Rindu Alexa

Rindu Alexa
Takut Kabur


__ADS_3

Alexa menggeliatkan tubuhnya dan mengerjapkan mata, kemudian dia melihat jam yang menggantung di dinding kamarnya yang


baru menunjukkan pukul sebelas malam. Padahal, dia merasa sudah lama dia tertidur.


Shakti menoleh, dia menghentikan pekerjaannya saat dia merasa ada pergerakan dari tempat tidur.


"Kamu sudah bangun, Ay?" tanya Shakti saat melihat Alexa sudah duduk tertegun dan memegangi selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.


Dia masih terdiam, kemudian menoleh ke arah Shakti yang terlihat masih bekerja. Ternyata, percuma mendiamkan laki-laki yang saat ini memandangnya tak berkedip.


"Besok aku ingin pulang!" ucap Alexa lirih. Mendengarnya, Shakti pun beranjak dari duduknya. Dia berjalan mendekati tempat tidur dan duduk di dekat istrinya.


"Lusa saja, ya!" pinta Shakti, tapi Alexa masih terdiam, dia enggan menoleh ke arah lelaki yang sudah duduk di sebelahnya.


"Besok aku sibuk banget! Lusa Arkha baru bisa datang ke sini." ujar Shakti mulai membujuk istrinya.


Alexa bisa mengerti jika Shakti memang sedang sibuk. Beberapa hari, dia sering tidur larut hanya untuk menyelesaikan pekerjaan.


"Ay, maafkan aku untuk kejadian tadi sore. Aku benar benar lepas kontrol." ucap Shakti saat mereka terbungkam kembali dalam keheningan.


Alexa masih diam, dia tahu jika saat ini dia mengeluarkan semua isi otaknya ujung-ujungnya pasti ribut. Isi kepala mereka saat ini memang sangat berbeda.


Alexa menggeser sedikit posisinya kemudian menurunkan kedua kakinya dan menyambar jilbab yang tergeletak di dekatnya.


"Kamu mau kemana, Ay?" tanya Shakti.


"Aku haus." jawab Alexa singkat, dia pun melangkah keluar kamar untuk mencari air minum.


Sebagian lampu di Villa sudah di padamkan, suasana di luar gelap dan sunyi. Hanya suara jangkrik dan desisan angin malam yang mengisi kesunyian. Alexa sedikit merinding, saat bangunan dengan ruangan luas itu hanya mengandalkan pencahayaannya yang remang remang.


Sambil memelankan langkahnya, Alexa melirik sesuatu yang bergerak-gerak, tapi dia tidak berani menoleh.


"Kreeek..."

__ADS_1


suaranya itu membuat Alexa tidak bisa menahan rasa takutnya dan memutuskan untuk berbalik dengan cepat.


"Bugh..... Aaarghhh... " Pekik Alexa saat menabrak tubuh Shakti. Lelaki itu dengan sigap merangkul tubuh istrinya yang sudah kehilangan keseimbangan.


"Kamu kenapa?" tanya Shakti dengan memeluk bingung istrinya yang saat ini malah memejamkan mata.


"Itu, di dekat jendela ada yang gerak-gerak!" Alexa menunjuk arah tempat di mana dia merasa ada yang bergerak tanpa ingin menoleh ke sana.


"Nggak ada apa- apa, Ay. " Shakti memang tidak melihat apapun. Hanya tirai jendela yang belum ditutup dan tertiup angin malam yang bergerak gerak.


"Beneran, aku nggak bohong!" Alexa tetap kekeh, wajahnya masih di sembunyikan di dada bidang suaminya.


"Nggak, ada. Itu hanya tirai yang ditiup angin." Mendengar penjelasan Shakti, berlahan Alexa mengurai pelukan suaminya.


Dia mencoba melihat untuk meyakinkan apa yang sebenarnya terjadi.


"Beneran tadi aku melihat seperti ada bayangan." ucap Alexa lirih.


"Ayo, aku antar ke bawah!" Tentu saja Alexa tidak menolak meski tanpa mengiyakan kalimat Shakti.


Setelah meneguk segelas air, Alexa meletakkan gelas di meja makan. Dia melihat semua makanan masih utuh, bahkan dua piring terlihat masih tengkurap.


"Kamu nggak makan malam, Mas?" tanya Alexa dengan menatap wajah lelaki yang duduk di depannya.


"Aku menunggu kamu! Kamu juga belum makan, kan?" Alexa terdiam. Jika dia belum makan itu pun dia hanya duduk di rumah. Sedangkan suaminya dari pulang kerja dan malam dia harus bekerja lagi dengan perut kosong.


"Aku akan memanaskan makanannya dulu!" Shakti hanya mengangguk, dia memang sangat lapar sejak siang tadi dia belum sempat makan.


Meski, masih irit bicara Alexa juga tidak tega membiarkan suaminya kelaparan. Hanya butuh beberapa menit saja mereka makanan sudah siap kembali. Dia mulai mengambilkan nasi dan laut untuk suaminya. Makan tengah malam yang cukup sunyi.


"Di pedalaman saja kamu tidak takut, masak di sini kamu takut?" ucap Shakti saat mengakhiri makan malamnya.


"Jadi Mas pikir, aku pura- pura?" Alexa balik bertanya, mungkin menstruasi membuat moodnya begitu sensitif.

__ADS_1


"Bukan begitu, sayang. Di sini itu aman. Hanya saja memang posisi villa sedikit menjauh dari lokasi penduduk." jelas Shakti membuat Alexa terdiam. Bahkan, saat lelaki itu menggenggam tangannya pun dia masih terdiam.


"Aku ingin pulang secepatnya! Aku tidak ingin melihat Dinda di sini." lanjut Alexa membuat Shakti mengangguk.


"Iya kita nunggu Arkha. Katanya lusa dia sampai di sini." Shakti tidak mengerti, baru kali istrinya terlihat tidak menyukai seseorang.


"Masalah Dinda. Dia sedang di rawat ibunya di rumah." Ada rasa bersalah dalam hati Alexa saat mengetahui gadis itu benar benar sakit. Awalnya dia hanya berfikir Dinda hanya berpura- pura jatuh saja hingga mengaku kakinya sakit. Itu karena Alexa merasa gadis itu pandai berpura-pura.


###


Agam membawa Laras dan Dewa ke apartemennya. Sepulang dari rumah mamanya, Agam mengajak Dewa dan Laras pergi ke mall untuk makan dan berbelanja kebutuhan sehati hari.


Mereka mulai berjalan melewati lobi. Laras membawa beberapa belanjaan dan kini Dewa memilih turun dari gendongan bapaknya dan berlari ke sana kemari saat mereka melewati lobi apartemen. Bocah itu merasa kagum dengan lingkungan barunya.


"Dewa, ayo sama Bapak!" ucap Agam dengan melambaikan tangan pada bocah yang kini berlari ke arahnya.


Agam menggandeng tangan Dewa untuk masuk ke dalam lift menuju unit apartemennya.


Laras tersenyum saat melihat putranya mengedarkan pandangannya penuh kekaguman saat berada di dalam lift.


"Ini namanya lift, Wa." ucap Laras tapi wanita itu hanya di lihat saja oleh putranya.


Lift terbuka, mereka berjalan menuju unit apartemen milik Agam.


"Sementara kita akan tinggal disini ya, Ras. Sampai aku bisa menemukan rumah baru buat kita." ucap Agam, setelah masuk kedalam apartemen. Apartemen yang cukup mewah dengan dua kamar.


"Iya, Gam. Kita bisa pelan pelan." ucap Laras.


"Ibuk, ini kursinya empuk! " teriak Dewa dengan melompat lompat di atas sofa. Agam tersenyum dan merangkul Laras. Tapi, lambat laun senyumnya pun berganti dengan rasa haru.


"Untung aku bisa menemukan kalian. Kasian Dewa, Ras."


"Maafkan aku, Gam. Sempat memisahkan kalian." lirih Laras. Dia pun merasa kasihan pada putranya. Dia baru bisa merasakan semuanya saat dia sudah berusia hampir empat tahun.

__ADS_1


"Aku akan melihat dapur dan menata barang barang ini dulu ya, Gam." pamit Laras. Dia kemudian melihat dapur yang bersih dan rapi. Sejenak dia tertegun. Sedikitpun dia sudah tidak berharap bertemu dengan Agam, satu satunya lelaki yang mengisi hidupnya. Tapi, ternyata Allah memberi cerita yang berbeda, kini dia sudah menikah dengan Agam meskipun belum mendapatkan restu dari mamanya.


__ADS_2