya. Iya, ruangan mewah yang sangat luas dengan nuansa maskulin baik dari ornamen dan pengharum ruangannya yang dipilih oleh Shakti. Semuanya terkesan begitu Elegant.
"Kamu bisa menata ulang ruangan ini sesuai dengan seleramu, Ay." ucap Shakti saat dia melihat Alexa memperhatikan ruangan barunya.
"Bisa pelan pelan, Mas." jawab Alexa dengan tersenyum menatap suaminya.
Alexa pun terlihat menikmati pemandangan foto yang menggantung di kamar mewah itu. Kini tatapannya tertuju pada sebuah foto yang tertuju ada di meja yang terletak di pojok ruangan.
Alexa pun menatap Shakti, kemudian menatap lagi foto itu, membuat Shakti mengikuti kemana arah pandang istrinya.
"Maaf, Ay. Aku lupa menyingkirkannya." Shakti langsung bergegas mengambil fotonya bersama Clarisa yang belum dia singkirkan.
"Apa dia memang masih berarti untukmu?" tanya Alexa dengan menatap tajam suaminya. Dia tahu itu masa lalu, tapi tidak ada yang tahu masa lalu itu benar benar pergi atau masih sedikit bertahan di hidup seseorang.
__ADS_1