Rindu Alexa

Rindu Alexa
Isak Tangis Hanum


__ADS_3

Setiba d rumah, Hans langsung membawa Hanum masuk ke dalam kamarnya. Lelaki itu sengaja tidak bicara apapun karena hatinya masih merasa panas.


Zoya yang melihat kedatangan suaminya dengan membawa Hanum ke kamarnya membuatnya heran.


Wanita yang tadinya berada di ruang tengah pun bergegas menyusul Hans ke lantai dua. Dia mendapati suaminya yang kini sedang berjalan sendirian menuju ke kamarnya.


"Mas ada apa?" tanya Zoya masih belum mengerti. Dia tahunya setelah Hans mendapatkan telpon dari seseorang, lelaki itu bergegas pergi tanpa berpamitan dengannya. Dan pulangnya bersama Hanum dengan tampilan yang tidak seharusnya.


"Mas ada apa?" ulang Zoya saat Hans duduk di tepi ranjang dengan wajah merah padam. Lelaki itu menghela nafas panjang dan kini berubah dengan raut wajah yang terlihat begitu sedih.


"Aku gagal mendidik putriku." lirih Hans matanya sudah berkaca kaca mengisyaratkan rasa kecewa yang begitu dalam.


"Ada apa, Mas?" Zoya semakin bertambah penasaran. Wanita itu pun memutuskan duduk di sebelah suaminya dan mengusap pelan punggung Hans.


"Aku menemukan Hanum di kamar hotel bersama seorang pria." jawab Hans dengan tatapan menerawang. Hal ini membuatnya sangat buruk. Kedua putrinya semuanya bermasalah.


"Apa?" Zoya pun terhenyak kaget mendengarnya. Dia hampir tidak percaya, dia sangat mengenal putrinya, meskipun Hanum seperti itu tapi dia tidak yakin Hanum melakukan hal seperti itu.


"Hanum bersama lelaki yang pernah mengantarnya pulang." lanjut Hans membuat Zoya menangis, dia juga merasa tidak bisa menjaga putrinya.


Wanita itu juga merasa bersalah karena dia juga yang mengizinkan Hanum pergi malam ini. Kedua orang tua itu saling mendekap merasa gagal menjaga kedua putrinya. Semua tidak seperti yang mereka rencanakan untuk putrinya.


"Aku akan menikahkan Hanum dengan laki laki itu!" ucap Hans membuat Zoya semakin terkaget. Dia menatap mata tajam dengan sorot mata melemah.


"Kenapa harus menikah? Mas Hans sudah bertanya terlebih dulu pada kedua orang yang akan menjalani semuanya." Zoya semakin bingung dengan masalah ini, raut wajahnya tidak bisa menyembunyikan kesedihan yang ada.


"Apa yang harus ditanyakan? Setiap orang pasti akan beralibi ketika melakukan kesalahan. Sudahlah, Zoy. Sebaiknya kita tidur saja." ucap Hans dia tidak ingin istrinya stress dan jatuh sakit karena masalah ini.


"Mas, aku nikah muda dan tahu rasanya harus menikah di usia muda. Aku hanya ingin anakku melalui fase hidup yang seharusnya." gumam Zoya. Dia tahu rasanya kehilangan masa muda. Apalagi harus menikah dengan orang yang belum pernah dia kenal sama sekali.


"Apa kamu tidak bahagia menikah denganku, Zoy?" tanya Hans dengan menatap tajam ke arah istrinya.

__ADS_1


"Aku bahagia, Mas." Zoya memeluk Hans, dia tidak ingin mengungkit hal tersulit di awal pernikahannya hingga membuat suaminya merasa bersalah.


"Sekarang kamu tidur saja. Besok lelaki itu akan datang ke rumah, jika dia lelaki sejati." ucap Hans. Dia juga merasa marah, jika memang benar Hanum dan lelaki itu sudah melakukan Zina.


Di dalam kamar Hanum masih menangis, dia merasa malu, sedih dan benci dengan dirinya sendiri. Kejadian di kamar hotel itu membuatnya menyalahkan diri sendiri, baginya itu sangat memalukan. Apalagi saat papanya terlihat sangat kecewa.


Gadis itu pun merasa malu, saat mengingat bagaimana dia memeluk Arkha yang bukan siapa siapanya. Dan lelaki itu sudah melihat rambut panjangnya. Malam ini seperti tragedi baginya, tapi dia tidak bisa membayangkan jika dia tidak sempat meninggalkan pesta itu. Entah apa yang akan terjadi padanya.


Suara ponsel yang berdering hingga beberapa kali membuat Hanum menarik tasnya. Dia tidak tahu siapa penelepon yang begitu ngotot saat hatinya merasa buruk.


"No asing." lirihnya kemudian meletakkan kembali ponselnya.


Saat ini, dia merasa enggan untuk berbicara dengan orang lain. Tapi ponsel itu terus aja berdering, hingga Hanum pun tidak punya pilihan lain untuk mengangkatnya.


"Halo..." ucap Hanum dengan lemas.


"Num, ini Kak Arkha. Bagaimana keadaanmu? Apa Om Hans memarahimu atau memukulmu?" terdengar Arkha begitu cemas. Lelaki di sebrang itu tidak bisa tenang mengingat bagaimana Hans menarik gadis itu dengan kasar.


"Aku tidak lebih baik, Kak. Papa tidak memukulku. Papa hanya meninggalkanku di kamar." jawab Hanum, dia tidak ingin Arkha merasa khawatir.


"Kamu sekarang istirahat, ya! Besok Kak Arkha yang akan menjelaskan pada Om Hans." ucap Arkha berusaha menenangkan Hanum. Sesaat kemudian Arkha menutup panggilannya.


"Kak, Arkha tidak usah datang. Hanum bisa mengatasinya sendiri." jawab Hanum.Dia juga tidak ingin lelaki itu terlibat masalah dengan papanya karena dirinya. Sudah cukup dia berterima kasih karena sudah membawanya pergi dari pesta.


"Besok Kak Arkha tetap akan datang. Kak Arkha yakin bisa menjelaskan semuanya. Kamu tidur sekarang jangan sampai sakit!" ucap Arkha, meskipun dia tidak ingin menginginkan pernikahan ini tapi dia juga tidak akan membiarkan Hanum terpuruk.


###


Sejak tadi Alexa hanya naik turun dari lantai dua ke lantai satu. Dia merasa gelisah, seharian Shakti tidak memberi kabar.


"Mbak Alexa kenapa?"

__ADS_1


"Mbak Lexa butuh apa?" cecar Mbok Jum saat melihat Alexa hanya duduk dengan bertopang dagu di meja makan.


Wanita paruh baya itu mengira Alexa menginginkan makanan tertentu karena memilih duduk di ruang makan. Padahal, wanita yang sedang merindukan suaminya itu hanya mencari teman bicara.


"Sudah pukul sembilan malam tapi Mas Shakti tidak memberi kabar sama sekali." ucap Alexa dengan pikiran buruk yang berkecamuk di dalam otaknya.


"Mbak Lexa pasti sedang rindu berat!" goda Mbok Jum membuat Alexa tersipu malu. Benarkah begitu ketara perasaanya saat ini? Hingga wanita paruh baya itu dengan mudah membacanya. Mbok Jum pun tersenyum saat Alexa menoleh ke arahnya tanpa memberi jawaban apapun.


"Mbok Jum juga pernah muda, Mbak. Tau jika rindu itu berat!" kalimat Mbok Jum membuat Alexa tersenyum lebar ingin rasanya dia tertawa keras mendengar jawaban wanita yang kini masih membersihkan dapur.


"Aku takut ada yang menggoda Mas Shakti. Di bali banyak cewek bule yang cantik dan seksi." lirih Alexa membuat Mbok Jum menghentikan geraknya dan menoleh ke arah Alexa.


"Jangan khawatir, Mas Shakti cintanya hanya sama Mbak Lexa. Jika hanya tidak memberikan kabar itu udah kebiasaan. Dulu, Nyonya Gayatri juga sering mengeluh cemas memikirkan Mas Shakti saat tidak pulang." jelas Mbok Jum agar Alexa tidak secemas itu, tapi wanita itu tahu Alexa tidak hanya mencemaskan suaminya tapi juga merindukannya.


"Drt... drt... drt... " ponsel Alexa berdering. Awalnya dia mengira Shakti, tapi ternyata Hanum yang menelponnya.


"Assalamu'alaikum, Num." ucap Alexa menjawab panggilan Hanum.


"Waalaikum salam. Kak Ale... hik... hik... hik." Hanum malah menangis membuat Alexa semakin cemas. Entah apa yang terjadi dengan adik kesayangannya itu hingga akhir akhir ini sering menangis.


"Kenapa, Num? Cerita sama Kak Ale..." bujuk Alexa.


"Kak, Hanum sedih. Hanum, ingin bertemu Kak Ale." Hanum tidak mampu lagi mengatakan apa yang sedang terjadi, dia juga malu jika Kak Ale-nya tidak bisa menerima kebenaran dari ceritanya.


"Ada apa, Sayang?" desak Alexa semakin di buat penasaran apalagi Hanum masih saja terdengar terisak.


"Hanum tidak bisa cerita di telpon, bisakah Kak Ale datang ke rumah!" ucap Hanum suaranya terdengar lemah.


"Iya baiklah, besok pagi Kak Ale akan datang ke rumah. Kak Ale juga kangen kalian."


"Terima masih, Kak. Hanum tutup dulu ya. Assalamualaikum."

__ADS_1


"Waalaikum salam." jawab Alexa lirih, wanita itu memutuskan balik ke kamar dengan rasa penasaran. Dia merasa ada masalah besar yang terjadi dengan adik kesayangannya. Iya karena tidak biasanya Hanum se-melo itu bahkan dia mendengar adiknya tidak berhenti terisak.


__ADS_2