Rindu Alexa

Rindu Alexa
Tanggung Jawab


__ADS_3

Hanum kini berada di hotel bersama mama dan papanya. Hari ini Zoya dan Hans akan pulang terlebih dahulu.


"Num, jika ada yang bersikap nggak baik sama kamu bilang Papa. Papa akan kasih pelajaran, bagaimana memperlakukan orang lain dengan baik." ujar Hans membuat Zoya melotot ke arah lelaki yang kini duduk di sofa bersama putrinya. Hans merasa besannya itu tidak bisa menerima Hanum dengan baik.


"Nggak ada, Pa. Hanum merasa orang - orang terdekat Hanum sangat baik." jawab Hanum masih bersandar di lengan papanya. Dia sebenarnya mengerti maksud kalimat yang diucapkan oleh cinta pertamanya itu.


"Jangan suka memperkeruh keadaan dengan keangkuhan kita, Mas. Jika itu terjadi, kita tidak jauh beda dari mereka." sela Zoya dengan geram. Tapi kalimat itu tidak membuat Hans heran. Seperti itulah istrinya, entah terbuat dari apa hati bidadarinya itu.


Hans tersenyum ke arah Zoya. Tatapannya masih sama seperti dulu, penuh cinta pada wanita yang selalu membuatnya jatuh hati.


"Ehm... ehem... Dunia bukan hanya milik Papa dan Mam." cicit Hanum.


Zoya hanya terdiam, wanita itu kemudian melanjutkan berkemas dengan wajah merona. Hans Satria Jagad, dia selalu berhasil membuat hati Zoya selalu berbunga-bunga.


Setelah semua barang diangkut oleh sopir keluarga ke dalam mobil, mereka pun berjalan keluar kamar untuk check out.


"Terima kasih, Ma. Mama memang yang terbaik. Dan, semua akan baik- baik saja jika ada Mama." ucap Hanum saat mereka berada di parkiran.


"Sama- sama. Mama hanya ingin putri Mama bahagia." Zoya kemudian memeluk Hanum dengan penuh sayang. Dia berharap putrinya bisa mengambil semua hikmat dari setiap perjalanan hidup yang dilaluinya.


"Lakukan yang terbaik dalam hidupmu! Kelak semua akan dipertanggung jawabkan." bisik Zoya membuat Hanum mengangguk. Zoya memang semakin cerewet karena dia merasa selalu punya kewajiban mengingatkan anak anak mereka.


"Ayo, Zoy. Biar tidak kemalaman! " Hans menghampiri Zoya setelah memeriksa barang yang masuk ke dalam mobil.


"Hati-hati, Ma. Jika melihat Papa seperti ini, Hanum kok ngeri jika ada sugar baby." Hanum melihat Hans masih begitu keren saat kaca mata hitam bertengger di wajahnya. Tubuh yang masih terlihat sixpack karena latihan, menutupi keriput yang mulai terlihat membentuk garis wajahnya.


"Huusshhh... jangan jadi kompor kamu! Cinta Papa udah mentok di Mama. Wanita teristimewa dan tak ada banding." jawab Hans dengan merangkul Zoya dan mencium puncak kepala istrinya.


" Ingat umur, Mas. Ubannya, udah pada mengintip, kok masih ngegombal." cebik Zoya membuat Hanum terkekeh. Dia juga bisa melihat rambut putih yang sudah mulai banyak di kepala papanya.


"Loh, semakin tua cinta semakin menjadi, Zoy."


"Sudah- sudah, ayo berangkat." ajak Zoya membuat Hans terkekeh, dia tahu istrinya sedang tersipu malu. Hal yang tak pernah berubah pada diri Zoya saat dirinya merayu.

__ADS_1


Hanum memeluk kedua orang tuanya sebagai salam perpisahan. Gadis itu menatap orang tuanya yang terlihat bahagia, berharap pernikahannya pun akan seperti itu.


"Jaga diri baik- baik!" ucap Hans pada Hanum sebelum mobil melaju meninggalkan parkir hotel.


Hanum pun tersenyum. Dia merasa beruntung mempunyai keluarga yang sangat bahagia dan mempunyai banyak cinta.


###


"Seharusnya dari dulu Ibu bisa menerima istri Arkha apa adanya. Arkha malu dengan sikap ibu yang seperti itu." lirih Arkha, saat ruangan hanya berisikan Arkha dan ibunya. Sorot kecewa terpancar dari wajah tampan lelaki itu.


"Ibu hanya ingin kamu mendapatkan yang terbaik." jawab Arini menatap mata putranya. Dia sangat faham jika Arkha sedang menahan rasa marah padanya.


" Seseorang bahagia bukan hanya dari sisi materi, Bu. Arkha mencintai Hanum, hanya dia yang bisa membuat hati Arkha bahagia. Arkha juga butuh wanita solehah yang akan mendidik anak- anak Arkha menjadi anak soleh. " lanjut Arkha membuat Arini terdiam. Arkha berusaha selembut mungkin bicara pada ibunya.


Suasana kembali hening. Wanita itu menatap lekat putra yang menjadi saksi perjuangan keluarganya dalam memperbaiki kehidupan ekonomi mereka.


"Ibu tidak ingin kesulitan kita dulu kembali kamu alami." lanjut Arini membuat Arkha tersenyum.


"Arkha butuh wanita solehah, untuk bisa mengingatkan Arkha akan tanggung jawab Arkha sebagai lelaki dan anak yang soleh." kalimat terakhir Arkha membuat Arini menitikkan air mata. Selama ini dia lupa jika anak yang soleh yang dia butuhkan, bukan putra yang kaya. Sekaya apapun seorang anak tidak akan berpengaruh padanya jika tidak soleh. Tapi anak yang soleh akan selalu peduli pada orang tuanya meskipun tidaklah kaya.


"Maafkan Ibu, Nak." lirih Arini. Ada rasa haru dalam hatinya, putranya kini menjadi lelaki matang berhati baik dan bertanggung jawab.


"Jangan mengatakan itu pada Arkha, Bu. " lanjut Arkha membuat Arini mengerti apa yang diinginkan putranya.


"Assalamu'alaikum... " suara lembut itu terdengar seiring dengan pintu ruangan terbuka.


"Walaikumsalam ... " jawab keduanya hampir bersamaan.


Hanum berjalan mendekati Arkha yang duduk di samping bed tempat Arini berbaring. Kemudian mencium punggung suaminya m, setelahnya dia menatap ibu mertuanya dengan ragu.


"Maafkan Ibu, Num." Arini sudah tidak bisa berkata lagi, matanya berkaca-kaca. Hanum yang melihatnya pun menjadi tidak tega.


"Jangan dipikirkan, Bu. Hanum, juga banyak salah, pernah melawan Ibu." jawab Hanum kemudian mendekat ke arah Arini, tangannya menggenggam jemari keriput mertuanya.

__ADS_1


Wanita tua itu bisa mengerti dengan apa yang sudah di katakan putranya. Yang dibutuhkan seorang lelaki adalah wanita solehah, dimana bisa menjaga hubungan keluarga dan bisa mengingatkan tentang kebaikan.


"Bahagialah kalian, Ibu ridho." Mendengar semuanya keluar dari bibir mertuanya membuat hati Hanum terasa terenyuh, tak ada yang mengganjal lagi diantar hubungannya dengan lelaki yan bergelar suami. Arkha pun menggenggam tangan istrinya, hatinya tak kalah bahagia.


"Terima kasih, Bu. Semoga Ibu juga selalu diberi kebahagian dan keberkahan." jawab Hanum saat memeluk mertuanya.


Mereka terhanyut dengan rasa bahagia dan ketulusan. Di luar ruangan, Kania pun sudah siap masuk ke dalam, sebelumnya gadis itu menunggu di luar ruangan saat tahu ipar dan ibunya sedang saling mengungkapkan perasaan sayang.


"Ehm... Assalamu'alaikum." Kania pun masuk dan menghampiri semuanya.


"Waalaikum salam." jawab mereka serempak.


Arini melihat putrinya berjalan mendekat sambil tersenyum. Kemudian tatapannya beralih pada Arkha dan Hanum. Dia merasa lega dan bahagia dikelilingi anak menantunya.


"Bu, besok Arkha balik ya! Banyak kerjaan yang sudah menunggu." ucap Arkha. Lelaki itu bisa melihat raut wajah kecewa pada putranya.


"Apa Ibu mau tinggal bersama kami? Jika Ibu mau, kami bisa menjemput Ibu saat Ibu merasa sudah merasa kuat." lanjut Hanum saat melihat semburat rasa sedih.


"Nggak usah, Nduk." jawab Arini dengan berat.


"Tidak apa- apa, Bu. Seorang ibu memang tanggung jawab putranya sampai kapanpun." desak Hanum, dia ingin Arini yakin jika tawarannya begitu tulus.


"Ibu akan di sini sampai Ibu tiada. Di kota ini, di rumah tua itu, kami, Ibu dan bapakmu berjuang bersama." jawab Arini merasa haru.


"Terima kasih, untuk tawarannya. Selama ini Arkha tidak pernah lupa akan kewajibannya pada Ibu." Semua kebutuhan keluarga memang ditanggung Arkha. Putranya itu sangat bertanggung jawab dengan keluarga. Terkadang dia merasa kasihan pada Arkha karena menanggung semuanya. Tapi, beban putranya sekarang sudah berkurang saat adiknya Kania sudah mulai bekerja.


Bersambung...


Mau di end si sini kok masih terlalu banyak ya. Insyallah kita end di part selanjutnya ya....


mampir yukyuk, nggak kalah seru kok


__ADS_1


__ADS_2