
Zoya berjalan tergopoh-gopoh keluar dari mobil. Setelah mendengar kabar dari Mbak Litta jika Hanum menginap di toko, Zoya langsung meminta supir untuk mengantarnya ke sana. Rasa cemas membuatnya tidak tahan untuk menunggu Hans pulang. Dia harus tahu kenapa Hanum memilih menginap di toko kenapa tidak pulang ke rumah saja jika terjadi masalah.
"Assalamu'alaikum, Bu Zoya." sapa Mbak Litta yang berdiri di belakang meja kasir saat melihat kehadiran Zoya.
"Waalaikum salam, Mbak. Hanumnya ada?" tanya Zoya yang sempat berhenti sejenak di depan karyawannya itu.
"Ada, Bu. Sepertinya berada di rumah belakang." jawab Litta.
"Baiklah, saya ke sana dulu. Ini ada makanan untuk Mbak Litta dan lainnya." ujar Zoya sambil menyodorkan satu kantong plastik besar yang berisi nasi kotak untuk semua pegawainya.
Wanita mungil nan bersahaja itu berjalan mencari sosok yang sangat dia sayangi. Berlahan dia membuka pintu ruangan yang sudah sedikit terbuka. Terlihat putrinya sedang terisak di dekat jendela. Sungguh, hatinya terasa sakit melihatnya. Hanum bukan tipe orang yang mudah menangis, tapi isakannya kali ini sungguh membuatnya mengerti jika putrinya sedang ada masalah yang serius.
"Sayang...!" panggil Zoya yang berlahan membuka pintu ruangan itu dengan sedikit lebar. Segera dia melangkah mendekati Hanum yang berusaha mengusap air matanya.
"Sejak kapan Mama datang?" Hanum berusaha menghapus jejak raut kesedihan dalam air mukanya.
" Kamu kenapa menangis? Ada masalah apa? Kenapa tidak cerita dengan Mama? " cecar Zoya kemudian memeluk putrinya dengan erat. Hatinya seperti teriris saat melihat kesedihan dari raut wajah cantik putrinya.
"Kenapa tidak pulang ke rumah, sayang?" Mendengar pertanyaan mamanya, Hanum hanya bisa bungkam. Rasanya dia tidak mampu untuk menceritakan masalahnya yang entah dari mana dia harus memulainya.
Zoya masih menatap lekat mata cantik yang menjadi duplikatnya. Entah, apa yang saat ini sedang dipikirkan putrinya tapi dia tahu pasti jika Hanum sedang merasa terpuruk. Mungkinkah, dia ada masalah dengan suaminya? Batin Zoya masih menerka- nerka.
"Sayang, Manusia itu makhluk yang lemah, untuk itu manusia di wajibkan bersujud di hadapan Allah. Jangan merasa malu mengakui kelemahan kita." ucap Zoya untuk membujuk Hanum untuk bercerita, yang dia faham putrinya itu selalu saja menyembunyikan kelemahan dan rasa sedihnya dari siapapun.
Seketika, mata Hanum kembali berair. Sungguh, dia merasa terpuruk saat ini. Selama ini, dia merasa kuat dan baik- baik saja. Tapi, jika sebagai manusia memang tidak bisa dipungkirinya jika banyak masalah yang terkadang membuatnya terpuruk.
__ADS_1
"Terkadang bercerita dengan orang yang kamu anggap bisa dipercaya itu mampu membuat dirimu jauh lebih baik. Bukan bermaksud membuka aib, tapi menemukan sudut pandang yang berbeda yang bisa menjadi pertimbangan untuk selanjutnya." lanjut Zoya sambil mengusap air mata yang terus menetes di pipi cabi putrinya. Dia terus saja membujuk Hanum untuk bisa lebih terbuka dengannya.
"Mama... " Hanum memeluk mamanya, isakannya bahkan terdengar lebih kuat dari sebelumnya. Seolah ingin menumpahkan semua beban pikiran yang begitu menyiksa.
Mungkin, saat ini pemandangan yang cukup langka untuk gadis yang berusia dua puluh dua tahun itu saat sedang menumpahkan semua isi hatinya. Tapi, dia pikir tidak ada yang salah dengan apa yang dikatakan Mamanya.
"Sayang, kamu bisa cerita dengan Mama apa yang terjadi!" pinta Zoya dengan lembut, dia berharap bisa menjadi tumpuan untuk segala keresahan putri cantiknya itu.
"Ma, Hanum ingin pisah dengan Kak Arkha!" ujar Hanum membuat Zoya seketika tersentak kaget.
"Loh kenapa, Sayang? Jika ada masalah bicarakan baik- baik." Zoya semakin dibuat gelisah.
"Ma, pernikahanku dengan Kak Arkha bukan seperti umumnya. Kak Arkha masih mencintai gadis lain. Mama tahu, kan, Papa yang memaksa Kak Arkha menikah dengan Hanum." kalimat Hanum meluncur bersamaan dengan rasa sesak yang kian membuncah. Cintanya bertepuk sebelah tangan, selama ini dia berusaha memberi ruang pada Arkha, tapi setelah melihat kejadian tadi siang di kafe, Hanum sudah menyerah. Cinta itu tidak bisa dipaksa dan cinta itu memang dari hati bukan pikiran.
Zoya berusaha menguatkan hatinya. Kali ini, dia tidak bisa berbicara lebih. Dia masih ingin tahu bagaimana Arkha sebenarnya dan dia juga masih merasa berat jika pernikahan putrinya kandas diusianya yang masih muda.
"Sayang, kamu harus bicarakan langsung dengan Arkha. Hanya kalian berdua yang bisa menyelesaikan masalah ini. Tapi, Mama mohon kamu sebaiknya pulang! Jika belum ingin pulang bersama suamimu. Kamu bisa pulang ke rumah Papa dan Mama. Kita akan selalu ada untuk kamu." bujuk Zoya kemudian membuat Hanum mengangguk, dia sudah tidak punya tenaga lagi untuk menolak atau memberontak.
Akhirnya mereka pun beranjak untuk pulang. Meskipun begitu tapi Zoya masih belum merasa tenang mendengar cerita tentang rumah tangga putrinya. Masih dengan menggenggam erat tangan mungil putrinya Zoya berjalan menuju mobil yang terparkir di halaman toko.
"Hanum... " Suara bariton itu terdengar begitu menggelegar saat Hanum dan Zoya akan masuk ke dalam mobil.
Hanum menoleh, Arkha baru saja keluar dari mobilnya dengan raut wajah yang sudah merah padam. Terlihat rahangnya mengeras lelaki bertubuh tinggi itu pun berjalan menghampiri Hanum dengan membawa beberapa lembar kertas di tangannya.
"Ma, bisakah tinggalkan kami berdua? Ada yang ingin kami bicarakan berdua." ucap Arkha setelah berada di depan kedua wanita itu.
__ADS_1
"Baiklah kalian memang harus menyelesaikan masalah kalian, tapi tolong setelah itu, antarkan Hanum ke rumah Mama!" pinta Zoya dengan lembut. Melihat kemarahan pada sorot Mata Arkha, Zoya masih merasa khawatir meskipun dia percaya Arkha tidak akan menyakiti Hanum. Wanita cantik nan anggun itu pun melesak pergi bersama mobilnya.
"Bicara apalagi, Kak? Semuanya sudah selesai, aku sudah tahu semuanya. Bahkan, setelah ini Kak Arkha bebas bersama orang yang Kakak Cintai." ujar Hanum langsung ke intinya. Hatinya merasa hancur dengan keadaan ini, tapi dia tidak ingin memaksa orang yang ada di hatinya untuk tetap bersama.
Arkha tidak menjawab Hanum, dia langsung menarik lengan Hanum menuju rumah belakang yang ada di toko dengan menahan emosi yang masih meletup- letup di hatinya. Dia hanya tidak ingin masalahnya dengan Hanum menjadi konsumsi publik karena beberapa mata sudah memperhatikannya sejak tadi.
Hanum sendiri hanya mengikuti langkah Arkha, entah kenapa dia merasa ciut saat rahang tegas Arkha menggeretak menahan emosi. Ini pertama kalinya Arkha terlihat begitu marah.
"Jeder... " Arkha membanting ruang kamar yang di tempati Hanum, dia tahu ruang itu memang khusus untuk Owner.
"Apa ini Hanum?" tanya Arkha, suaranya begitu lantang dengan mengibarkan kertas yang diangkat oleh tangannya.
"Jawab Hanum...!" bentak Arkha membuat Hanum berjingkat, Air matanya langsung menetes, ini pertama kalinya seseorang membentaknya begitu keras menambah rasa nyeri dalam dadanya.
"Kamu bermaksud meninggalkan pernikahan kita? Kamu akan pergi entah dapat ijin dariku atau tidak?" Arkha melemahkan suaranya saat melihat Hanum menangis, rasanya tidak tega melihat Hanum seperti itu saat ini. Tapi dia benar benar dikuasai emosi.
"Dari mana Kak Arkha mendapatkannya?" lirih Hanum, dia merasa sudah menyimpannya rapat semua rencana untuk study ke luar negri, tapi masih saja Arkha melihat beberapa formulir dan eksemplar universitas yang ingin ditujunya.
"Itu tidak penting... " Arkha menghela nafas, berusaha mengendalikan semua emosi yang sudah menguasai hatinya. Mengetahui Hanum merencanakan pergi meninggalkannya, hatinya sudah marah, belum juga jika itu dilakukannya dengan diam diam. Iya, Hanum tidak pernah membahas semuanya dengannya, hingga dia yakin jika Hanum sengaja ingin lari dengannya.
Lelaki itu kemudian menatap Hanum dengan begitu tajam. Dia tahu Hanum, jika sudah menginginkan sesuatu tidak ada yang menghentikannya. Apalagi, pernikahan mereka berawal tanpa cinta meskipun dia sangat menyayangi Hanum. Bahkan, hidupnya mulai terbiasa dengan gadis itu, kenaifannya, keras kepalanya dan terkadang perhatian yang tersembunyi dibalik sikap ketusnya. Hanum yang manja, membuat gadis itu terkesan unik bagi Arkha.
"Jika kamu memang sangat menginginkannya dan tidak nyaman bersamaku. Aku akan melepaskanmu!" lirih Arkha penuh penekanan, meskipun dia kecewa dengan Hanum, tapi tidak ada yang bisa dilakukan untuk Hanum kecuali membiarkan gadis itu dengan keinginannya.
Hanum kembali terisak, tubuhnya terduduk di pinggir tempat tidur. Seketika tulangnya terasa lemas, bahkan untuk menatap lelaki yang ada di depannya dia sudah tidak mampu. Inikah rasanya cinta bertepuk sebelah tangan? Dia meremat dadanya yang terasa nyeri. Selama ini, dia merasa semua akan baik saja seperti yang dia pikir. Ternyata, saat seseorang yang sudah menjadi bagian dari hidup dan hati kita akan melepaskan kita, ternyata rasanya begitu sakit.
__ADS_1